Lukisan Semesta Amerta

Lukisan Semesta Amerta
8. Membantu Zahra Jualan


__ADS_3

"Makasih udah anterin Zahra pulang." ucapnya sambil tersenyum lebar.


Fahmi mengangguk." Sama-sama."


"AAAAAAAAA!" teriak Rita dari dalam rumahnya.


"Ibu!" Zahra langsung berlari ke dalam rumah, ia meninggalkan Fahmi begitu saja.


Fahmi keluar dari mobil, ia langsung berlari masuk ke dalam rumah Zahra.


Di sana ia melihat Zahra yang sedang menenangkan seseorang, mungkin Ibunya. Hatinya tersentuh melihat Zahra yang terus berusaha agar Ibunya tidak memberontak.


"Ibu tenang, ada Zahra di sini." Zahra terus memeluk Ibunya dan bahkan ia berusaha agar Ibunya tidak keluar dari rumah.


Fahmi berjongkok, ia ikut membantu Zahra. "Bu tenang. Anak ibu sudah pulang." sambil terus memegangi Rita.


Rita terus memberontak, bahkan ia menghempaskan tangan Fahmi dari tangannya. "Lepas!" matanya menatap Fahmi tajam dan beralih menatap Zahra.


"Pergi, pergi. Hahahaha." Rita tertawa keras, ia mengacak-ngacak rambutnya dan terus tertawa tidak jelas.


Zahra menghela napas sabar, lalu bangun dan Fahmi pun ikut bangun. "Fahmi pulang aja, udah malem. Zahra gak mau warga di sini ngomong yang enggak-enggak."


"Tapi Ibu lo—"


"Gak apa-apa, udah biasa. Nanti juga tenang lagi." jelasnya.


Fahmi mengangguk, lalu sekilas melihat Ibunya Zahra dan kemudian kembali menatap Zahra. "Yaudah gue balik, kalau ada apa-apa hubungin gue aja."


Zahra tersenyum. "Terima kasih."


Fahmi mengangguk. "Sama-sama, gue balik, Ra." setelah mendapatkan anggukan dari Zahra barulah ia pulang ke rumahnya.


Zahra menutup pintu saat Fahmi sudah pergi, lalu kembali menghampiri ibunya.


"Ibu ayo tidur lagi." ucapnya sambil membantu Rita bangun, setelah itu menuntun Rita menuju kamar.

__ADS_1


...---o0o---...


"Lo tau kondisi Ibunya Zahra sekarang kaya apa?" tanya Fahmi pada Leo.


Leo menatap Fahmi datar. "Tau." jawabnya.


"Kenapa lo diem aja? kenapa lo gak jenguk?!" Fahmi menatap Leo sedikit marah. Ia benar-benar heran dengan pikiran Leo.


Leo hanya mengacuhkan bahunya, ia sama sekali tidak peduli, sehingga membuat Fahmi geleng-geleng kepala.


"Emang Ibunya kenapa?" tanya Gio yang sedang asik main game online.


Saat ini mereka berada di kantin kampus, mereka sedang mengisi perutnya yang kosong.


"Ibunya terkena gangguan mental." jawab Fahmi.


Gio menatap Fahmi terkejut, lalu meletakan handphonenya di meja, membiarkan gamenya begitu saja.


"Serius lo?" tanya Gio untuk memastikan.


Gio melongo, lalu melihat Fahmi bersama dengan Zahra. "Lo gak panas apa, Le?" tanyanya pada Leo.


Leo menatap Gio datar, lalu beralih melihat mereka. "Biasa aja." ucapnya, setelah itu pergi dari hadapan Gio.


Gio melongo, sahabatnya satu persatu pergi. Lalu dengan cepat ia mengejar Leo yang terlihat semakin menjauh. "Bro tunggu." teriaknya sambil berlari.


---o0o---


"Hai." sapa Fahmi sambil tersenyum ramah.


Zahra menoleh. "Fahmi, ngapain di sini?" tanyanya sambil mengecek-ngecek jualannya.


Fahmi duduk di kursi, ia memperhatikan Zahra sambil tersenyum. "Kan ini kantin, jadi berhak dong ke sini."


Zahra tertawa kecil, lalu memberikan jualnya pada ibu kantin. "Bu, Zahra titip lagi yah."

__ADS_1


"Iyah neng." ucap Ibu kantin tersebut sambil menerima jualannya.


Setelah itu Zahra langsung pergi dan menjingjing jualannya untuk di jual di kelas.


Fahmi pun langsung mengejar Zahra, lalu langsung merampas jingjingan Zahra dan itu membuat Zahra langsung berusaha merebut. "Fahmi siniin, itu jualan Zahra."


"Tenang Ra, biar gue yang jualin." ucapnya, lalu langsung menghampiri orang-orang yang sedang mengobrol.


Zahra tertawa kecil, setelah itu langsung menghampiri Fahmi.


"Guys di beli yuk, ini makanan bikinan neng Zahra loh." ucapnya sambil menatap Zahra tersenyum.


Zahra tertawa kecil. "Ishh apaan sih, lebay."


"Apaan nih?" tanya dari salah satu mereka sambil memperhatikan jualannya.


"Ini tuh risol." jelas Fahmi sambil membagikan pada mereka.


Mereka memperhatikan risol tersebut, terlihat menarik dan sepertinya enak.


"Gue mau satu."


"Gue juga."


"Gue dua, kayanya enak ini."


"Jelas dong enak." ucapnya ramah. Fahmi langsung memberikan risolnya pada mereka dan ia menerima uang hasil jualannya, lalu memberikannya pada Zahra.


Zahra menerimanya, ia tersenyum senang. "Makasih yah. Padahal gak usah repot-repot bantu."


Fahmi mengangguk. "Yaela Ra, gue sama sekali gak kerepotan. Justru gue seneng bisa bantu lo."


Zahra hanya tersenyum.


"Yaudah yuk lanjut." ucap Fahmi dan Zahra mengangguk.

__ADS_1


Leo melihat mereka yang sedang berduaan, tangannya terkepal kuat, rahangnya mengeras serta matanya menatap mereka tajam. "Sialan!" setelah itu pergi dari sana, ia benar-benar marah.


__ADS_2