
"Ra, gue denger lo masuk rumah sakit? ko lo gak bilang sama gue sih, Ra." ucap Ririn khawatir.
"Zahra gak kenapa-kenapa Rin, gak usah khawatir gitu." sambil tersenyum.
Ririn menghela napas lega. "Gimana gak khawatir Ra, orang lo gue teleponin gak aktif, terus kata si Gio lo masuk rumah sakit."
Zahra tertawa pelan, beginilah jika Ririn sedang khawatir, tidak akan berhenti ngomong dia.
"Eh, eh, eh. Rupanya ada anak so polos di sini!" ucap Caca yang datang tiba-tiba, lalu tersenyum miring.
"Kemana aja lo gak masuk kelas? abis nglonte lo? upsss." ejeknya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya, lalu ditertawakan oleh Riska dan Abel.
"Iyah nih sampe gak inget kalau ada tugas kelompok." ucap Abel kesal.
"Eh, eh, eh. Rupanya ada geng cabe-cabean di sini!" ucap Ririn sambil menirukan suara Caca, ia menatap mereka tidak suka.
"Abis kemana aja sampe nyasar ke sini? bukannya masih disewa yah sama om-om? upss lupa kan mereka masih ada kelas, mungkin nanti kali yah abis selesai kelas." lanjutnya lagi, sehingga membuat Caca, Riska dan Abel menatap Ririn kesal.
"Apaan lo nuduh kita kaya gitu? berani lo sama kita-kita, hah?!" ucap Caca tidak terima, lalu mendorong bahu kiri Ririn.
Ririn tersenyum miring, ia menatap Caca santai. "Emang benerkan?"
"Udah Rin, diemin aja, gak usah diladenin." ucap Zahra.
Ririn menatap Zahra, ia tidak habis pikir dengan Zahra, bukanya dilawan malah diemin aja, nanti yang ada semakin menjadi-jadi.
"Gak bisa gitu Ra, mereka emang pantes buat di lawan!" lama-lama Ririn ikutan kesal juga pada Zahra yang selalu harus sabar menghadapi mereka.
"Udah Rin gak baik, yuk ke kelas aja." ajaknya, lalu Ririn mengangguk.
Sebelum pergi Ririn menatap mereka tajam, yang ditetap juga menatap Ririn tajam.
"Woi Zahra jangan lepas tanggung jawab lo, inget ada tugas kelompok woi!" teriak Caca.
Zahra berbalik badan, lalu mengangguk. Ia tersenyum. "Iyah Ca."
Caca, Riska dan Abel tersenyum miring, lalu pergi dari tempat itu.
...---**oOo**---...
"Assalamu'alaikum, Pak." ucap Fahmi saat memasuki kelas, sehingga membuat semua orang tertuju pada Fahmi, mereka melihat Fahmi terkejut.
"Fahmi kenapa sama tangan kamu?" tanya dosen yang mengajar di kelas.
Fahmi melirik Leo sebentar, lalu kembali menatap dosen itu. "Biasa Pak laki." jawabnya santai, membuat dosen itu geleng-geleng.
"Yasudah silahkan duduk di kursi kamu." perintahnya dan di anggukkan oleh Fahmi, setelah itu duduk di kursinya.
Zahra berbalik badan, ia melihat keadaan Fahmi khawatir.
"Fahmi kenapa?" tanyanya pelan, takut-takut dosen itu akan mendengar.
Fahmi tersenyum. "Gue baik Ra, cuma salah teknis aja." jawabnya santai.
__ADS_1
Zahra menatap Fahmi heran, ia sedikit tidak percaya. "Beneran?"
Fahmi tertawa pelan. "Bener gue gak kenapa-kenapa, nih buktinya gue masuk kelas." lalu tersenyum lebar.
Zahra menghela napas lega. "Yaudah nanti pulang Zahra obatin, oke."
Fahmi tersenyum lebar. "Oke." sambil mengacungkan jempolnya.
Zahra tersenyum, lalu kembali ke posisi semula.
Tanda di sandari, Leo mengepalkan kedua tangannya, ia berdecak kesal.
Sial!
...---oOo---...
"Fahmi sini!" panggil Zahra sambil melambaikan tangannya.
Fahmi yang baru saja dari toilet, ia tersenyum lebar, lalu segera menghampiri Zahra.
"Kenapa Ra?" tanyanya.
"Ayo ikut Zahra." lalu menarik tangan kanan Fahmi menuju taman kampus.
Saat di taman, Zahra langsung mendudukkan Fahmi. Lalu ia langsung membuka kotak yang dari tadi ia bawa.
"Zahra liat yah tangannya." ucapnya, lalu Fahmi mengangguk.
Zahra membukanya sangat hati-hati, ia meringis pelan melihat tangan kiri Fahmi.
"Biasalah Ra." jawabanya.
Zahra menghela napas kasar, lalu menatap Fahmi. "Pasti ini karena Zahra yah?"
"Bukan Ra, ini gak ada hubungannya sama lo." jawabnya bohong.
Zahra menghela napas kasar, lalu ia kembali melanjutkan mengobatinya. "Kalau misalkan itu karena Zahra, Zahra minta maaf yah."
"Ini bukan karena lo. Biasalah laki, lo taukan." ucapnya, lalu Zahra mengangguk pelan.
Fahmi terus memperhatikan Zahra, ia tersenyum tipis. Zahra begitu baik, baru kali ini ia menemukan perempuan yang sebaik seperti Zahra. Jarang ada Perempuan seperti Zahra, jika boleh memilih jodoh, Fahmi ingin jodohnya dengan Zahra. Tapi itu mustahil baginya.
"Selesai." Zahra memekik senang, lalu menatap Fahmi, ia menyerit heran ketika melihat Fahmi yang sedang melamun.
"Fahmi." ucapnya sambil melambai-lambaikan tangannya di hadapan Fahmi.
Fahmi tersadar, lalu ia sedikit menjauh. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Udah?"
Zahra mengangguk, lalu membereskan obat-obatannya. "Udah."
"Makasih yah, Ra." ucap Fahmi.
Zahra tersenyum, lalu mengangguk. "Sama-sama."
__ADS_1
"Woi Zahra!" panggil Caca yang baru saja datang di hadapan mereka berdua.
"Enak yah lo pacaran. Lo berasa artis atau apa sih ngehindar terus?!" kesalnya.
"Lo lagi! ngapain sih ajak Zahra ke sini, udah tau dia mau kerja kelompok, masih aja lo pepet dia, kaya kaga ada cewek lain aja!" Caca menatap Zahra kesal, bagaimana tidak? dari tadi ia mencari Zahra, eh taunya ada di sini.
Memang berasa artis lagi di kejar wartawan.
"Udah ayo!" lalu dengan cepat Caca menarik Zahra.
"Fahmi, Zahra duluan yah." ucap Zahra sedikit berteriak.
...---oOo---...
Zahra melotot terkejut, ia melongo melihat bangunan mewah di hadapannya.
"Biasa aja kali itu muka, kaya gak pernah liat rumah bagus aja." ucap Caca, lalu Riska dan Abel terkekeh.
Zahra menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu menyengir lebar. "Abisnya bagus rumahnya."
"Ya iyalah bagus, secarakan Caca anak orang kaya!" ucap Riska, ia menatap Zahra tidak suka.
Zahra mengangguk-anggukkan kepalanya, ia kembali melihat rumah Caca yang terlihat mewah dan juga besar.
"Udahlah ayo masuk." ajak Caca, lalu Riska, Abel dan Zahra ikut masuk.
Saat di dalam, Zahra dibuat kagum lagi, ia takjub sekali dengan rumah Caca yang super-super bagus.
"Duduk guys." ucap Caca, lalu Riska dan Abel duduk. Sedangkan Zahra masih melihat-lihat di sekelilingnya.
Caca memutar bola mata malas. "Emang yah anak orang miskin tuh liat yang bagusan dikit aja udah kaya gitu ekspresinya." sombongnya, membuat Riska dan Abel tertawa mengejek.
"Sumpah malu-maluin aja!" ucap Abel.
"Emang deso!" timpal Riska.
Zahra langsung tersadar, lalu menunduk. "Maaf yah."
Mereka bertiga memutar bola mata malas, jika Zahra bukan kelompok tugasnya, mana mau mereka dengan Zahra.
Udah miskin, deso lagi!
Memalukan saja!
Zahra membuka tasnya, lalu ia mengeluarkan buku-buku ke atas meja.
"Ris, Bel ikut gue." perintah Caca, lalu mereka berdiri, melihat hal itu Zahra menatap mereka heran.
"Ehh, mau kemana?" tanyanya.
Caca menatap Zahra tidak suka. "Udah lo kerjain aja tugas-tugasnya, gak usah tanya kita mau kemana. Pokoknya kita kesini lagi tugas harus udah selesai!" lalu mereka pergi dari hadapan Zahra.
Zahra menghela napas kasar, lalu ia fokus untuk mengerjakan tugas-tugasnya.
__ADS_1
"Zahra?" ucap seseorang, sehingga membuat Zahra langsung berbalik.
Ig : ine_fn8