Loving Cassandra

Loving Cassandra
Mempercepat Pernikahan


__ADS_3

Pras menatap dalam-dalam pria kuyu berambut botak itu. Ia seolah bisa menyelami tatapan seorang ayah yang sedang ketakutan itu.


"Separah apa, Om?" Pras memberanikan diri untuk bertanya pertanyaan yang sebenarnya tak pantas ini.


Prambodo menunduk lalu mendesah pelan.


"Sel-sel kanker ini makin ganas. Obat yang biasa dokter resepkan untuk mengurangi rasa sakit dan menekan laju pertumbuhan kanker jahat itu seolah tidak ada gunanya lagi.


Dokter pikir dia akan bicara pada orang terdekat Om mengenai rentang usia terbanyak yang bisa Om capai, makannya Om memanggil Cassandra sama kamu kemarin. Tapi ternyata angkanya begitu mengerikan. Om simpan sendiri. Kamu nggak perlu tahu.


Usia mungkin memang bukan di tangan dokter. Tapi dokter punya kemampuan untuk meraba, kira-kira sekuat apa organ tubuh pria tua ini mampu bertahan."


Suara sedih itu diiringi suara gemericik air mancur taman yang indah ini. Lampu taman berpendar memantul samar ke arah tempat mereka duduk.


Pras menunduk. Ia berusaha paham. Ya, dan ia memang paham.


Ia pikir kalau ia jadi Prambodo, ia juga akan melakukan hal yang sama. Yaitu mencari orang yang bisa ia percaya untuk menjaga putrinya yang akan hidup sebatang kara setelah ia meninggal.


Pras menatap papa Cassandra diam-diam. Pria itu tampak merenung. Ia merasa ikut berduka padahal ia tahu ini belum apa-apa.


Bukannya lebih menyedihkan ketika kamu tahu kamu akan mati tapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperpanjang umurmu barang sedetik saja.


"Terima kasih Om sudah mempercayai saya untuk menjaga Cassandra. Saya berjanji kalau dia menolak pernikahan atau melakukan segala cara untuk menggagalkannya, saya akan tetap memenuhi janji saya untuk menjaga dia.


Entah sebagai seorang kakak, teman, atau mungkin jika dia menganggap saya musuh pun saya akan tetap menjaga dia. Cassandra menjadi bagian dari hidup saya sejak waktu itu Om memegang tangan saya dan meminta saya dengan tulus."


Hening.


Hanya mata Prambodo saja yang bicara lewat tetesan air bening yang meleleh membasahi pipi keriputnya itu.


Lalu tangan tua sakit-sakitan yang tak kalah keriput itu memegang tangan Pras lagi dan menggenggamnya.


"Terima kasih, Pras. Om tahu Om bisa mempercayai kamu. Tapi tolong buat hati Om lebih tenang lagi, ya. Kita percepat pernikahan kalian." Prambodo rupanya masih bersikukuh.


Mata Pras menatap ragu.

__ADS_1


Selain ia merasa ini terlalu cepat, ia juga merasa hatinya belum siap.


Bagaimana bisa ia menikahi wanita lain sementara di hatinya masih ada nama Mayasa yang bercokol tak mau pergi.


Mayasa bukan kisah cinta biasa untuk Pras. Mulut bisa bilang putus, tapi hati...


"Om, t--tapi say..."


"Pras. Tolong." Prambodo menepuk pundak Pras kali ini. Tatapan memohon itu tampak makin terlihat seperti tatapan mengiba.


Pras orang berhati tulus. Dalam situasi biasa pun ia adalah tipe pria yang akan rela berkorban demi orang lain. Ditambah lagi keadaan ini membuatnya merasa tertekan jika menolak.


"Kalian menikah, lalu tinggallah bersama di rumah yang tidak terlalu jauh dari sini. Om ada rumah lain. Pokoknya Om mau Cassandra terpisah dari Om." Prambodo berkata serius.


"Tapi kenapa Om? Bukannya karena Om merasa waktu Om tidak banyak lagi, seharusnya Om selalu ingin dekat dengan Cassandra, dong." Pras merasa terkejut. Nada suaranya tak bisa bohong kalau ia kaget dengan keputusan calon mertuanya itu.


Prambodo menggeleng.


"Awalnya Om maunya begitu, Pras. Tapi setelah Om pikir-pikir, rasanya itu terlalu egois. Bagaimana pun rumah itu tempat yang penting. Kenangan di dalamnya bisa membuat orang susah lupa.


Cassandra sering menangis mengingat hal itu di tahun-tahun awal mamanya meninggal. Dia duduk di kursi roda dan latihan berjalan sambil melamun dan berlinang air mata sebelum akhirnya menerima keadaan dan kepergian mamanya.


Om takut meninggal di rumah ini, Pras. Cassandra pasti akan..."


"Om! Jangan bilang begitu!" Pras tak kuasa untuk tak memotong percakapan yang makin menyedihkan ini.


Hatinya ikut teriris.


Oh, pria betapa pria sekarat ini susah payah memikirkan putrinya dibandingkan memikirkan penyakitnya.


Prambodo kembali menatap Pras dan menepuk pundaknya. Prambodo tahu Pras menahan diri untuk menangis walau matanya sudah berkaca-kaca.


"Pras, Om rasa akan lebih mudah bagi Cassandra ke depannya kalau ia menyingkir dari rumah ini. Om nggak bisa usir dia, kan? Tapi alasan pernikahan bisa membuatnya mau tak mau pindah.


Percayalah, Om sudah memikirkan ini baik-baik dan merasa ini jalan tengahnya. Please, Pras. Paksa dia pindah dengan dalih kalian sudah menikah dan harus tinggal mandiri berdua agar kenangan Cassandra soal rumah ini ke depannya jadi tak semenyakitkan itu."

__ADS_1


Kata-kata itu begitu membuat Pras tertunduk dan mengangguk.


Ya, kalau ia seorang ayah seperti Prambodo, maka ia pasti akan berpikiran hal yang sama. Ia pasti akan mencari cara untuk meminimalisir kesedihan luka putrinya. Ia pasti juga akan mengerahkan segenap kemampuan untuk mengurangi jumlah tetes air mata putrinya di masa depan.


"Makasih, Pras. Om tahu kamu pasti akan mau. Biar Om diskusi sama papa kamu untuk atur tanggalnya. Tugas kamu hanya membuat Cassandra tak tahu soal perkataan dokter tadi. Kamu bisa jaga rahasia, kan?" Prambodo menatap Pras.


Pras mengangguk mantap.


Tapi anggukan mantap dan wajah teduh itu seketika berubah menjadi wajah tegang dalam beberapa detik saja ketika Prambodo membisikkan sesuatu di telinga Pras.


Ya, Prambodo mengungkap umur perkiraan dokter untuknya.


"Om..." Pras tak kuasa berkata-kata.


Prambodo tersenyum lalu mengangguk.


"Singkat, kan?" Prambodo tersenyum dengan wajah kuyunya yang sok tegar itu.


Pras tak bisa menyahut sepatah katapun. 


Perkataan dokter mungkin bisa jadi salah. Ia kan bukan Tuhan yang bisa menentukan umur manusia. Perkiraan yang bisa disebut dengan angka itu bisa jadi meleset lebih cepat atau lebih lama.


Umur lebih lama adalah sebuah hadiah dari Tuhan mungkin. Tapi kalau lebih pendek dari yang diperkirakan, terbayang bagaimana sedihnya...


"Sebelum libur sekolah Cassandra usai, kalian menikah ya. Nanti di sekolah kalian akan menutupi pernikahan kalian karena status kalian guru dan murid.


Soal Cassandra nanti akan menolak atau tidak, Om yakin kok hatinya perlahan melunak. Buktinya dari tadi dia terus belain kamu. Kamu pria tulus. Sekeras apapun hati Cassandra, pasti akan luluh juga." Prambodo lalu tersenyum meyakinkan.


Pras tertunduk lalu tersenyum tipis. Ya, ia rasakan sikap Cassandra memang berubah makin hangat akhir-akhir ini.


"Saya akan coba bilang baik-baik sama dia dulu. Semoga dia paham." Pras berkata sambil menunduk untuk menutupi rasa sedihnya.


Hening lagi.


Mereka berdua larut dengan pikiran masing-masing lagi tanpa tahu kalau Cassandra menyelinap turun ke lantai bawah untuk mengintip.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2