Loving Cassandra

Loving Cassandra
Dibela Calon Istri


__ADS_3

"Non Sandra!" Sebuah suara berbisik tiba-tiba mengejutkan Cassandra.


Gadis itu menoleh ke belakang dan menatap kesal ke arah asisten rumah tangganya itu.


"Apaan sih, Mbak. Ngagetin aja!" Cassandra berbisik dengan nada kesal. Tangannya yang tadi dengan hati-hati menyingkap tirai jendela untuk mengintip Pras dan papanya langsung ia sembunyikan di balik punggung.


"Maaf, Non. Non kenapa? Lagi apa? Lagi ngintip ya? Kenapa nggak keluar aja biar kedengaran. Dari sini nggak kedengeran, Non." Mbak Min tampak menyarankan dengan polos. Karakter wanita separuh baya ini memang begitu. Dan itu kadang membuat Cassandra tertawa, kadang juga jengkel.


Cassandra mengerucutkan bibirnya. Kalau ia nguping di luar namanya bukan nguping lagi, tapi nimbrung.


"Mbak Min! Kalau aku ke luar namanya ikut ngobrol. Ah, ngagetin aku aja." Cassandra mengeluh kesal.


Ketika Cassandra mengintip dan dikejutkan Mbak Min tadi ternyata Pras menyadarinya. Pras merasa Cassandra sepertinya merasa bersalah atas semua kesalahpahaman ini. Cassandra pasti merasa cemas dan berpikir Pras mungkin sedang diomeli habis-habisan oleh papanya.


"Om, Cassandra ngintip dari jendela sebelah sana." Pras menahan senyum. Di antara pedihnya percakapan barusan, kemunculan Cassandra sekilas yang ditangkap oleh matanya terasa seperti pembalik situasi.


Prambodo menoleh dan melihat siluet putrinya sedang bersama seseorang. Jelas seseorang itu pasti salah satu pekerja di rumahnya.


Pria sekarat itu tersenyum.


"Dia pikir saya sedang ngomelin kamu, Pras. Mungkin dia merasa bersalah juga. Saya tahu kok seburuk-buruknya kelakuan kamu yang tidak berkenan di hati saya, kamu tetap calon menantu terbaik yang bisa saya dapatkan.


Saya sangat ingin mengomeli kamu karena kamu bawa Cassandra naik motor dan..."


"Om! Sumpah, Om! Nggak gitu ceritanya." Pras langsung ingat lagi kejadian itu. Ia pikir ini kesempatannya untuk meluruskan fitnah buatan Cassandra ini.


Prambodo mengernyitkan dahinya. "Terus sebenarnya gimana kejadian aslinya?" Ia bertanya.


"Cassandra memotong penjelasan saya terus. Saya lupa kalau saya nggak bawa mobil kemarin. Terus saya samperin dia lalu nyuruh dia naik taksi, biar saya ikutin taksinya di belakang sampai rumah sakit.


Saya jelas ingat soal cerita Om dan bagaimana Om sangat trauma terhadap kecelakaan. Apa gila saya nyuruh Cassandra membonceng motor. Tapi dia yang memaksa naik. Saya nggak mungkin nyuruh dia turun. Sekali lagi maaf ya Om."


Prambodo menyimak penjelasan Pras dengan melongo. Oh, putrinya si banyak akal. Ternyata ia menipunya kemarin untuk menjatuhkan nama baik Pras.


"Jadi semua ceritanya itu karangan belaka? Juga soal ucapan kamu... Ah..." Prambodo akhirnya sadar sendiri. Memang ya kelakuan Cassandra ini.


Pras mengangguk. "Iya. Saya nggak mungkin kurang ajar dan memanfaatkan kepolosan Cassandra. Lagipula anak gadis Om tidak sepolos itu. Kalau saya macam-macam, dia pasti akan tampar saya.


Dia hanya berusaha melakukan segala cara agar saya kesal dan menyerah soal perjodohan ini. Termasuk kelakuannya malam ini dengan berpakaian seperti itu." Pras menyinggung gaun mengerikan Cassandra lagi di akhir penjelasannya.


Prambodo tertawa pelan sambil menepuk punggung Pras.


"Astaga, Pras! Seharusnya saya sadar sejak awal. Anak itu luluh padamu terlalu cepat. Pasti ada sesuatu di baliknya. Ternyata dia bertingkah. Sabarnya kau ini, Pras." Prambodo makin merasa ia tak salah pilih.


Putri satu-satunya yang ia jaga dan ia sayang-sayang harus berakhir di tangan pria yang tepat. Dan pria pilihan Prambodo adalah Pras.

__ADS_1


"Dia mengintip lagi, Om." Pras berkata pelan sambil pura-pura melihat ke arah lain.


Prambodo menunduk untuk menyembunyikan tawanya. Pras ikut menunduk.


"Masih?" Prambodo yang posisinya agak membelakangi bertanya.


Pras mengangguk lalu mereka berdua tertawa.


"Om, sepertinya posisi saya akan lebih menguntungkan lagi kalau Om pura-pura mengomeli saya. Dia akan merasa bersalah. Dan itu bagus. Dia akan luluh dan tidak bertingkah macam-macam lagi mengerjai saya setelah ini." Pras berbisik masih sambil menunduk.


"Gimana caranya?" Prambodo membalas dengan suara tak kalah pelan.


Pras tiba-tiba punya ide.


Ya, ia menjelaskan soal mobilnya yang ditabrak tadi hingga bemper belakangnya rusak parah.


Awalnya tentu Prambodo merasa terkejut. Hal apapun yang berhubungan dengan kecelakaan mobil amat membuatnya trauma. Namun Pras berhasil menjelaskan duduk permasalahannya.


Pras hanya sial karena bertemu pengendara mobil arogan yang mabuk. Dan yang paling penting ia dan Cassandra tidak apa-apa, kan. Hanya mobilnya saja yang penyok.


"Oh, pantas kalian lama di jalan nggak sampai-sampai rumah. Saya sampai telpon Mbak Min berkali-kali dan dia bilang mobilmu belum sampai." Prambodo mengangguk-angguk paham.


Pras lalu menjelaskan bagaimana cara mereka untuk mengerjai balik Cassandra. Prambodo mengangguk-angguk setuju sambil menahan tawa.


"Jadi saya ngomelin kamu aja? Serius? Kalau ternyata dia nggak belain kamu gimana?" Prambodo mulai ragu.


Prambodo mengangguk. Ya, ini ide bagus. Ia langsung setuju.


***


Mbak Min masih mengekor Cassandra-nona majikan mudanya yang ia rawat sejak kecil.


Cassandra membiarkannya saja. Ia sedang fokus mengintip dan menguping walau sia-sia saja. Suara di luar begitu jauh dari tempatnya mengintip.


"Mbak Min! Papa ngomelin Pras! Aduh, tadi kenapa Papa lihat ke arah situ, sih. Kalau lihat bekas tabrakan mobil itu pasti Papa menduga kalau Pras yang nggak becus nyetir dan mau bikin aku celaka.


Aduh Mbak Min! Papa sampai kayak gitu mukanya. Lihat Pras! Dia sampai menunduk terus. Aku harus gimana ya? Apa aku keluar belain dia. Dia nggak salah!" Cassandra jadi panik.


Mbak Min yang berdiri di belakang Cassandra hanya melongo.


"Bukannya bagus ya Non kalau Bapak marahin Mas Pras. Non kan nggak suka sama dia. Nggak mau dijodohin sama dia. Saya sering dengar loh Non teriak-teriak di kamar mandi dan maki-maki nama Mas Pras dengan kesal.


Bagus kan Non kalau Mas Pras diomeli Bapak. Siapa tahu Bapak berubah pikiran dan nggak jadi jodohin Non Sandra." Mbak Min lagi-lagi bereaksi dengan polos.


Cassandra langsung diam.

__ADS_1


Oh, iya juga ya.


Bukannya ini tujuan semua tingkah konyolnya? Biar Pras menyerah atau papanya sendiri yang berubah pikiran. Intinya agar perjodohan ini gagal.


Cassandra mulai menggigiti bibirnya sendiri.


Ia bingung sendiri kenapa ia merasa cemas dan merasa bersalah karena Pras diomeli papanya.


Mbak Min menatap Cassandra dengan wajah bingung.


"Jangan-jangan Non Sandra mulai suka beneran ya sama Mas Pras. Wah, bagus dong. Mas Pras juga kayaknya cowok baik, ganteng, kelihatan pintar dan dewasa. Dia juga..."


"Mbak Min!" Cassandra mulai makin gemas dengan komentar polos asisten rumah tangganya itu.


Cassandra mulai kepikiran. Apa jangan-jangan benar apa yang dibilang Mbak Min. Dia mulai suka betulan pada Pras.


NGGAK!


Cassandra berusaha menyadarkan dirinya sendiri untuk tidak merasa kasihan pada Pras. Tapi begitu matanya melirik ke arah jendela lagi ia berubah pikiran. Dilihatnya Pras makin menunduk takut dan papanya kelihatan begitu kesal.


"Nggak! Aku harus belain Pras! Kita tadi ditabrak orang mabuk. Papa pasti salah paham!" Cassandra lalu berlari ke arah pintu tanpa mempedulikan Mbak Min yang memanggilnya dengan bingung.


***


Semenit kemudian...


Prambodo dan Pras saling berpandangan ketika Cassandra berlari ke arah mereka dengan wajah panik. Bibir manisnya tak berhenti bilang, "Papa jangan marahin Pras. Dia nggak salah!"


Pras lalu memberi kode agar papa Cassandra mengomelinya lagi dengan lebih parah.


Dan betul. Prambodo mengomel lagi selama lima menit hingga Cassandra menatap Pras dengan tatapan makin iba.


"Coba, dipikir Papa bodoh apa. Mana ada orang mabuk tiba-tiba nabrak mobil orang nggak dikenal di jalan. Ngarang cerita aja! Dia pasti nggak hati-hati nyetirnya. Udah tahu dia lagi bawa kamu di sampingnya.


Kamu juga gimana sih, Pras! Udah kemarin bawa Cassandra naik vespa ke rumah sakit. Itu bahaya! Naik motor itu bahaya. Mana janji kamu akan menggantikan saja jagain Cassandra! Nyetir aja nggak benar. Kamu..."


"Pa! Papa stop, Pa! AKU YANG SALAH!" Cassandra tiba-tiba mengeluarkan kata-kata mengejutkan dari mulutnya.


Pras sampai melongo tak percaya. Cassandra membelanya? Serius?


Prambodo mengernyitkan dahinya. Ia masih pura-pura galak.


"Aku yang maksa Pras biar diajarin nyetir karena selama ini Papa nggak ngasih aku izin bawa mobil. Bemper belakangnya nabrak dinding pembatas karena aku pentok-pentokin." Cassandra mulai mengarang cerita.


Entahlah kenapa ia melakukannya. Ia tak sadar kebohongan ini ia lakukan demi membela Pras dari amukan papanya.

__ADS_1


Prambodo dan Pras saling berpandangan dan berkirim kode lewat mata.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2