Lukisan Semesta Amerta

Lukisan Semesta Amerta
26. Ulang Tahun


__ADS_3

Sebelum masuk ke dalam rumah, Zahra tersenyum lebar, ia memegangi kue yang siap ia berikan, lalu dengan perlahan membuka pintu.


"Happy birthday, Inu."


"Happy birthday, Ibu."


"Happy birthday, happy birthday, happy birthday, Ibu...."


Zahra tersenyum senang, lalu jongkok dihadapan Ibunya, matanya terus menatap Ibunya dengan penuh kasih sayang.


Sedangkan Rita menatap Zahra aneh, ia tidak terkejut atau pun tersenyum, sama sekali tidak.


"Ayo bu tiup lilinnya." ucapnya sambil tersenyum lebar.


Rita masih diam, ia menetap Zahra cukup lama, kemudian beralih menatap kue itu.


Zahra tahu pasti Ibunya aneh dengan semua ini, mungkin ia aneh juga lihat kue yang ia bawakan. Tapi tidak apa, yang terpenting ia tidak melewatkan hari spesial ini.


Zahra tersenyum, perlahan mendekat lebih dekat lagi. "Hari ini Ibu ulang tahun."


"U-ulang tahun?" Rita menyerit heran.


"Iyah Bu, hari ini ibu ulang tahun. Ulang tahun itu yang dimana hari kelahiran Ibu." ucapnya.


"A-aku?" tanyanya heran, dan di anggukkan Zahra oleh Zahra.


Rita langsung menatap bonekanya, ia tersenyum pada boneka itu. "Liat hari ini aku ulang tahun." ucapnya begitu senang.


"Yeyyy, aku ulang tahun, ulang tahun." Rita langsung lompat-lompat tidak jelas, bahkan ia juga joget-joget sangkin senangnya.


Melihat hal itu Zahra tertawa, ia tidak menyangka Ibunya akan merespon seperti itu. Jujur awalnya takut sekali untuk memberikan kejutan seperti ini, karena takut-takut Ibunya tidak akan menerimanya, takut kejadian seperti dulu lagi.


"Udah bu joget-jogetnya, nanti cape." lalu menuntun ibunya untuk duduk, dan kembali kepada posisi seperti semula lagi, "Ayo ditiup lilinnya." sambil tersenyum senang.


Rita mengangguk senang, lalu ia kembali menatap boneka itu. "Ayo mas, kita tiup." lalu ia mendekatkan boneka itu berhadapan dengan kue tersebut.


Zahra tersenyum.


"Satu.


"Dua."


"Tiiiiiigaaa, ayo tiup bu." ucapnya senang.


Rita dan boneka itu langsung meniup lilinnya, lalu mereka bertepuk tangan.


"Yeyyyy. Ayo bu potong kuenya." kemudian memberikan pisau plastik kepada ibunya.

__ADS_1


Rita mengangguk, lalu mengambil pisau itu. Setelah itu ia kembali menatap bonekanya. "Ayo mas kita potong." lalu pisau tersebut ia letakkan ke tangan boneka tersebut, kemudian Rita ikut memegangi, setelah itu memotong kue itu secara bersama-sama.


Setelah memotong kue itu, lalu Zahra memberikan piring. "Kuenya simpen kesini."


Rita mengangguk, dan kue itu ia simpan ke piring. Rita tersenyum senang, lalu kembali menatap bonekanya. "Mas Feri senangkan?" tanyanya sambil tersenyum lebar.


Zahra tersenyum, lalu ia meletakkan kue tadi ke meja, setelah itu Zahra mengangguk-anggukan kepala boneka Ibunya.


"Iyah sayang aku senang." ucapnya sambil menirukan suara ayahnya.


Rita tertawa pelan, lalu mengelus-elus kepala bonekanya. "Aku juga mas."


Zahra tertawa pelan, rasanya senang sekali melihat Ibunya happy seperti itu. Zahra berharap semoga ibunya akan terus happy seperti itu.


"Ouh iyah, Zahra punya ini buat Ibu."


"Tadaaaa...." Zahra tersenyum lebar sambil melihatkan kadonya untuk Ibunya.


Rita bertepuk tangan senang, lalu langsung mengambil kadonya, kemudian memeluk kado itu dengan senang. Hal itu membuat Zahra kembali tertawa bahagia.


...---oOo---...


"Maksud lo apa, hah?!" Leo mencekram kerah baju Fahmi tiba-tiba, membuat Fahmi menatap Leo terkejut sekaligus heran.


"Maksud lo apa, hah?!" ulangnya lagi, ia mantap Fahmi tajam, kini wajahnya merah padam menahan amarahnya yang siap menghantam.


Fahmi menatap Leo bingung, ia tidak mengerti maksud Leo berusan.


Leo dan Fahmi langsung menatap Gio, sehingga membuat Gio menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menyengir lebar.


"Yaudah sok-sok lanjutin, kali ini gue gak bakal ikut campur." lalu kembali duduk, jujur Gio melihat aura mereka begitu berbeda, roman-romannya bakal ada.......


"Baku hantam ini mah." ucapnya pelan.


Leo kembali menatap Fahmi tajam, lalu melepaskan cekramannya. "Maksud lo apa kemaren jalan sama Zahra, hah?!"


Fahmi terkekeh pelan, jadi ini masalahnya. Lalu ia menatap Leo lebih dekat lagi. "Masalah buat lo?"


Leo memggeram kesal, ia menatap Fahmi datar. "Jelas masalah buat gue!" lalu jalan lebih dekat lagi, "Udah jelas-jelas Zahra cewek gue!" tekannya.


Fahmi terkekeh pelan, lalu menepuk bahu Leo. "Cewek lo?" tanyanya, lalu tersenyum miring, "Tapi ko abay gitu?" tanyanya santai.


Leo mengepalkan kedua tangannya, gigi-giginya menggeretak geram. "Lo gak usah ikut campur sama hubungan gue. Harusnya lo jauhin cewek gue!" tekannya.


"Aneh gue sama lo, sebenernya cewek lo itu Zahra atau Caca sih? Bingung gue." celetuk Gio tiba-tiba, sehingga membuat Leo langsung menatap Gio tajam.


Gio menelan ludahnya susah, gawat ia salah ngomong. Lalu menyengir lebar. "Hehehe, kalem bro, kalem."

__ADS_1


"Leo!" teriak Caca sambil menghampiri Leo.


Gio mengelus dadanya lega. "Aman." untung saja Caca langsung ada, kalau tidak sudah dipastikan wajah tampannya ini akan babak belur.


"Leo temenin aku yuk." ajaknya sambil memeluk lengan Leo dengan manja.


Leo diam sebentar, lalu mengangguk pelan, sehingga membuat Caca memekik senang.


"Ayo. Hari ini aku mau kita seneng- seneng bareng." kemudian menarik tangan Leo pelan.


Fahmi dan Gio menghela napas kasar, mereka geleng-geleng kepala melihat kelakuan Leo seperti itu, yang mau saja diajak oleh Caca atau wanita lain.


"Tuhkan aneh tuh orang." Gio geleng-geleng kepala, "Akhirnya sama Caca juga kan." lanjutnya lagi.


...---oOo---...


Zahra menyerit heran, ia melihat Leo dan Caca yang hendak masuk mobil, lalu dengan cepat ia menghampiri mereka.


"Leo." ucapnya sambil tersenyum, lalu beralih menatap Caca, yang ditatap malah menatap Zahra tidak suka.


"Leo mau kemana?" tanyanya.


Leo menatap Zahra datar, lalu membukakan pintu mobil. "Masuk Ca." perintahnya, kemudian Caca pun masuk.


"Leo mau kemana?" tanya Zahra lagi.


Leo menghela napas kasar. "Jalan." jawabnya dingin.


Zahra memekik senang. "Kalau gitu Zahra ikut yah." ucapnya, berharap Leo mau mengajaknya.


Leo berpikir-pikir sejenak, lalu kembali menghela napas kasar. "Masuk."


Zahra tersenyum senang. "Leo gak mau buakin pintu gitu? Sama kaya Leo bukain buat Caca."


Leo memutar bola mata malas. "Gak usah manja! Punya tangan kan?"


"Iyah, iyah." lalu Zahra pun masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil, Caca menatap Leo kesal. "Leo apaan sih ajak dia segala?!"


"Emangnya kenapa? kan Leo yang ajak Zahra, bukan Caca." celetuk Zahra, membuat Caca melotot menatap Zahra kesal.


"Apaan sih! Orang lo yang maksa pengen ikut!"


Zahra menghela napas pelan. "Emangnya gak boleh? Orang Leo aja gak marah bawa Zahra."


Caca menggeram kesal, lalu beralih menatap Leo. "Kamu apaan sih, aku gak suka kamu ajak dia segala!"

__ADS_1


Leo menghela napas kasar, lalu menyalakan mengendarai mobilnya. "Udah kamu gak usah marah-marah gitu."


"Nanti juga bakal tau." bisiknya sambil tersenyum miring, sehingga membuat Caca ikut tersenyum.


__ADS_2