Lukisan Semesta Amerta

Lukisan Semesta Amerta
15. Gugup


__ADS_3

"Zahra." ucap mereka bersamaan sambil melihat Zahra terkejut.


Zahra geleng-geleng kepala tidak percaya, perlahan air matanya keluar. Melihat mereka babak belur begitu, membuatnya ngeri.


Dengan cepat Caca langsung menghampiri Leo lebih dekat lagi, ia memegangi pipi Leo cemas.


"Kamu gak apa-apa sayang? Ayo aku obatin." ucapnya begitu cemas.


Leo menyingkirkan tangan Caca, lalu langsung menarik Zahra tiba-tiba, dan hal itu membuat Zahra terkejut dengan perlakuan Leo.


Leo terus menarik Zahra sampai masuk UKS, ia menatap Zahra datar. "Obatin." perintahnya, membuat Zahra gugup dibuatnya.


Leo menghela napas kasar. "Obatin gue, bukan liatin muka gue!" tekannya, sehingga membuat Zahra langsung tersadar, lalu dengan segera ia mengambil kotak p3k.


Zahra mengobati Leo dengan gugup, baru kali ini ia berhadapan dengan Leo lebih dekat dan anehnya Leo sama sekali tidak marah.


Leo terus memperhatikan Zahra, membuat Zahra gugup di buatnya.


"Aww!" ringisnya kesakitan sambil menjauhkan wajahnya.


"Eh ma-maaf, maaf." ucapnya gugup.


"Lo bisa obatian gue gak sih?!" Leo menatap Zahra kesal, dari tadi Zahra mengobatinya seperti itu, tidak ada benarnya.


Zahra menundukkan kepalanya takut. "Ma-maaf Leo, Zahra gak sengaja tekalen lukanya."


Leo menghela napas kasar. "Emang lo itu gak guna sama sekali!" lalu bangun dari duduknya.


Brak!


Leo keluar sambil membanting pintu, ia kesal sekali pada Zahra. Sehingga membuat Zahra terkejut takut atas perilaku Leo.


...---oOo---...


"Cewek gak guna!" gumamnya kesal sambil terus jalan menuju taman kampus.


Saat di taman kampus, Leo duduk dibawah pohon besar. Saat ini ia kesal sekali dengan Fahmi dan juga ditambah lagi dengan Zahra, membuatnya semakin ingin menghabisi habis-habisan.


Kemudian Leo menyenderkan punggungnya di pohon, lalu memejamkan matanya. Ia mencoba untuk mencari ketenangan, karena pikirannya saat ini sedang kalut.


"Leo." ucap Zahra pelan, sehingga membuat Leo membuka matanya.


Leo menatap Zahra sekilas, lalu kembali menutup matanya.


Perlahan Zahra duduk, ia memberikan sedikit jarak, lalu kembali menatap Leo bersalah.


"Leo, Zahra minta maaf." lalu kembali menunduk.


Leo tidak menjawab, hal itu membuat Zahra semakin merasa bersalah.


Hampir lima menitan mereka saling diam, tidak ada satu orang pun diantara mereka membuka suara, yang ada hanya ada suara hembusan angin yang sejuk.

__ADS_1


"Leo." ucapnya lagi. Namun, Leo sama sekali tidak mau membuka matanya.


Semarah itu kah dia?


Zahra menghela napas sabar, lalu dengan keberaniannya ia melambai-lambaikan tangannya di hadapan Leo, sebenarnya ia takut, takut Leo akan tidak suka.


"Leo." ucapnya lagi sambil terus melabaikan tangannya.


Hampir dua menitan Leo tidak ada pergerakan, hal itu membuat Zahra was-was. Lalu dengan penasaran, tangannya ia dekatkan di hidung Leo.


"Masih napas." ucapnya pelan.


Lalu dengan keberaniannya lagi Zahra mendekatkan telinganya ke dada Leo, hal itu untuk memastikan.


Zahra melotot terkejut, lalu tersenyum lebar.


"Alhamdulillah jantungnya masih hidup." ucapnya.


"Tapi kenapa Leo gak bangun-bangun yah?" tanyanya pada diri sendiri bingung.


Lalu ia tertawa kecil, ternyata Leo tertidur.


Zahra memandangi wajah Leo yang sedang tidur, terlihat sangat damai jika seperti itu, membuat Zahra kembali tersenyum.


Matanya tidak henti-hentinya mentatap Leo, sampai-sampai ia lupa bahwa ia kesini karena ada sesuatu. Lalu dengan perasaan senang, Zahra mengambil plester di saku bajunya, setelah itu ia tempelkan pada bagian wajah Leo yang ada lukanya.


"Cepet sembuh Leonya Zahra." bisiknya pelan.


Saat hendak pergi, tiba-tiba tangan Zahra sudah lebih dulu ditarik, sehingga membuat Zahra langsung berbalik badan. Ia melotot terkejut, ternyata yang menariknya adalah Leo.


"Ehh, Le-Leo." ucapnya gugup sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu dengan terburu-buru ia langsung berlari, pergi dari hadapan Leo.


Leo tersenyum tipis, melihat Zahra gugup seperti itu, terlihat sangat menggemaskan.


Sebenarnya Leo tidak tidur, ia hanya pura-pura saja dan benar dugaannya, ternyata Zahra terlihat lucu jika seperti tadi, apalagi mencoba memeriksanya tadi.


Benar-benar......


"Aneh!"


...---oOo---...


Napas Zahra terengah-engah, ia mencoba menetralkan detak jantungnya yang sedang berbunga-bunga.


"Zahra!" panggil Ririn sambil berlari kearahnya.


"Nih, buku lo." sambil memberikannya.


Zahra menerima bukunya, ia tersenyum lebar. "Makasih Ririn."


Ririn menatap Zahra aneh, lalu tangannya ia letakkan di kening Zahra.

__ADS_1


"Anget, pantesan." gumamnya pelan. Tapi, masih bisa di dengar oleh Zahra.


"Kenapa Rin?" tanyanya.


Ririn tersadar, lalu dengan cepat menggeleng. "Ehh, nggak Ra. Hehehe." ucapnya sambil cengengesan.


"Ouh Iyah, tadi abis dari mana Ra?" tanyanya penasaran, lalu duduk di kursi yang tidak jauh darinya.


Zahra kembali tersenyum senang. "Rin tau gak?"


"Kaga." jawabnya.


"Tadi Zahra seneng banget, pake bangettttt malahan." ucapnya senang, lalu ikut duduk di samping Ririn.


"Zahra tadi bisa mandang-mandang wajahnya Leo, Rin. Tau gak rasanya kaya apa? Rasanya di sini Rin." sambil menunjuk kearah dadanya.


Zahra tersenyum senang, ia kembali meingat-ngingat kejadian tadi.


"Jantung Zahra deg deg degan, sumpah Zahra baru kali ini Leo gak marah sama Zahra, pas Zahra obatin dia sambil mandang-mandang lagi." ucapnya lagi.


Ririn ikut tersenyum senang. "Terus dia mandang balik gak?" tanyanya, membuat Zahra menggeleng pelan.


"Nggak, hehehe." cengengesannya, lalu kembali memasang wajah cerianya, "Zahra obatinnya pas Leonya tidur Rin. Tapi gak apa-apa, yang penting Zahra bisa deket sama Leo."


"Lain kali jangan kaya gitu yah, Ra." ucapnya pelan, sehingga membuat Zahra menatap Ririn bertanya.


"Kenapa? Tapi yang penting Leonya gak marah."


Ririn menghela napas. "Gini yah Ra." sambil memegangi kedua bahu Zahra, ia menatap Zahra serius.


"Gue tau lo cinta banget sama Leo. Tapi Ra, gue gak mau lo sakit hati terus-terusan."


"Gue gak mau lo kena bullyan sama Caca. Gue harap lo dengerin gue Ra, lebih baik lo lupain Leo, meskipun itu berat. Tapi itu lebih baik Ra." ucapnya lagi.


"Lupain? Gak bisa Rin!" bantahnya.


"Perlahan Ra, gue yakin lo pasti bisa." ucapnya lagi, membuat Zahra menatap Ririn marah.


"Ririn apa-apaan sih?! Ririn kenapa ngomong gitu? Bukannya Ririn dukung Zahra, Zahra yakin Leo bakal berubah!" ucapnya sambil berdiri, ia menatap Ririn kesal.


"Ra, dengerin gue dulu. Gue gak mau Lo ke-"


"Udahlah Rin, Zahra mau pulang!" potongannya, lalu dengan kesal ia pergi dari hadapan Ririn.


"GUE NGOMONG GITU, KARENA GUE GAK MAU LO MAKAN HATI TERUS RA!" teriaknya. Namun diabaikan oleh Zahra.


Ririn menghela napas kasar, lalu kembali duduk. Padahal ia berbicara seperti itu demi kebaikan Zahra, ia tidak mau Zahra sedih terus-terusan.


Sudah beberapa kali Ririn berbicara seperti itu dan sudah beberapa kali juga Zahra jawab seperti itu.


Berubah katanya?

__ADS_1


Ririn yakin manusia seperti Leo, tidak akan pernah berubah.


__ADS_2