
"Kebangetan tuh anak ninggalin Zahra gitu aja." ucap Gio kesal.
Fahmi tidak menjawab, ia terus memandangi wajah Zahra. Yang ada dipikirannya saat ini yaitu, kenapa Zahra bisa seperti ini?
Gio ikut memandangi wajah Zahra. "Kasian amat nasib lo, Ra."
"Beliin gue makan sana, Gi." perintah Fahmi, sehingga membuat Gio menatap Fahmi kesal.
"Lo nyuruh-nyuruh gue mulu! lagian mana ada jam segini ada pedagang."
Fahmi menghela napas kasar, ia menatap Gio datar. "Ya carilah!"
"Ogah ah! cape gue. Mending gue molor." lalu Gio langsung menuju sofa, ia langsung merebahkan tubuhnya, setelah itu tidur di sana.
Fahmi menghela napas kasar. "Gini amat gue punya temen kaya si Gio." lalu kembali memandangi wajah Zahra.
Sebenarnya ia ingin menangis melihat keadaan Zahra. Tapi, ia pendam itu, karena nanti yang ada di ejek oleh Gio.
Nanti yang ada akan terus-terusan di ejek, secarakan Gio orangnya ember.....
"Ayo Ra bangun, ini gue Fahmi." bisiknya.
...---**oOo**---...
Perlahan Zahra membuka matanya, ia merasa ada sesuatu yang menimpa ditangannya, lalu ia melihatnya.
Zahra melotot terkejut. "Fahmi?" ucapnya pelan.
Melihat Fahmi yang ketiduran sambil memeluk dirinya, membuatnya ia tidak tega untuk membangunkannya. Zahra memandangi wajah Fahmi, kelihatannya Fahmi begitu nyenyak dalam tidurnya, sepertinya ia kelelahan.
Jujur Zahra heran dirinya bisa ada disini dan juga kenapa Fahmi bisa ada di sini juga?
Hufttt..... Zahra menghela napas pelan.
"Ehhh akhirnya udah bangun lo, Ra." ucap Gio yang baru saja datang sambil membawa plastik, yang sudah dipastikan pasti itu makanan.
Zahra tersenyum. "Gio, kenapa Zahra bisa ada disini?" tanyanya kebingungan.
Gio berjalan mendekati Zahra, lalu ia meletakkan makanannya di atas nakas. "Harusnya gue yang nanya gitu, kenapa lo ada di sini."
Zahra menggeleng pelan. "Zahra gak tau, Gi."
"Udah gak usah dipikirin, nih gue bawa sarapan buat lo." lalu Gio menarik kursi, setelah itu mengambil makanannya.
Zahra tersenyum. "Makasih yah." ucapnya pelan.
Gio mengangguk. "Sama-sama."
Mendengar suara membuat Fahmi membuka matanya, lalu menggisik-gisik kedua matanya.
"Ra." panggil Fahmi.
Zahra langsung menoleh. "Ehh kebangun yah, maaf yah."
Fahmi menggeleng, lalu tersenyum. "Masih ada yang sakit gak?" tanyanya lembut.
Zahra menggeleng pelan. "Nggak ada. Fahmi makasih yah."
Fahmi mengangguk, lalu beralih menatap Gio. "Sini, biar gue aja."
__ADS_1
Gio memdumel kesal, Fahmi selalu saja mengambil alih. Lalu dengan perasaan kesal, ia memberikan makanannya. "Nih!"
Fahmi menerimanya, lalu kembali menatap Gio. "Sana." usirnya.
Gio menghela napas kasar, lalu berdiri. "Ra gue keluar dulu." pamitnya, lalu keluar.
Fahmi tersenyum, rasanya lega sekali tidak ada pengganggu. "Gue suapin yah." lalu menyodorkan sendok yang sudah berisi bubur ke hadapan Zahra.
Dengan ragu Zahra membuka mulutnya, ia menerima suapan dari Fahmi, melihat hal itu membuat Fahmi tersenyum senang.
...---oOo---...
Saat sedang enak-enaknya duduk, Gio tiba-tiba beralih melihat Leo yang dengan cool-nya jalan menghampirinya, dan hal itu membuatnya kesal.
"Ngapain lo kesini?!" tanya Gio sambil menatap Leo datar, ia berdecih melihat Leo yang tidak ada rasa bersalah.
"Masalah?!" tanyanya dingin, ia menatap Gio datar, sehingga membuat Gio langsung berdiri dan lebih dekat.
Gio menghela napas kasar. "Pikir sendiri!" lalu kembali duduk di kursi, hari ini malas sekali berdebat dengan Leo, buang-buang waktu saja.
Tidak mau peduli, Leo pun langsung masuk kedalam, ia pun sama tidak minat berdebat dengan Gio.
Saat masih di pintu, Leo melihat Zahra dan Fahmi yang begitu asik tertawa. Leo masih diam ditempat, ia masih memperhatikan mereka, sampai-sampai Zahra melihat dirinya, lalu ia menghampiri mereka.
"Leo." ucap Zahra, membuat Fahmi berbalik badan.
Fahmi berdecih, melihat tampang Leo yang merasa tidak ada bersalah, membuatnya semakin ingin rasanya menghajarnya.
"Ayo Ra makan lagi." ucapnya, lalu Zahra menerimanya.
Fahmi meletakkan makanannya yang sudah habis di nakas, lalu mengambil gelas yang sudah berisi air minum, setelah itu membantu Zahra untuk minum.
"Ngapain lo ke sini?!" tanyanya datar tanpa menatap Leo, malah ia terus memandangi wajah Zahra.
Leo melipatkan kedua tangganya di dada, ia menatap Zahra tanpa ekspresi. "Semuanya udah gue bayar."
Mendengar hal itu, membuat Zahra menatap Leo bingung.
Leo menghela napas kasar. "Bayar administrasi." jelasnya.
Lalu tanpa basa basi Leo langsung pergi dari hadapan mereka, dan hal itu membuat Fahmi mengepalkan kedua tangannya marah.
"Ra, lo jangan kemana-mana, tunggu di sini aja oke." lalu pergi dari sana.
Zahra meyerit bingung, ada apa dengan mereka? Zahra menghela napas pelan, lalu memijat batang hidungnya, ia pusing dengan semua ini.
...---oOo---...
Fahmi langsung memegangi bahu kanan Leo, sehingga Leo berbalik badan. Ia menatap Fahmi sambil menaikkan satu alisnya.
"Ikut gue!" ucap Fahmi sambil menarik tangan Leo.
Saat ini mereka berada di rooftop rumah sakit. Fahmi menatap Leo marah, gigi-giginya menggeram kesal. "Jelasin ke gue, kenapa Zahra bisa kaya gitu?!" tekannya.
Leo menatap Fahmi datar. "Bukan urusan lo!"
"Jelas itu urusan gue kalau itu soal Zahra!"
Leo tersenyum miring. "Suka lo sama Zahra?"
__ADS_1
"Itu gak penting. Sekarang gue tanya kenapa sama Zahra, hah?! Ko bisa dia kaya gitu!" kini Fahmi mulai marah, ia tidak bisa diam jika itu menyangkut soal Zahra.
Leo melipatkan kedua tangannya di dada. "Dan gue juga sama, gak penting buat jawab soal kaya gituan!"
Fahmi mengepalkan kedua tangannya, ia menatap Leo marah. "Gue tanya kenapa Zahra bisa gitu, itu semua karena lo kan, iyah kan?!" sambil mencengkram kerah baju Leo.
Leo menatap Fahmi santai. "Segitunya lo sama Zahra." lalu terkekeh pelan.
Fahmi semakin marah, ia menatap Leo bukan sahabat. Tapi, musuh. "Jelasin atau mau lo babak belur?!" ancamnya, lalu melepaskan cengkeramannya.
Spontan Leo malah tertawa, ia menatap Fahmi santai. "Babak belur?" lalu terkekeh, setelah itu kembali menatap Fahmi datar, "Sebelum gue, lo dulu yang bakal gue habisin!"
"Alah banyak omong lo!"
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Fahmi terus memukul-mukul Leo, saat ini ia tidak peduli meskipun Leo sahabatnya.
Leo tidak membalas, bahkan ia malah tersenyum miring.
"Ayo abisin gue." tantangnya, lalu menunjukkan pipinya, "Jangan lupa sekalian yang ini juga."
Napas Fahmi naik turun tidak beraturan, ia menatap Leo tajam. Lalu tanpa basa-basi kembali menghabisi Leo habis-habisan.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Leo memegangi perut dan sudut bibirnya, ia berusaha untuk bangun, setelah itu tersenyum miring.
"Sekarang waktunya gue!"
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Mereka saling membaku hantam, sudah banyak sekali luka pada bagian tubuh mereka. Tapi mereka tetap melanjutkan saling memukulnya.
Krekkk!
Bugh!
"Aaaaaaa!" Fahmi meringis kesakitan, ia tidak kuat menahan rasa sakit pada tangannya.
Sial!
__ADS_1
Leo tersenyum senang, ia menatap Fahmi. "Abis lo! Kali ini lo yang bakal patah tulang!"
ig : ine_fn8 (jangan lupa follow)