Lukisan Semesta Amerta

Lukisan Semesta Amerta
18. Antar Pulang


__ADS_3

Zahra termenung, lalu melihat punggung Loe sampai menghilang dari pandangannya.


"Zahra cepat duduk." perintah Pak Budi.


"I-iyah pak." ucapnya sambil duduk di kursinya.


Hampir dua puluh menitan pak Budi mengajar, membuat Zahra gelisah dibuatnya. Sandari tadi matanya sesekali melihat-lihat pintu yang sedikit terbuka, ia jadi merasa tidak enak pada Leo, seharunya dirinya yang berada diluar, bukan Leo.


"Pak." ucap Zahra sambil berdiri.


Pak Budi berbalik badan, ia menatap Zahra heran. "Ada apa lagi Zahra?" tanyanya.


"Maaf pak. Seharusnya Zahra yang ada diluar, bukan Leo." ucapnya sambil menatap pak Budi.


"Buku ini punya Leo pak, bukan punya Zahra." ucapnya lagi.


"Ra, lo apa-apaan sih?!" bisik Ririn, membuat Zahra langsung menoleh.


"Ini buku Leo, bukan punya Zahra. Harusnya Zahra yang keluar, bukan Leo. Kasian Leo." bisiknya.


"Maaf pak, Zahra permisi keluar." ucapnya lalu pergi keluar kelas.


...---oOo---...


Saat di luar kelas, Zahra melihat Leo yang sedang duduk. Lalu perlahan ia mendekat dan ikut duduk disebelahnya.


Leo menoleh, lalu menatap lurus ke depan. "Ngapain?" tanyanya.


"Leo masuk kelas sana." ucapnya, membuat Leo kembali menoleh, ia menaikan satu alisnya.


"Leo masuk kelas sana, harusnya Leo yang dikelas, bukan diluar." ucapnya lagi.


Leo menghela napas kasar, lalu berdiri. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celananya. "Males!" kemudian langsung pergi dari hadapan Zahra, membuat Zahra langsung berdiri dan mengikuti Leo.


"Leo tunggu." teriaknya sambil mengikuti Leo dari belakang.


Leo terus jalan saja, ia tidak mempedulikan Zahra di belakangnya.


"Ngapain ke tempat ini Leo?" tanya Zahra heran, ia melihat sekelilingnya bingung.


Leo berbalik badan, ia menatap Zahra datar. "Balik kelas sana!" perintahnya.


"Gak mau!" tolaknya sambil duduk dibawah pohon, lalu menyenderkan punggungnya.


Leo menghela napas kasar, lalu ia ikut duduk di samping Zahra.


"Lo gak marah?" tanya Leo secara tiba-tiba, sehingga membuat Zahra yang tadi menutup matanya, langsung membuka matanya menatap Leo bertanya.


"Marah? Marah karena apa?" tanyanya heran.


Leo berdecak kesal. "Lupain." lalu memejamkan matanya, menikmati sejuknya angin.


"Leo aneh." ucap Zahra, lalu langsung ikut memejamkan matanya, menikmati sejuknya angin.


Leo membuka sebelah matanya, lalu kembali memejamkan matanya. Ia tersenyum tipis.


Hampir setengah jam mereka posisinya seperti itu, Leo yang kesal pun akhirnya membuka matanya, karena ia mendengar suara dengkuran halus disampingnya.


Ia melihat Zahra yang sedang mendengkur halus, ia tersenyum tipis, ternyata Zahra tertidur.


Lama kelamaan Leo terus memandangi wajah polos Zahra yang sedang tidur seperti itu, wajahnya terlihat damai jika seperti itu. Lalu tangannya dengan perlahan membawa kepala Zahra ke bahunya.

__ADS_1


Ia mengusap-usap kepala Zahra lembut.


"Maaf  Ra. Sebenarnya gue yang rusakin buku paket Lo." bisiknya pelan, lalu ikut memejamkan matanya kembali.


...---oOo---...


"Eugh." Zahra mengucek- ngucek matanya, ia mengerjapkan matanya beberapa kali.


Astaga! Ia ketiduran.


Lalu Zahra menoleh kesamping, ia tersenyum ternyata Leo pun ketiduran juga.


Zahra terus memandangi wajah Leo, sampai-sampai ia tidak sadar jika Leo sudah terbangun dan menatap balik juga.


"Udah puas belum liatin gue?" tanyanya.


"Ehh." Zahra menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia jadi merasa salah tingkah dibuatnya, lalu dengan cepat ia langsung melihat ke arah lain.


Leo tersenyum miring, lalu berdiri, membuat Zahra langsung menatap Leo.


"Leo mau kemana?" tanyanya.


"Pulang." jawabnya tanpa menatap Zahra, lalu pergi meninggalkan Zahra.


Zahra menghela napas sabar, selalu saja begitu, selalu di tinggal begitu saja. Lalu dengan cepat-cepat ia langsung pergi juga dari tempat itu.


...---oOo---...


"Ra, ayo balik bareng gue." ajak Fahmi saat sudah dihadapan Zahra.


"Gak usah Mi, makasih." tolaknya, lalu ia menengok kanan kiri, berharap ada kendaraan umum lewat.


"Gak bakal ada angkot lewat sore-sore gini." ucap Fahmi, membuat Zahra langsung melihat jam di pergelangan tangannya.


"Nih pak helmnya." ucapnya sambil memberikan helmnya.


"Gak usah Mi. Zahra bisa pulang sendiri." tolaknya sambil menggeleng pelan.


Fahmi menghela napas, lalu turun dari motornya. "Ayo." lalu menarik tangan Zahra pelan, membuat Zahra terkejut.


"Ehh. Gak usah Mi." tolaknya lagi.


"Nih pake." saat hendak memakaikan helm di kelapa Zahra, Zahra sudah lebih dulu ditarik oleh seseorang.


"Dia balik bareng gue!" ucap Leo datar sambil menggenggam tangan Zahra.


Fahmi maju lebih dekat, ia mantap Leo datar. "Gue yang duluan ajak dia."


Leo menatap Fahmi datar, lalu maju lebih dekat lagi. "Inget, dia cewek gue!" bisiknya, lalu tersenyum miring. Setelah itu langsung membawa Zahra kedalam mobilnya.


Fahmi menggeram kesal, ia mengepalkan tangannya kuat.


Sial, ia kalah lagi!


...---oOo---...


Selama di perjalanan keduanya saling diam, mereka fokus pada pikirannya masing-masing.


Jujur sebenarnya Zahra tidak enak jika saling diam seperti ini, rasanya seperti tidak ada orang saja.


"Ekhem." dekhemnya, membuat Leo menoleh, lalu kembali fokus menyetir.

__ADS_1


"Sakit lo?" tanyanya tanpa menatap Zahra.


"Enggak." jawabnya.


"Terus?" lalu menatap Zahra sekilas.


Zahra menghela napas kasar. "Kapan Leo gak bersikap dingin lagi sama Zahra?" tanyanya.


Leo mengacuhkan bahunya. "Emang kenapa?"


Zahra kembali menghela napas kasar, lalu menatap Leo. "Zahra bingung Leo. Kadang Zahra pikir Leo sikap dinginnya cuma sama orang-orang doang, ternyata sama Zahra juga."


"Tapi–"


"Tapi apa?" potongnya.


"Tapi Leo ko gak bersikap dingin yah sama Caca?" tanyanya polos.


"Terus Leo itu sikapnya kadang-kadang. Kadang baik, kadang dingin, kadang cuek, kadang......"


"kasar." ucapnya lagi.


Leo menepikan mobilnya dipinggir jalan, lalu ia membuka kacamatanya, setelah itu menatap Zahra dekat.


"Terus apa urusannya sama lo?" tanyanya.


Zahra sedikit menjauh, lalu menghadap lulus ke depan. "Leo gak anggap Zahra pacar Leo yah?" tanyanya tanpa menatap Leo, sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tidak keluar.


Leo kembali ke seperti semula, ia tidak menjawab pertanyaan Zahra, lalu setelah itu kembali mengendari mobilnya.


Zahra menghala napas pelan, ternyata Leo tidak menjawab pertanyaannya. Apa susahnya tinggal jawab? Padahal punya mulut.


"Leo berhenti!" ucapnya tiba-tiba, sehingga membuat Leo langsung mengerem mendadak, dan dengan kesal lalu menatap Zahra.


"Lo apa-apaan sih, hah?!" ia tidak habis pikir dengan Zahra.


"Pake bilang berhenti ngedadak segala, untung aja gak ada mobil lain di depan!" lanjutnya lagi.


Zahra menunduk takut. "Ma-maaf Leo." ucapnya pelan, membuat Leo menghela napas kasar.


"Zahra turun di sini aja." ucapnya, lalu membuka pintu mobil, sebelum keluar tangan Zahra sudah ditarik lebih dulu, membuat ia terkejut.


"Rumah lo masih jauh." ucapnya.


"Zahra tau." lalu menatap Leo, "Makasih atas tumpangannya. Ouh iyah, Leo hati-hati di jalan yah." ucapnya, lalu tersenyum lebar.


Leo menaikkan sebelah alisnya. "Ngapain lo turun di sini?"


"Zahra mau kerja Leo, masa Leo gak tau kalau Zahra kerja di cafe itu." sambil menunjuk cafe tersebut.


"Oh." ucapnya, lalu kembali menghadap ke depan, "Udah sana turun!"


Zahra mengangguk, sebelum turun ia tersenyum lebar pada Leo, membuat Leo menatap Zahra aneh.


"Aneh lo!" ucapnya.


Zahra terkekeh pelan. "Hati-hati di jalan Leonya Zahra." sambil mencubit kedua pipi Leo gemas, setelah itu Zahra langsung buru-buru keluar dari mobil, takut-takut Leo akan mengamuk.


Leo terdiam atas perlakuan Zahra berusan, lalu tangannya perlahan memegangi kedua pipinya.


Setelah itu tersenyum tipis, lalu mengendarai mobilnya kembali.

__ADS_1


"Aneh banget tuh orang!"


__ADS_2