Loving Cassandra

Loving Cassandra
Berita Buruk


__ADS_3

Lalu sebenarnya dimana Pras dan Cassandra sekarang ketika Prambodo dan Mayasa sedang berada di ujung tanduk kematian?


Pras dan Cassandra tidak lagi mengobrolkan kesepakatan pernikahan dan berdebat di pinggir kolam renang rumah baru. Mereka sekarang sudah berpindah tempat karena Cassandra merasa lapar setelah lelah menangis.


Di sebuah kedai restoran cepat saji kenamaan, mereka duduk dan memilih bangku di sudut yang sepi. Cassandra sibuk makan, Pras sibuk dengan laptop-nya.


Cassandra sedang mengunyah burger-nya dengan lahap ketika Pras membacakan isi perjanjian buatan mereka yang ia ketik di laptopnya.


Ah, andai Cassandra tahu kalau di saat yang sama papanya sedang mempertaruhkan nyawanya pada sebuah uluran tangan dan pijakan lemah puing bangunan runtuh, pasti ia tak akan sanggup menelan makanan macam ini.


"Oke, tidak tidur sekamar, tapi tetap punya kamar bersama yang akan digunakan saat orang tua datang menengok agar mereka tidak curiga.


Tidak ada kontak fisik berlebihan untuk alasan apapun! Yang melanggar boleh ditampar. Kalau keterlaluan dan sampai masuk ranah pelecehan, bisa dilaporkan ke polisi.


Eh, tapi gimana kita lapor polisi? Kita kan suami istri, Cassandra. Kita hapus aja deh poin ini. Intinya kita saling sepakat dengan batasan-batasan tadi, kan?" Pras menggaruk-garuk kepalanya.


Cassandra menyedot milk shake-nya lalu nyengir sambil berpikir. Benar juga yang dibilang Pras. Ia mengangguk lalu menggigit burger-nya lagi. Maklum, ia lapar.


"Oke, next. Selama masih dalam ikatan pernikahan, masing-masing tidak boleh menjalin hubungan dengan pihak lain.


Lalu soal perceraian, kita akan menyepakati waktu yang tepat. Kita tetap akan bercerai nanti karena kita sama-sama tahu tujuan pernikahannya ini hanya untuk menyenangkan orang tua dan mengesahkan perjanjian bisnis antar orang tua.


Setelah cerai, saham Pragu Group akan tetap 50:50 dibagi rata. Deal?" Pras melirik Cassandra yang sibuk makan.


Cassandra menggeleng lalu menelan makanannya baru ia bicara.


"Aku nggak ada andil apa-apa, nggak bisa kerja juga, nggak ngerti dan nggak ada keinginan belajar soal bisnis. So, 60:40 its okay karena kamu yang kerja keras. Kita sepakati ini di waktu lain ketika orang tua kita sudah tidak terlibat lagi di perusahaan dan kamu yang seutuhnya memegang kendali." Cassandra mengucapkan perkataan tak terduga.


Pras hanya bisa melongo melihat Cassandra makan dengan santai lagi setelah mengatakan hal ini.


10% saham itu bernilai milyaran. Puluhan milyar mungkin. Tapi seenaknya Cassandra bilang dengan entengnya.


"T--tapi papaku sama papamu sudah sepakat akan dibagi sama rata. Sudahlah, aku juga bukan orang yang serakah. Aku juga tidak menuntutmu ikut mengurus perusahaan. Asal kamu tidak menghalang-halangi aku atau mempersulit keputusan-keputusan bisnisku, itu sudah cukup," sahut Pras.


Cassandra masih sibuk mengunyah dan hanya mengangkat bahunya dengan tatapan tak berminat. Sungguh, ia bukan tipe mata duitan. Tercukupi sejak kecil membuatnya acuh pada masalah begini.

__ADS_1


Bagi Cassandra, hidup tak perlu mewah. Secukupnya saja yang penting ia bahagia.


"Ada poin lagi yang mau kamu tambahin?" Pras kembali bertanya.


Cassandra menggeleng dengan agak tidak yakin. Pras hampir membuka mulutnya dan bicara lagi tapi tak jadi karena handphone-nya yang ia taruh di meja itu berdering.


'Papa memanggil.'


"Bentar ya, Cassandra. Papaku nelpon. Ya, halo Pa?" Pras menyapa papanya lewat panggilan telepon.


"Om Prambodo terjebak di reruntuhan konstruksi proyek yang ia kunjungi. Papa lagi perjalanan ke sana. Tim SAR, relawan, polisi, dan tim pemadam kebakaran sedang menuju ke sana juga. Kamu lagi sama Cassandra, kan?" Suara Arik yang biasanya penuh semangat langsung terdengar sedih.


Pras merasa jantungnya mau copot. Ia melihat Cassandra yang masih sibuk mengunyah burger di depannya. 


Bagaimana caranya ia menyampaikan berita buruk ini?


"Y--ya, dia ada sama aku," sahut Pras lirih sambil berusaha berdiri dari duduknya dan menyingkir.


Cassandra menatapnya dengan bingung karena tiba-tiba pergi. Pras memberi kode dengan tangan kalau ini telepon penting dan ia menyingkir ke sebuah sudut lain yang agak jauh dengan posisi duduk Cassandra.


Pras menarik napas panjang. Ia melirik Cassandra lagi dan makin bingung bagaimana caranya menyampaikan kabar tak mengenakkan ini.


Pras ingat beberapa jam lalu ia mengambil keputusan berat untuk memberitahukan betapa parahnya kondisi Papa Cassandra hingga anak itu menangis sesenggukan. Belum ada beberapa jam, masak ia harus menyampaikan berita buruk lagi?


"Cassandra, Papa kamu tertimpa reruntuhan gedung dan kita belum tahu gimana kondisinya. Apa dia masih hidup atau tidak..."


Arghhh! Membayangkan saja sulit. Pras menggigit lidahnya sendiri saking paniknya.


"Tapi beneran belum ada kabar Pa? Papa udah coba nelpon ke nomor Om Pram?" bisik Pras.


Terdengar helaan napas panjang dari Arik Gudono. Di balik panggilan telepon antar ayah dan anak itu, ada hal lain yang membuat mulut Arik susah bicara sejak tadi. Dan ini soal Mayasa. Ya, sampai detik ini Pras tidak tahu kalau Mayasa juga ada di sana. Ia sama-sama sedang terjebak dan soal apakah kondisinya mati atau hidup tidak ada yang tahu.


"Pa?" Pras kembali memanggil karena Arik tak kunjung menjawab.


"Nomornya nggak aktif. Nomor Mayasa juga nggak aktif..." Arik Gudono agak menyeret kalimatnya.

__ADS_1


"APA? MAYASA JUGA DI SANA?" Suara Pras langsung kelabakan tak terkendali.


Cassandra yang tadinya asyik menikmati manisnya milk-shake pesanannya langsung menoleh sambil mengernyitkan alisnya.


"Papa baru dengar dari Pak Budi. Dia menunggu di mobil dan bilang tadi Om Pram naik ke gedung sama Mayasa. Dari kantor pun mereka juga berangkat berdua, semobil..."


Pras merasa ingatannya langsung tertarik mundur pada kejadian beberapa jam yang lalu.


Di ruangan Prambodo alias papa Cassandra, Mayasa masuk ke dalam ruangan dan menatapnya dengan mata sendu.


"Papa mau ngecek proyek dan mungkin akan pulang terlambat ya, Cassandra..."


Pras merasa yakin sekarang. Ya, Papa Cassandra mengecek proyek setelah meeting bersama Mayasa. Pasti setelah itu mereka berangkat berdua...


"Pras! Papa tahu kamu masih menyimpan rasa pada Mayasa. Tapi fokuslah. Kalau merasa nggak fokus nyetir, naik taksi aja ke lokasi. Papa akan kirimkan lokasinya lewat pesan setelah ini. Beritahu Cassandra pelan-pelan. Jangan buat dia panik." Arik Gudono bersuara serak mendadak.


Pras mengiyakan lalu menutup panggilan.


Dilihat Cassandra tak ada lagi di meja mereka tadi, tapi tas dan laptopnya masih utuh di meja.


"Kamu kenapa, sih? Papa kamu bilang apa sampai kamu pucat dan sempat teriak tadi?" Tahu-tahu Cassandra berkacak pinggang di belakangnya.


Pras gelagapan dan menunduk.


Aduh! Bagaimana caranya bilang hal ini?


"Mmm, Papa kamu nyuruh kita nyusul ke proyek. T--tadi dia bilang mau cek ke lapangan, kan? Oke, kita berangkat sekarang. Ambil tasmu biar kukemasi laptop-ku." Pras langsung sigap bergerak.


Cassandra masih diam di tempat dengan wajah tak paham.


"Ngapain Papa nyuruh kita nyusul? Dia biasanya nelpon dan bilang sendiri ke aku. Terus tadi papa kamu yang nelpon, kan? Kenapa bukan Papaku sendiri yang nelpon kamu?" Cassandra masih berdiri di tempat.


Pras yang kini sudah memasukkan laptopnya di tas hanya menoleh dan menyahut sekenanya, "Handphone papa kamu lowbat. Habis batrenya, jadi nggak bisa nelpon."


Cassandra tampak mengangguk percaya. Tunggu sampai ia tahu apa yang sebenarnya terjadi...

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2