
Pras berusaha untuk tidak tegang walaupun hatinya sudah berkecamuk tak karuan.
Maka ketika ia sudah duduk di belakang kemudinya, mendadak ia ragu. Apa ia sanggup menyetir dalam keadaan kalut begini?
Dilihatnya Cassandra memasang sabuk pengamannya dengan santai. Bahkan ia membawa serta milk shake-nya yang belum habis ke dalam mobil.
"Oke, cepatlah Cassandra. Papamu di antara hidup dan mati. Dan mungkin juga Mayasa. Kita harus cepat ke sana!" Ingin sekali Pras menerikakan kalimat itu tapi bibirnya bungkam.
Hal paling penting yang harus ia lakukan adalah tetap bungkam. Jangan sampai Cassandra tahu kalau papanya sedang dicari tim SAR.
"Ayo jalan. Oh, ya. Kamu udah lihat maps-nya? Emang tahu lokasi proyek papaku?" Cassandra melirik Pras lalu kembali menyedot milk shake-nya.
Pras menelan ludah lalu mengangguk. Tangannya menekan tombol start engine dan mesin mobil pun menyala.
"Kamu lupa aku kerja di kantor Pragu juga sebelum mereka mnegusirku agar fokus mengurus kamu? Aku tahu lokasinya karena pernah ke sana," jawab Pras sambil berusaha bercanda agar tidak tegang walau sesungguhnya hatinya tegang bukan main.
"Hahaha." Cassandra hanya menanggapi dengan tawa.
Pras lalu mengemudi dengan hati-hati tapi dalam hati ia ingin mengebut dan menerobos semua kendaraan di depannya ini agar menyingkir.
"Tenanglah. Paling berapa bulan sih papaku sama papamu betah tanpa kamu di kantor? Mereka sudah dari kapan bilang ingin pensiun. Paling satu sampai dua bulan lah kamu tahan-tahanin jadi guru musikku nanti.
Setelahnya kamh balik ngantor biar aku bisa tenang di sekolah. Males banget ngebayangin ketemu kamu tiap hari dan harus manggil kamu 'Pak Tyo.' Ah, seminggu lagi ya liburnya selesai dam aku harus kembali ke sekolah terkutuk itu," keluh Cassandra yang belum tahu situasi papanya sekarang sangat genting.
Pras ingin menimpali agar Cassandra tidak curiga tapi wajahnya jelas tak bisa berbohong kalau ia sedang panik.
Bagaimana coba caranya agar bisa berpikir jernih dalam situasi genting begini, ditambah pura-pura baik-baik saja, dan harus sambil menyetir lagi.
__ADS_1
"Kamu kok diam dan mendadak tegang begitu Pras mukanya?" Cassandra yang menyadari perubahan mimik wajah itu mendadak curiga.
Pras menggeleng cepat dengan keringat dingin mengucur di dahi padahal AC mobil menyala dengan sejuk.
"Ng--nggak papa, kok. Cuma kebelet," sahut Pras sekenanya.
"Kebelet apa?" Cassandra menyedot milk shake-nya lagi lalu menertawakan Pras.
Pras diam saja. Ia hanya fokus menatap depan karena beberapa meter setelah lampu merah tempat mobilnya berhenti ini maka ia harus berbelok menuju lokasi proyek.
"Loh, kok banyak sirine?" Cassandra berkomentar saat melihat mobil polisi menerobos lampu lalu lintas karena sekaligus membukakan jalan untuk ambulance.
Pras hanya bisa diam saja tapi hatinya makin tak karuan rasanya karena menebak semua rombongan prioritas di jalanan barusan hendak bergerak menuju lokasi kecelakaan runtuhnya gedung itu.
Cassandra menyeka bibirnya yang habis minum seperti anak kecil yang lugu dan polos. Pras hanya bisa melirik dengan perasaan tiap tak siap.
Mobil terus melaju.
Pras hafal betul rute ini. Ia beberapa kali kunjungan lapangan ke sini bersama Mayasa sebelum hubungan diam-diam mereka kandas.
Setelah jalan halus, akan ada beberapa meter akses jalan yang baru dibuka khusus proyek ini dan jalannya memang bergelombang.
"Loh, loh, loh! Ini apa, nih? Kok banyak mobil polisi, mobil pemadam kebakaran, tim SAR. Ini kenapa, sih?" Cassandra mulai makin curiga. Ia menatap Pras dengan mata agak membulat.
Pras diam saja. Ia fokus ke depan dan menemukan Pak Budi yang rupanya dari tadi menunggu mereka memarkirkan mobilnya.
"Ini ada apa sih, Pras?" Wajah polos Cassandra beberapa detik yang lalu berubah menjadi ketakutan.
__ADS_1
Sirine ambulance mengingatkan Cassandra pada kecelakaan beberapa tahun silam yang menewaskan mamanya. Dan hal itu membuat Cassandra merasa tidak nyaman.
"Pras, sebenarnya ini ada apa, sih?" Cassandra mulai agak hilang kesabaran.
Pras diam sambil menahan diri agar bisa menyampaikan berita buruk ini
"PRAS!" Cassandra mulai syok dan makin panik saat melihat ada sebuah kantung mayat sedang diangkut naik ambulance yang terparkir rapi di depan gedung. Kantung itu tertutup rapat.
Pras melepas sabuk pengamannya dan menatap Cassandra yang wajahanya mulai pucat. Milk shake di genggamannya bahkan jatuh dan membuat mobil Pras kotor.
Dalam situasi normal, mungkin Pras akan kesal lalu ceramah satu jam tentang kebersihan. Tapi sekarang ia diam saja. Suasananya mendadak mencekam.
Cassandra mulai ikut melepas sabuk pengaman dan merogoh handphone-nya dari dalam tas. Ia berusaha menelpon papanya lalu mengerang putus asa.
"Gedung itu roboh bagian dalamnya. Dari luar kayak nggak papa. Tapi konstruksinya tidak sempurna dan sesuai standar. Makannya runtuh. Jenazah tadi pasti salah satu korban," ucap Pras berusaha tetap tenang.
Mata Cassandra berkaca-kaca dan bibirnya gemetar.
"Papaku di sana, kan? Dia nggak papa, kan? Dia nggak di dalam gedung yang runtuh itu, kan?" Cassandra bertanya bertubi-tubi pada Pras yang bahkan tidak tahu bagaimana menjawabnya.
"Sayangnya dia aja di sana, Cassandra. Sedang dicari. Kamu mau turun dari mobil dan mengawasi pencarian korban secara langsung?" Pras menyahut dengan lemas.
Cassandra menangis dengan wajah panik sekaligus syok.
"Itu Papa. Mungkin dia ada kabar. Aku turun dan bicara dulu sama dia, ya? Cassandra? Kamu dengar aku?" tanya Pras begitu ia melihat papanya datang ke arah mobil mereka.
Bagaimana sebenarnya? Apa Prambodo dan Mayasa masih hidup?
__ADS_1
BERSAMBUNG ...