
Zahra tersenyum senang, baru kali ini ia bisa berbicara dengan Leo panjang lebar, membuatnya semakin membayangkan bagaimana nanti ia dan Leo akan bahagia bersama.
Rasanya.....
Ia semakin tidak sabar lagi.
"Zahra!" panggil Lala.
Zahra langsung berbalik badan, lalu menghampiri Lala. "Iyah, ada apa La?" tanyanya.
"Ra, nanti malem lo sibuk gak?" tanyanya.
Zahra berpikir sejenak, lalu ia langsung menatap Lala. "Emangnya ada apa La?" tanyanya penasaran.
"Udah gak usah banyak tanya, nanti ikut gue yah Ra." ucapnya, membuat Zahra semakin bingung dengan Lala.
"Ya tapi mau kemana La?" tanyanya semakin penasaran.
Lala menghela napas kasar. "Ada deh Ra." ia tersenyum lebar, "Rahasia." bisiknya, lalu pergi dari hadapan Zahra.
Zahra geleng-geleng kepala heran, lalu ia melanjutkan aktivitasnya yang tertunda tadi.
Kini hari sudah malam, akhirnya semua pekerjaannya telah selesai, Zahra menghela napas lega, lalu ia langsung pergi ke toilet untuk mengganti baju.
"Lala, ngapain?" tanyanya saat sudah mengganti baju. Hampir saja ia terkejut saat Lala sudah ada di hadapannya saat ia membuka pintu.
"Ayo Ra." ajaknya sambil menarik tangan Zahra.
"Ehh. Mau kemana sih La." tanyanya semakin penasaran.
Zahra menghela napas, ia menatap Zahra. "Udah ikut aja, gak usah banyak tanya!"
"Nih pake helmnya." ucapnya lagi sambil memberikan helmnya pada Zahra.
Zahra menerimanya, lalu memakai helmnya, setelah itu naik ke motor Lala. Jujur hari ini Lala terlihat aneh, tidak biasanya.
...---oOo---...
Zahra turun dari motornya, ia memberikan helmnya pada Lala, matanya terus menatap di sekitaran heran.
"Lala ngapain kita kesini?" tanyanya, jujur ia takut sekali.
"Udah ayo ikut." ajaknya sambil menarik tangan Zahra untuk masuk ke dalam club.
Di dalam sana Zahra melihat di sekitarnya, ia merinding sekali melihat apa yang ia lihat dan juga musik dj yang suaranya begitu besar, membuat ia langsung menutup kedua telinganya, musik itu sangat berisik ditelinganya.
"La pulang aja yuk, kayanya Lala salah tempat." ucapnya sedikit berteriak karena musik dj itu suaranya semakin besar.
__ADS_1
Lala menengok sana sini, ia tidak menjawab ucapan Zahra, lalu matanya tertuju apa yang ia cari, kemudian tersenyum lebar.
"Yuk Ra." ajaknya sambil menarik Zahra kembali.
Lala tersenyum, ia melihat seseorang dihadapannya. "Nih om." ucapnya.
Orang itu melihat Zahra dari atas sampai bawah, lalu ia tersenyum senang.
"Gimana om?" tanya Lala.
Orang itu mengangguk-angguk kepalanya, lalu tersenyum miring. "Oke. Saya mau." ucapnya, membuat Lala memekik senang.
"Lala ini ada apa? Kenapa om-om itu aneh? La pulang aja yuk, Zahra gak mau di sini." bisiknya takut.
"Udah nurut aja kenapa sih!" bisiknya kesal.
Zahra menelan ludahnya susah, jujur perasaannya kali tidak enak sekali, apalagi melihat om-om itu tersenyum genit padanya, membuat ia merinding ngerih.
"Mana om?" tanya Lala, membuat orang itu langsung mengambil apa yang dimaksud Lala barusan.
"Nih." ucapnya sambil memberikan amplop berwarna coklat.
Lala tersenyum senang, lalu amplop itu ia masukkan kedalam kantong.
"Ra gue cabut dulu, senang-senang ya lo disini." lalu terkekeh, "Babay Zahra." sambil melambaikan tangannya, lalu langsung pergi keluar.
"Ehh Lala mau kemana? Zahra ikut!" ucapnya, namun saat hendak menyusul Lala, tangannya sudah ditarik lebih dulu oleh orang tadi.
"Ihh om lepasin! Zahra gak ada hubungannya sama om!" sambil berusaha melepaskan tangan orang itu.
"Enak aja! Kamu itu udah di jual sama teman kamu kepada saya." ucapnya jelas, membuat Zahra melotot terkejut.
"Gak mau! Lepasin om, Zahra mau pulang!" Zahra terus saja berusaha lepas dari orang itu.
"Nggak dong cantik, saya sudah bayar mahal-mahal, masa dilepas gitu aja." sambil tersenyum menggoda.
Zahra menggeleng tidak mau, bahkan air matanya sudah keluar dengan deras. Lala begitu tega pada dirinya, apa salahnya? sehingga Lala menjual dirinya pada orang yang ia tidak kenal.
"Zahra mohon lepas om, mending om sama orang lain aja atau gak sama anak om aja sana." ucapnya kesal, sekuat tenaga ia berusaha lepas.
Orang itu tertawa keras, ia tersenyum miring. "Om maunya sama kamu sayang." lalu mencolek dagu Zahra, membuat Zahra berusaha menepisnya.
"Tolong, tolong, tolong!" teriaknya.
"Gak bakal ada yang nolongin kamu sayang, semua orang sibuk sama yang lain." bisik orang itu pelan tepat di telinganya.
Zahra merinding ngerih, lalu menggeleng cepat. "Zahra mau pulang om, lepasin!" ucapnya tidak mau.
__ADS_1
Orang itu tertawa kembali. "Sebelum ke inti, lebih baik kita joget-joget dulu cantik." ajaknya sambil berjoget-joget, menikmati musik dj.
Zahra menggeleng tidak mau, ia menatap orang itu. "Zahra gak mau! Jangan paksa Zahra om." lalu pergi dari hadapan orang itu.
Belum jauh, orang itu langsung memeluk Zahra dari belakang, membuat Zahra semakin takut.
"Om jangan kurang ajar yah! Zahra bisa lapor ini ke polisi." ancamnya sambil berusaha lepas.
Orang itu tidak peduli, ia terus memeluk Zahra. "Lapor aja, lagian kamu tidak akan bisa lepas dari saya." sambil tersenyum miring.
Zahra menggeleng, air matanya keluar terus dengan deras. "Lepas!"
"Zahra gak mau sama om! Zahra mau pulang. Tolong, tolong!" teriaknya kencang.
"Kamu jahat La!" batinnya.
"Yasudah kalau tidak mau joget-joget, ayo ikut om." kemudian menarik tangan Zahra untuk pergi ketempat yang sudah ia siapkan.
"Lepas om, Zahra gak mau!" tolaknya sambil berusaha lepas.
"Zahra mohon om, tolong lepasin!"
"SIAPAPUN TOLONG ZAHRA!" teriaknya kencang.
"TOLONG, TOLONG, TOLONG!" teriaknya lagi.
Orang itu tersenyum, lalu ia membuka pintu yang sudah dari tadi ia pesan untuk semalaman.
"Ayo masuk sayang." ajaknya dengan suara mesumnya.
Zahra terus menggeleng. "Gak mau! Lepas om!" Zahra terus berusaha lepas, bahkan ia terus memukul-mukul orang itu. Tapi sayang, orang itu malah tertawa.
"Zahra mau pulang om, Zahra mohon jangan om." ucapnya sudah lelah yang dari tadi ia berusaha untuk lepas.
"Iyah nanti pulangnya om anter. Tapi kita senang-senang dulu yah sayang." lalu dengan cepat ia menarik Zahra untuk masuk kedalam kamar, setelah itu mengunci kamar itu rapat-rapat.
Zahra terus menangis, ia terus memukul-mukul pintu dengan keras. "Tolong, tolong!" teriaknya.
"Ayo sayang kita mulai." ajaknya, lalu mendorong Zahra ke kasur.
Zahra terus menghindar, ia tidak mau kehormatannya jatuh ke orang yang bukan suaminya.
Zahra terus menangis, ia tidak tahu lagi kehidupannya setelah ini.
Orang itu membuka bajunya, lalu ia naik ke kasur. Orang itu terus tersenyum tidak sabaran.
"Kita mulai yah." bisiknnya dengan seksual, membuat Zahra semakin ketakutan.
__ADS_1
Kini semuanya berakhir, berakhir dengan cara seperti itu. Zahra tidak tahu lagi dengan cara apa ia menolak, ia tidak mau semuanya berakhir.
"Ya Allah tolong Zahra." batinnya takut.