
Dokter itu menghela napas pelan. "Keadaannya baik-baik saja, tidak ada yang harus di khawatirkan." ucapnya, membuat mereka menghela napas lega.
"Jika ingin melihat keadaannya, silahkan saja boleh masuk."
"Baik dok, terima kasih." ucap Ririn.
Dokter itu mengangguk, ia tersenyum ramah pada mereka, setelah itu pergi dari hadapan mereka.
Ririn langsung masuk, lalu di ikuti oleh Fahmi dan Gio.
"Ra, lo gak apa-apa kan?" tanya Ririn cemas sambil memegangi keningnya Zahra yang sudah di perban.
Zahra menggeleng, ia tersenyum. "Gak apa-apa Rin, makasih yah."
Ririn mengangguk. "Sama-sama Ra."
Ririn menghela napas lega, untung luka Zahra tidak terlalu parahnya. Jika hal itu terjadi, ia tidak tahu nantinya akan seperti apa.
"Fahmi, Gio?" ucap Zahra heran, ia tidak menyangka mereka akan ke sini.
Fahmi tersenyum, lalu menghampiri Zahra lebih dekat lagi. "Masih ada yang sakit?" tanyanya sambil memegangi kening Zahra.
Zahra menggeleng. "Udah nggak ko."nlalu perlahan ia mencoba untuk duduk, melihat hal itu Fahmi pun langsung membantunya.
Zahra melihat di sekitarnya, lalu menatap Fahmi. "Leo mana, Mi?"
Fahmi, Ririn, Gio terdiam. Mereka saling menatap satu sama lain. Pertanyaannya Zahra membuat mereka bingung untuk menjawab. Mereka bertiga tidak tahu harus jawab seperti apa, karena mereka pun sama tidak tahu Leo lagi ada di mana.
Zahra menghela napas pelan, lalu menunduk sambil memain-mainkan kancing bajunya.
"Pasti Leo lagi sama cewek lain yah?" Zahra menghela napas sabar, ia berusaha untuk terbiasa. Tapi lama kelamaan kenapa begitu sakit? Bukanya ia egois, tapi mana ada wanita yang rela cowoknya jalan dengan cewek lain, dibandingkan dengan dirinya.
"Kenapa yah Leo kaya gitu ke Zahra?" Zahra menatap Fahmi, lalu beralih menatap Ririn, "Kenapa Rin?"
Fahmi dan Ririn saling menatap satu sama lain, mereka semakin kasihan pada Zahra.
Ada, tapi dianggap tidak ada.
Sandari tadi Gio diam, ia menghela napas kasar. "Udahlah Ra, biarin aja tuh si Leo." lama-lama ia kesal juga, tapi mau gimana lagi, Leo juga sahabatnya.
Zahra diam, benar apa kata Gio, seharunya ia tidak perlu terlalu berlebihan.
...---oOo---...
"Pah, Caca mohon dong balikin mobil Caca. Caca malu tau nebeng terus ke Riska." sambil menatap papahnya memohon.
Radit menghela napas kasar, lalu meletakkan korannya di meja. Ia menatap putri semata wayangnya. "Beresin dulu nilai kamu, baru papah balikin." lalu menyeruput kopinya.
Caca menghela napas kesal, ia berdecak kesal. "Kenapa sih papah selalu aja ambil barang-barang Caca?!"
Radit menatap Caca, lalu menyenderkan punggungnya ke sofa. "Bukan ambil, tapi di sita sementara." jewabnya santai.
"Sama aja pah!" kesalnya.
__ADS_1
"Beda sayang." jelasnya, lalu berdiri, membuat Caca menatap papahnya heran.
"Mau kemana pah?" tanyanya.
"Mau cari istri baru." jawabnya santai, lalu pergi dari hadapan Caca.
Caca melotot terkejut, apa katanya, istri baru? What? gak salah dengarkan?
"Pah, Caca gak mau!" teriaknya.
...---oOo---...
Malam ini hujan deras, Zahra melihat hujan dari jendela kamarnya. Ia tersenyum lirih, hujan mengingatkan pada dirinya pada saat dirinya masih kecil, dulu ia tidak menyukai hujan. Tapi sekarang ia menjadi suka, karena hujan mengingatkan ketika dirinya menangis karena ayahnya dan juga hujan adalah temannya.
"Dasar anak tidak tahu diri! di sekolahin bukanya makin pinter malah makin bodoh!" maki Feri habis-habisan pada Zahra.
Feri menatap Zahra marah, ia tidak mampunyai rasa kasihan jika mengenai Zahra, menurutnya untuk apa kasihan pada Zahra? jika di kasihi nanti yang ada semakin manja.
Zahra menunduk sambil menangis, kedua tangannya meremas ujung roknya takut. Ia tidak berani jika ayahnya sudah menatapnya seperti itu.
"Zahra minta maaf, yah." ucapnya pelan.
Feri menghela napas kasar, ia menggeram kesal. "Kasih saya uang jika ingin saya maafkan!"
Zahra langsung menatap ayahnya terkejut. "Tapi yah, Zahra gak punya uang." ucapnya takut.
"Saya gak mau tau. Pokoknya malem ini uang lima ratus ribu harus sudah ada!" tekannya.
"Ta-tapi yah Za–"
Zahra menangis, lalu ia berusaha untuk bangun.
Zahra terus menangis sambil jalan entah dirinya akan mencari uang kemana. Dirinya masih kelas tiga sd, apa ada pekerjaan untuk dirinya?
Zahra menghapus air matanya cepat, ia tersenyum lebar. "Itu dia." ucapnya senang, lalu ia mencari-cari kebawah.
"Nah ini dia." sambil memegangi bungkus kopi yang sudah dibuang.
Ia tersenyum senang. Alhamdulillah ia bisa pulang, lalu dengan senang menuju lampu merah.
Zahra terus bernyanyi di setiap kendaraan-kendaraan yang sedang berhenti dan alhamdulillah sebagian orang ada yang memberikannya uang.
Hari semakin gelap, kini cuaca semakin mendung, hujan akan turun, lalu dengan cepat Zahra berlari mencari tempat untuk berteduh.
Zahra duduk di halte, ia memeluk dirinya sendiri. Hujan turun semakin deras, Zahra terus menggigil kedinginan.
"Ya Allah, Zahra pengen pulang. Tapi uangnya belum cukup." ucapnya begitu pilu.
"Haaacimmm." bersinnya, lalu mengucek-ngucek hidungnya.
Zahra terus memeluk dirinya, ia berharap hujan cepat berhenti. Ia ingin sekali cepat-cepat pulang, Zahra sudah membayangkan bagaimana hangatnya dipeluk oleh kedua orang tuanya.
"Dek ngapain di sini? ko belum pulang?" tanya ibu-ibu sambil memegangi payung sambil menghampiri Zahra.
__ADS_1
Zahra menoleh kepadanya, ia tersenyum. "Zahra nunggu hujan reda bu."
Ibu itu menatap Zahra terkejut. "Tapi ini mau malem loh, kemana orang tua kamu?"
"Orang tua Zahra ada di rumah." jawabnya.
"Yaudah mau ibu anter pulang?" tawarnya.
Zahra menggeleng. "Gak usah bu, Zahra nunggu hujannya reda aja." tolaknya halus.
"Yasudah kalau begitu Ibu duluan yah." pamit ibu itu, dan di anggukan oleh Zahra.
Zahra memegangi perutnya, perutnya sudah berbunyi minta untuk dimasukkan makanan.
Zahra mengelus-elus perutnya, ia melihat ke arah perutnya. "Sabar yah perut, sebentar lagi kita makan." sambil tersenyum lebar.
Lalu Zahra berdiri, jika menunggu hujan berhenti akan lama, lalu dengan cepat ia berlari menerobos hujan, biarlah dirinya hujan-hujanan yang terpenting ia bisa pulang.
Saat sampai di depan pintu rumah, Zahra terus mengetok pintu sampai beberapa kali. Namun, belum ada satu orang pun yang membukakan pintu.
"Ayah, Ibu. Zahra pulang." ucapnya sedikit berteriak sambil mengetuk-ngetuk pintu.
Tidak lama Zahra tersenyum senang, akhirnya ada yang membukakan pintu.
"Ngapain?!" tanya Rita, ia menatap Zahra tidak suka.
Zahra menunduk takut. "Zahra mau–"
"Mana uangnya?!" tanya Feri yang datang tiba-tiba, ia menatap Zahra datar.
"Mana!" pintanya lagi.
Dengan gemetaran Zahra memberikan uangnya hasil ngamen tadi. "Ini ayah."
Feri langsung mengambil uang itu secara kasar, kemudian menghitung uang itu.
"Apa-apaan ini? ko malah lima puluh ribu ?!" Feri menatap Zahra minta penjelasan, ia melotot marah.
Zahra menunduk takut. "Ma-maaf ayah, Zahra cuma bisa segitu." ucapnya dengan gugup.
Feri menghela napas kasar, "Tutup pintu." perintahnya pada Rita, lalu masuk ke dalam kamar.
Rita mengangguk, ia menatap Zahra tidak suka. "Mangkanya jadi orang jangan jadi beban!" kesalnya, lalu dengan cepat ia menutup pintu.
Zahra terkejut. "Bu buka bu, buka bu. Zahra pengen masuk bu, yah." terus mengetuk-ngetuk pintu.
"Tidur diluar!" teriak Rita dari dalam.
Zahra menangis, lalu ia duduk dilantai begitu saja. "Zahra laper bu."
"Zahra takut bu, yah. Zahra mohon buka pintunya."
Zahra langsung menggeleng cepat, ia jadi teringat masa itu, saat itu masa yang begitu menyedikan, baginya.
__ADS_1
"Ayah dimana? Zahra kangen." batinnya.