
Lutut Cassandra mendadak lemas.
Biasanya papanya duduk dan sedang minum obat ketika ia mengecek pagi-pagi di jam yang sama. Kemana papanya pergi?
"Cassandra, Papa takut meninggal di rumah. Kalau kondisi Papa makin parah, Papa mau dirawat di rumah sakit saja dan meninggal di sana."
"Apa-apaan sih Pa! Kok ngomongnya jelek banget. Pokoknya Papa bakal sembuh. Terus tahun depan kita ke Jepang lagi lihat sakura seperti liburan terakhir kita dulu sebelum Mama nggak ada. Ya? Papa janji harus sembuh!"
Cassandra menelan ludahnya dengan susah payah. Ia cemas tak karuan.
"Non? Non Sandra?" Sebuah suara membuatnya terkejut.
Cassandra langsung menoleh ke belakang dan melihat Mbak Min sedang memegang gagang pel dengan bingung.
"Non ngapain di sini? Bapak lagi di taman samping sama Pak Wir," ucap Mbak Min dengan nada polosnya yang terdengar familiar.
Cassandra langsung bernafas lega.
Astaga! Pikirannya sudah kemana-mana tadi. Ketakutan yang biasanya tak pernah muncul itu tiba-tiba menjadi semakin nyata di dalam bayangannya.
Padahal ini hanya sekedar bayangan. Bagaimana kalau kalau menjadi kenyataan betulan? Cassandra merasa makin takut kalau papanya benar-benar pergi meninggalkannya selama-lamanya.
Dengan segera Cassandra melangkahkan kakinya menuju taman samping seperti yang disebutkan Mbak Min tadi.
Dan benar saja. Sosok yang membuat jantungnya mau copot barusan itu kelihatan sedang berdiri beberapa meter di depannya.
"Papa ngapain?" Cassandra menyapa ketika ia melihat papanya sibuk mengamati sebuah papan kayu yang sedang dikerjakan Pak Wir. Peti kayu itu tampak akan dibuka isinya.
Prambodo menoleh dan tersenyum. Wajah tuanya kelihatan sedikit basah. Mungkin karena habis cuci muka pagi ini.
"Ini gitar yang Papa janjikan. Kamu lupa? Papa minta betul-betul agar jangan sampai lecet makannya agak rumit begini packaging-nya." Prambodo menunjuk ke arah kotak yang sedang dibuka Pak Wir.
Cassandra ternganga. Ia berdiri di tempat sambil berkacak pinggang. Prambodo tertawa melihat ekspresinya lucu putrinya.
"Kok bisa cepat datangnya? Papa serius?" Cassandra masih tampak tak percaya.
Papanya yang membenci musik dan cita-citanya menjadi penyanyi kini membelikannya hadiah gitar yang ia inginkan sejak lama. Hal ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya di kepalanya. Kok bisa?
"Teman Om Alik nggak jadi pulang. Dia extend liburan di sana karena istrinya masih ingin ke NYC. Jadi yaudah deh gitarnya dikirim duluan dari Amerika. Kamu tahu lah Om Arik banyak teman. Anak temannya ada yang jadi pilot sebuah maskapai pesawat. Jadinya ya terbang langsung deh ini gitar dengan mudah." Prambodo mendengarkan dengan antusias.
__ADS_1
Cassandra bukannya senang tapi ada perasaan sedih di hati yang ia simpan diam-diam.
Kenapa papanya berubah sedemikian drastis? Apa papanya benar-benar merasa ia akan meninggal karena penyakitnya sebentar lagi, makannya ia melakukan segala cara untuk membuat Cassandra bahagia di saat-saat terakhirnya?
Tiba-tiba teringat juga ia pada sepenggal ucapan Pras tempo hari. "Anggap aja ini hari terakhir papamu setiap harinya, jadi semenyebalkan apapun tingkahnya untukmu maka telanlah. Belum tentu besok kamu masih bisa lihat dia."
Kata-kata ini terdengar klise kemarin. Cassandra juga tak menganggap ucpaan Pras ini penting. Tapi sekarang ia baru kepikiran...
Apa papanya punya pemikiran yang sama soal itu? Ia menganggap setiap hari adalah hari terakhirnya, maka ia melakukan apapun juga untuk membuatnya bahagia.
Cassandra yang berusaha denial soal vonis sisa umur papanya sejak awal tiba-tiba mulai makin sadar. Ya, mungkin saja dokter memang benar dengan diagnosa canggihnya.
Cassandra mendadak merasa takut. Takut karena hanya akan sendirian saja di dunia ini. Keluarganya kan hanya mama dan papanya.
Mamanya pergi beberapa tahun lalu setelah kecelakaan itu. Dan papanya...
Cassandra yang sebelumnya berhati batu tiba-tiba menangis ketika papanya menyerahkan gitar yang akhirnya selesai dibongkar dari box itu padanya.
"Cassandra? Kamu saking senangnya sampai menangis ya? Iya, Papa akan belikan kamu alat musik atau apapun yang kamu mau mulai dari sekarang. Kamu..."
Brak!
Tidak ada yang lebih penting dibandingkan papanya sekarang. Dan Cassandra memeluk papanya dengan erat hingga Prambodo membeku di tempat karena kebingungan.
"Kamu kenapa, Sayang?" Prambodo berkata lembut sambil memeluk putrinya yang menangis hebat.
Untuk pertama kalinya seumur hidupnya, Prambodo baru merasakan kalau Cassandra begitu menyayangi dirinya lewat pelukan dan tangisan ini.
Oh, betapa waktu yang terlewat karena kesibukan dan ambisi karir membuatnya melewatkan masa kecil dan remaja Cassandra yang seharusnya ia menjadi bagian di dalamnya. Kedekatan emosional itu seakan tak ada sebelumnya. Tapi sekarang akhirnya ia merasakan hal itu.
Oh, begini rasanya dicintai putri kandungnya?
Prambodo menahan air matanya. Ia yang sebelumnya cemas bagaimana mengurus Cassandra tanpa istrinya mendadak yakin kalau putrinya itu sebenarnya sangat dewasa dan pengertian.
Ya, Cassandra hanya butuh disadarkan kalau tidak semua orang yang ia sayangi bisa menemeninya selama-lamanya. Ada yang namanya umur, penyakit, maut, kecelakaan, kesialan, dan banyak cara lagi bagi semesta untuk mengubah nasib seseorang.
"Cassandra sayang Papa. Thankyou for everything..."
Dan Prambodo tak bisa lagi menahan air matanya.
__ADS_1
***
Pras menunggu dengan gelisah di ruangan kerja Prambodo. Papanya barusan duduk di sampingnya tapi segera pergi setelah ditelpon seseorang untuk mengurus suatu pekerjaan.
Pras menerima pesan dari papa Cassandra itu untuk menemuinya jam 10 pagi. Tapi ini sudah lewat 15 menit dan pria itu belum datang.
Pras mulai cemas karena ia tahu partner kerja sekaligus sahabat papanya itu orang yang sangat tepat waktu.
Jegrek!
Prambodo membuka pintu dengan wajah sumringah.
Akhirnya yang Pras tunggu-tunggu telah tiba.
"Kita nggak perlu pakai rencana kita sebelumnya, Pras. Saya sudah bilang permintaan saya untuk mempercepat pernikahan dan Cassandra langsung setuju," ucap Prambodo bahkan sebelum ia duduk di kursinya.
Pras yang dari tadi sibuk menunggu dengan harap-harap cemas mendadak bingung harus merespon apa. Harus senangkah ia? Harus takutkah? Harus gugupkah ia?
"Stop! Cassandra lagi di luar. Tadi habis dari toilet. Mau ke sini sebentar lagi. Katanya mau ngomong sama kamu." Prambodo menambahkan lagi setelah memotong Pras yang baru saja hendak membuka mulutnya.
Jegrek!
Pintu terbuka lagi dan Cassandra masuk. Ia mengenakan celana jeans dan kaos oversize polos warna hitam. Rambutnya digerai dan ia memakai bucket hat bunga-bunga dengan cantik. Sepatu kets warna putih mempercantik setiap langkahnya.
Penampilannya secuek dan sesederhana itu tapi ia tetap kelihatan seperti gadis mahal yang susah didapatkan. Itulah yang dinamakan aura.
"Hai," sapa Cassandra pelan saat ia melihat Pras berdiri menyambutnya.
Pras tersenyum bertepatan dengan sebuah ketukan pintu. Prambodo menoleh ke arah pintu dan berseru pelan, "Oh, saya lupa ada janji juga dengan Mayasa."
Pras membeku di tempat. Senyumnya mendadak hilang. Mayasa...
Jegrek!
Prambodo membukakan pintu dan masuklah Mayasa dengan setumpuk map di tangan.
"Pak, ini dokumen yang kemarin sa..."
Lalu kata-kata wanita 37 tahun itu terhenti seketika begitu ia melihat Cassandra dan Pras berdiri berdampingan.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...