Lukisan Semesta Amerta

Lukisan Semesta Amerta
28. Tolong


__ADS_3

Zahra terus mundur. "Leo mau apa?" ucapnya begitu ketakutan.


Leo berhenti, ia menatap Zahra. "Sini." ucapnya dingin.


Zahra menggeleng pelan, bahkan ia terus mundur. "Zahra gak mau, Zahra ma pulang." lalu langsung berbalik badan, saat hendak lari, tapi Leo lebih dulu langsung menahan pergelangan tangan Zahra, sehingga membuat Zahra menatap Leo dengan takut.


"Lepas Leo, Zahra gak mau!" Zahra terus berusaha lepas, bahkan kini ia sudah menangis.


Leo menatap Zahra tajam, ia meremas pergelangan tangan Zahra, sehingga Zahra meringis kesakitan.


"Leo sakit." ucapnya kesakitan.


"Sakit lo gak sesakit gue!" ucap Leo tajam, bahkan ia menambahkan remasannya.


"Lo gak tau rasa sakit apa yang gue pendem!" Leo berhenti sejenak, ia menahan rasa sakitnya di dalam hatinya.


"Gue mau lo pergi dari hidup gue! Gue gak mau lo datang ke kehidupan gue, apalagi ke nyokap gue!" lalu dengan kasar mendorong Zahra hingga terjatuh.


Zahra meringis kesakitan, ia tidak tahu maksud Leo apa. Lalu dengan pelan-pelan ia berdiri. "Leo, kamu kenapa?" tanyanya dengan hati-hati.


Leo berdecih, ia menatap Zahra marah. "Gue benci lo! Gue gak suka lo datang lagi!" lalu dengan kasar ia menjambak rambut Zahra hingga ke belakang, lagi dan lagi Zahra meringis kesakitan.


"Leo sakit. Leo ini aku Zahra, sadar Leo." sambil berusaha lepas, justru malah Leo memperkuat jambakkannya.


"Gue benci punya bokap kaya lo, gue gak sudi!" Leo melotot marah, amarahnya kini tidak bisa dikendalikan lagi, lalu dengan kasar mendorong Zahra hingga terjatuh kembali.


Zahra meringis, ia memegangi kepalanya yang sakti, ia tidak berani menatap Leo.


Dan benar dugaannya, Leo menyuruhnya untuk datang kesini, cuman untuk melampiaskan amarahnya, melampiaskan apa yang ia tidak suka dan dirinyalah korannya.


Lalu Leo berjongkok, ia menangkup wajah Zahra. "Denger gue baik-baik. Gue sama nyokap gue, gak mau lo datang lagi! Gue udah anggap lo mati!"


Plak!


Zahra memegangi pipinya, ia menatap Leo yang sudah berlinang air mata.


Napas Leo naik turun tidak beraturan, ia cukup puas meluapkan rasa amarahnya.


Zahra menghapus air matanya, ia sudah pernah ditampar seperti ini jika Leo sedang seperti itu.


"Leo ini Zahra." ucapnya pelan.


Leo menatap Zahra tajam, lalu langsung menarik Zahra. "Gue benci lo! Gue gak suka lo datang ke kehidupan gue!" lagi dan lagi Leo terus menampar Zahra habis-habisan dan terus memukulinya.

__ADS_1


"Uhuk, uhuk, uhuk." Zahra terbatuk-batuk, ia memegangi perutnya dan juga kepalanya yang begitu terasa sakit.


Nafas Leo naik turun tidak beraturan, ia tersenyum miring melihat Zahra sudah seperti itu.


"Ayo bangun! gue masih belum puas." bentaknya.


Zahra menggeleng, ia sudah tidak sanggup lagi. "U-udah Leo, i-ini sakit banget." ucapnya sambil terbatuk-batuk.


Leo terkekeh pelan, lalu jongkok. "Tapi gue masih belum puas, kalau lo belum mati!" tekannya, lalu langsung menarik tangan Zahra kasar,. sehingga Zahra berdiri.


Leo tersenyum miring, lalu berbalik badan. Ia menghela napas kasar. "Cepet pergi dari sini, sebelum gue lakuin lebih kejam lagi!" usirnya tiba-tiba.


Zahra mengangguk lemah, ia memegangi bagian yang sakit, lalu dengan pelan-pelan pergi dari tempat itu. Tapi belum jauh, Zahra memejamkan matanya berkali-kali, ia terus memegangi kepalanya yang terasa berputar-putar.


Bruk!


Zahra langsung jatuh pingsan, sehingga hal itu membuat Leo langsung berbalik badan.


Leo melotot terkejut. "Zahra!" lalu dengan segera ia menghampiri Zahra.


...---oOo---...


Di rumah sakit


Leo melipatkan kedua tangannya di dada, ia terus memperhatikan Zahra yang sedang terbaring lemah, sandari tadi Zahra belum siuman.


"Ke sini sekarang! nanti gue share lokasi."


Tut!


Leo mematikan sambungan teleponnya, lalu langsung mengirimkan lokasi, setelah itu ia kembali melihat Zahra.


...---oOo---...


"Mi, Mi, Mi!" panggil Gio sambil menyenggol lengan Fahmi.


"Apaan?!" tanyanya tanpa menatap Gio, karena sedang fokus dengan main ps-nya.


"Si Leo ngapain yah nyuruh gue ke rumah sakit?" tanya bingung.


"Mana gue tau!" lalu meletakkan stik ps-nya, setelah itu menatap Gio, "Si Leo sakit?"


Gio langsung menonyor kepala Fahmi. "Mana gue tau, kalau gue tau juga gak bakal gue nanya sama lo."

__ADS_1


"Yudah besok lagi ajalah, udah malem gini malah disuruh ke rumah sakit, ada-ada aja." ucap Fahmi, lalu kembali memainkan ps-nya.


"Iyah juga yah." Gio mengangguk-angguk kepalanya, lalu ia melotot terkejut, "Kalau si Leo sekarat gimana?"


"Mana ada sekarat bisa nelpon!" ucap Fahmi, lama-lama ia ikut kesal juga.


Gio mengangguk-angguk kepalanya, benar juga kata Fahmi. Tapi kenapa Leo menyuruhnya datang ke rumah sakit?


Siapa yang sakit?


Ting!


Gio melotot terkejut saat membuka pesan dari Leo barusan, lalu menunjukkannya pada Fahmi.


"Mi, Mi, Mi. Liat!" ucapnya.


Fahmi langsung melihatnya, ia melotot terkejut. "Zahra?!" kagetnya. Lalu dengan tergesa-gesa Fahmi langsung mengambil kunci motornya dan diikuti oleh Gio.


Fahmi mengendarainya dengan kecepatan full, hal itu membuat Gio memeluk Fahmi takut.


"Woi pelanan napa!" teriak Gio, ia semakin mempererat pelukannya.


Fahmi tidak peduli, yang ada di pikirannya saat ini adalah Zahra. Ia bingung kenapa Zahra bisa masuk rumah sakit?


Saat sampai di depan rumah sakit, Fahmi langsung berlari masuk kedalam dan bahkan sama sekali tidak melepaskan helmnya. Fahmi terus berlari, bahkan ia sempat menabrak suster, tapi untungnya tidak kenapa-kenapa.


Fahmi berdiri di depan lift, ia menggeram kesal, pasalnya liftnya lama sekali. Lalu dengan perasaan cemas, ia langsung mengambil jalan untuk menaik tangga.


Dari tadi Gio mengikuti Fahmi, Gio ngos-ngosan karena kewalahan. "Mi, pelan-pelan napa! lagian si Zahra gak bakal keburu mati ini."


Fahmi tidak menjawab, saat sudah sampai di depan ruangan tempat Zahra, ia langsung masuk kedalam tanpa pedulikan boleh atau tidaknya masuk.


"Ra!" ucapnya khawatir saat sudah di dekat Zahra.


"Lo kenapa, Ra?" tanyanya begitu khawatir, napas Fahmi naik turun tidak beraturan, lalu ia mengelap keringatnya di keningnya.


Fahmi menengok sana sini, ia menggeram marah karena tidak ada Leo si sini.


Gio menyerit heran. "Ari si Leo mana?" tanyanya kebingungan.


Fahmi menghela napas kasar, jadi ini Leo menyuruhnya untuk kesini. Tapi dirinya tidak ada, memang manusia tidak memiliki hati.


Fahmi langsung kembali melihat Zahra yang belum sadar, lalu mengelus kepala Zahra lembut, kemudian turun menggenggam kedua tangan Zahra.

__ADS_1


"Lo yang kuat yah, Ra." sambil terus menatap Zahra kasihan.


Jujur Fahmi dan Gio melihat keadaan Zahra seperti itu, sangat kasihan. Bagaimana tidak? Wajah Zahra ada beberapa luka dan juga wajahnya begitu pucat.


__ADS_2