Loving Cassandra

Loving Cassandra
Rumah Kita


__ADS_3

Ah, begitu serasi. Mayasa diam-diam mengakui dalam hati betapa mantan pacarnya itu sangat cocok berdampingan dengan Dea.


"Oh, taruh sini aja berkasnya May. Nggak papa, kok. Kita meeting di sini aja, ya. Lagian mereka mau pergi kok sebentar lagi.


Oh, ya. Kamu udah kenal kan sama Cassandra, kan? Cassandra, ini Mayasa." Prambodo yang tak tahu apa-apa soal cinta terlarang Pras-Mayasa itu berkata dengan polosnya.


Mayasa mengangguk dengan canggung lalu menaruh setumpuk dokumen itu di meja. Jaraknya hanya satu meter dari tempat Pras berdiri.


Rasa sakit Mayasa melihat mantan pacarnya itu menggandeng gadis lain di pesta semalam masih terasa begitu hebat. Ditambah lagi pemandangan itu terulang lagi di depan mata sekarang. Dadanya bergelora dengan amarah tertahan.


Pras tampak menunduk lalu menoleh ke arah jendela. Ia alihkan perhatiannya sebisa mungkin agar tak berkontak mata langsung dengan Mayasa.


Mayasa yang mencoba mencuri pandang pun tambah sakit hati. "Oh, bahkan melihat ke arahku pun Pras tak mau," batinnya sedih.


"Cassandra udah tahu, Pa. Semalam nggak sengaja ketemu di toilet waktu pesta," sahut Cassandra.


Cassandra menatap Mayasa dengan tatapan yang sama seperti Mayasa menatapnya di toilet kemarin. Tatapan mata memindai alias menatap dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapan menghakimi.


Entah kenapa Cassandra melakukannya. Ia sepertinya iseng saja. Lagian kemarin Mayasa aneh sekali tiba-tiba menghampirinya di toilet dan menatapnya seperti mengintimidasi begitu.


Pras yang sibuk menata perasaannya sendiri rupanya tak menyadari adegan beberapa detik yang membuat mental percaya diri Mayasa mendadak jatuh berkeping-keping itu.


Cassandra hanya iseng membalas tatapan Mayasa tapi pikiran negatif Mayasa merasa Cassandra sedang meledek usianya yang tua dan wajahnya yang mulai keriput.


Memang masalah percaya diri ini kadang membuat seseorang menuduh jahat orang lain. Padahal masalahnya kan ada pada dirinya sendiri.


Mayasa menggangguk tanpa mengucap sepatah katapun. Selain karena rasa bencinya mendadak muncul tak terduga setelah melihat tatapan Cassandra, ia juga mendadak merasa malu.


Cassandra bukan saingannya. Lihatlah betapa cantiknya gadis itu padahal ia tanpa make up dan berpakaian biasa saja. Sedangkan Mayasa berdandan habis-habisan pagi ini untuk sekedar ke kantor.


Ya, Mayasa banyak waktu di depan meja rias untuk menutupi kantung matanya yang menghitam karena kebanyakan menangis setelah kejadian di pesta.


"Mayasa, gadis di samping Pras bagai bidadari. Lalu kamu apa? Kamu badut dengan make up tebal tak tahu malu yang bermimpi bisa mendapatkan cinta pria keren macam Pras. Sadarlah soal umur dan penampilamu. Kalian bahkan tak bisa dibandingkan. Selevel saja tidak." Mayasa mundur setelah menaruh dokumen. Ia terus menerikai dirinya sendiri dalam hati.


Prambodo dan Cassandra yang tak tahu menahu soal kisah cinta rahasia itu kembali bersikap biasa saja. Mereka tak menyadari perubahan sikap Mayasa dan Pras yang mendadak saling diam dan menghindar satu sama lain. Sejak tadi mereka saling menghindari kontak mata.

__ADS_1


"Oh, baguslah, May. Oke, Sandra. Yasudah kamu pergi sama Pras, ya. Papa sama Mayasa kayaknya mau cek lapangan ke pembangunan gedung baru cabang 3. Papa agak sore ya pulangnya. Ini kuncinya, Pras," ucap Prambodo sambil menyerahkan sebuah kunci.


Pras menerima kunci itu lalu mengangguk dengan gesture siap pergi. Ia kelihatan buru-buru juga mungkin karena ingin menghindari Mayasa secepatnya.


"Itu kunci apa? Mobil kamu kenapa, Pras?" Cassandra yang mengira itu kunci mobil bertanya dengan bingung.


"Bukan kunci mobil. Nanti pokoknya kamu juga akan tahu. Pras udah jelasin. Udah sana. Hati-hati ya, Pras nyetirnya." Seperti biasa Prambodo mengakhiri ucapan selamat tinggal dengan kalimat wajib itu : Hati-hati menyetir.


Pras mengangguk lalu menarik pelan tangan Cassandra. Mereka berjalan melewati Mayasa yang berdiri dengan hati nestapa.


Mayasa hanya bisa berusaha tetap profesional. Pokoknya jangan sampai ia menangis. Jangan sampai. Apalagi di depan Prambodo. Jangan! Walau hatinya tercabik-cabik melihat tangan kekar Pras yang dulu ia genggam itu menggenggam tangan gadis lain.


Jegrek!


Pintu ditutup. Pras dan Cassandra menghilang dari pandangan Mayasa yang sendu.


"May, saya tahu kamu biasanya nyetir sendiri kemana-mana. Tapi nanti pakai mobil saya saja ya ke lokasi proyek. Kita pakai sopir. Bisa sekalian kan diskusi di jalan dengan leluasa. Kan kamu yang tahu betul planning ini. Arik udah ACC ide revisi dari kita, kan?" Prambodo langsung membuat Mayasa kembali ke realita.


Kamu sedang di kantor, Mayasa. Bukannya sedang di toilet kamarmu sehingga kamu bisa melamun seenaknya sendiri sambil meratapi kesedihan. Keep focus!


Ketika Prambodo mengecek berkas dan Mayasa duduk di depannya, pikirannya bukannya fokus tapi malah makin terbayang-bayang Pras dan Cassandra.


Mereka mau pergi kemana, ya? Mereka lagi ngapain, ya? Mereka pasti sedang berduaan di mobil...


"May?" Prambodo memanggil nama pegawai kepercayaannya itu karena sejak tadi diajak diskusi, ia kelihatan tak fokus.


Mayasa tergagap. "Eh, oh i--iya, Pak. Pras tadi pergi kemana, ya?"


Prambodo agak kaget. Kok Mayasa tiba-tiba menanyakan Pras? Bukannya barusan mereka masih mengobrolkan soal pekerjaan?


Mayasa sendiri juga kaget dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Sayang, omongan yang terlanjur keluar lam tidak bisa diralat. Rupanya lamunan itu terbawa keluar saking merasuknya di pikirannya.


"Oh, Pras sama Cassandra pergi lihat rumah." Prambodo menjawab dengan biasa saja.


Lagian Prambodo dan Mayasa memang akrab sekali, kan? Makannya topik obrolan pribadi di sela-sela diskusi pekerjaan itu biasa bagi mereka. Bahkan sering juga di tengah-tengah meeting, Mayasa menerima telepon dari anaknya dan Prambodo tak keberatan. Ia malah menyuruh Mayasa untuk nyaman menelpon.

__ADS_1


"Rumah apa, Pak?" Mayasa makin berani bertanya. Nanggung. Daripada terus penasaran.


***


"Hah? Rumah?" Cassandra berseru bingung sekaligus kaget ketika Pras menjelaskan kunci yang tadi diberikan papanya itu.


"Iya. Ini kunci buat rumah," jawab Pras dengan tenang. Ia sudah mulai bisa menyingkirkan wajah Mayasa yang barusan ia lihat di ruangan Papa Cassandra.


"Rumah? Rumah siapa?" Cassandra bertanya lagi sambil merapikan sabuk pengamannya.


Pras mengangkat bahu. "Ya rumah kita. Rumah kamu."


Cassandra menatap Pras dengan mata mendelik.


"Apaan sih, Pras? Rumah apa? Maksunya apa?" Cassandra tampak kesal.


Sedangkan Pras sedang bingung menyusun kata-kata agar Cassandra tidak curiga karena rumah ini disiapkan begitu cepat.


"Y--ya. I--ini katanya rumah dari papa kamu. Dia baru bilang soal rencana pernikahan yang dipercepat dan dia bilang rumah ini hadiah pernikahan kita. Mari kita tengok." Pras sudah memasang sabuk pengamannya dan siap menyalakan mesin mobil ketika Cassandra melihatnya dengan tatapan melotot.


"Hah? Maksudnya? Masih banyak yang harus kita bicarakan secara serius berdua saja soal pernikahan. Tapi kamu tahu kan walau kita sudah menikah nanti kita akan tinggal di mana?


Aku mau tetap tinggal di rumahku, ya. Aku mau rawat Papa dan pastikan dia baik-baik saja setiap hari. Ngapain kita nengok rumah nggak penting itu!"


Plug!


Cassandra melempar kunci rumah yang diberikan Pras padanya barusan.


Pras diam saja sambil memeluk setir mobilnya.


Arghhh! Penjelasan soal apa yang paling halus agar Cassandra mengerti? Pras pusing sendiri sementara Cassandra menguncupkan bibirnya seperti anak kecil ngambeg. Ditambah lagi kini gadis itu membuang muka sambil melipat tangannya ke dada.


Oh, Pras tiba-tiba merasa mengurus Luna alias anak bungsu Mayasa lebih mudah daripada ini.


Arghhh! Jadi ingat Mayasa lagi, kan?

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2