Lukisan Semesta Amerta

Lukisan Semesta Amerta
14. Maaf Bu


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Ibu." ucap Zahra sambil meletakkan tasnya dikursi.


"Bu?"" panggilnya lagi.


Zahra masuk kedalam kamar Ibunya, ia tersenyum saat melihat Ibunya yang sedang tidur.


"Bu, bangun dulu yuk." ucapnya pelan. Zahra tersenyum lebar saat Ibunya membukakan matanya, lalu ia mengusap-usap kepalanya dengan sayang.


"Maaf yah Bu Zahra baru pulang, ini Zahra bawa ini buat ibu." ucapnya sambil tersenyum senang, ia memperlihatkan plastik hitam dihadapan ibunya.


Rita menatap Zahra, ia tidak menjawab. Sandari tadi ia terus memegangi perutnya, hal itu membuat Zahra sedih.


"Sebentar yah Bu, Zahra mau ambil piringnya dulu." ucapnya sambil berdiri, sebelum pergi Rita memegang tangan Zahra, sehingga membuat Zahra langsung menatap ibunya bertanya.


"Iyah kenapa bu?" tanyanya lembut.


Rita hanya diam.


Zahra kembali berjongkok, ia menatap ibunya sayang. "Ibu mau ikut? Gak mau dikamar?" tanyanya.


Rita mengangguk pelan, membuat Zahra kembali tersenyum. "Ayo." sambil membantu ibunya berdiri.


Saat sudah di dapur, Zahra mendudukkan ibunya di kursi, lalu ia segera mengambil piring, setelah itu barulah ikut duduk di kursi samping Inunya.


"Zahra minta maaf yah bu, gara-gara Zahra pulang malem, Ibu jadi telat makannya." ucapnya sambil memindahkan makanan tadi ke piring.


Rita tidak menjawab, matanya terus menatap makanan itu laper. Zahra tahu sekarang Ibunya pasti lapar banget, hal itu membuat ia semakin bersalah.


Setelah memindahkan makanan tadi, Zahra menatap makanan itu sedih. Sedih karena makanan yang ia bawa adalah sisa makanan orang yang bekas tadi makan di tempat kerjanya.


Sisa-sisa makanan itu Zahra kumpulan semuanya, untuk dibawa pulang.


Jujur hatinya sedih sekali. Namun, ia tahan itu semua.


Ia terpaksa lakukan itu, karena tidak ada cara lain lagi.


Yang terpenting makanan itu masih layak untuk dimakan dan yang jauh lebih penting agar Ibunya tidak kelaparan.


"Ayo bu, buka mulutanya." sambil memegang sendok yang sudah berisi makanan di hadapan Ibunya.


Rita membuka mulutnya, ia menerima suapan Zahra, lalu mengunyahnya dengan lahab.


Sontak hal itu membuat Zahra kembali tersenyum senang, melihat Ibunya seperti itu ia sudah senang.


Setelah tiga menitan Rita sudah tidak mau membuka mulutnya lagi, ia menggeleng karena sudah merasa kenyang.


"Ayo bu satu kali lagi." ucapnya.


"Nggak!" sambil menggeleng.


Zahra meletakkan sendoknya, lalu mengambil gelas di meja. "Nih minumnya." sambil membantu Ibunya minum.


Setelah selesai, Zahra membantu Ibunya masuk kamar. Ia membaringkannya pelan-pelan.


"Tidur yang nyenyak yah Bu." ucapnya, lalu mencium kening Ibunya.


Rita tidak menjawab, bahkan ia langsung membalikkan badan, membelakangi Zahra.


Zahra hanya tersenyum, lalu ia kembali menuju dapur.


Saat di dapur, Zahra kembali duduk di tempat tadi. Melihat piring bekas Ibunya tadi yang masih berisi makanan, walaupun tidak banyak, ia tersenyum senang. Ternyata hari ini ia masih bisa makan, meskipun sisa sekali pun, yang terpenting ia masih bisa makan.


"Alhamdulillah masih ada sisa untuk di makan." ucapnya, lalu memakan makanan itu dengan lahab.


...---oOo---...


"Ririn." panggil Gio.


Ririn yang sedang jalan menuju kelas, ia berbalik badan dan menatap Gio bertanya.

__ADS_1


"Kenapa?" tanyanya.


Gio menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia menatap Ririn gugup. "Hari ini lo sibuk gak?" tanyanya was-was.


Ririn melihat jam dipergelangan tangannya, lalu kembali menatap Gio. "Hari ini gue gak sibuk, emang ada apa?"


"Jalan yuk." ajaknya tiba-tiba, membuat Ririn mengkerutkan keningnya heran.


"Gila gue canggung amat ya." gumamnya pelan.


Ririn melambaikan tangannya tetap di hadapan Gio. "Gi, ko diem?"


"Ehh ng-nggak hehehe." cengengesannya.


"Gimana mau gak?" tanyanya lagi.


Ririn diam sebentar, ia berpikir-pikir dulu, setelah itu baru memutuskan.


"Bole–"


"GIO!" teriak Abel sambil berlari kearah mereka.


Gio menghela napas kasar, dimana-mana selalu saja ada pengganggu.


"Apaan?!" tanyanya.


Abel tersenyum, lalu memeluk lengan Gio, membuat Gio menatap Abel tidak suka.


"Lepas Bel!" ucapnya sambil berusaha menyingkirkan.


Abel menggeleng, lalu ia menyenderkan kepalanya dengan manja. "Gak mau. Aku maunya gini terus."


"Ngapain lo masih di sini?!" tanya Abel sambil menatap Ririn tidak suka.


Ririn memutar bola mata malas, ia menatap Abel. "Ini juga mau ke kelas kali!" lalu pergi dari hadapan mereka.


Gio menatap Abel tidak suka. "Lepas Bel, lo apa-apaan sih!" lalu berhasil menghempaskan tangan Abel.


Abel menatap Gio sebal. "Gio kamu yang apa-apaan, bukan aku!"


Gio menatap Abel aneh, ia geleng-geleng kepala. "Aneh, fix nih orang udah gila. Bukannya balik ke indo makin pinter, eh malah makin oon." gumamnya pelan, tapi masih bisa terdengar oleh Abel.


"Apa kamu bilang? Gio aku gak oon yah!" Abel menatap Gio kesal.


Gio tertawa mengejek. "Emang oon!" lalu langsung lari dari hadapan Abel.


"GIO!" teriaknya kesal.


...---oOo---...


Leo, Fahmi dan Gio saat ini berada di kantin kampus, mereka sedang asyik-asyiknya makanan.


"Leo." panggil Gio, membuat Leo menatap Gio bertanya.


Gio menelan makanannya, lalu kembali menatap Leo. "Kemaren lo hukum Caca apaan?" tanyanya penasaran.


Leo meletakkan handphonenya di meja, ia menatap Gio tanpa ekspresi. "Biasa." jawabnya singkat.


"Biasa?" Gio mengerutkan keningnya bingung, "Maksud lo si Caca gak lo hukum?"


Leo hanya diam, ia tidak menjawab. Menurutnya itu sudah jelas.


Gio geleng-geleng kepala heran, ia tidak menyangka Leo akan biasa saja seperti itu.


"Aneh lo, Le." ucapnya, lalu kembali makan makanannya.


Sandari tadi Fahmi hanya menyimak saja, sebenarnya ia marah pada Leo yang tidak menghukum Caca, padahal sudah jelas-jelas Caca bersalah. Tapi masih saja dibela.


"Udah salah masih aja dibela!" ucapnya sambil menyindir.

__ADS_1


Jelas Leo menatap Fahmi tajam. "Maksud lo apaan?!"


Fahmi mengacuhkan bahunya, lalu menyenderkan punggungnya di kursi, ia menatap Leo santai. "Kesindir lo?"


Brak!


Leo menggebrak meja keras sambil berdiri, ia menatap Fahmi marah. "Maksud lo apaan, hah? Ngapian lo nyindir-nyindir gue segala?!"


Seisi kantin kaget mendengar gebrakan Leo barusan, membuat mereka semua langsung melihat ke arah mereka.


Fahmi tersenyum miring, lalu terkekeh pelan. "Baguslah kalau lo sadar!"


Jelas Leo menatap Fahmi kembali marah, bahkan kedua tangannya terkepal kuat, matanya menatap Fahmi tajam.


"Lo gak usah ikut campur!" tekannya.


Gio tidak tinggal diam, ia langsung memisahkan keduanya. "Bro, bro. Apaan sih lo pada, inget bro kita best friend." ucapnya sambil menatap mereka.


Leo dan Fahmi langsung menatap Gio tajam, membuat Gio ciut dibuatnya, lalu menyengir lebar. "Hehehe. Tatapan lo pada melebihi tatapan mata Najwa Shihab kalau kaya gini dah." lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, keadaan kaya gini membuatnya semakin gelisah.


Kini Leo beralih menatap Fahmi tajam. "Urus tuh hidup lo sendiri, gak usah urus hidup gue!" takannya lagi.


Fahmi langsung berdiri, ia menatap Leo santai. "Kalau itu menyangkut Zahra. Sorry gue harus ikut campur." ucapnya, membuat Leo kembali mengepalkan kedua tangannya.


Bugh!


Leo memukul pipi Fahmi secara tiba-tiba, membuat Fahmi hampir saja kehilangan keseimbangannya.


"Bangsat lo!" ia menatap Fahmi tajam, napasnya naik turun tidak beraturan, wajahnya kini merah padam.


Melihat seperti itu seisi kantin langsung melihat mereka terkejut, ada sebagian orang yang merekam dan ada juga sebagian orang yang menggosipkan kejadian tadi.


Fahmi memegangi pipinya, ia menatap Leo terkekeh. "Itu juga urusan gue, bangsat!"


Lalu.....


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Keduanya saling memukul-mukul, mereka tidak peduli dilihat oleh banyak orang.


Hal itu membuat Gio semakin cemas. "Stop, stop. Udah bro!" ucapnya sambil berusaha memisahkan.


Gio tidak habis pikir, kenapa orang-orang menonton saja, tanpa membantu?


"Woi LAKIK bantu gue!" teriaknya, membuat yang merasa LAKIK langsung membantu memisahkan mereka berdua.


Dari kejauhan sana Caca dan kedua sahabatnya melotot terkejut, melihat ada perkelahian.


"LEO!" ucap Caca cemas, lalu langsung menghampiri mereka dan diikuti oleh kedua sahabatnya.


"Ra, liat ada apaan tuh?" tanya Ririn, ia menyipitkan matanya, karena ia melihat dari kejauhan.


"Kaya Leo sama Fahmi, Ra." ucapnya lagi.


Zahra yang sedang membaca buku, langsung melihat apa yang dimaksud Ririn barusan dan bener, itu adalah Leo dan Fahmi yang sedang berkelahi.


"Rin nitip." ucapnya sambil memberikan bukunya pada Ririn, setelah itu langsung berlari menghampiri mereka.


"Ra, gue ikut." ucapnya sambil berlari.


Saat sudah di tempat, Zahra langsung terobos masuk untuk lebih dekat lagi. Ia melotot terkejut dengan tangannya menutupi mulutnya.


"Leo, Fahmi!" teriaknya, sehingga membuat mereka berdua menghentikan aksinya.

__ADS_1


__ADS_2