Loving Cassandra

Loving Cassandra
Ancaman di Pemakaman


__ADS_3

Sebuah rumah duka disewa secara khusus. Tak hanya untuk Prambodo alias papa Cassandra saja, tapi juga untuk 5 pekerja konstruksi yang meninggal di hari yang sama.


Salah satunya sempat koma beberapa jam di rumah sakit lalu meninggal. Jadi total korban meninggal adalah 6 orang.


Dengan mengenakan pakaian hitam dan selendang renda warna senada, Cassandra bersimpuh di dekat peti jenazah papanya. Pras berusaha memapahnya menyingkir ketika pelayat makin ramai datang dan mengambil gambar dengan kamera handphone tanpa bisa diperingatkan lagi.


"Sebaiknya kita memyingkir ke belakang," bisik Cassandra yang awalnya agak melawan ketika Pras menuntunnya pergi.


Pras berpikiran panjang soal ini karena ia tahu bagaimana rasanya terlanjur tersorot media dan wajahnya ada dimana-mana tanpa bisa ia kendalikan. Rasanya menjengkelkan. Ia sempat merasakan saat hadir di pesta walikota bersama papanya dan besoknya ada headline berita soal dirinya dengan tulisan tercetak tebal : Calon Pewaris Pragu Group.


Memang beritanya hanya sepintas lalu. Besok orang juga lupa. Lagian penikmat berita bisnis juga tak seluas itu. Tapi rasanya tetap saja mengesalkan ketika almamater sekolah dan kampusnya dikulik. Kehidupan pribadi pun kadang terbawa-bawa.


Makannya Pras kadang tak paham bagaimana Hugo dengan nama band-nya yang sebesar sekarang bisa setahan itu diberitakan aneh-aneh di luar sana. Pun sekarang Hugo juga sedang pusing karena kasus menyetir sambil maboknya heboh diberitakan.


"Banyak kamera. Kecuali kamu nggak papa difoto-foto. Jadi kamu mau tetap di sini?" bisik Pras lagi.


Cassandra langsung menggeleng dan ikut saja tanpa bertanya kemana Pras menuntunnya pergi. Yang jelas mereka menyingkir dari keramaian.


Jangan ditanya seberapa banyak berita ini terekspose di luar sana soal insiden ini. Pragu Group juga dinilai lali. Padahal sebenernya yang lalai adalah pihak kedua alias penanggung jawab lapangan. Ya, namanya saja juga berita. Bisa dibuat sedemikian rupa oleh pesaing bisnis untuk menjatuhkan.


Tqk hanya Pras, tapi Arik Gudono sangat menjaga privasi Cassandra. Tak akan ia biarkan satu kamerapun menyorotnya. Tak akan ia biarkan satu media pun menyebut nama Cassandra, walau hanya sekedar inisialnya. Arik yang kenal dan beberapa berteman akrab dengan pemilik media besar tentu bisa melakukannya.


Pria berambut gondrong itu menjadi orang paling sibuk sejak insiden kemarin.


Arik otomatis mengambil alih 100% urusan Pragu. Ia juga yang ditanya-tanya polisi soal kronologi. Ia juga yang menggelar konferensi pers atas insiden ini agar beritanya makin tak simpang siur kemana-mana.


Sekarang pria itu tampak mengurus pemakaman dan mendatangi keluarga korban satu per satu. Sungguh, mewakili Pragu Group maupun secara pribadi, Arik sangat bertanggung jawab dan serius.


Itulah sebabnya di antara 5 korban selain Prambodo, pihak keluarga mereka tak ada yang bersuara macam-macam di media. Mereka berlapang dada tahu Arik akan bertanggung jawab atas meninggalnya 6 kepala keluarga yang tewas itu.


Arik sudah mengatur pertemuan khusus untuk membuat perjanjian akan menanggung anak-anak dan ahli waris para korban dari biaya hidup hingga yang sekolah sampai anak-anak mereka kuliah.


Arik Gudono menjamin dengan serius walau ia tahu seberapa banyak yang ia janiikan tidak akan mengembalikan nyawa orang yang mereka cintai. Ya setidaknya itulah hal terbaik yang bisa ia lakukan.

__ADS_1


Pasangan ayah dan anak itu bertemu mata dan mengangguk satu sama lain. Seolah memberi kode kalau mereka sedang berbagi tugas.


Arik mengurus insiden beserta urusan perusahaan. Pras mengurus Cassandra dan memastikan ia aman seperti yang ia janjikan pada mendiang Prambodo.


Pras menghampiri Cassandra yang kini sudah berhasil ia bawa menyingkir ke ruangan khusus. Cassandra duduk di sudut ruangan dengan posisi meringiuk.


Hanya ada mereka berdua saja di ruangan yang hening ini.


"Sekitar setengah jam lagi semua jenazah termasuk papa kamu akan diberangkatkan ke pemakaman. Aku akan temani kamu ke..."


"Nggak usah," potong Cassandra cepat tanpa melihat ke arah Pras.


Pras diam. Ia tak berkata-kata tapi tubuhnya ia bawa mendekat dan duduk di sampingnya gadis yang sedang bersedih itu.


"Kalau kamu takut tersorot wartawan, kita bisa nenyelinap ke mobil yang akan jenazah sekarang. Wartawan tidak bisa masuk ke pemakaman, kok. Mereka hanya sampai luar karena papaku yang menutup akses." Pras menyangka Cassandra hanya enggan tersorot kamera.


Cassandra tetap menggeleng.


Pras mengangguk.


Ya, ia tahu keputusan Cassandra ini dibuat atas kesadarannya sendiri. Daripada memaksakan datang dan hanya merepotkan karena pingsan atau menangis terlalu histeris.


Setidaknya Cassandra tahu batas kemampuannya. Ia tahu ia tak tahan dan lebih baik meringkuk di sini. Lagipula siapa yang bisa setegar itu sih melihat peti jenazah yang berisi mayat ayah kandungmu perlahan ditimbun tanah?


Pras sibuk dengan handphone-nya lalu menatap Cassandra lagi dan berucap pelan, "Mereka bilang sepuluh menit lagi ruangan steril dari pelayat. Tinggal keluarga korban aja. Kamu mau keluar dan melihat papa kamu untuk terakhir kali sebelum petinya ditutup?"


Cassandra tertunduk lalu mengangguk dengan wajah ia kuat-kuatkan.


"Pras, tolong janji padaku untuk menyeretku ke sini lagi kalau aku menangis seperti orang gila lagi. Cukup kemarin aku melakukannya di ambulance," ucap Cassandra sembari pelan.


Pras berusaha tersenyum dan menepuk pelan pundak Cassandra.


Sungguh, dulu pasti Cassandra akan menampar atau bahkan menonjok siapapun yang menyentuhnya begitu. Entah sejak kapan ia merasa Pras boleh menyentuhnya begini. Cassandra sepertinya juga tidak sadar sejak kapan.

__ADS_1


***


Arik Gudono terlalu sibuk mengurus ini dan itu hingga ia terlambat menyadari kalau Mayasa hadir di rumah duka.


Dilihatnya wanita yang pernah ia sumpah untuk menjauhi Pras itu menghadap padanya dengan sedikit tertunduk.


"Kamu ngapain ke sini? Kondisi kamu sendiri juga belum baik." Arik Gudono berkata pelan sambil berjalan menyingkir ke sudut yang sepi. Ia sengaja berjalan ke arah sana untuk menggiring Mayasa juga dari keramaian.


Mayasa hanya tertunduk. Arik Gudono selalu merasa canggung setelah ia tahu Mayasa pernah punya hubungan dengan Pras. Jadi sekarang pun di situasi ini, rasanya semakin canggung saja.


"Sa--saya cuma mau lihat Pak Prambodo untuk yang terakhir kali. Bagaimana pun beliau sangat penting untuk saya. Di saat-saat terakhirnya pun kami bersama, banyak bicara. Dan entah tak tahu siapa yang akan bertahan atau mati, kita masih berpegang erat. Tentu saya harus datang hari ini."


Ucapan Mayasa tidak ditanggapi Arik. Pria nyentrik yang kini berkemeja hitam pekat itu hanya melirik je arah bekas infus di tangan Mayasa yang nampak masih baru, juga goresan luka yang belum sepenuhnya kering di pipi, dahi, leher bagian samping juga lengan.


Mayasa bisa dibilang beruntung hanya mengalami luka ringan. Ya walau luka trauma itu lebih parah daripada kelihatannya.


"Sebentar lagi semua pelayat di rumah duka menyingkir. Hanya keluarga korban yang saya izinkan di sini untuk persiapan ke pemakaman.


Kalau kamu mau melihat Pram, cepatlah dan segeralah pergi. Cassandra yang lebih berhak atas papanya rasanya butuh privasi. Kamu ngerti, kan?" Arik berkata sambil melirik ke arah area peti jenazah yang berangsur menyingkir orang-orangnya karena diarahkan petugas untuk keluar.


Mayasa tentu mengangguk tanpa banyak bicara. Sampai akhirnya ia memang tak bisa bicara lagi begitu melihat Cassandra keluar dari sebuah pintu dengan air mata bercucuran. Dan tebak siapa yang mendampinginya.


Jelas Pras.


Pras tak hanya mendampingi. Ia merangkul dan bicara dengan lembut. Matanya juga tak lepas menatap Cassandra dengan penuh perhatian.


Hati siapa yang tak cemburu? Mayasa menatap nanar ke arah Cassandra dengan Arik Gudono yang meliriknya tajam.


Arik berdehem. "May, kamu tahu kan selama ini saya masih pertahanin kamu di kantor karena siapa? Karena Prambodo. Saya bisa singkirkan kamu kapan pun kalau sampai kamu mengusik Pras lagi. Terlebih mengusik Cassandra. Dia anakku sekarang. Bukan sekedar calon anak menantu. Aku akan menjaganya seperti aku menjaga Pras!"


Jleb!


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2