Loving Cassandra

Loving Cassandra
Membongkar Rahasia


__ADS_3

Pras membiarkan sejenak agar Cassandra puas mengamuk. Baru setelahnya ia menatapnya dengan lembut agar perasaannya sedikit luluh.


Sejujurnya sampai detik ini juga Pras belum tahu bagaimana caranya bicara soal rumah ini pada Cassandra salah paham. Ia hanya menunggu Cassandra tenang dulu saja.


"Kenapa kok diam aja terus? Kamu dengar aku ngomong nggak sih?" Cassandra rupanya sudah lelah mengomel sendiri soal rumah.


Pras menarik nafas panjang. Rasanya malas basa-basi banyak alasan. Toh Cassandra juga akan tahu kalau dibohongi.


Pras memutuskan mengingkari janjinya sendiri pada Prambodo. Ia akan jujur pada Cassandra. Ia rasa ini keputusan yang paling tepat.


"Papa kamu ingin mengusir kamu secara halus dari rumah. Aku juga baru tahu rencananya soal ini. Tapi rumah ini tidak mungkin tiba-tiba ada, kan? Dia pasti sudah merencanakan sejak lama. Papa kamu penuh rencana. Dan dia melakukan semua ini demi kamu." Pras mulai bicara.


Cassandra yang tadi mengomel langsung diam. Matanya menatap langsung ke arah Pras dan tangannya mulai gugup memainkan tali sabuk pengaman yang terpasang di tubuhnya.


Mobil memang masih di tempat parkir, belum melaju kemana-mana. Tapi jantung Cassandra sudah dibuat ngebut melihat ekspresi serius Pras.


Pras meraba kalau ini momen yang tepat. Ia menarik napas panjang lagi.


"Kamu boleh menutup mata untuk membentengi rasa takutmu atas penyakit papamu, tapi kenyataan tetap terjadi. Kondisi papa kamu makin parah.


Ke depannya dia mungkin akan menanggung kesakitan yang lebih lagi. Dia nggak ingin kamu melihat dia semenderita itu. Dia ingin memori buruk kamu soal ia dan rumah menjadi sisa sedikit saja ke depannya.


Jarak adalah solusinya. Walau bukan solusi ideal, tapi setidaknya mengertilah keputusan papamu, Cassandra. Pura-puralah tidak tahu tentang apa tujuannya melakukan ini." Pras akhirnya tidak mau bermanis-manis kata. Cassandra ia rasa sudah dewasa. Sudah bisa berpikir jernih. Seharusnya ia paham.


Pras merasakan mata Cassandra mulai berair. Gadis itu tidak bawel lagi seperti tadi. Ia mulai membuang muka, mungkin ingin menghindari tatapan cemas Pras.


"Cassandra, aku sebenarnya merasa bersalah sekali karena harus mengatakan ini. Tapi aku nggak punya pilihan. Papa kamu meminta aku untuk merahasiakan semua ini tapi kurasa kamu perlu tahu.


Penyakit papa kamu makin parah. Dokter yang menangani mengatakan perkiraannya meleset soal waktu. Tubuh papamu ternyata tidak sekuat itu. Dia nggak bisa la..."


"Stop!" Cassandra menatap Pras lagi dengan air matanya yang sudah mengucur deras.


Pras tak mau berkata sepatah katapun lagi. Ia tahu Cassandra hanya butuh dibiarkan menangis. Maka ia melepas sabuk pengamannya dan memeluknya.

__ADS_1


"Papa bilang apa lagi?" Cassandra bertanya di sela-sela isak tangisnya. Entah kenapa merasa punggung Pras sangat pas di pelukannya dan secara ajaib membuatnya merasa lebih baik. Membuatnya merasa lebih tenang.


"Cuma itu. Dia nggak cerita detail." Pras berkata lirih. Padahal sebenarnya ia tahu persis angka yang disebut papa Cassandra. Dan angka itu tidak banyak.


Cassandra lalu melepaskan pelukannya. Ia mengusap air matanya secara mandiri tanpa sempat Pras bantu.


"Dia pasti sibuk mengomeli kamu sejak kemarin." Cassandra ternyata masih menganggap papanya percaya fitnahnya pada Pras.


Pras diam saja. Kalau berbohong itu dosa, maka biar ia menanggung saja dosa atas kebohongan ini.


"Itu mobil Pak Budi lagi jalan ke lobby. Papa pasti akan segera pergi. Tadi dia bilang mau cek lapangan sama Bu Mayasa, kan? Ayo kita pergi, Pras. Papa pasti akan salah paham lagi kalau lihat mobil kamu masih di sini sejak tadi." Cassandra langsung merapikan duduknya.


Pras mengangguk lalu kembali memasang sabuk pengamannya dan menyalakan mesin mobil.


Mobil Pras pun melaju pergi meninggalkan area gedung kantor pusat Pragu Group ini.


Hening.


Perjalanan menjadi agak canggung. Cassandra masih sesekali mengusap air matanya dan menangis dalam diam.


Cassandra menghindari tatapan curi-curi pandang Pras. Ia lebih sering menatap ke arah jendela, menikmati perjalanan yang sebenarnya tidak nikmat sama sekali ini.


Pikiran Cassandra mendadak penuh. Ia ingat lagi ucapan papanya beberapa waktu yang lalu. Perkataan itu Prambodo ulang-ulang terus dalam aneka versi. Intinya ia seperti ingin meramalkan kematiannya sendiri.


"Papa takut meninggal di rumah. Rumah ini nanti akan angker dan kamu jadi sedih terus tiap menginjakkan kaki di sini."


"Papa ingin meninggal di rumah sakit saja. Atau setidaknya di tempat lain lah terserah dimana. Di jalan juga boleh. Asal nggak di rumah ini."


Dan isak pelan Cassandra tak tertahan lagi. Tapi gadis itu segera mengendalikan kesedihannya sendiri dengan menutup wajahnya dengan tangan.


Lampu merah tampak di depan. Pras yang biasanya benci terjebak lampu lalu lintas begini untuk pertama kalinya mensyukuri kondisi ini. Lampu merah dua menit itu setidaknya bisa ia gunakan untuk mengecek kondisi Cassandra.


"Cassandra, are you okay? Aku nggak tahu gimana caranya buat menghibur kamu. Apa yang biasa kamu lakukan saat sedih?" Pras yang juga bingung hendak berbuat apa malah mengeluarkan pertanyaan itu.

__ADS_1


Cassandra membuka wajahnya yang bersimbah air mata lalu menoleh ke arah Pras yang kelihatannya begitu mencemaskan keadaannya.


"Aku dengerin lagu Hugo kalau sedih," jawab Cassandra.


Pras mengangguk lalu dengan cepat menyambungkan pemutar musik ke ponselnya. Ia membuka aplikasi straming lagu dan mencari album The BigHigh Band.


"Ini? Suka?" Pras tampak tersenyum lebar begitu berhasil memutar salah satu lagu andalan BigHigh.


Cassandra mengangguk. Pras ingin terus menatap Cassandra tapi lampu lalu lintas yang sudah berwarna hijau tidak mengijinkannya.


Lagipula masih trauma ia pada lampu merah karena insiden penabrakan bemper itu. Sampai sekarang saja mobilnya masih di bengkel. Makannya sekarang ia memakai mobilnya yang lain.


Cassandra duduk dengan tenang di sisa perjalanan karena musik yang diputar. Pras juga mengakui sih kalau Hugo jago untuk lagu tema sedih begini. Suaranya menyayat-nyayat hati.


Sampai akhirnya...


Jreng jreng! I HATE MY EX GIRLFRIEND!...


Lagu sedih teracak otomatis memutar track lagu tang lain yang bernuansa kebalikannya.


Pras menahan tawa karena ia takut membuat Cassandra kesal. Ia kan tertawa karena situasinya jadi aneh, bukan menertawakan Hugo.


"Ketawa aja kalau mau ketawa, Pras! Hahaha!" Cassandra tertawa agak lepas.


Pras jadi tidak tanggung-tanggung menahan tawanya.


"Astaga! Sorry-sorry. Tadi playlist-nya masih setelan acak." Pras menjelaskan dengan tawa tertahan.


Bisa-bisanya sondtrack kesedihan Cassandra berubah menjadi lagu BigHigh yang penuh keceriaan begitu. Lagu ini lebih cocok ditayangkan di acara party.


Cassandra tertawa lepas lalu tiba-tawanya terhenti. Ia tiba-tiba berpikir apakah kalau sungguhan papanya pergi dengan cepat, apakah ia bisa tertawa selepas ini lagi?


Air muka Cassandra langsung berubah. Tepat pada saat yang sama Pras menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah warna putih bergaya modern itu.

__ADS_1


"Nah, ini rumah yang dimaks... Cassandra?" Pras tidak jadi bicara begitu melihat Cassandra menangis lagi...


BERSAMBUNG ...


__ADS_2