Lukisan Semesta Amerta

Lukisan Semesta Amerta
11. Ja-jangan Pergi!


__ADS_3

Saat sudah didepan pintu rumah Leo, Caca tersenyum lebar, ia merapikan rambut-rambutnya sebelum mengetuk pintu, setalah itu barulah mengetuk pintu dan tidak lama pintu terbuka, menampilkan sosok paruh baya, yang terlihat masih awet muda, meskipun sudah mempunyai anak.


"Assalamu'alaikum Tante." ucap Caca ramah sambil salim ke tangan Lidya.


Lidya tersenyum ramah. "Waalaikumsalam, pasti nyari Leo yah?" tanyanya.


Caca mengangguk sambil tersenyum malu-malu. "Iyah tante, Leo-nya ada?"


"Kamu telat, Leo udah dari tadi joging di taman." ucapnya.


"Ouh gitu yah, yaudah Caca samperin Leo ya tan. Assalamualaikum." ucapnya sambil salim.


"Iyah, Waalaikumsalam." ucapnya ramah.


Setelah itu Caca langsung menyusul ke taman, ia menggerutu kesal, akibat telat, ia jadi tidak bareng bersama Leo.


Sesampainya di taman, ia mencari-cari keberadaan Leo. Matanya melotot kaget, ia mengucek-ngucek matanya berkali-kali, apa yang ia lihat ternyata benar....


Itu Leo bersama dengan cewek yang selama ini ia tidak suka. Lalu dengan cepat ia menghampiri mereka.


"Leo!" Caca menatap Leo kesal, lalu beralih menatap Zahra tajam.


"Ko gak tungguin aku?!" cemberutnya, lalu langsung duduk di tengah-tengah mereka.


"Ishh geser!" Caca menatap Zahra kesal. Lalu Zahra sedikit menggeser.


Kini Caca beralih memeluk lengan Leo. "Leo ayo kita joging bareng." ucapnya sedikit manja.


Leo menyingkirkan tangan Caca, ia menatap Caca malas, lalu bangun dari duduknya dan menarik tangan Zahra.


"Ehhh." Zahra melotot terkejut, dengan segera ia mengambil barang jualannya.


Caca mendengus kesal, kedua tangannya terkepal kuat, sial! "LEO!" teriaknya kesal, lalu langsung mengejar mereka.


...---o0o---...


"Leo lepas." ucap Zahra saat sudah jauh dari Caca, lalu menghempaskan tangan Leo dari tangannya.


Leo menaikan satu alisnya. "Kenapa?" lalu perlahan mendekat.


Zahra sedikit mundur. "Kasian. Cacakan pacar Leo, masa di tinggal gitu aja."


Leo memutar bola mata malas, lalu melipatkan kedua tangannya di dada. "Suka-suka gue." lalu melihat ke arah lain.


"Tapikan-"

__ADS_1


"Gak usah bawa-bawa Caca kenapa sih!" sungguh Leo kesal sekali dengan Zahra, rasanya ingin maki-maki dirinya.


Zahra menunduk. "Iyah, iyah." pasrahnya, lalu duduk di kursi yang tidak jauh darinya.


Leo ikut duduk, ia memperhatikan Zahra yang sedang mengayunkan kedua kakinya sambil bernyanyi kecil. Ia tersenyum tipis, bahkan sangat tipis. Entah kenapa jika bersama dengannya ia jadi merasakan....


Akhh sudahlah.


"Leo!" ucap Caca sambil ngos-ngosan, lalu ikut duduk di sebelah Leo.


Caca menatap Leo kesal, lalu mengelap keringat di keningnya. "Akhirnya ketemu. Kamu kenapa sih ngehindar dari aku?!" tanyanya sambil cemberut, lalu melihat Zahra tidak suka.


Caca menatap Zahra kesal. "Lo lagi, kenapa sih ada aja di mana-mana?!" Caca terus menatap Zahra tidak suka.


Zahra mengerutkan keningnya bingung. "Emangnya kenapa? Inikan tempat umum, jadi siapapun berhak ada di sini, termasuk Zahra."


Caca menatap Zahra sebal, lalu mendekat. "Ihhh kenapa sih lo nyebelin banget?! Hue tuh gak suka ada lo di sini!"


"Iya maaf." ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


"Terus kenapa masih di sini? Udah sana pergi!" ucapnya sambil mengusir-ngusir Zahra, "Bawa juga nih barang jualan lo!" lalu membuang jualan sembarangan, sehingga membuat Zahra melotot terkejut.


"Jualan Zahra!" Zahra langsung berlari, lalu mengumuti jualannya, setelah itu mengecek-ngecek Risol-risolnya, dan aneka lainnya.


"Caca!" bentak Leo, ia menatap Caca marah.


"Pergi lo dari sini!" Leo menatap Caca tajam.


"Tapi Leo, ak-"


"PERGI CACA!" kali ini Leo benar-benar marah, ia tidak menyangka Caca sejahat itu. Caca tidak tahu bagaimana perjuangan Zahra menjual dagangannya, itu sulit.


Caca menatap Leo dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Kamu jahat!" lalu pergi dari hadapan Leo.


Leo menghela napas kasar, lalu dengan segera ikut membantu Zahra.


"Gak usah Leo, Zahra bisa sendiri." Zahra menahan tangan Leo, lalu dengan cepat ia memasukkan barang jualannya, setelah itu bangun dari jongkoknya dan Leo ikut bangun juga.


Zahra menatap Leo, matanya menahan air matanya agar tidak keluar. "Makasih udah bantu Zahra jualan. Zahra pamit pulang dulu." ucapnya, lalu pergi dari hadapannya.


Dengan cepat Leo langsung mengejar Zahra, ia menahan pergelangan tangan Zahra. "Gue anter."


Zahra melepaskan tangan Leo dari tangannya secara kasar, lalu menatap Leo. "Gak usah, Zahra bisa sendiri!" lalu sedikit berlari pergi dari hadapan Leo.


Leo menghela napas kasar, ia terus memperhatikan Zahra sampai menghilang dari hadapannya. Tangannya terkepal kuat, rahangnya mengeras, giginya menggertak dan bahkan napasnya naik turun tidak beraturan. Ini semua salah Caca, Zahra tidak akan seperti itu yang pergi begitu saja. Ia tahu Zahra kecewa padanya.

__ADS_1


"Sialan!"


...---o0o---...


Zahra duduk di teras rumahnya, ia merasa bersalah pada Caca. Seharusnya dirinya jangan dekat dengan Leo. Tapikan, Leo juga pacarnya.


"Pasti Caca marah." ucapnya pelan yang masih kepikiran.


"Aduh jualannya pada rusak lagi." Zahra menghela napas pelan, "Gak bakal ada yang beli kalau rusak kaya gini."


"Tapi gak apa-apa deh, lagian tinggal sedikit ini." Zahra menghela napas lega, lalu masuk ke dalam rumah.


"Ibu?" Zahra meletakkan jualannya di meja, ia melangkah menuju kamar.


"Ibu?" panggilnya lagi.


"BAAAAA!"


"AAAAAA!" sepontan Zahra menutup wajahnya kaget. Lalu perlahan membuka dan menghela napas lega.


"Ibu ngagetin aja." Zahra menatap Ibunya sedikit takut, bayangkan saja bagaimana wajah ibunya yang berantakan karena memakai make up.


Rita tertawa, bahkan ia kembali mewarnai wajahnya menggunakan make up dirinya. Make up sebelum dirinya terkena gangguan mental.


Zahra memegang kedua bahu ibunya, ia menatap ibunya sambil tertawa pelan. "Ibu kalau mau make-up, sama Zahra aja. Sini biar Zahra dandanin." ajaknya, lalu menuntut Rita masuk ke dalam kamar.


Di sana Zahra mendandani Rita, bahkan Rita sempat memberontak. Namun, kembali diam. Zahra tersenyum senang, perlahan ia mengelus pipi Rita, kemudian mencium kening Rita lama.


"Liat Bu."Zahra mengerahkan pada depan cermin, sepontan Rita tertawa pelan. Lalu memegangi wajahnya yang menurutnya terlihat lucu.


Melihat Ibunya senang, membuat Zahra ikut senang. Lalu ia memeluk Ibunya dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu kanannya, matanya terus melihat Ibunya dari cermin.


"Ibu seneng?" tanyanya dan Rita mengangguk senang.


Zahra tersenyum. "Kalau Zahra pergi. Apa ibu bakal sedih?" tanyanya pelan.


Rita melepaskan pelukan Zahra, lalu berbalik. Ia menggeleng cepat dengan mata yang sudah berkaca-kaca."Ja-jangan pergi." lalu memeluk Zahra erat.


Zahra membalas pelukan Ibunya tak kalah erat, ia tersenyum lebar dan mengelus-elus punggung Ibunya lembut. "Zahra gak akan pergi. Zahra janji, Zahra bakal ada di samping Ibu." lalu menunjukkan jari kelingkingnya, meminta jari Ibunya untuk disatukan. Lalu dengan cepat Rita menyatukan jadi kelingking mereka.


Membuat mereka saling menatap satu sama lain dan pada akhirnya mereka saling memeluk.


Zahra tersenyum, ia tidak menyangka Ibunya akan berbicara seperti itu.


Andai saja Ibunya tahu, pelukan ini sangat berarti bagi Zahra....

__ADS_1


Pelukan ini membuat dirinya menjadi lebih semangat lagi, untuk menjalani hari-harinya.


"Zahra janji bakal buat Ibu senang terus dan bakal lupa apa itu rasanya terluka....."


__ADS_2