
Mayasa merasa tertampar dengan kata-kata Arik Gudono.
Ya, ia tahu itu. Dari gelagatnya, Arik ingin menyingkirkannya dari kantor sejak lama setelah ia ketahuan memacari Pras. Tapi kan itu hanya gelagat yang bisa ia rasakan saja di saat meeting internal, debat project, dan yang lainnya. Mayasa tahu pria itu mendebatnya dan berusaha menyingkirkannya secara halus.
Tapi sekarang begitu Mayasa mendengar kata-kata itu secara langsung di telinganya, rasanya lebih menyakitkan. Dadanya sesak dan bibirnya tak bisa mengucapkan sepatah kata pun sanggahan.
"Saya akan biarkan kamu di kantor karena murni kinerja kamu. Harus saya akui itu. Bukan karena Prambodo yang mempertahankan kamu karena kasihan dengan status janda kamu. Bukan karena Pras yang memohon agar saya jangan mecat kamu.
Bukan! Bukan karena itu! Saya adil. Saya akan mempertahankan orang yang kinerjanya layak. Kamu layak, di luar kekesalan saya sama kelakuan kamu yang memacari anak saya dengan tidak tahu malu.
Tapi di sisi lain saya tahu kamu belum melupakan Pras. Kelihatan dari tatapan kamu pada Cassandra di pesta itu, maupun dari tatapan yang bisa saya lihat jelas barusan.
Ingat ya, Mayasa. Kamu nggak selevel dengan Cassandra. Saya yakin waktu itu Pras hanya terjebak saja karena sering bersama kamu di kantor. Saya yakin dia akan melupakan kamu dengan cepat dan mencintai Cassandra. Cassandra muda, cantik, berhati polos dan mudah dicintai."
Suara Arik Gudono yang pelan namun tajam itu hanya bisa didengar oleh Mayasa karena mereka berdiri menjauh dari orang-orang di sebuah sudut yang sepi dekat tanaman indoor yang ditata cantik.
Mayasa merasa kata-kata Arik Gudono barusan tak ada yang bisa ia bantah. Dipaksa membantah pun akan sia-sia rasanya dan makin membuat atasannya itu makin benci padanya.
Mayasa merasakan luka di wajahnya yang masih basah itu makin perih terkena hembusan angin dari fentilasi di dekatnya. Tapi rasanya perih luka di wajah itu tak seberapa sakit dibandingkan luka hatinya.
Mayasa bersusah-payah menahan mulutnya sendiri untuk menyahut. Ia ingin diam saja dan membuat Arik percaya ia tak macam-macam, tapi harga dirinya yang barusan serasa dibanting itu butuh membela diri.
Jadi ketika mulutnya yang tak terkendali itu tiba-tiba menyahut, Mayasa diam seribu bahasa setelahnya.
"Tapi putra Bapak masih cinta sama saya. Pras masih mencintai saya. Terlihat dari tatapannya saat menatap saya. Cassandra mungkin unggul lebih cantik, muda, dan kaya dibandingkan saya. Tapi hati Pras masih untuk saya.
__ADS_1
Cassandra cuma anak kecil di mata Pras. Dia mengiyakan perjodohan ini karena bakti pada orang tua. Dia tak peduli merusak masa depan dan hatinya sendiri." Mayasa berusaha sok tegar saat mengatakan ini padahal ia ingin mengatakannya sambil berteriak di depan Arik yang pernah menghinanya karena umur dan statusnya.
Arik Gudono menatap Mayasa dengan ekor matanya yang tajam. Pria berambut gondrong itu merasa akan terkejut juga rupanya dengan keberanian Mayasa. Ia pikir wanita itu tak akan berani lagi untuk menyahutnya setajam ini.
"Pras tidak merusak masa depannya. Masa depannya justru akan rusak jika dia masih sama kamu. Dia 27 tahun dan terlalu muda untuk menjadi ayah sambung dari anak-anak kamu. Dia akan menyia-nyiakan potensi dan masa mudanya dengan membuang waktu dengan kamu." Arik membalas dengan kata-kata tak kalah telak.
Bagaimana reaksi Mayasa? Tentu ia hanya bisa tertunduk makin dalam.
"Dan ingat satu hal lagi ya, Mayasa! Saat kecelakaan kemarin di gedung itu, Pras tahu kamu ada di sana dan sedang terjebak. Saya yang memberi tahu. Lalu kamu tahu apa reakisnya?" Arik berusaha memancing reaksi Mayasa dengan memotong ucapannya.
Mayasa diam saja tapi Arik tahu wanita itu masih menyimaknya.
"Pras sama sekali tidak menanyakan apakah kamu baik-baik saja. Apakah kamu selamat, apakah kamu terluka. Dia hanya menanyakan papa Cassandra. Dia hanya peduli pada Cassandra. Dia tidak cinta lagi sama kamu. Jangan terlalu percaya diri.
Jangan merasa menang hanya karena dulu Pras berhasil kamu jebak karena dia masih muda dan polos. Sekarang Pras tahu apa yang dia inginkan. Pras ingin melindungi Cassandra. Kamu nggak lihat di depan sana dia lagi ngapain?" Arik masih berusaha membuat Mayasa yang tertunduk itu mengangkat wajahanya.
Dilihatnya beberapa meter di depan sana Cassandra sedang menangis di depan peti jenazah papanya dan Pras memeluknya.
Posisi mereka membelakangi tempat Mayasa dan Arik berdiri, jadi Pras sampai detik ini belum sadar kalau Mayasa ada di sebuah sudut beberapa meter di belakangnya.
Oh, mau cemburu rasanya juga tak berhak. Mayasa hanya bisa makin menahan diri agar air matanya tak jatuh.
"Pras terlihat sangat ingin melindungi Cassandra. Perasaan simpati itu adalah awal dari perasaan cinta yang akan tumbuh. Saya mungkin terlalu tua untuk membahas soal asmara, Mayasa. Saya pun gagal dengan pernikahan saya.
Tapi saya tahu bagaimana gesture seorang pria yang menaruh hati pada perempuan. Hanya butuh waktu dan kedekatan yang lebih intens sampai mereka saling suka sungguhan," ucap Arik dengan yakin.
__ADS_1
Mayasa makin bungkam karena tahu ucapan papa Pras ini benar.
Dulu bukannya Pras juga simpati dulu padanya alias kasihan sebelum akhirnya mereka makin dekat dan meresmikan hubungan asmara terlarang itu?
Makin lemas saja Mayasa. Selain fisiknya juga lemas karena belum pulih betul, pemandangan di depannya juga membuatnya makin lemas.
Ia lihat Cassandra makin hebat menangis dan kepala Pras tak canggung lagi membenamkan diri di rambut gadis itu. Tangan Pras juga terlihat seperti kasual saja meraih pinggang ramping itu dan menuntunnya lagi masuk ke ruangan, meninggalkan peti jenazah yang siap ditutup.
Arik langsung melirik Mayasa dan mengajaknya maju ke depan. Ia memberikan kode pada petugas rumah duka yang hendak menutup peti.
"Beri kami 5 menit. Ayo, Mayasa. Kamu juga punya sesuatu kan untuk disampaikan pada Prambodo untuk yang terakhir kalinya? Kalian terjebak berjam-jam di tempat yang sama. Prambodo pasti berpesan sesuatu padamu," ucap Arik sambil berjalan menuju peti.
Mayasa tak menjawab. Ia hanya mengikuti Arik di depannya yang langkahnya begitu cepat.
Dilihatnya beberapa peti korban lain sudah ditutup. Sebagian lagi belum. Tampak beberapa anggota keluarga mereka membisikkan semacam pesan terakhir.
Arik Gudono tersenyum ke arah sahabatnya yang terbujur kaku itu. Wajahnya terlihat sedih. Mayasa mengamati dari samping.
"Pram, lega sekarang? Keinginan konyol kamu terkabul, kan? Kamu nggak mati karena kanker, tapi karena kecelakaan. Senang kamu, Pram? Aku tidak." Suara Arik terdengar serak.
Mayasa ikutan sedih mendengarnya. Walau ia membenci Arik Gudono, tapi ia tahu pria itu begitu menyayangi Prambodo. Mereka bersahabat begitu erat macam saudara laki-laki kandung saja saking dekatnya.
"Keinginan kamu satu lagi akan terlaksana besok, Pram. Dua hari lagi Cassandra dan Pras akan menikah secara resmi. Aku akan jamin tanggalnya tak berubah lagi, sesuai permintaan kamu." Arik Gudono mengusap air matanya.
Mayasa hanya bisa melongo.
__ADS_1
Pernikahan tetap dilangsungkan? Dua hari lagi...?
BERSAMBUNG ...