
Zahra tersenyum senang, ia memperhatikan dirinya di cermin. Hari ini ia senang banget, karena hari ini sangat sepesial untuk orang yang ia sayangi.
Yaitu ibunya.....
Zahra tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya, ia sangat-sangat senang sekali, pasalnya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya.
Zahra duduk di kursi, ia melihat dirinya di cermin. "Zahra kasih kejutan apa yah?" tanyanya pada dirinya sendiri dengan bingung.
Zahra berpikir-pikir, ia bingung sekali kejutan apa yang ia kasih.
Hufttt.... Zahra menghela napas kasar.
Ternyata bingung juga yah....
Zahra langsung tersenyum lebar, lalu berdiri, setelah itu ia langsung bergegas-gegas keluar rumah.
...---**oOo**---...
"Mah." panggil Leo sambil mencari Lidya ke dalam kamar. Leo menyerit heran, di dalam kamar mamahnya tidak ada, lalu Leo langsung turun ke bawah, menuju ruang tamu.
Saat menuju ruang tamu, Leo berhenti berjalan, ia menyerit heran, karena mendengar suara yang begitu tidak asing baginya. Lalu dengan pelan-pelan Leo menguping, ia mendengar mamahnya dengan mengobrol dengan orang yang ia sudah ketahui siapa.
Leo melotot terkejut, benar dugaannya. Kemudian kedua tangannya terkepal kuat, ia menggeram kesal, lalu dengan perasaan marah langsung menghampiri mereka.
"Pergi dari rumah ini!" usirnya secara tiba-tiba sambil menunjuk kearah seorang pria, sehingga membuat Lidya dan orang itu menatap Leo.
Lidya pun sontak langsung berdiri, lalu menghampiri Leo. "Leo kamu apa-apaan sih?! Ngomongnya jangan kaya gitu!" bisiknya.
Leo menatap Lidya, lalu beralih kembali menatap pria itu tanpa ekspresi. "Keluar dari rumah ini!" tekannya marah.
Pria itu menatap Leo sambil tersenyum, lalu berdiri, kemudian merentangkan kedua tangannya. "Hallo anak papah." ucapnya begitu senang.
Leo mantap pria itu tajam, ia tidak sudi dengan pria itu. "Pergi!" tekannya lagi.
Yang ditatap hanya tersenyum lebar, dia sama sekali tidak menunjukkan ekspresi marahnya.
"Kamu gak kangen sama papah, boy?" tanyanya.
Leo berdecih, ia menatap pria itu dengan penuh benci. "Hanya orang bodoh yang kangen sama papah yang tidak tahu diri!" sindirnya.
Melihat sebentar lagi bakal ada aura perang, Lidya langsung mengelus-elus punggung Leo.
"Jangan kaya gini sayang." ucapnya halus.
Leo menoleh. "Mah, Leo gak mau dia ada di sini!" lalu kembali menatap pria itu tajam.
Lidya tersenyum. "Bagaimanapun dia papah kamu, Leo."
__ADS_1
Leo tersenyum miring. "Gak! Papah Leo udah mati!" kemudian langsung naik ke atas tangga, saat sampai di atas Leo melihat mereka dari bawah. Ia melihat pria yang tidak tahu diri itu marah.
Pria itu pun sama, dia pun melihat Leo. dia hanya memberikan senyuman hangatnya. Tapi Leo malah berdecih kesal, lalu dengan kesal ia langsung menuju kamarnya.
...---oOo---...
"Ehh Zahra, lo mau kemana?" tanya Fahmi tiba-tiba.
"Zahra mau ke toko kue."
"Kalau gitu ayo gue anter."
Zahra tersenyum, lalu menggeleng. "Gak usah, Zahra naik angkot aja." tolaknya halus.
Fahmi langsung turun dari motor, lalu ikut duduk di sebelah Zahra, membuat Zahra menatap Fahmi heran.
"Fahmi ngapain?" tanyanya.
"Duduk." lalu ia pun membuka helmnya, ternyata ia kelupaan.
"Iyah Zahra tau, tapi mau ngapain duduk di halte? mau nunggu angkot juga?"
Fahmi menghela napas, lalu ia menatap Zahra lebih dekat. "Gue tungguin sampe lo naik angkot."
Zahra terkekeh pelan, ia geleng-geleng kepala heran. "Ada-ada aja, padahal Zahra bisa sendiri, gak usah ditungguin juga."
"Ya lo nya juga gak mau gue anterin, jadi ya gue tungguin lo aja sampe dapet angkotnya."
Zahra menghela napas. "Kan tadi udah Zahra jawab, Zahra mau ke toko kue." jelasnya lagi.
"Iyah gue tau, tapi mau ngapain?"
"Ya beli kue lahm Masa gitu aja gak tau." lalu tertawa kecil.
Fahmi cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Iyah, tapi buat siapa Ra? buat lo? padahal gue juga bisa beliin buat lo, lo tinggal tunggu di rumah aja."
"Bukan. Zahra mau beliin buat ibu." Zahra menatap Fahmi sambil tersenyum senang, "Fahmi tau gak? kalau hari ini ulang tahunnya ibunya Zahra, mangkanya Zahra mau ke toko kue, mau buat kejutan kecil-kecilan."
Fahmi ikut senang, ia tersenyum melihat Zahra yang begitu senang. Pantas saja dari tadi Zahra terlihatnya begitu happy, jadi ini alasannya.
"Yaudah kalau gitu gue anter." lalu dengan cepat menarik Zahra, sehingga membuat Zahra terkejut dengan sikap Fahmi.
...---oOo---...
Saat sudah sampai di toko, Fahmi dan Zahra langsung mencari-cari kue yang diinginkan oleh Zahra.
"Lo mau beli yang mana, Ra?" tanya Fahmi sambil melihat-lihat kue.
__ADS_1
"Ini ada deh." sambil menunjuk ke kue mini, tapi kue itu terlihat sangat cantik.
"Yakin?" tanya Fahmi untuk meyakinkan.
Zahra mengangguk yakin. "Iyah yang itu."
"Yaudah. Mbak yang ini satu." ucap Fahmi sambil menunjuk kue itu.
"Totalnya seratus ribu, Mas." ucap mbak kasir itu sambil tersenyum ramah.
Zahra langsung mengambil uangnya di tasnya, lalu menyerahkan uangnya.
"Pake uang saya aja mbak." Fahmi langsung memberikan uangnya, membuat mbak kasir itu bingung, pasalnya uang mana yang harus ia ambil.
Zahra menatap Fahmi sambil menggeleng, lalu kembali menatap mbaknya. "Pake uang saya aja mbak."
"Jangan mbak, pake uang saya aja." ucap Fahmi.
Zahra menghela napas. "Fahmi biar Zahra aja." bisiknya.
Fahmi tidak menjawab, lalu dengan cepat ia mengambil uang Zahra, setelah itu ia memberikan uangnya pada mbak kasir itu. Setelah selesai ia langsung menarik Zahra pelan menuju keluar.
Saat sudah di parkiran motor, Fahmi langsung memberikan uang Zahra tadi. "Nih uangnya."
"Fahmi padahal Zahra aja yang bayar." Zahra menetap Fahmi jadi tidak enak.
"Udah biar gue aja." lalu ia langsung memberikan uangya ke telapak tangan Zahra, "Ini uang lo."
"Ayo, kita mau kemana lagi?" tanyanya saat sudah naik ke motornya.
"Zahra mau kado, Fahmi pulang aja." ucap Zahra tidak enak.
Fahmi menghela napas pelan, lalu kembali turun. "Biar gue anter." sambil membawa Zahra duduk di belakang jok motornya, membuat Zahra memekik terkejut.
Dan tanpa mereka sadari seseorang memotret mereka, orang itu tersenyum miring, lalu pergi dari tempat itu.
---oOo---
Ting!
Leo menoleh kesamping, lalu mengambil ponselnya di nakas. Matanya menyerit heran saat melihat ada orang yang tidak ia kenali mengirimkan sesuatu, itu berupa foto.
Lalu ia pun langsung mengunduh foto itu, ia jadi penasaran dengan foto itu atau mungkin bisa jadi orang yang ia tidak kenal salah kirim, Leo mengacuhkan bahunya, ia tidak peduli jika itu benaran.
Matanya melotot terkejut saat sudah mengunduh foto itu, ia mengepalkan kedua tangannya kuat, matanya menatap tajam.
Sial!
__ADS_1
"Awas lo!"
Ig : ine_fn8