
"I'm okay." Dengan mata memerah, Cassandra berusaha menghindari kontak mata dengan Pras. Ia turun dari mobil tanpa mempedulikan Pras yang berusaha mencegah.
Pras akhirnya ikut turun dan mengikuti Cassandra.
Mengimbangi seorang wanita dengan segala gejolak emosi yang mudah berubah tiba-tiba begini memang tak mudah. Terlebih Cassandra lebih muda 7 tahun dari Pras.
Kemanapun kaki Cassandra melangkah, Pras mengikuti satu langkah di belakang. Hingga akhirnya langkah Cassandra berhenti begitu ia menyadari ada orang di dalam rumah itu.
Ya, rumah itu ternyata sedang tidak kosong. Ada beberapa pekerja di sana yang ketika Pras bertanya mereka menjawab kalau mereka disuruh Prambodo.
"Besok sudah selesai, Pak. Sore ini juga semua interior selesai, lalu malamnya dibersihkan secara total." Pria berkemeja yang sepertinya bertanggung jawab atas rumah ini menjelaskan.
Pras mengangguk, Cassandra diam saja.
Rumah ini akan siap ditempati karena memang semua sudah rapi. Tinggal finishing interior sedikit saja. Sudah jelas dong kalau papa Cassandra memang sudah mempersiapkan rumah ini sejak lama.
Sejak tahu vonis penyakitnya, lalu disusul istrinya meninggal karena kecelakaan mobil itu, Prambodo berpikir panjang soal banyak hal. Ia ingin hidup Cassandra tetap enak, berkecukupan, terlindungi, dan nyaman setelah ia meninggal. Prambodo memang merencanakan rumah ini sejak lama.
"Kayaknya di belakang ada kolam renang. Katanya area itu sudah clean. Sejuk juga sepertinya. Mau lihat?" Pras menawarkan.
Cassandra mengangguk.
Tak berapa lama kemudian mereka berdua sudah duduk di kursi pinggir kolam renang yang teduh dan syahdu.
Cassandra masih diam, tapi entah mengapa ia merasa Cassandra sudah nyaman bersamanya dan ia yakin pula gadis itu akan bicara.
Benar saja, beberapa menit kemudian Cassandra mulai bicara tanpa Pras pancing sedikit pun.
"Setelah kakiku sembuh dan Papa memintaku kembali ke sekolah, sebenarnya Papa sudah mengajakku untuk pindah rumah. Rumah lama yang sekarang itu penuh sekali kenangan soal mendiang Mama. Dan itu sering bikin aku sedih.
__ADS_1
Aku setuju pada awalnya dengan ide Papa itu. Tapi setelah melihat rumah baru kami hampir mirip dan sama besarnya dengan rumah lama, aku menolak. Apa bedanya? Sama. Cuma lokasinya saja yang berbeda. Semua mengingatkan aku sama Mama.
Mama suka rumah besar dan luas. Mama suka merawat tanaman dan ia punya banyak koleksi tanaman hias langka. Semua tanaman itu Papa singkirkan setelah Mama meninggal biar kita nggak keingat lagi dan sedih lagi. Tapi tetap saja lah, Pras. Benda bisa dibuang, tapi kenangan tidak. Kami masih sering sedih kalau kangen Mama."
Pras masih diam tanpa menanggapi tapi matanya yang bicara. Mata itu menatap Cassandra penuh kepedulian. Telinganya hanya ia khususkan hanya untuk mendengar Cassandra bercerita saja.
Sebenarnya sikap ini tidak spesial-spesial amat, mengingat Pras juga suka menyimak penuh perhatian begini mau siapapun itu yang sedang bicara. Terlebih dulu ketika ia masih menjalin hubungan dengan Mayasa. Pras juga memperhatikan Mayasa sebegitunya kalau janda anak 3 itu sedang bicara.
Sementara Pras masih menatap fokus, Cassandra melanjutkan ceritanya lagi.
"Kubilang sama Papa kalau aku ingin rumah minimalis bergaya modern dengan dua lantai saja. Catnya warna putih, interior-nya simpel, dengan tanaman sedikit saja, dan kolam renang biru di area belakang rumah.
Papa nggak bilang apa-apa waktu itu. Dia bilang susah mencari properti sejenis itu di pusat kota. Paling tidak harus membongkar bangunan lama dan memulai bangunan dengan konsep baru seperti yang aku mau.
Dan rumah ini..."
Cassandra tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Air matanya meleleh lagi. Pras menarik kursinya sendiri agar lebih agak maju. Ia ingin mengenggam tangan Cassandra agar gadis itu lebih nyaman tapi ia ragu. Ia takut Cassandra menyalah artikan sentuhannya yang niatnya sebenarnya tulus.
Cassandra mengangguk.
"Di balik semua sikapnya yang mungkin beberapa ada yang tak kamu suka, tapi Papa kamu sangat menyayangi kamu. Untuk terakhir kalinya kumohon. Cassandra, please buat semua ini jadi lebih mudah, ya. Maksudku soal pernikahan ini. Buat Papamu tenang dan tidak cemas lagi." Pras akhurnya mengambil alih percakapan.
Cassandra mengangguk lalu mengusap air matanya.
"Kapan sih tepatnya kita menikah?" Cassandra bertanya setengah melamun. Melankolis-nya sikapnya ini membuat nada bicaranya seperti orang lemas kehabisan tenaga.
"Aku juga kurang tahu, tapi pengacara kita sudah sampai tahap pengajuan berkas. Papa kamu bilang dia ingin sesegera mungkin," jawab Pras.
Cassandra mengangguk-angguk. Matanya tampak lebih hidup dibandingkan tadi. Mungkin akhirnya ia sudah bisa mengatasi rasa sedihnya.
__ADS_1
"Oke. Kita buat perjanjian do and don't. Apa yang boleh dilakukan, apa yang nggak boleh dilakukan, apa aja batasnya, dan hal-hal seputar itu. Terutama soal kontak fisik, aku harus mempertegas ini ya, Pras. Aku nggak mau..."
"Aku ngerti..." Pras memotong.
Dalam jarak duduk yang begitu dekat, keduanya saling tatap dengan serius.
"Oke! Kita tulis agar jelas!" Cassandra menegaskan.
Bagaimana pun, Cassandra merasa ia harus membuat Pras tahu posisinya. Pernikahan ini kan bukan atas dasar cinta. Mereka sama-sama punya kepentingan dengan latar belakang kesepakatan orang tua masing-masing.
Dan siang itu, di pinggir kolam renang rumah baru yang akan mereka tinggali nantinya, Cassandra dan Pras saling bicara dan sesekali berdebat.
Ya, ini soal batasan yang harus mereka tetapkan dan sepakati sebelum mereka menikah.
***
Sementara itu di waktu yang sama.
Di sebuah mobil yang melaju stabil di ruas jalan tol, Prambodo dan Mayasa yang duduk di jok belakang alias kursi penumpang tampaknya sedang mengobrol.
Pak Budi fokus menyetir di depan.
Mayasa berusaha profesional sejak percakapan awal yang membuat dadanya sesak itu. Bagaimana tak sesak, Prambodo hanya terus membalas soal pernikahan Pras dan Cassandra.
"Jadi rencana pernikahan mereka dipercepat? Lalu kapan lebih tepatnya, Pak." Mayasa tak tahan untuk tak mengorek rencana pernikahan ini. Mulutnya gatal padahal sudah ia tahan-tahan sejak tadi.
Prambodo yang tampak sedikit bingung ditanya soal ini diam sejenak...
Mayasa makin berdebar menanti jawaban ini. Sejujurnya ia tak siap mendengar semua soal Pras yang masih ia cintai itu...
__ADS_1
"Pras, seharusnya kita yang membicarakan soal pernikahan kita. Pernikahan kita berdua, Pras. Bukan pernikahan kamu sama gadis lain begini..."
BERSAMBUNG...