
"Makasih yah." ucap Zahra pelan, lalu dengan lelah ia berjalan masuk kedalam rumah.
Melihat Zahra seperti itu Leo menghela napas kasar, jujur melihat Zahra tidak ceria seperti biasanya, membuatnya semakin geram dengan semua ini.
Mengapa harus Zahra?
Lalu tidak lama Leo langsung kembali mengendarai mobilnya, pergi meninggalkan halaman rumah Zahra.
Di dalam kamar, Zahra langsung merebahkan tubuhnya, bahkan ia tidak langsung melihat keadaan Ibunya, hari ini sangat melelahkan.
Zahra memejamkan matanya, ia belum sanggup untuk menceritakan semua kejadian tadi pada Ibunya.
Perlahan air matanya keluar, ia tidak tahu lagi harus bagaimana, selain menangis, menangis dan menangis, hanya itu.
Drt drt drt....
Zahra langsung bangun dari tidurannya, lalu ia menghapus air matanya cepat, setelah itu baru ia mengangkat telepon.
"Hallo, Rin." ucapnya sambil terus berusaha menahan agar air matanya tidak kembali keluar lagi.
"Hallo Ra. Lo dimana? Lo baik-baik ajakan? Entah kenapa gue khawatir banget sama lo." ucap Ririn cemas.
Zahra menghela napas, lalu berdiri. Ia memandangi bintang-bintang di atas langit yang bergitu indah pada malam hari ini. Namun, tidak seindah kehidupannya.
"Zahra baik-baik aja, Ra." ucapnya.
Di sana Ririn menghela napas lega. "Alhamdulillah kalau lo baik-baik aja. Sumpah Ra tadi gue perasaannya gak enak banget sama lo." sambil merebahkan tubuhnya di kasur.
Zahra tersenyum tipis, lalu duduk di meja belajarnya. "Ririn tenang aja, Zahra baik-baik aja ko. Malahan tadi Zahra pulang bareng sama Leo." lalu tertawa pelan.
"Seriusan? Gak ada apa-apa kan? Jujur Ra, gue ngerasa gak enak banget sama lo." Ririn diam sejenak, lalu ia duduk, "Tapi sekarang gue udah lega, karena lo gak ada apa-apa." lalu menghela napas lega.
Zahra kembali tersenyum, ternyata Ririn mempunyai pirasat yang begitu kuat mengenainya.
Jujur Zahra bersyukur sekali bisa memiliki sahabat seperti Ririn, jika tidak ada Ririn, entahlah ia tidak tahu.
"Udah dulu yah, Rin, Zahra mau tidur." ucapnya.
"Yaudah gue juga mau tidur. Oh Iyah nanti pagi gue jemput lo yah."
"Iyah Rin, makasih yah. Maaf jadi ngerepotin, soalnya motor Zahra masih di bengkel."
"Santai aja kali Ra, kalaupun motor lo gak di bengkel juga, gue bakal selalu jemput lo, kalau lo mau." ucapnya tulus.
"Makasih yah, Rin. Yaudah Zahra tutup yah teleponnya." ucapnya, lalu menutup teleponnya.
Zahra meletakkan handphone di nakas, lalu langsung tiduran. Hari ini cukup melelahkan, ia butuh tenaga untuk besok.
...---oOo---...
__ADS_1
"Ra, gue pengen banget lo nginep di rumah gue." Ririn menatap Zahra, ia berharap Zahra mau, "Mau yah Ra."
"Bukannya gak mau, Rin. Tapi siapa yang jagain Ibu, kalau Zahra nginep?" Zahra meminum minumannya, lalu menatap Ririn, "Maaf yah Rin.' ucapnya dengan suara pelan, ia merasa jadi tidak enak.
Ririn tersenyum, lalu mengangguk paham. "Iyah Ra. Tapi kalau gimana gue yang nginep di rumah lo." dengan nada suara yang begitu senang.
"Tapi......"
"Rumah Zahra gak sebagus rumah Ririn, nanti yang ada Ririn gak nyaman." Zahra menatap Ririn, bukannya ia melarang. Tapi, Ririn dan dirinya jauh berbeda, nanti yang ada Ririn akan tidak suka.
Ririn menggeleng. "Gue mau ko Ra, malahan gue pengen banget tidur di rumah lo. Kita belum pernah tau nginep kaya gitu."
Zahra diam sejenak, ia tidak tahu Ririn akan suka atau tidak.
"Tapi, kalau Ririn gak nyaman di rumah Zahra. Zahra minta maaf yah." ucapnya.
"Zahra jangan ngomong begitu dong, jujur gue gak suka lo ngomong ngerendah gitu." ucapnya, jujur Ririn sangat tidak suka dengan Zahra kalau membahas soal perbedaan, padahalkan di mata tuhan sama saja....
Tidak ada perbedaan.
Zahra mengangguk pelan, lalu tersenyum. "Iyah, Rin." ucapnya, membuat Ririn memekik senang.
"Malem ini yah, Ra." lalu langsung menarik tangan Zahra pelan menuju kelas.
...---oOo---...
Seperti yang mereka rencanakan, malam ini Ririn akan menginap di rumah Zahra, rasanya Ririn senang sekali.
Zahra menoleh. "Ada di dalem. Ayo masuk." sambil membukakan pintu rumah.
Saat di dalam, Ririn melihat-lihat di sekitaran, lalu perlahan ia mengikuti Zahra di belakang.
Zahra tersenyum senang, ternyata Ibunya sedang tidur. Alhamdulillah kali ini ibunya tidak mengamuk.
"Ibu lagi tidur." ucapnya pelan, lalu perlahan menyelimuti tubuh Rita sampai dada.
Ririn ikut tersenyum, ia ikut memandangi wajah Ibunya Zahra.
"Yaudah yuk ke kamar Zahra." ajaknya, setelah itu mereka masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar, Ririn langsung naik ke atas kasur, lalu langsung merebahkan tubuhnya dengan nyaman.
Zahra geleng-geleng kepala, ia tersenyum dengan kelakuan Ririn.
Lalu Ririn duduk di kasur sambil memeluk bantal. "Ra." panggilnya, membuat Zahra langsung menoleh.
"Gue boleh gak nginep di rumah lo selama dua hari?" tanyanya.
Zahra berpikir sejenak. "Boleh." lalu tersenyum, setelah itu ia duduk di kursi belajarnya sambil menghadap ke arah Ririn.
__ADS_1
Ririn memekik senang, saking senangnya ia langsung memeluk Zahra dengan cepat, membuat Zahra tertawa pelan.
"Ra, main game yuk." ajak Ririn dengan semangat, tanpa menjawab Ririn langsung menarik tangan Zahra ke kasur.
"Gamenya saling jujur yah, nanti suit dan kalau yang menang bakal nanya banyak hal dan pastinya harus di jawab dengan jujur." ucapnya jelas.
Zahra mengangguk setuju. "Oke, kita mulai."
"Suuuuuitt." ucap mereka bersamaan sambil suit.
"Yah kalah." ucap Ririn lesu, ternyata ia kalah suit dari Zahra.
Zahra tertawa, lalu ia berpikir-pikir sejak, untuk ia tanyakan pada Ririn dan AHA! ia menemukannya.
"Jawab jujur yah Rin." ucapnya sambil tersenyum, membuat Ririn semakin penasaran.
"Hayo ngaku siapa orang yang Ririn suka?" tanyanya sambil menggoda Ririn, membuat Ririn jadi tersipu malu.
Ririn berpikir, lalu menggeleng. "Gak ada." jawabnya.
Zahra melongo kaget, lalu tangan kanannya ia letakkan di kening Ririn.
"Seriusan gak ada?" tanyanya tidak percaya.
Ririn mengangguk. "Seriuslah Ra. Orang gue jawabnya jujur gini." jawabnya jujur.
"Iyah, iyah, Zahra percaya." ucapnya.
"Ayo suit lagi." ajaknya.
"Suuuuuittt." ucap mereka bersamaan.
Ririn tersenyum senang, akhirnya ia bisa menang dari Zahra, lalu ia berpikir sejenak.
"Jawab jujur yah Ra." ucapnya, lalu menantap Zahra serius.
"Maaf yah kalau misalkan nyakitin perasaan lo." Ririn diam sejenak, lalu menghembuskan napasnya, "Gue mau tanya, maaf gue belum pernah liat bokap lo, apa gue boleh liat Ra?" tanyanya dengan hati-hati, takut-takut Zahra akan marah padanya.
Keduanya diam, hanya ada suara detakkan jam dinding saja, membuat Ririn merasa bersalah, ia menyesal telah menanya seperti itu.
Sungguh.
"Maaf Ra, gue salah tanya. Gue ganti pertanyaan yah." ucapnya pelan.
Zahra tersenyum, lalu perlahan ia mendekati meja belajarnya, hal itu membuat Ririn jadi penasaran, lalu ia pun menghampiri Zahra.
Zahra membuka laci meja belajarnya, kemudian mengambil sesuatu di dalam sana, membuat Ririn semakin tambah penasaran.
"Ini." sambil memperlihatkan foto seseorang, foto itu sedikit terlihat sudah luntur,. mungkin karena sudah lama.
__ADS_1
"Ini ayah Zahra." ucapnya sambil terus melihat foto itu dengan senyum lebarnya.