Loving Cassandra

Loving Cassandra
Sebuah Janji


__ADS_3

Dua mata yang kini berkaca-kaca itu tampak memerah. Mayasa diam saja tapi matanya seolah bicara.


"Pernikahan Cassandra dan Pras akan dilangsungkan dua hari lagi? Serius? Secepat itu? Padahal suasana masih berduka begini..."


Ingin sekali Mayasa mengungkapkan kata hatinya tapi tatapan menyeramkan dari Arik Gudono membuatnya bungkam.


Jadi ketika Mayasa diberi kesempatan untuk bicara sebelum peti jenazah ditutup, ia hanya mengungkapkan sekedarnya.


"Pak Pram, terima kasih untuk semuanya. Selama ini maaf telah banyak merepotkan. Tanpa Bapak saya tidak akan bisa berdiri di kaki saya sendiriĀ  sekuat ini setelah Mas Rendi pergi.


Saya akan memegang janji saya untuk melakukan hal yang sama untuk Cassandra. Saya tahu bagaimana rapuhnya kehilangan orang yang benar-benar saya cintai. Walau sudah ada Pras, tapi Cassandra mungkin butuh saya. Sebagai sesama perempuan, saya pasti lebih mengerti.


Untuk yang terakhir, maaf tangan saya tidak sekuat itu kemarin untuk tetap memegang tangan Bapak agar kita berdua selamat. Maaf..."


Mayasa berkata penuh khidmat lalu mengusap air mata dengan ujung selendang hitamnya yang terkalung di leher. Ia abaikan saja tatapan Arik Gudono yang tajam meliriknya.

__ADS_1


Arik Gudono tentu terkejut karena kata-kata Mayasa. Menguatkan Cassandra? Gadis itu membutuhkan dirinya sebagai sesama perempuan? Bisa-bisanya Mayasa berkata sesantai itu setelah beberapa menit yang lalu Arik baru saja memperingatkannya agar tidak dekat-dekat, apalagi berani-beraninya mengusik Cassandra.


Arik ingin marah tapi ia menahan kekesalannya. Tangannya bergerak memberi kode untuk menutup peti. Ia pun mundur diikuti Mayasa.


Semua diam. Tak ada yang bicara, kecuali sesenggukan tangis yang terdengar dari para keluarga korban yang lain.


Arik Gudono memasang wajah kaku. Bukannya ia tak sedih, tapi settingan wajahnya sudah begitu. Kalau orang tak kenal, pasti akan menyangka kalau Arik adalah sosok yang menyeramkan dan jahat.


Mayasa menunduk khidmat juga tapi dari ekor matanya ia bisa melihat Arik Gudono melirik tajam padanya dan gelagatnya seperti masih ingin mengajaknya bicara.


"Pak, tanpa mengurangi rasa hormat, saya bukannya tidak mendengar ancaman Bapak tadi. Saya nggak ada niat sama sekali untuk mengusik atau menganggu Cassandra terkait hubungannya dengan Pras. Semua sudah berakhir dan Bapak tahu kan saya benar-benar meninggalkan Pras. Saya menepati janji.


Tapi saya punya janji yang sama dengan Pak Prambodo. Dia tidak tahu apa-apa soal hubungan saya di masa lalu dengan Pras. Jadi ini murni karena beliau percaya sama saya. Dia meminta saya berjanji dan saya menyanggupi. Itu terjadi sebelum beliau jatuh dan tewas di depan mata kepala saya sendiri." Mayasa membuka percakapan ini dengan dominan.


Arik Gudono diam saja dan menuduk menyimak. Mukanya tampak tidak santai sama sekali. Ia kelihatan makin kesal.

__ADS_1


"Pak Pram tahu Cassandra sangat menjaga jarak dan tertutup tertutup sejak mamanya meninggal. Dia bahkan tak punya teman dekat. Sekarang mungkin ada Pras. Tapi tetap saja kan dia laki-laki.


Pak Prambodo menyadari Cassandra butuh sosok perempuan. Beliau ingin saya menganggap dia sebagai adiknya. Beliau ingin saya menjaga dia dan membantunya saat kesulitan. Beliau ingin kami dekat.


Dan saya perempuan yang menepati janji, Pak. Saya akan tetap berusaha dekat dengan Cassandra. Saya tidak peduli sekalipun Bapak menghalangi saya atau mengancambsaya akan memecat saya. Janji saya ke Pak Prambodo lebih berharga dari itu semua."


Deg!


Arik Gudono merasa makin kesal. Ia tahu kalau Prambodo begitu dekat dengan Mayasa, tapi ia tak menyangka kalau sampai Pram berucap begitu pada Mayasa.


"Saya nggak percaya Prambodo bilang begitu. Dia sulit percaya sama orang. Omongan kamu juga nggak ada buktinya. Bisa jadi semua ucapanmu omong kosong saja." Arik menyanggah.


Mulut Mayasa sudah terbuka hendak membantah tapi begitu matanya melihat sosok Pras berjalan mendekat ke arah mereka, mulutnya langsung terkatup lagi.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2