Lukisan Semesta Amerta

Lukisan Semesta Amerta
23. Karma?


__ADS_3

"Mi, lo masih marahan sama Leo?" tanya Gio.


Fahmi mengacuhkan bahunya, lalu ia meminum minumannya. "Gak."


Gio menghela napas lega, untung mereka berdua sudah baikkan, kalau tidak? beuhh jangan tanyakan lagi, ia sudah pusing untuk menyatukan mereka berdua yang sama-sama keras kepala, Gio berharap cukup sampai di sini saja mereka berantem.


"Si Leo mana?" tanya Fahmi sambil melihat ke sekelilingnya.


Gio menyimpan handphonenya di meja, lalu ia mengacuhkan bahunya. "Mana gue tau. Mungkin kaya biasa, ya lo taulah."


Fahmi menghela napas kasar, lalu melipatkan kedua tangannya di dada, ia geleng-geleng heran. "Aneh gue sama tuh orang, gak cukup apa sama satu cewek!"


Gio menghela napas kasar, ia pun sama bingung dengan Leo yang mata keranjang seperti itu. "Gue juga heran. Dulu emaknya ngidam apaan sampe sampe bentukannya kaya gitu."


"Nah tuh dia, mucul juga tuh anak." ucap Gio sambil melihat ke arah Leo yang sedang jalan ke arahnya.


"Woi bro, kemana aja lo?" tanya Gio.


Leo ikut duduk, lalu menyenderkan punggungnya ke kursi. "Biasa." jawabnya santai, membuat mereka berdua memutar bola mata malas.


"Lo gak takut karma apa, Le?" tanya Gio, ia geleng-geleng kepala heran.


Leo menatap Gio datar, lalu melipatkan kedua tangan di dada. "Karma?" Leo terkekeh kecil, lalu kembali menatap Gio, "Emang masih ada? aneh! masih percaya kaya gituan!"


Gio dan Fahmi menatap Leo tidak percaya, mereka heran dengan Leo yang tidak takut sama sekali.


Fahmi hanya bisa menghela napas kasar, sedangkan Gio menatap Leo heran.


"Ya ada lah bro." ucap Gio.


Leo hanya menatap Gio datar, ia menghela napas kasar, lalu tersenyum miring. "Kalau ada, coba buktin. Gue pengen tau karma kaya apa!"


Gio tidak habis pikir dengan Leo, Leo memang keras kepala, susah untuk di bilangin. Dengan itu lebih baik Gio diam saja, malas untuk membahas hal itu kepada orang yang tidak percaya.


Sama halnya dengan Fahmi, Fahmi sudah tahu betul Leo seperti apa. Dari pada ribut lagi, lebih baik ia pergi, lalu ia berdiri, membuat mereka berdua menatap Fahmi heran.


"Mau kemana lo?" tanya Gio.


"Balik." ucapnya, sebelum pergi Fahmi berbalik badan, "Balik lo pada, udah malem gini!"


...---oOo---...


"Pergi kamu, pergi!" teriak Rita sambil melemparkan benda-benda yang ada di sekitarnya.


Ririn bersembunyi di belakang Zahra,  ia meringis melihat Rita seperti itu. "Ra gue takut."


"Ririn tenang yah." Zahra berusaha menenangkan, sebenarnya ia pun takut melihat Ibunya kembali seperti itu, ngamuk-ngamuk tidak jelas.

__ADS_1


Prang!


Prang!


Ririn langsung memeluk Zahra dari belakang begitu erat, ia memejamkan matanya takut. Jujur ibunya Zahra ngamuk seperti itu, membuatnya semakin takut padanya.


Rita melotot marah kearah mereka, bahkan ia terus mengacak-acak rambutnya.


"Pergi anak haram!" teriaknya kesal sambil menunjuk ke arah Zahra, hal itu membuat Ririn kaget.


Zahra menghela napas sabar, menghadapi ibunya ia harus ekstra sabar.


"Rin, kamu masuk kamar yah." ucapnya, membuat Ririn melepaskan pelukannya.


"Tapi lo Ra–"


"Udah gak usah pikirin Zahra, Zahra bisa nenangin ibu. Ririn masuk kamar aja, Zahra takut nanti ibu lempar barang kena Ririn."


Ririn mengangguk pelan, lalu dengan takut ia langsung masuk kamar.


Zahra menghela napas, perlahan ia mendekati ibunya yang sedang ngamuk seperti itu.


"Bu." ucapnya halus. Zahra menatap ibunya, tatapnya begitu tulus dan ada rasa kasih sayang yang begitu besar.


Rita langsung menatap Zahra tajam, perlahan ia mundur. "Pergi anak haram!" tekannya, lalu ia menoleh ke samping, ia tersenyum melihat vas bunga di atas meja, lalu dengan cepat ia mengambilnya, setelah itu vas bunga itu ia perlihatkan ke arah Zahra, lalu tertawa.


Zahra berhenti, ia menatap ibunya cemas. "Bu jangan kaya gini yah. Ayo simpen vas bunganya bu." sambil tersenyum.


Rita tertawa keras, ia menatap Zahra tidak suka. "Anda takut?!" tanyanya, lalu perlahan mendekat, membuat Zahra mundur.


"Jangan bu." Zahra menatap ibunya, berharap ibunya mau mendengarkannya.


"Hahaha!" Rita tertawa keras, lalu ia joget-joget tidak jelas.


Lalu Rita kembali menatap Zahra tajam. "Mas Feri saya mana?!" tanyanya.


Zahra meneguk ludahnya susah, ia tidak tahu harus jawab apa. Sungguh ibunya kali ini begitu menyeramkan, jika boleh memilih, lebih baik dirinya saja yang sakit, jangan ibunya.


Rita menggeram kesal, pertanyaannya tidak di jawabnya, membuatnya semakin murka dan bahkan ia menatap Zahra sambil siap-siap melayangkan vas bunga yang ia pegang, membuat Zahra jadi was-was.


"Cepat bilang. Dimana mas Feri saya?!" tekannya.


Zahra menggeleng pelan, air matanya sudah keluar dengan deras, ia tidak tahan melihat ibunya.


"Bu ayo simpen vas bunganya." sambil berusaha untuk menenangkan juga.


Rita menggeleng. "Nggak!" sambil melotot marah.

__ADS_1


"Cepat bilang!" tekannya lagi.


Zahra menghela napas, lalu ia mengusap air matanya. "Za-zahra ga-gak tau bu." jawabnya takut, hal itu membuat Rita kembali murka.


Rita menggeram kesal, ia menatap Zahra benci. "Dasar anak haram!"


Prang!


"ZAHRA!"


...---oOo---...


Ririn terus mundur-mundur tidak jelas, perasaannya begitu cemas. Ia melihat pintu yang di mana Zahra berada di dalam sana.


"Ra lo pasti kuat." batinnya, kemudian duduk di kursi yang tidak jauh dari ruang Zahra.


Ririn menghela napas pelan, ia takut sekali, takut Zahra kenapa-kenapa. Perasaannya begitu tidak tenang, ia pun tidak menyangka Zahra akan seperti itu, ini semua karena ibunya Zahra, Zahra berada di sini karena terkena lemparan vas bunga oleh ibunya.


Ririn ingin menyalahkan ibunya Zahra. Tapi bagaimanapun ibunya Zahra terkena gangguan jiwa, ia bingung di sini siapa yang salah?


"Rin!" ucap Fahmi sambil menghampiri Ririn.


Ririn menoleh, lalu langsung memeluk Fahmi. "Zahra, Mi. Gue takut." sambil menangis.


Fahmi mengelus-elus rambut Ririn. "Tenang, gue tau Zahra anak kuat." jujur dirinya pun ikutan cemas, untung saja Ririn menelponnya, kalau tidak ia tidak akan tahu Zahra berada di rumah sakit.


Ririn mengangguk, lalu melepaskan pelukannya. Ia menghapus air matanya. "Iyah Mi."


Sandari tadi Gio memperhatikan mereka berdua, dari tadi ia hanya di kacangin saja.


Gio menghela napas kasar, ada perasaan sakit di dalam hatinya. Kenapa sih Ririn harus berpelukkan dengan Fahmi?


"Gak liat apa ada gue di sini?!" gumamnya kesal, lalu dengan perasaan kesal ia duduk sambil memperhatikan mereka berdua, setelah itu melipatkan kedua tangannya di dada.


Fahmi menuntun Ririn untuk duduk, lalu ia ikut duduk di sebelahnya.


"Leo gak ke sini?" tanyanya.


Ririn menggeleng. "Gue udah teleponin dia. Tapi gak aktif teleponnya."


Fahmi menghela napas kasar, di keadaan genting gini Leo tidak ada, memang pacar yang tidak berperasaan!


Cklek!


Ririn, Fahmi dan Gio langsung melihat ke arah pintu, lalu mereka langsung menghampiri dokter itu yang baru saja keluar dari ruangan Zahra.


Ririn menghapus air matanya kasar, ia menatap dokter itu. "Gimana dok, sahabat saya baik-baik ajakan? Iyahkan dok?"

__ADS_1


__ADS_2