Lukisan Semesta Amerta

Lukisan Semesta Amerta
31. Ayah Ayo Pulang


__ADS_3

Zahra melotot terkejut, lalu dengan segera ia menghampiri orang itu.


Zahra tersenyum lebar. "Pak Radit." ucapnya senang sambil salim ke tangan Radit.


Radit tersenyum. "Caca nya mana? k


Ko gak ada?"


"Ada ko pak. Caca sama yang lain lagi ke atas." jawabnya sopan.


Radit tersenyum, lalu mengangguk. "Yasudah, kalau begitu bapak samperin Caca nya."


Zahra mengangguk. "Iyah pak, terima kasih."


Radit tersenyum, lalu langsung menuju kamar putrinya.


Tok tok tok


"Caca buka pintunya." ucapnya sambil mengetuk pintu.


Di dalam kamar, Caca, Riska dan Abel melotot terkejut mendengar suara Radit.


"Bokap lo, Ca." ucap Riska.


Caca menghela napas kasar, lalu membuka pintu.


"Ada apa, Pah?" tanyanya.


Radit menatap Caca, lalu beralih menatap Riksa dan Abel bergantian.


"Kalian ngapain? kenapa gak bantuin Zahra?!"


"Caca males, Pah." ucapnya.


"Papah gak mau tau, cepat temenin Zahra. Kalian lagi kerja kelompok kan?"


Mereka mengangguk.


Radit menghela napas kasar. "Ayo cepat samperin, kalian mau nilainya kecil, hah?!"


Spontan mereka bertiga menggeleng.


"Yaudah cepetan sana, kasian Zahra ngerjain sendirian!" lalu Radit pergi dari hadapan mereka.


Caca memutar bola mata malas. "Yuk Guys!"


Saat sudah sampai di sana. Caca, Riska dan Abel langsung duduk, mereka melipatkan kedua tangannya di dada, dan menatap Zahra kesal.


"Pasti lo ngadu yah sama bokap gue?!" tuduh Caca.


Yang dari tadi Zahra menulis, ia berhenti. Ia menatap Caca heran. "Nggak, orang Zahra gak bilang apa-apa."


Caca memutar bola mata malas. "Ya, ya, ya. Udah cepetan kerjain!" lalu menyenderkan punggungnya ke sofa.


Zahra menghela napas sabar, lalu melanjutkan kerjaannya. Melihat hal itu Caca, Riska dan Abel tersenyum miring, ternyata gak sia-sia satu kelompok dengan Zahra.


Zahra menghela napas lega, lalu memberikan bukunya. "Nih udah selesai."

__ADS_1


Caca langsung mengambilnya dengan kasar, lalu melihat hasil kerja Zahra. "Bagus!" sambil tersenyum miring, setelah itu mengambil pulpen.


Caca tersenyum senang, lalu menatap Zahra tidak suka.


Zahra langsung melihat apa yang ditulis oleh Caca.


Nama-nama kelompok tiga :



Anastasya Salsabila Anggraeni


Andinda Riska Putri Wijaya


Arabela abelia putri Kusuma



Zahra menatap mereka heran. "Ko nama Zahra gak ditulis?"


Riska dan Abel tertawa, lalu menatap Zahra tidak suka. "Mau banget lo ditulis sama Caca!" ucap Abel, lalu kembali tertawa.


Zahra menghela napas kasar. "Yaudah sini biar Zahra yang tulis." pintanya.


Caca tersenyum miring, ia menatap Zahra datar. "Mau banget lo masuk ke kelompok kita?! hahaha gue sih ogah!" lalu pergi dari hadapan Zahra, setelah itu diikuti oleh Riska dan Abel.


"Tapi Ca, itukan tugas kelompok." ucap Zahra sedikit berteriak. Namun tidak didengar oleh mereka.


Zahra menghela napas kasar, lalu membereskan buku-bukunya, setelah itu ia pergi dari rumah Caca.


Jujur ia tidak menyangka akan seperti itu, ia kira mereka akan tulus satu kelompok dengannya.


...---oOo---...


Saat dalam perjalanan, Zahra menyerit heran ketika melihat seseorang yang sudah lama tidak bertemu, lalu dengan cepat ia menghampiri orang itu, karena takutnya tidak kehilangan jejak.


"Ayah!" Zahra memekik senang, lalu dengan cepat ia menghampiri Ayahnya lebih dekat lagi.


"Ayah." Zahra begitu senang sekali, akhirnya bertemu kembali dengan Ayahnya yang sudah lama sekali tidak bertemu.


Feri terkejut, ia menatap Zahra datar.


"Ayah ayo pulang, ibu sakit ayah." ucapnya, lalu menarik-narik tangan Ayahnya.


"Lepas. Saya gak kenal kamu siapa!" Feri menatap Zahra tajam, lalu dengan kasar menghempaskan tangan Zahra, sehingga Zahra terjatuh.


Zahra menatap ayahnya yang sudah meneteskan air mata, lalu ia berusaha bangun. Ia menatap ayahnya ada rasa rindu yang ingin ia ungkapkan.


"Ayah, Zahra kangen." lalu dengan cepat Zahra memeluk ayahnya.


"Apaan sih, jangan sok kenal sama saya!" lalu dengan kasar ia menghempaskan Zahra, ia menatap Zahra tajam.


Zahra menghapus air matanya kasar, ia tidak menyangka Ayahnya akan seperti itu. Dari dulu ia mencari ayahnya dan sekarang? kenapa ketika bertemu Ayahnya seolah-seolah lupa.


"Ayah ini Zahra, anak Ayah." Zahra menatap Ayahnya, berharap dia tidak lupa dengannya.


Feri menatap Zahra marah. "Pergi. Jangan ganggu saya, saya gak kenal sama kamu!" sambil mendorong-dorong Zahra secara kasar.

__ADS_1


"Tapi Ayah, ini Zahra anak Ayah." lagi dan lagi Zahra berbicara seperti itu.


Feri menatap Zahra melotot marah. "Pergi!" tekannya.


"Zahra mohon ayah pulang yah, kasian Ibu lagi sakit di rumah."


"Saya bilang, saya gak kenal kamu!"


"Mas dia siapa?" tanya seorang wanita baru saja keluar dari butik sambil membawa barang belanjaannya.


Spontan Feri langsung menatap wanita itu terkejut. "Aku gak tau dia siapa, salah orang nih!"


Zahra menatap Ayahnya sedih, ia tidak menyangka Ayahnya bilang seperti itu kepada wanita itu.


"Ayah ini Zahra, anak Ayah. Masa Ayah gak kenal Zahra." ucapnya sambil menangis, lalu memegangi tangan ayahnya.


"Apaan sih, gak usah pegang-pegang!" lalu dengan kasar Feri menghempaskan tangan Zahra begitu saja, sehingga Zahra kembali menangis.


Wanita itu melotot terkejut, lalu menatap Feri meminta penjelasan. "Mas ini maksudnya apa sih? Kenapa dia bilang kamu Ayahnya?!"


Feri langsung meraih kedua tangannya wanita itu, ia menatap wanita itu dengan sayang. "Sayang dia bohong, mana ada aku punya anak."


"Yuk masuk aja, kamu gak usah percaya sama orang kaya gituan!" lalu menatap Zahra tajam, setelah itu membukakan pintu mobil, "Masuk sayang." ucapnya sambil tersenyum.


Wanita itu tersenyum, lalu masuk kedalam mobil.


Feri menutup pintu mobilnya, lalu menatap Zahra tajam. "Ingat. Jangan pernah datang lagi ke kehidupan saya!" tekannya, lalu langsung masuk kedalam mobil, setelah itu mengendarai mobilnya, meninggalkan Zahra yang sudah menangis.


"AYAH!" teriaknya yang terus menangis.


...---oOo---...


Saat sampai di rumah, Zahra langsung menghempaskan tubuhnya di kasur. Jujur ia kecewa sekali dengan Ayahnya.


Zahra meneteskan air matanya, rasa sakit sekali tidak dianggap anak olehnya.


Seburuk itu kah dirinya?


Zahra tidak tahu lagi harus berbuat apa lagi untuk membawa Ayahnya ke rumah, terutama ke Ibunya. Ia sedih sekali melihat Ibunya yang sering menangis karena Ayahnya.


"Kapan Ayah pulang?" lirihnya.


Zahra menghapus air matanya kasar, ia tidak boleh menyerah. Ini semua demi ibunya, untuk dirinya juga.


Dulu Zahra sering berkhayal jika dirinya, Ibunya dan Ayahnya kumpul bersama, pasti itu akan menyenangkan dan saling menyayangi satu sama lain, seperti teman-teman yang mempunyai keluarga yang begitu harmonis.


Zahra tersenyum sendiri, ia tidak bisa berhenti berkhayal jika menyangkut itu. Mungkin menurut kalian itu adalah hal yang biasa, tapi bagi Zahra, keluarga adalah segalanya, keluarga adalah rumahnya, keluarga adalah kebahagiaannya.


"Zahra berharap kita kumpul lagi, Inu, Ayah." ucapnya sambil tersenyum.


Zahra terkekeh kecil, jika hal itu terjadi, ia tidak akan menyia-nyiakan itu semua, ia akan terus menjaga keluarganya agar tetap utuh.


Ting!


Zahra bangun, lalu mengambil ponselnya. Ia menyerit heran.


"Leo?" ucapnya.

__ADS_1


Zahra menelan ludahnya susah, jantungnya berdetak lebih kencang, ia terkejut saat Leo mengirimkan pesan untuknya, lalu memegangi keningnya yang masih di perban, ia menggeleng ketakutan.


"Gak. Zahra gak mau...." ucapnya begitu ketakutan.


__ADS_2