Lukisan Semesta Amerta

Lukisan Semesta Amerta
7. Saatnya Dimulai!


__ADS_3

Cuaca malam ini sangat tidak mendukung, hujan yang begitu deras dan di tempat ini, di maja belajarnya, saat ini Zahra sedang melihat hujan dari dalam kamarnya, tangannya menyentuh kaca serta matanya melihat hujan sambil tersenyum.


Hujan membawakan semua orang sulit untuk beraktivitas dan bahkan kebanyakan mereka tidak menyukai hujan. Tapi, bagi Zahra hujan itu anugerah. Hujan itu ibarat memberikan kita ketenangan, karena hujan kita bisa banyak belajar bahwa hujan itu seperti sabar. Sabar menunggu hujan itu berhenti dan sabar bahwa kehidupan itu tidak ada yang baik-baik saja, pasti ada saja lika-likunya.


Dari situ Zahra belajar, bahwa di dunia ini tidak ada yang namanya kesenangan selamanya, pasti ada rasa sakitnya juga.


Kini Zahra duduk di meja belajarnya, hatinya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Perlahan ia membuka laci meja belajarnya, tangannya mengambil bukunya, yang selama ini ia selalu ceritakan apa yang telah ia lalui, yaitu buku diary.


Zahra membuka buku diary-nya, lalu mengambil pulpen yang ada di tempatnya dan perlahan ia mulai menulis.


Untuk Ayah


Hai Ayah. Bagiamana kabarnya? Apa Ayah baik?


Ibu sakit Ayah, Ibu sakit kaya dulu lagi. Zahra merawat Ibu sendirian, Zahra gak tau kenapa Ayah pergi ninggalin kami, Zahra gak tau Ayah kenapa berbuat seperti itu.


Andai saja ayah ada di sini, mungkin Ibu tidak akan seperti ini, mungkin kita akan bahagia dan ternyata.....


Kenyataannya tidak seperti itu.


Ayah, Zahra mau tanya. Apa benar Zahra anak yang tidak di inginkan oleh kalian? Apa benar Zahra anak haram? 


Ibu bilang seperti itu Ayah....


Jika memang benar, Zahra tetap sayang sama kalian, meskipun kalian tidak menganggap Zahra ada....


Harapan Zahra hanya satu....


Zahra ingin kita kumpul....


Zahra menutup bukunya. Ia tidak kuat jika harus melanjutkan kembali, rasanya sakit sekali. Air matanya perlahan keluar, ia sangat merindukan Ayahnya....


Selain itu, ia juga bingung. Sore tadi ibunya bilang ia anak yang tidak di inginkan, apa itu benar?


...---o0o---...


Leo menyenderkan kepalanya di sofa kamarnya, ia memejamkan matanya sejenak. Saat ini ia begitu kesal dengan Mamanya yang selalu membahas soal Zahra, ia tidak habis pikir.


"Akhh sial!" Leo melepar vas bunga yang ada di hadapannya, ia benar-benar tidak bisa menahan emosinya.


"Zahra, Zahra. Selalu aja bahas dia!" tangannya terkepal kuat, matanya menatap satu objek tajam yang ada di hadapannya.


Leo tersenyum miring, ini saatnya....


Ketemuan di cafe pelangi!


Setelah mengirimkan pesan, ia langsung bergegas mengambil jaket dan kunci mobilnya, lalu pergi dari sana.


Di lain tempat, Zahra mengerutkan keningnya heran. Ia heran sakaligus senang, karena entah kenapa Leo mengchat dirinya dan bilang bahwa ia ingin ketemuan.


Tapi, tunggu dulu. Kenapa Leo mengajak dirinya untuk bertemu?

__ADS_1


Zahra tidak berpikir lagi, ia langsung mengambil jaketnya dan mengambil kunci motornya, malam ini sedang hujan dangan itu ia memakai jas hujan. Tapi, sebelum pergi ia masuk dulu ke kamar ibunya, ia tersenyum, ternyata ibunya sedang tidur. Setelah itu barulah langsung pergi.


Saat sampai di tempat, Zahra menengok ke sana kemari mencari keberadaan Leo dan ternyata dia ada di tempat nomor 14.


"Maaf telat." ucap Zahra tidak enak.


Leo menoleh, ia hanya mengangguk pelan.


Zahra duduk di kursi kosong, ternyata bukan hanya Leo dan dirinya saja. Ternyata ada Fahmi, Gio, Caca, Riska dan teman Leo yang lainnya. Zahra kira Leo akan mengajak dirinya saja. Namun, dugaannya salah....


Hampir satu jam ia hanya duduk, duduk melihat mereka yang tengah asik. Matanya melihat Leo yang sedang bermesraan dengan Caca tepat di hadapannya, Zahra hanya bisa diam, ia tidak tahu harus berbuat apa. Kini matanya beralih pada pundak kanannya, melihat tangan Fahmi yang merangkul dirinya, membuat ia langsung menghempaskan tangan Fahmi.


Fahmi hanya tersenyum, lalu mendekat dan berbisik. "Gue tau rasanya sakit seperti apa. Apalagi ngeliat pacar sendiri mesra-mesraan sama cewek lain."


Zahra hanya diam. Jika hanya seperti ini, lebih baik ia tidak ke sini.


Leo melirik Zahra sekilas, ia tersenyum miring. "Saatnya dimulai!"


"Kenapa sih kamu suruh dia ke sini?!" kesal Caca pada Leo, ia melihat Zahra tidak suka.


Leo menghela napas, lalu tangannya membelai pipi Caca dan menyelipkan rambutnya ke belakang. "Dia ke sini mau neraktir kita sayang." sambil tersenyum, lalu menatap Zahra sekilas.


Zahra melotot terkejut, kemudian ia bangkit dari duduknya. "Maaf aku harus pulang." saat hendak pergi, tangan Zahra langsung di cekal oleh Leo.


"Ettts mau ke mana? Bukanya mau nerktir kita yah?" ucapnya sambil tersenyum manis, lalu kembali mendudukkan Zahra.


"Tapi Leo, aku gak bawa uang. Lagian aku ke sini cuma mau nemuin kamu." Zahra tidak terima, ia menatap Leo tidak habis pikir.


Leo memutar bola mata malas. "Lo pikun yah? Bukannya lo sendiri yang bilang?"


"Aku gak bilang kaya gitu, aku di sini cuma diem Leo dan sama sekali aku gak makan. Lagian aku sama sekali gak bawa uang." ucapnya lagi.


"Huuu miskin!" ejek Caca pedas.


Mendengar seperti itu sontak mereka melihat ke arah Caca.


Riska tidak diam, ia pun sama seperti Caca. Sama-sama mengejek Zahra.


"Iyah nih, gimana sih lo, Ra!" Riska menatap Zahra tidak suka.


Yang lain hanya menyaksikan, mereka hanya bisa mendengarkan tanpa ikut campur. Awalnya mereka seneng. Tapi, melihat Zahra bilang seperti itu, membuat mereka diam.


"Iyah Zahra memang miskin. Zahra bukan kaya kalian yang mempunyai uang banyak!" ucapnya sambil menahan air matanya.


"Biar gue yang bayar ini semua!" ucap Fahmi sambil berdiri, dan sontak mereka menatap Fahmi dan itu membuat Leo langsung bersuara.


"Gak bisa! Dia yang bakal traktir kita-kita." ucap Leo sambil menunjuk ke arah Zahra.


"Leo tapi aku gak punya uang, aku gak sanggup buat bayar makanan ini semua." ia menatap Leo memohon.


Leo mengacuhkan bahunya tidak peduli. "Ayo cabut." ucapnya, lalu mereka semua langsung pergi.

__ADS_1


"Tapi—" saat hendak pergi, tangan Zahra langsung di tahan oleh pelayan cafe di sana.


"Maaf mbak bayar dulu." ucap pelayan tersebut.


Zahra menghela napas sabar. "Mbak saya gak ada uang."


"Terus gimana mbak? Masa udah makan gak di bayar!"


"Ada apa ini?" tanya seorang pria sambil menghampiri mereka.


"Ini bos, mbak ini gak mau bayar." ucap pelayan tersebut.


"Bukan gak mau bayar mbak, saya gak ada uangnya." ucap Zahra.


"Yasudah kamu bantu-bantu di belakang, itu sebagai gantinya." ucap pria tersebut dan langsung pergi meninggalkan mereka.


Zahra menghela napas kasar. Leo benar-benar tega mengerjai dirinya.


...---o0o---...


"Alhamdulillah selesai." Zahra tersenyum senang, akhirnya ia bisa pulang sekarang.


Malam ini sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan hujannya dari tadi tidak berhenti-henti.


Zahra berdiri di depan cafe, ia memeluk dirinya sendiri sambil menunggu hujannya reda.


Tin tin tin


"Ayo masuk, Ra." ajak seseorang.


Zahra mengkerut keningnya heran. "Fahmi?"


"Ayo masuk." ucap Fahmi sedikit berteriak karena hujannya semakin besar.


Zahra menggeleng. "Maaf Zahra gak mau, Zahra bawa motor."


Fahmi menghela napas kasar, lalu turun dari mobilnya sambil memakai payung.


"Ayo bareng gue aja, urusan motor aman. Nanti gue suruh orang lain buat anterin motor lo." ucapnya.


Zahra tetap menggeleng. "Zahra gak mau ngerepotin."


"Gue sama sekali gak kerepotan." ucapnya, lalu menggenggam tangan Zahra dan langsung menuju mobil.


Selama di perjalanan Zahra hanya diam, ia tidak tahu harus berbicara apa.


Fahmi menoleh ke samping. "Maaf tadi gue gak bisa bantu lo." ucapnya, lalu kembali fokus menyetir.


Zahra menoleh. "Gak usah minta maaf." sambil tersenyum, lalu kembali menghadap ke depan.


"Kenapa yah sikap Leo ke Zahra kaya gitu?" tanyanya pelan.

__ADS_1


Fahmi terdiam, ia tidak bisa menjawab. Jika boleh jujur ia pun sama kesal dengan Leo yang seenaknya memperlakukan pacarnya sendiri. 


Dimana hati nuraninya itu?


__ADS_2