Lukisan Semesta Amerta

Lukisan Semesta Amerta
13. Kasbon


__ADS_3

Caca, Riska dan Abel langsung berbalik badan, mereka melotot kaget saat tahu siapa yang meneriakinya tadi.


"Leo." cemas Caca.


Leo, Fahmi dan Gio berdiri dihadapan mereka bertiga, menatap mereka tajam.


"Apa-apan lo?!" tanya Gio emosi.


Fahmi menghela napas kasar, ia menatap mereka bertiga sambil menahan emosi, lalu langsung menghampiri Zahra yang sedang menangis.


"Ra." panggil Fahmi pelan, membuat Zahra langsung menghapus air matanya secara kasar, lalu langsung mengambil barang jualannya.


Fahmi ikut membantu. "Sini biar gue aja."


Zahra menggeleng pelan. "Gak usah, Zahra bisa sendiri." ucapnya pelan sambil menahan rasa sedihnya.


Fahmi tidak mendengarkan ucapan Zahra, ia masih terus mengambil barang jualan Zahra.


Caca dan kedua sahabatnya menundukkan kepalanya takut. Melihat tatapan Leo dan Gio kali ini sangat berbeda, jauh lebih mengerikan, sehingga mereka camas bukan main.


"Maksud lo apa?!" tanya Leo sambil melihat mereka dingin.


Caca menggeleng pelan. "Ng-nggak ada." jawabnya bohong.


"Lo bertiga tatap mata gue!" ucap Leo, sehingga mereka langsung menatap Leo takut.


Leo menatap mereka dengan raut wajah datar. "Berasa berpenguasa lo, hah?!"


Mereka diam, membuat Gio yang dari tadi menahan amarah sudah tidak bisa ditahan lagi.


"Lo bertiga gak punya otak atau emang oon, hah?!" Gio mengepalkan kedua tangannya kuat, ia menetap mereka bertiga marah.


"Lo bertiga gak ada rasa kasian apa?! Dimana rasa kasian lo, hah?!"


"Liat Zahra." ucapnya lagi, membuat mereka langsung melihat Zahra.


"Pernah Zahra ngusik kalian? Pernah gak?! gue rasa nggak. Dia gak pernah ngusik kalian, tapi kenapa lo pada terus ngusik Zahra, hah?!" bentak Gio, sehingga mereka bertiga kembali menundukkan kepalanya takut.


Leo menghela napas kasar, lalu menepuk bahu Gio untuk mundur.


"Ikut gue!" ucap Leo sambil menarik Caca kasar.


"Lo berdua ikut gue!" kali ini Gio langsung menarik Riska dan Abel kasar, membuat mereka meringis kesakitan. Tapi Gio tidak peduli.


"Ra." panggil Fahmi.


"Kenapa Fahmi?" tanyanya.


"Badan lo ada yang sakit?" tanya Fahmi cemas.


Zahra menggeleng pelan. "Ada." jawabnya sambil menatap lurus.


Fahmi langsung menatap Zahra cemas. "Yang mana yang sakit? Kasih tau gue, Ra."


Zahra tertawa kecil, ia menatap Fahmi sambil tersenyum. "Hati Zahra." setelah itu langsung berlari dari hadapan Fahmi.


...---oOo---...

__ADS_1


Zahra duduk di kursi panjang, ia terus menangis. Kenapa rasanya sesakit ini?


Untung saja tempat yang Zahra duduk sepi dan tidak ada siapa-siapa, membuat ia leluas mengeluarkan rasa kesedihannya.


Zahra menunduk, ia bingung harus bagaimana lagi.


Ingin rasanya ia melawan Caca. Tapi ia tidak mau membuat Caca sedih dan juga ia tidak mau beasiswanya di cabut, hanya karena melawan Caca.


"Zahra bingung ya Allah, Zahra takut Ibu gak bisa makan hari ini." Zahra mengusap air matanya, lalu menghela napas sabar.


Kejadian tapi cukup ambil hikmahnya saja....


"Ra." Ririn langsung duduk disebelah Zahra, ia melotot terkejut melihat Zahra sedang menangis.


"Ra, lo kenapa?" tanyanya cemas.


Zahra langsung memeluk Ririn, ia kembali menangis dalam pelukan Ririn. "Rin..." isaknya pilu.


Ririn mengelus-elus punggung Zahra, ia bingung kenapa Zahra bisa menangis seperti itu?


"Ra." panggil Ririn pelan.


"Jualan Zahra, Rin...." sambil terus memeluk Ririn.


Ririn mengkerutkan keningnya bingung. "Jualan lo kenapa, Ra?" tanyanya.


"Jualannya ancur Rin. Zahra gak tau lagi harus apa." ucapnya sambil terus menangis, lalu melepaskan pelukannya.


Zahra menunduk, ia berusaha agar tidak menangis lagi. "Zahra gak tau lagi harus apa Rin, Zahra bingung nanti malem Ibu harus makan apa." ucapnya pelan.


Ririn mengelus-elus punggung Zahra. "Ra, lo yang sabar yah." ucapnya lembut, lalu menggenggam kedua tangannya Zahra, "Lo jangan sedih, urusan makan buat Ibu lo biar gue aja." lalu tersenyum lebar.


Zahra menggeleng cepat. "Jangan Rin. Zahra gak mau ngerepotin Ririn terus-terusan."


"Nggak Ra, gue sama sekali gak kerepotan." ucap Ririn.


Zahra menatap Ririn, sungguh ia sangat bersyukur sekali memiliki sahabat sebaik dan setulus seperti Ririn.


"Makasih yah Rin, Ririn selalu ada buat Zahra. Tapi maaf Zahra tolak, karena Zahra gak mau ngerepotin Ririn terus-terusan." ucapnya lagi.


Ririn menggeleng, lalu merangkul bahu Zahra. "Justru gue yang harus bilang makasih sama lo, Ra. Karena gue ngerasa, gue beruntung banget bisa sahabatan sama lo." ucapnya tulus.


Zahra tersenyum, ia mengangguk senang. "Zahra juga."


Lalu Zahra bangun dari duduknya. "Rin, Zahra duluan yah, soalnya sekarang Zahra harus kerja." ucapnya.


Ririn mengangguk. "Mau gue anter?" tawarnya.


Zahra menggeleng, ia tersenyum. "Gak usah, Rin. Zahra bisa sendiri, kalau gitu Zahra pergi dulu yah, dadah ririn." ucapnya sambil melambaikan tangannya.


"Hati-hati Ra." ucapnya sambil melambaikan tangannya.


...---oOo---...


Saat sudah sampai di tempat kerjanya, Zahra langsung mengganti baju, menggunakan pakaian pekerjaannya.


"Sore ka Dewi." sapanya sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


Dewi tersenyum. "Sore juga Ra."


"Ka, Zahra ke meja sana yah, ada yang manggil." pamitnya.


Dewi mengangguk. "Semangat Zahra." ucapnya, membuat Zahra terkekeh kecil lalu mengancungkan kedua jempolnya.


"Iyah mau pesan apa?" tanya Zahra saat sudah di meja pembeli.


"Mbak saya pesen ini sama minumnya ini." ucap pembeli tersebut sambil menunjuk-nunjuk makanan yang ia pesan.


Zahra mengangguk, lalu ia mencatat pesanannya.


"Kalau begitu tunggu sebentar yah, Mbak." ucapanya ramah, lalu di anggukkan oleh pembeli tadi. Setelah itu barulah Zahra pergi dari hadapan pembeli tersebut.


Kini jam menunjukkan pukul delapan malam, hari ini Zahra pulang lebih cepat sekitaran jam setengah sembilan baru selesai, sebelum pulang Zahra dengan memberanikan diri masuk kedalam ruang bosnya.


"Permisi ka Damar." ucapnya.


Damar menatap Zahra heran. "Ada apa Ra?" tanyanya lalu kembali fokus ke laptopnya.


"Maaf ka Damar. Hari ini Zahra boleh gak kasbon." ucapnya sambil menunduk.


Damar menutup laptopnya, lalu membuka kacamata bacanya.


"Kasbon?" tanyanya.


"Iyah ka." jawabnya sambil mengangguk pelan.


Damar menghela napas kasar, lalu melihat jam ditangannya. "Gak bisa! kamu aja kasbon waktu itu udah banyak dan sekarang mau kasbon lagi? Yang benar aja kamu, Ra!"


"Zahra mohon kali ini aja ka. Ka damar boleh potong gaji Zahra bulan ini, yang penting ka Damar mau kasbonin Zahra." ucapnya memohon.


"Kamu pikir ini cafe punya kamu apa?!" Damar menatap Zahra marah, "Dengan potong gaji kamu aja itu hutang secara keseluruhan masih kurang!"


"Zahra janji bakal lunasin semuanya secepatnya ka. Tapi kali ini Zahra mohon tolong bantu Zahra."


Damar menggeleng. "Gak bisa. Mending kamu lanjut kerja sana!" perintahnya.


Zahra mengangguk pelan, setelah itu pergi dari ruangan bosnya.


Zahra menghela napas sabar, lalu melanjutkan kerjanya.


Saat di dapur Zahra melotot terkejut saat melihat Lala yang sedang membawa piring ke wastafel. "Lala sini biar Zahra aja." ucapnya saat sudah di dekat Lala.


Lala menghentikan aktivitasnya saat ingin mencuci piring, ia menatap Zahra bertanya.


"Sini biar Zahra aja, Lala meding nyapu aja." ucapnya sambil merebut piring kotor dari tangan Lala.


"Yaudah gue nyapu itu." ucapnya dan di anggukkan oleh Zahra. Setelah itu barulah Lala pergi dari hadapan Zahra.


Melihat piring-piring yang masih ada sisa makanan, membuat Zahra merasa sayang, karena sayang sekali mereka tidak menghabiskan makanannya. Padahal diluar sana banyak sekali yang membutuhkan.


Zahra mengambil kotak nasi kosong, lalu mengambil sisa makanan yang menurutnya masih layak untuk dimakan.


Zahra mengambil sisa-sisa makanan itu sambil meneteskan air matanya, ia kejam sekali mengambil makanan itu untuk dibawa pulang.


"Maafin Zahra Bu, malem ini Zahra cuma bisa bawa ini." ucapnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2