
"Pokoknya Caca mau papah cabut beasiswanya Zahra!"
Riko menatap putrinya. "Emangnya kenapa? Mana mungkin Papah cabut beasiswanya Zahra, sedangkan Zahra gak berbuat kesalahan di kampus." jelasnya, lalu duduk di kursi.
Caca mendengus kesal, lalu ikut duduk di samping papahnya. "Caca gak mau tau, pokoknya Caca mau papah cabut beasiswanya Zahra, titik!"
Riko menghela napas kasar, lalu mengelus rambut putrinya dengan sayang. "Emanganya Zahra salah apa sama kamu, apa dia udah sakitin kamu?" lalu menyeruput kopinya yang ada di meja.
Caca melipatkan kedua tangannya di dada. "Iyah pah. Zahra tuh ngeselin!" cemberutnya.
Kini Riko beralih menatap Riska yang sedang berdiri di hadapannya. "Apa bener Riska?"
Riska mengangguk. "Iyah om bener apa kata Caca, Zahra itu ngeselin om. Dia itu ngelunjak banget." ucapnya, setelah itu ikut duduk.
Riko menaikkan sebelah alisnya. "Ngelunjak? Ngelunjak bagaimana? dia anak baik."
Caca memutar bola mata males. "Baik dari mananya? Orang dia rebut Leo dari Caca!"
"Bener tuh om. Zahra itu di depannya aja sok baik. Tapi kalau di belakang om, ehh pelakor om." ucap Riska, ia pun ikut kesal dengan Zahra.
Riko menghala napas kasar, lalu berdiri dari duduknya dan membuat mereka mendongak menatap Riko. "Urusin aja sendiri, Papah gak bisa bantu kalau soal bergituan." lalu pergi dari hadapan mereka.
"Ihhh Pah. Papah bantu Caca." teriak Caca kesal.
Riska mengelus-elus punggung Caca. "Tenang Ca, gue tau caranya." ucapnya sambil tersenyum devil.
Caca menoleh. "Apa?"
"Sini gue bisikin." ucapnya.
Caca mendekat dan Riska mulai membisikan sesuatu, membuat Caca tersenyum miring.
"Gimana?" tanya Riska sambil menaikkan sebelah alisnya.
Caca tersenyum miring. "Gue setuju."
---ooOoo---
"Caca, Riska!" teriak seseorang.
Caca dan Riska spontan berbalik badan, mereka melotot terkejut saat melihat siapa yang memanggilnya.
"Abel!" pekik mereka senang.
Abel tersenyum lebar, lalu langsung berlari sambil merentangkan kedua tangannya.
"Kangen." ucapnya sambil memeluk mereka berdua.
Caca dan Riska memeluk Abel senang, akhirnya Abel kembali juga, setelah sekian lama.
Abel melepaskan pelukannya, ia terus tersenyum senang, akhirnya rindunya terobati.
"Gue kira lo bakal lama balik ke indo." ucap Riska.
"Ya enggaklah Riska! gmGue juga harus pulang, masa gue di inggris terus." ucapnya kesal.
__ADS_1
"Kalau gue di inggris terus, nanti yang ada kalian kangen sama gue, secara kan gue orangnya ngangenin." ucapnya pede.
Caca dan Riska mendengus sebal, ternyata tingkat kepedeannya mulai kambuh.
"Sama sekali nggak!" ucap mereka kompak, membuat Abel mendengus sebal.
"Eh Ca, lo gimana masih sama Leo?" tanya Abel penasaran.
Caca menghela napas kesal, lalu duduk di kursi panjang, saat ini mereka berada di taman kampus.
"Ya gitu deh." jawabnya.
Abel mengkerutkan keningnya bingung, lalu ikut duduk disebelah Caca. "Gitu gimana? Buruan dong Ca kasih tau, gue udah ketinggalan info banyak banget nih."
Caca memutar bola mata malas. "Lo tau dia?" tanya Caca sambil menunjuk ke arah Zahra yang sedang berjualan di taman.
Abel menyipitkan matanya, ia melihat Zahra dari kejauhan. "Tau, dia Zahra kan? Satu fakultas sama kita-kita."
Caca mengangguk, lalu kembali melihat Zahra dari kejauhan. "Gara-gara dia, Leo lebih milih dia dari pada gue!" kesalnya.
"WHAT?! Seriusan? Cewek kaya gitu sama Leo?" Abel geleng-geleng kepala tidak percaya, "Gila, gila, parah banget. Lo kalah sama model begituan."
"Ya begitulah." ucap Caca.
"Lo tenang aja, gue yakin tuh si Leo pasti cintanya sama lo bukan sama modelan kaya dia!" ucap Riska dan di anggukkan oleh Abel.
"Tapikan gue sebel!" sebalnya.
Riska dan Abel seling menatap satu sama lain, kemudian mereka mengangguk kecil sambil tersenyum senang.
"Kalau gitu ikut kita." ucap Riska dan Abel sambil menarik Caca, membuat Caca menatap mereka bingung.
Riska menghela napas kesel. "Lo kesalkan sama tuh si Zahra?!"
Caca memutar bola mata malas. "Bukan kesel lagi, tapi benci!"
"Nah ayo ikut kita. Ini saatnya lo beraksi." ucap Abel.
Caca mengangguk, ia tersenyum miring. Bener juga apa kata mereka, ini saatnya ia beraksi, enak aja dia rebut Leo dari tangannya.
Lalu dengan cepat Caca menghampiri Zahra dan diikuti oleh mereka berdua juga.
"Permisi ka, mau beli nggak?" tanya Zahra pada salah satu mahasiswi di sana yang sedang membaca buku ditaman.
Mahasiswi itu menggeleng. "Nggak mbak." ucapnya, lalu kembali membaca buku.
Zahra mengangguk, lalu ia kembali berjualan. Namun, saat ia ingin menghampiri orang-orang yang sedang duduk, Caca lebih dulu menghalangi jalan Zahra, membuat Zahra menatap Caca bingung.
"Caca minggir, Zahra mau lewat." ucapnya sambil melangkah, kemudian Caca pun ikut melangkah menghalangi Zahra.
Caca tersenyum miring, ia memperhatikan Zahra dari atas sampai bawah dan juga barang jualannya.
"Anak kurang mampu bisa-bisanya kuliah di sini!" ucapnya pedas sambil tertawa pelan.
Riska dan Abel ikut tertawa, saat ini mereka berada dibelakang Zahra.
__ADS_1
"Emangnya kenapa?" tanyanya.
Caca maju, membuat Zahra mundur beberapa langkah. Tapi sayangnya, ia terjebak oleh mereka, mereka telah mengurungnya.
"Ya gak pantes. Lo itu miskin!" ucapnya sambil menoyor kening Zahra, sehingga Zahra langsung menatap Caca.
"Emangnya kenapa kalau Zahra miskin? Apa salahnya kalau si miskin ini kuliah di sini?!" ucapnya, sehingga membuat Caca, Riska dan Abel tertawa.
Caca mengelus rambut Zahra, lalu menarik rambut Zahra hingga ke belakang. "Sadar! Lo itu di sini bukan siapa-siapa!" lalu menghempaskan Zahra, membuat Zahra terjatuh.
"GUYS SINI KUMPUL-KUMPUL!" teriak Caca, membuat orang-orang di sana langsung berkumpul membuat lingkaran mengelilingi mereka berempat.
"Kalian taukan dia ini siapa?!" tanya Caca pada orang-orang di sana.
"Tau!" jawab mereka bersamaan.
Caca tersenyum remeh, ia melihat Zahra yang sedang menundukkan kepalanya.
"GUE INGETIN SAMA KALIAN SEMUA, JAGAIN TUH COWOK KALIAN, KALAU GAK DI JAGAIN NANTI YANG ADA SI CEWEK YANG SO KECAKEPAN INI REBUT COWOK KALIAN PADA!" teriaknya.
"Sama satu lagi." ucapnya, lalu mengambil barang jualan Zahra secara paksa, membuat Zahra langsung berdiri.
"Caca sini balikin, itu punya Zahra!" ucapnya. Namun, tidak di dengar oleh Caca.
"Guys ini semua bakal gue kasih ke kalian secara gratis, ya itu pun kalau kalian mau makan." ucapnya, lalu terkekeh. Lalu membagi-bagikan jualan Zahra pada mereka semua.
Mereka memperhatikan makanan itu, lalu selang beberapa menit makanan itu dijatuhkan secara disengaja, lalu menginjak-injak makanannya tepat dihadapan Zahra.
Perlahan air mata Zahra keluar, ia menahan rasa sakit di dadanya. Sungguh perlakuan Caca sangat menyakitkan hatinya.
Kali ini Zahra menangis sangat sedih, lalu mencoba menghentikan mereka.
"Jangan! Ituu makanan jangan di injek-injek." ucapnya yang sambil terus menangis.
"Zahra mohon jangan! Itu jualan Zahra." lagi dan lagi Zahra merebut itu semua. Tapi sayang, Riska dan Abel langsung memegangi tangan Zahra.
"Diem!" ucap mereka sambil melotot.
"Riska, Abel lepas. Itu jualan Zahra, lepasin Zahra mohon." ucapnya sambil terus berusaha lepas dari mereka.
Mereka berdua tertawa, mereka menatap Zahra tajam. "Kita bilang diem! Lagian itu makanan yang layak untuk di injek!" ucapnya, membuat Zahra kembali menangis.
Mereka terus menginjak-injak makanan itu, bahkan mereka terus tertawa, karena itu sangat seru.
"Terus guys jangan ada yang bersisa!" perintah Caca dan langsung diperintahkan oleh mereka.
Caca tertawa puas, lalu menatap Zahra. "Liat." ucapnya, lalu kembali tertawa, "Jualan lo gak ada yang bersisa!"
"Apa salah Zahra Caca? Kenapa sih Caca tega banget lakuin itu semua? Itu jualan Zahra Caca, nanti Zahra mau makan apa kalau jualan Zahra ancur semuanya." tangisnya begitu pilu, ia tidak tahu lagi harus bagaimana.
Kini semuanya sudah ancur tidak bersisa dan bahkan wadah jualannya pun ikutan hacur.
Zahra terus menangis, lalu dengan sekuat tenaga ia berusaha melepaskan tangan Riska dan Abel dan akhirnya terlepas juga. Kemudian ia langsung berlari mengambil barang jualannya, membuat mereka yang menginjak-injak tadi langsung berhenti, lalu bubar dari tempat itu, karena kini mereka telah puas.
Caca, Riska dan Abel melipatkan kedua tangannya di dada, mereka tertawa mengejek sambil menonton Zahra.
__ADS_1
"Udah miskin, makin miskin aja. Miris banget nasib lo!" ejek Caca pedas.
"CACA!" teriak seseorang.