
Bugh!
Bugh!
Bugh!
"Apa maksud lo deketin cewek gue sialan?!" Leo menatap Fahmi tajam, napasnya naik turun tidak beraturan.
Fahmi berusaha bangkit, ia meringis sambil memegang sudut bibirnya yang terkena tonjokkan tadi. Lalu menatap Leo sambil tersenyum miring.
"Cewek lo? Siapa?" tanyanya bingung.
Leo mengepalkan tangannya kuat, lalu menghampiri Fahmi lebih dekat lagi. "Maksud lo apa deketin Zahra, hah?!" matanya menatap Fahmi tajam, kini amarahnya kembali memuncak saat ia kembali teringat waktu kemarin mereka sedang asik berduaan dan....
Bugh!
Leo kembali menonjok, ia menonjok perut Fahmi keras. Sehingga membuat Fahmi terbatuk-batuk sambil memegangi perutnya dan menatap Leo tajam.
"Cewek lo?" tanyanya sambil terkekeh, "Bukanya cewek lo Caca?"
Leo menatap Fahmi dingin, ia kembali mendekat. "Zahra. Dia cewek gue!"
Fahmi tertawa keras, ia menepuk-nepuk pundak Leo. "Zahra? Cewek lo?" Fahmi geleng-geleng kepala sambil terkekeh, lalu menatap Leo serius, "Denger gue baik-baik. Gue bakal jauhin Zahra dari lo, karena apa? karena gue gak mau cewek sebaik Zahra lo sia-siain!"
"Di mana hati nurani lo? Katanya cewek lo, ko dia lagi ke susahan lo gak ada niatan bantuin sedikit pun?!" Fahmi menatap Leo tajam, lalu pergi meninggalkan Leo di tempat.
Leo memperhatikan punggung Fahmi hingga menghilang dari penglihatannya. Tangannya terkepal kuat, hingga wajahnya merah padam, lalu tersenyum miring.
...---o0o---...
"Ra." panggil Fahmi.
"Iyah." Zahra menoleh, matanya membulat kaget, ia terkejut melihat wajah Fahmi yang banyak lembab, "Ini kenapa?" sambil menyentuh sudut bibir Fahmi.
Fahmi meringis, ia sedikit menjauhkan wajahnya. "Biasa laki." jawabnya santai.
__ADS_1
Zahra menghela napas pelan. "Laki sih laki, tapikan gak usah kaya gini."
Fahmi tersenyum. "Lo gak ada niatan buat obatin luka gue gitu?" celetuknya.
Zahra menepuk keningnya lupa. "Astaghfirullah lupa. Ayo kita ke uks." sambil menarik tangan Fahmi pelan.
Sesampainya di UKS. Zahra langsung mendudukkan Fahmi dan segera ia mengambil kotak obat dan mulai mengobati.
Zahra bergitu hati-hati, bahkan ia sempat meringis pelan melihat wajah Fahmi yang menurutnya begitu ngeri.
Fahmi tersenyum, ia terus memandangi wajah Zahra yang dekat sekali dari hadapannya. Alis tebal, hidung mancung dan mulutnya tipis berwarna pink alami, itu membuat Fahmi betah memandangi wajahnya dan satu lagi, hatinya yang lembut. Siapapun orang yang bersama dengan Zahra, pasti sangat betah berdekatan dengannya.
Jika boleh jujur, ia nyaman dengan Zahra. Rasanya tidak ingin pergi.
"Fahmi?" Zahra melambaikan tangannya di wajah Fahmi, ia mengerutkan keningnya bingung, "Fahmi." ulangnya lagi.
"Ehh." Fahmi tersadar, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Udah?"
Zahra mengangguk. "Udah." ucapnya sambil memasukkan bekas obatnya ke dalam kotak p3k.
Fahmi bangun dari duduknya, perlahan ia mendekat tepat di hadapan Zahra. "Makasih." sambil tersenyum manis.
...---o0o---...
Hari ini Zahra bekerja di cafe. Saat ini ia sedang membereskan meja-meja yang kotor.
"Zahra." panggil seseorang.
Zahra berbalik badan, lalu menghampiri orang yang tadi memanggil namanya.
"Iyah ka Damar, ada apa?" tanyanya.
Damar meletakkan buku menu di meja, lalu bangkit. "Hari ini temenin saya makan di luar."
"Tapi ka, Za—"
__ADS_1
"Gak ada tapi-tapian. Kamu gak inget siapa yang bayarin Ibu kamu pas di rumah sakit?" ucapnya, sehingga membuat Zahra kembali teringat kejadian waktu itu.
"Sus saya mau tanya, biaya administrasi atas nama Rita Maharani berapa ya sus?" tanya Zahra pada petugas administrasi.
"Tunggu sebentar yah, saya cek dulu." ucapnya dan Zahra mengangguk.
"Totalnya lima juta lima ratus ribu." ucapnya
Zahra melotot terkejut. "Mahal banget sus, coba di cek lagi. Mungkin suster salah baca kali."
"Baik saya cek kembali." suster tersebut kembali mengecek.
"Atas nama Ibu Rita Maharani, biaya administrasinya total keseluruhannya lima juta lima ratus ribu." jelas suster tersebut, "Dan ini buktinya jika tidak percaya." sambil menyerahkan rinciannya.
Zahra menerimanya, ia duduk di salah satu kursi yang ada di sana dan ternyata benar apa yang ia baca.
"Aduhh uang dari mana sebanyak itu."
"Biar saya yang melunasinya." ucap seseorang.
Sontak Zahra langsung mendongak, keningnya mengerut bingung. "Ka Damar? kakak ngapain di sini?" tanyanya.
Damar duduk di sebelah Zahra. "Biar saya yang akan melunasi biaya Ibu kamu."
Zahra langsung menggeleng cepat. "Jangan ka, Zahra gak mau. Zahra gak mau ngerepotin kakak." ucapnya sambil menatap Damar tidak enak.
Damar menghela napas pelan. "Biar saya saja." lalu bangkit dan pergi untuk membayar administrasi.
Zahra ikut berdiri, ia langsung mengejar Damar.
"Ingat?" tanya Damar.
Zahra mengangguk pelan. "Inget ka."
"Dan sebagai gantinya?" tanyanya sambil melihat Zahra yang sedang menunduk.
__ADS_1
Zahra menatap Damar. "Potong gaji dan temenin ka Damar." lalu kembali menunduk.
Damar tersenyum. "Bagus." ucapnya sambil mengacak-acak rambut Zahra gemas.