Lukisan Semesta Amerta

Lukisan Semesta Amerta
22. Jalan dengan Wanita Lain


__ADS_3

"Rin bangun." ucap Zahra sambil menggoyang-goyangkan badan Ririn pelan.


"Eughh." Ririn mengucek-ngucek matanya, lalu duduk.


"Udah pagi yah Ra?" tanyanya sambil menutup mulutnya karena menguap.


"Iyah Rin. Cepetan mandi gih, kan ada kelas pagi." ucapnya.


Ririn mengangguk-angguk, ia terus menguap, ia masih nagntuk sekali.


"Iyah Ra." ucapnya, lalu dengan malas menuju kamar mandi.


Zahra tersenyum melihat Ririn seperti itu, lalu ia merapikan tempat tidurnya, setelah itu langsung menuju dapur.


Hari ini Zahra telah kembali untuk berjualan, akhirnya ia sudah bisa mengumpulkan modalnya kembali. Rasanya ia senang sekali.


"Wahh apaan tuh Ra?" tanya Ririn yang baru saja selesai dengan pakaian kuliahnya, lalu duduk di kursi, ia melihat-lihat banyak sekali makanan, membuatnya ingin langsung menyantapnya. Tapi ia tahan.


"Ini Rin, hari ini Zahra udah mulai jualan lagi." ucapnya senang sambil memasuk-masukan jualannya ke tempatnya.


Ririn ikut senang, bahkan ia langsung membantu Zahra.


"Nanti gue ikut jualan yah Ra." sambil tersenyum lebar.


Zahra mengangguk. "Boleh Rin."


"Ouh iyah, bentar yah. Zahra mau panggil ibu dulu." ucapnya, lalu di anggukkan oleh Ririn, setelah itu barulah ia langsung menghampiri ibunya.


Zahra menuntun ibunya, lalu ia dudukkan ibunya di kursi. "Bu kenalin ini Ririn, sahabatnya Zahra."


Rita hanya melihat Ririn, ia hanya diam saja, lalu kembali pada boneka barbienya yang ia pegang.


Ririn ikut mendekat, ia berjongkok di pinggir Rita sambil menatap Rita ramah. "Hallo bu, saya Ririn." sambil tersenyum.


Rita tidak menjawab, bahkan ia ngomong-ngomong tidak jelas pada bonekanya.


Ririn berdiri, lalu ia ikut duduk di sebelah Rita. Ia masih setia memandangi ibunya Zahra.


Zahra hanya bisa tersenyum, setelah itu ia langsung mengambil makanan yang telah ia siapkan untuk ibunya, Ririn dan dirinya.


"Nih Rin makan dulu." sambil memberikan sepiring nasi goreng pada Ririn.


Ririn menerimanya, ia melihat nasi goreng itu suka. "Makasih Ra."


"Sama-sama." balasnya, lalu ia mengambil lagi sepiring nasi goreng untuk ibunya.


"Bu ayo buka mulutnya."


Rita menatap Zahra datar, lalu ia membuka mulutnya, hal itu membuat Zahra dan Ririn memekik senang, lalu dengan penuh kasih sayang Zahra menyuapi ibunya, setelah itu barulah dirinya pun ikutan makan.


...---oOo---...


"Pagi sayang." ucap Lidya sambil menaruh makanan di meja makan.


Leo tersenyum, lalu duduk di kursi. "Pagi juga mah."


"Mau makan apa sayang?" tanyanya sambil mengambil nasi.

__ADS_1


Leo melihat-lihat menu makan pagi ini. "Itu aja mah." sambil menunjuk ke arah ayam goreng.


Lidya tersenyum, lalu ia mengambilkannya, setelah itu memberikan pada Leo. Leo menerimanya dengan senang hati, ia melahap makanannya dengan semangat, membuat Lidya tersenyum senang.


"Ouh Iyah, tadi sore Caca ke sini." ucap Lidya, lalu memakan makanannya, setelah itu menatap Leo.


Leo menelan makanannya, ia terdiam sebentar, setelah itu barulah menatap Lidya. "Mau ngapain dia?" tanyanya heran.


"Katanya mau main sama kamu, tapi kamunya belum datang."


Leo menghela napas kasar, lalu menyenderkan punggungnya ke kursi. "Biarin aja mah, nanti kalau dia kesini lagi diemin aja." ucapnya, sehingga membuat Lidya menatap putranya heran.


"Loh emangnya kenapa? diakan temennya kamu." kemudian meminum minumannya.


Leo mendongak ke atas, ia melihat atas langit rumahnya.


"Leo males mah." ucapnya jujur.


Lidya menyerit heran, lalu ia teringat sesuatu. "Ouh Iyah Le. Emang bener yah Caca itu pacarnya kamu? ko kamu banyak banget pacarnya, udah Zahra terus Caca, nanti siapa lagi?" ucapnya heran.


"Mamah gak usah percaya sama omongan dia." kemudian berdiri, "Leo kuliah dulu mah, mamah jaga diri baik-baik." lalu mencium kening Lidya dengan sayang.


Lidya mengangguk. "Iyah, kamu juga yah." ia tersenyum sambil merapikan rambut Leo.


Leo mengangguk singkat. "Baye mah." pamitnya, lalu pergi.


"Hati-hati, jangan ngebut."


...---oOo---...


Saat di perjalanan Leo membuka kacamatanya, ia menyerit heran melihat Caca dan kedua temannya itu sedang tertawa, lalu dengan penasaran ia menghampiri mereka.


"Rasain lo!" ucap Caca kesenangan.


"Ngapain lo pada di sini?!" tanyanya datar, membuat mereka bertiga langsung berbalik badan, mereka menetap Leo kaget.


"Ehh ada ka-kamu." ucap Caca gugup.


Leo menaikkan sebelah alisnya. "Ngapain di sini?!"


Mereka bertiga menggeleng, "Ng-nggak ada ko." ucap mereka gugup.


Leo melihat kebelakang mereka, lalu dengan cepat mereka bertiga merapat agar Leo tidak melihatnya.


"Leo ngapain di sini?" tanya Caca, lalu memeluk lengan Leo manja.


"Gak ada." sambil melepaskan tangan Caca, lalu pergi dari hadapan mereka bertiga, membuat mereka menghela napas lega.


"Hufttt. Untung aja gak ketauan." ucap Caca lega.


...---oOo---...


"Zahra apaan sih ini jualan lo ko asem gini?!" ucap mahasiswi bersama dengan kedua temannya.


Zahra menyerit heran. "Asem? apanya? orang Zahra jualannya gak ada yang asem." ucapnya jujur.


"Nih lo cobain!' ucapnya sambil memberikan makanannya pada Zahra.

__ADS_1


Zahra menerimanya, lalu ia memakan makanannya. Makan makanan itu terasa asem di mulut, lalu ia mengeluarkan makan yang ada di mulutnya.


"Tuhkan benar! gimana sih Ra ko jualan asem kaya gini!" ucap mereka marah.


"Maaf yah, tapi Zahra bener ko jualannya, bahkan sebelum Zahra jual, Zahra cicip dulu."


Mereka memutar bola mata malas. "Kita gak mau tau, balikin duit kita-kita!" kemudian mereka melempar makanan itu ke wajah Zahra.


"Tapi beneran Zahra gak jual makanan asem kaya gini."


"Bodo amat kita gak peduli, sini balikin duit kita-kita!" ucap salah satu dari mereka.


Zahra menghela napas kasar, mau tidak mau ia harus mengembalikannya. "Ini." sambil memberikan uang mereka kembali.


"Gitu dong, bukannya dari tadi. Lain kali kalau jualan tuh yang bener!" lalu mereka pergi dari hadapan Zahra.


Zahra menghela napas sabar, ia bingung siapa yang melakukan ini padanya?


"Ra." ucap seseorang, membuat Zahra langsung berbalik badan.


"Leo, ngapain ada di sini?" tanyanya bingung.


Leo mengacuhkan bahunya. "Kenapa?" tanyanya datar.


Perlahan Zahra mundur, menghindar dari Leo, membuat Leo menyerit heran.


"Gak ada apa-apa." jawabnya pelan.


"Kenapa ngehindar?" tanya Leo, ia aneh sekali melihat Zahra seperti itu, tidak seperti biasanya.


Zahra menggeleng, lalu menundukkan kepalanya takut. "Jangan dekat-dekat Leo, Zahra udah kotor." sambil menahan air matanya agar tidak keluar.


Leo menghela napas kasar, ia tahu apa yang diucapkan Zahra. "Kotor apanya? kata siapa lo kotor?" lalu ia mengangkat dagu Zahra dengan jari telunjuknya, Kini posisi mereka saling menatap.


"Waktu malem itu." cicitnya pelan.


Leo menghela napas kasar. "Lo gak Kotor Ra, udah berapa kali gue bilang juga. Lo hampir digituin, tapi gue dengan cepat datang sebelum terlambat." ucapnya jelas.


Zahra menatap Leo, lalu ia mencoba mengingat-ingat kembali kejadian itu.


Zahra mengangguk, lalu tersenyum. "Makasih yah Leo, makasih udah selamatin Zahra."


Leo mengangguk, lalu berbalik badan, saat hendak pergi, Zahra langsung menahan pergelangan tangan Leo.


"Leo mau kemana?" tanyanya penasaran.


"Jalan." jawabnya tanpa berbalik badan.


Zahra menyerit heran. "Kemana? smaa siapa?"


"Cewek." jawabnya, membuat Zahra langsung melepaskan tangan Leo.


Leo pun langsung pergi meninggalkan Zahra tanpa melihat dirinya yang sudah mengeluarkan air mata.


Zahra menghapus air matanya cepat, ia berusaha untuk tersenyum, seharunya ia tidak perlu sedih, bukankah Leo sudah seperti itu.


Jalan dengan wanita lain.

__ADS_1


__ADS_2