Lukisan Semesta Amerta

Lukisan Semesta Amerta
17. Open Po


__ADS_3

"Waduh, waduh." Caca menghampiri meja Zahra dan Ririn, ia tertawa, lalu bertempuk tangan, "Ternyata ada orang miskin lagi makan nih!"


"Padahalkan makanan di kantin ini mahal-mahal." ucapnya lagi.


Caca melihat Zahra jijik, lalu beralih melihat makanan di meja. "And wow. Liat ini makanannya juga keliatannya mahal gini." Caca geleng-geleng kepala, lalu tertawa kecil.


"Liat Ris, Bel." ucap Caca sambil menuju kearah makanan.


Riska dan Abel melotot terkejut.


"Gila, gila. Ternyata orang kaya lo bisa makan enak juga yah." ucap Riska tidak percaya, lalu kembali tertawa mengejek.


Zahra hanya menunduk, ia tidak berani menatap mereka.


Sedangkan Ririn kedua tangannya sudah terkepal kuat, ia menatap mereka marah.


"Ah gue tau, pasti nih makanan dibeli hasil open bo yah? Upsss." Abel langsung menutup mulutnya, lalu tersenyum miring.


Brak!


Ririn langsung mengebrak meja marah, sampai-sampai orang-orang yang ada di kantin langsung melihat ke arah mereka. "Jaga mulut sampah lo pada!"


Ia menatap mereka dengan wajah yang sudah merah padam, kedua tangannya semakin mengepalkan kuat dan bahkan napasnya naik turun tidak beraturan.


"Ini makanan bukan hasil open bo, jaga mulut lo, Zahra bukan cewek kaya gitu!"


"Emang kenapa Zahra makan kaya ginian? s


Sirik lo pada, hah?!" ucapnya lagi.


Caca, Riska dan Abel langsung tertawa, mereka melihat makanan itu biasa saja.


"Sirik? Sorry gue udah biasa makan kaya gituan, bahkan jauh lebih mahal!" ucap Caca sombong.


"Benar tuh!" ucap Abel.


Ririn melipatkan kedua tangannya di dada, ia menatap mereka. "Ya terus? Ngapain lo pada makan di sini? Biasanya kan orang kaya makannya di cafe, restoran berbintang lima gitu."


"Suka-suka kita lah mau makan dimana!" ucap Caca.


"Berarti suka-suka Zahra lah mau makan di mana, kenapa lo pada yang repot?" ucapnya santai.


Skak! mereka mati kutu. Membuat Ririn tersenyum miring.


"Rin udah gak usah di dengerin." ucap Zahra.


Kini Ririn beralih menatap Zahra, ia menghela napas kasar, lalu kembali duduk.


Yang tadinya orang-orang melihat mereka, kini kembali normal lagi.


Caca, Riska dan Abel menatap mereka kesal. Sial! mereka kalah karena Ririn.


Caca menatap Zahra tajam, kali ini ia masih belum puas.


Dan.......

__ADS_1


Byur!


"Upss, sorry." Caca menutup mulutnya seolah-olah tidak sengaja, bahkan ia manatap Zahra merasa bersalah. Setelah itu pergi dari hadapan Zahra dan Ririn, lalu diikuti oleh Riska dan Abel.


"Wah cari gara-gara!" ucap Ririn sambil mengelintingkan lengan bajunya.


"Udah Rin." cegah Zahra saat Ririn ingin berdiri.


"Gak bisa gitu Ra, mereka udah keterlaluan!" kesalnya.


"Udahlah Rin, gak baik kalau kita marah balik. Biarin aja, biar Allah yang bales." ucapnya, membuat Ririn menghela napas kasar.


"Ouh iyah makasih yah Rin, atas traktirannya." ucapnya lagi dan di anggukkan oleh Ririn.


"Yaudah ayo gue anter ke toilet, baju lo basa Ra." ucap Ririn, setelah itu mereka pergi menuju toilet.


...---oOo---...


"Nih pake cardigan gue." ucap Ririn sambil memberikan cardigannya.


"Makasih yah Rin." ucapnya dan di anggukkan oleh Ririn.


Beberapa menit kemudian akhirnya keluar dari toilet. Zahra sangat berterima kasih pada Ririn yang mau meminjamkan cardigannya, kalau tidak.....


Sudah tidak bisa dibayangkan lagi.


"Ayo balik kelas." ajak Ririn.


"Ayo." ucapnya sambil mengangguk, lalu langsung menuju kelas.


"Yaampun ini sama siapa?" Zahra menatap orang-orang yang ada di kelas, ia bertanya. Namun, mereka hanya diam, lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.


Zahra menghela napas kasar, lalu berjongkok mengambil barang-barangnya yang berserakan dilantai dan Ririn juga ikut membantu.


"Rin liat, ancur buku paketnya." ucapnya pelan.


Ririn mengelus punggung Zahra. "Lo yang sabar ya Ra. Gue tau siapa nih pelakunya!" lalu mengepalkan kedua tangannya kuat, matanya melihat Caca dan kedua sahabatnya yang baru saja masuk kelas.


"Heh! Lo pada belum puas apa ngerjain Zahra terus?!" marahnya saat sudah dihadapkan mereka bertiga.


Caca, Riska dan Abel menatap satu sama lain, mereka menatap Ririn heran.


"Apaan sih, gak usah tuduh-tuduh deh kalau gak ada bukti!" ucap Caca kesal.


"Mau itu ada bukti ke, gak ada bukti ke. Gue tau lo pada pelakunya yang udah buat barang-barangnya Zahra yang ada di meja ancur!" ucapnya dengan emosi.


"Apaan sih gak jelas benget! Lagian siapa juga yang mau rusak tuh barang murahan kaya gitu, idih ogah gue!" ucap Caca kesal.


"Lagian apa untungnya gue?!" tanyanya.


"Iyah nih, apa untungnya coba?" tanya Riska.


"Gak jelas nih anak!" ucap Abel.


"Udah Rin, jangan asal tuduh gitu. Gak baik tau." ucap Zahra saat sudah dihadapkan mereka.

__ADS_1


Ririn menghela napas kasar, ia menatap mereka tajam. "Awas lo!" lalu pergi menuju mejanya.


Caca memutar bola mata malas, ia mendumel kesal. Enak saja tuh mulut, tuduh dirinya sembarangan.


"Yuk guys." ucap Caca, lalu pergi menuju mejanya, lalu diikuti oleh Riska dan Abel.


"Siang semuanya." ucap pak Budi selaku dosen yang baru saja masuk.


"Cepat kelurkan buku pekatnya, hari ini kita lanjutkan yang kemarin." ucapnya to the point.


"Ririn gimana ini? Kalau pak Budi tau, bisa dimarahin." bisik Zahra takut, ia takut sekali jika pak Budi akan marah karena buku paketnya rusak, karena jika buku paketnya rusak atau hilang atau tidak dibawa, maka siap-siap akan tidak mengikuti kelasnya seharian. Itu adalah peraturannya, karena menurutnya, jika tidak ada buku itu, artinya pak Budi beranggapan bahwa mahasiswa tersebut tidak berniat belajar pada kelasnya, jadi lebih baik keluar kelas saja.


"Nih kita barengan aja." ucapnya sambil menggeserkan buku paketnya ke tengah-tengah.


"Nih pake punya gue aja." ucap Fahmi tiba-tiba, membuat Zahra langsung menoleh.


"Nih." ucapnya lagi sambil menyodorkan bukunya.


Zahra menggeleng. "Gak usah Mi." ucapnya pelan, takut-takut pak Budi dengar.


"Pake aja Ra, nanti yang ada lo di suruh keluar." ucap Fahmi pelan.


Zahra diam, ia ragu untuk mengambilnya. Jika tidak diambil ia akan di suruh keluar, lalu jika ia ambil bukunya, nanti yang ada Fahmi yang akan di suruh keluar.


"Gak usah Mi, Zahra barengan sama Ririn aja." ucapnya pelan.


"Tapi–"


"Fahmi, Zahra. Sedang apa kalian?!" tanya Pak Budi.


Zahra dan Fahmi langsung seperti semula, mereka menatap pak Budi takut sekaligus cemas.


"Sedang apa kalian?!" tanyanya, lalu menghampiri meja mereka.


"Zahra, apa yang kalian bicarakan?!" tanyanya saat sudah di meja Zahra.


Zahra menunduk takut. "Ma-maaf pak."


"Jawab saya, bukannya maaf!" ucapnya tegas.


"Ta-tadi Fahmi mau pinjemin Zahra buku Pak." jawabnya jujur, kepalanya masih setia menunduk, ia  tidak berani jika bertatapan dengan dosen killer yang satu ini.


"Buku? Emang kemana buku kamu?" tanyanya.


"Rusak pak." jawabnya.


"Keluar dari kelas saya!" perintahnya, membuat Zahra langsung bangun dari kursinya.


"Baik pak." ucapnya pasrah, lalu saat ingin melangkah pergi.....


"Tunggu!" cegah Leo, membuat pak Budi langsung menatap Leo.


"Ada apa?!" tanyanya.


Leo berdiri, ia menatap dosen itu. "Saya yang harusnya keluar pak." ucapnya, lalu menghampiri Zahra.

__ADS_1


"Pake buku gue." bisiknya, setelah itu pergi keluar kelas.


__ADS_2