
"Ibu saya kenapa dok? Kenapa dengan ibu saya?" air matanya terus keluar dengan deras, perasaannya tidak enak.
Ririn mengusap-usap punggung Zahra. "Tenang Ra." Ririn pun sama ikut sedih. Tapi, Ririn tidak menunjukkan ekspresinya.
"Ibu anda kekurangan banyak darah, sehingga perlu memerlukan banyak darah. Tapi, di rumah sakit ini untuk stok golongan darah o sedang tidak ada." jelas dokter.
Zahra menghapus air matanya kasar. "Saya dok, saya. Golongan darah saya o dok."
"Baik kalau begitu ikut saya, saya periksa dulu." ucapnya.
Zahra mengangguk, ia langsung mengikuti dokter tersebut.
Zahra tersenyum melihat ibunya yang berada di sampingnya, untungnya golongan darahnya sama, sehingga ia dapat membantu ibunya.
"Cepat sembuh bu."
...---o0o---...
Zahra setia menemani ibunya yang masih belum siuman, ia terus memandangi wajah ibunya. Perlahan ia mengecup keningnya lama, lalu tersenyum.
Sekarang hatinya tenang, ia lega kalau ibunya sudah baik-baik saja. Tangannya memegang tangan ibunya, perlahan ia mengusap-usap lembut, matanya tidak henti-hentinya memandanginya.
Baru kali ini Zahra dekat sekali dengan ibunya sendiri, bahkan Zahra terus menciumnya.
"Ra." panggil Ririn sehingga membuat Zahra berbalik, lalu perlahan melepaskan genggamannya.
"Ada apa Rin?" tanyanya.
"Lo liat sendiri aja di depan. Di sini biar gue yang jaga ibu lo." ucapnya. Zahra mengangguk pelan, sebelum keluar ia mengusap rambut ibunya.
"Zahra pamit keluar dulu ya bu." sambil tersenyum, lalu langsung menuju keluar.
...---o0o---...
Zahra mengerutkan keningnya bingung. "Leo, Caca?" tanyanya.
Zahra melihat tangan Caca yang memeluk lengan Leo, lalu ia menatap Leo. "Ada apa?" tanyanya.
"Sakit?" tanya Leo dengan tatapan datar.
__ADS_1
"Bukan. Ibu aku yang sakit." jawabnya.
"Emangnya lo mampu bayar administrasi ibu lo?" tanya Caca pedas, itu membuat Zahra sakit mendengar perkataan Caca barusan.
Zahra tersenyum. "Insyaallah mampu."
Caca menatap Zahra tidak suka. "Dengan cara?"
Zahra menghela napas sebar. "Dengan cara bekerja."
Caca tertawa, ia memperhatikan Zahra dari atas sampai bawah. "Kerja? Oh gue tau, pasti lo kerjanya sebagai pelacur ya?" tuduhnya, lalu kembali tertawa.
Zahra mengepalkan tangannya kuat, matanya memanas, bahkan air matanya perlahan turun. Lalu ia mendekat, menatap Caca marah. "Jangan asal tuduh, Zahra bukan seperti itu!" ia melayangkan tangannya untuk menampar pipi Caca. Namun sayangnya Leo sudah lebih dulu menahan tangan Zahra, ia menatap Zahra dingin.
"Jangan sentuh pipi mulus cewek gue, singkirin tangan kotor lo itu!" lalu menghempaskan tangan Zahra begitu saja.
Zahra menatap Leo tidak percaya, air matanya terus keluar dengan deras. Mendengar perkataan Leo barusan, membuat hatinya teriris dan itu membuat Caca tersenyum lebar.
"Jaga ucapan kamu Leo, aku tau ak—"
"Zahra!" panggil Ririn dengan raut wajah yang begitu cemas, dan Zahra pun langsung berbalik badan, dan menatapnya.
"Ibu kenapa Rin, ibu Zahra kenapa?" Zahra langsung memotong ucapan Ririn dan segera langsung berlari karena mendengar teriak dari ruang rawat ibunya.
"IBU!" Zahra langsung memeluk Rita erat, ia menangis melihat ibunya yang terus mengamuk.
"DOKTER, DOKTER!" Zahra terus berteriak memanggil dokter.
Dan Ririn langsung keluar memanggil dokter, yang belum datang juga.
Leo dan Caca hanya diam, mereka hanya menonton tanpa membantu Zahra yang terus menenangkan ibunya.
"HAHAHAHA." Rita mengacak-acak rambutnya, ia terus tertawa dan terus memberontak.
Zahra terus memeluk ibunya erat. "Ibu Zahra mohon jangan kaya gini, hiks..." Zahra tidak kuat melihat ibunya seperti itu.
"Permisi. Biar saya periksa." ucap dokter yang baru saja datang dengan suster dan Ririn.
Rita terus memberontak, bahkan ia tidak segan-segannya menghempaskan alat pemeriksa yang dokter itu pegang.
__ADS_1
"Tolong semuanya keluar dulu." perintah dokter, lalu mereka langsung keluar dan kini hanya tersisa dokter, suster dan Rita yang sedang ditangani.
"Sus tolong suntikan." pinta dokter itu.
Suster itu mengangguk, lalu mengambil suntikan yang ia bawa dan memberikannya pada dokter.
Dokter itu langsung menyuntik Rita, hingga Rita tidak lagi memberontak, lalu matanya perlahan tertutup.
...---o0o---...
Zahra terus menangis, ia takut ibunya terjadi apa-apa. Zahra sangat menyayangi ibunya, ia lera mati-matian untuk terus menjaga ibunya, ia takut ibunya akan pergi seperti waktu dulu.
Dulu Rita dengan teganya pergi meninggalkan Zahra waktu usianya berumur sepuluh tahun, Rita sama sekali tidak peduli pada anaknya. Rita meninggalkan Zahra ketika Zahra sedang tertidur pulas, bahkan Rita sempat menyesal karena seharusnya ia membuang anak yang sama sekali ia tidak inginkan.
"Ibu?" Zahra bangun dari tidurnya, ia meraba-raba di sebelahnya dan ternyata...
Kosong.
"Ibu, Zahra takut." Zahra terus menangis sambil memeluk boneka kesayangannya, matanya melihat lemari yang terbuka sedikit, lalu dengan penasaran ia langsung membuka lemari itu.
Kosong.
Kemana semua baju ibunya?
Jantungnya berdetak lebih cepat, ia terus menangis. Ibunya pergi meninggalkan dirinya.....
Sendiri.
Zahra langsung berlari keluar, ia mencari ibunya yang entah pergi ke mana. Ia sangat takut jika ibunya benar-benar pergi, Zahra belum siap untuk itu.
"Ibu di mana? Zahra takut Bu. Ayah tolong Zahra. Zahra takut sendirian." selama diperjalanan Zahra terus menangis.
Dan suatu ketika ibunya datang kembali, di usianya yang sudah dua belas tahun dan itu membuat Zahra senang dan sangat berterima kasih pada Allah yang telah mengabulkan doa-doanya selama ini.
"Zahra takut Rin. Zahra takut ibu ninggalin Zahra kaya dulu lagi." Zahra memeluk Ririn, ia menangis di pelukan Ririn.
Ririn meneteskan air matanya, ia ikut sedih. Zahra begitu kuat menghadapi cobaan yang Allah berikan, dia tidak pernah mengeluh. Di saat umurnya yang masih kecil, dia kehilangan kasih sayang dari orang tuanya. Ririn pun bingung dengan sikap ibunya Zahra, yang selalu bersikap kasar pada anaknya dan bahkan tidak menganggap Zahra anaknya.
Caca memutar bola mata malas melihat Zahra yang terus-terusan menangis, dia gampang sekali menangis. "Gitu aja cengeng!" ejeknya.
__ADS_1
Leo menoleh, ia menatap Caca tajam. "Jaga mulut lo!"