
"Aduh cepetan dong jalannya!" Caca menatap Zahra kesal, sehingga membuat Zahra menghela napas kasar, kedua tangan membawa banyak sekali barang belian Caca.
"Iyah Ca, ini juga udah cepet." sambil susah payah membawa barang Caca.
Caca memutar bola mata malas, lalu kembali jalan.
Zahra langsung buru-buru jalan, ia jalan di belakang Caca dan **Leo**. Dari tadi dirinya hanya membawa barang-barang mereka saja.
"Sayang main itu yuk." ajak Caca sambil menunjuk permainan lempar bola.
Leo mengangguk pelan, hal itu membuat Caca tersenyum senang, lalu dengan perasaan senang Caca menarik tangan Leo menuju permainan itu.
Zahra menghela napas kasar, ternyata dirinya dari tadi di kerjain. Dengan perasaan lelah Zahra duduk yang tidak jauh dari mereka. Ia memijat-mijat kakinya yang terasa pegal, sandari tadi ia berdiri terus.
Zahra menyenderkan punggungnya ke kursi, memperhatikan mereka berdua. Zahra tersenyum tipis, rasanya sakit melihat pacar sendiri lebih dekat dengan orang lain, dibandingkan dengan dirinya sendiri.
Baru kali ini Zahra melihat Leo tertawa seperti itu, biasanya Leo kalau senang hanya tersenyum, itupun cuma tipis. Tapi kenapa dengan Caca, Leo berbeda sekali?
Hufttt.... Zahra menghela napas kasar.
Hampir dua puluh menitan mereka bermain, hal itu membuat Zahra kesal menunggu mereka. Lalu dengan itu ia memutuskan untuk menghampiri mereka.
"Leo ayo pulang." ajaknya tiba-tiba, membuat Leo menatap Zahra sambil menaikkan sebelah alisnya.
Caca memutar bola mata malas, ia menatap Zahra tidak suka. "Pulang aja sana, gak usah ajak-ajak cowok gue segala!"
Zahra menatap Caca heran. "Tapikan Leo pacarnya Zahra, bukan Caca." jelasnya, membuat Caca semakin menatap Zahra kesal.
"Iyahkan Leo?" tanyanya.
Leo menatap Zahra datar, lalu menghela napas kasar. Pusing dengan dua perempuan di hadapannya, lebih baik ia pergi dari hadapan mereka.
"Ehhh, Leo mau kemana?!" ucap mereka bersamaan.
"Apaan sih ikut-ikutan segala!" sewot Caca.
"Siapa juga yang mau ikut-ikutan Caca." lalu Zahra langsung mengejar Leo, hal itu membuat Caca semakin menggeram kesal.
Caca menghela napas kasar, astaga! Ia lupa barang beliannya tertinggal, lalu dengan segera balik lagi mengambil barangnya.
"Dasar si Zahra, bukannya bawa barang gue!" kesalnya.
...---oOo---...
"Leo tunggu." Zahra tersenyum lebar, "Zahra ikut yah." berharap Leo mau mengantarkan dirinya pulang.
Leo menatap Zahra datar, lalu ia menyenderkan ke mobil.
Zahra pun sama ia ikut menyenderkan punggungnya ke mobil. "Leo tunggu siapa? Ayo anter Zahra pulang."
__ADS_1
Leo menghela napas kasar, ia menatap Zahra datar. "Awas."
Zahra menyerit heran. "Awas kemana?" tanyanya bingung.
Lagi dan lagi Leo menghela napas kasar. "Awas ada cewek gue!" lalu dengan kasar ia menarik Zahra agar tidak bersandaran lagi.
Untung saja Zahra tidak jatuh, Zahra menatap Leo. "Leo kasar banget."
"Bodo!" kemudian ia tersenyum saat melihat Caca yang sedang kewalahan membawa barang belanjaannya.
Leo ikut membantu, lalu memasukkan barang belanjaannya ke dalam mobil, setelah itu membukakan pintu mobil untuk Caca.
Caca tersenyum senang. "Makasih sayang." lalu menatap Zahra sambil tersenyum miring, setelah itu barulah masuk.
Leo tersenyum tipis, sebelum masuk mobil ia menatap Zahra sebentar, kemudian langsung masuk kedalam mobil, setelah itu langsung pergi meninggalkan Zahra di tempat.
Zahra melihat kepergian mobil itu sampai menghilang dari hadapannya. Ia tersenyum lirih, ia kira Leo akan berubah dan akan lebih memilih dirinya. Namun nyatanya? sama saja.
Zahra langsung menghapus air matanya secara kasar, lalu tersenyum lebar. "Zahra yakin Leo pasti berubah."
...---oOo---...
"Assalamu'alaikum." ucap Zahra sambil membuka pintu rumah.
Kemudian Zahra masuk ke dalam kamar ibunya, ia tersenyum melihat ibunya sedang tidur, dengan pelan-pelan ia menyelimuti tubuh ibunya hingga dada dan jangan lupakan ia mencium kening ibunya lama, setelah itu barulah langsung menuju kamarnya.
Tidak lama kemudian, akhirnya tugasnya sudah terselesaikan. Zahra menghela napas lega, lalu menyenderkan punggungnya ke kursi.
Ting!
Zahra langsung mengambil ponselnya, tidak lama kemudian ia tersenyum senang saat melihat siapa yang mengirimkan pesan kepadanya.
Ternyata dia......
"Leo." ucapnya pelan sambil tersenyum.
Leo
Sekarang ke gedung biasa!
Zahra terkejut saat membaca pesan itu, jantungnya berdetak lebih cepat, keringatnya sudah panas dingin. Zahra tahu maksud dari pesan itu.
"Ya Allah Zahra harus apa?" tanyanya cemas, Zahra begitu ketakutan.
Ting!
Leo
*Cepet Bangsat*!
__ADS_1
Zahra menelan ludahnya susah payahnya, ia tidak tahu harus jawab seperti apa. Jujur ia tidak mau ketemu Leo jika sudah seperti itu pesannya.
Lalu dengan tangan gemetaran, Zahra membalas pesannya, ia takut Leo akan semakin marah jika tidak membalas pesannya.
^^^Mau ngapain Leo? ini udah malem^^^
Zahra mencoba untuk tenang, ia tidak boleh mikir ke hal lain, mungkin Leo tidak bermaksud ke seperti itu.
Ting!
Leo
Cepet!
Atau mau gue putusin?!"
Zahra melotot terkejut, Leo selalu saja mengancam seperti itu jika dirinya tidak mau. Zahra diam sejenak, lalu kembali membalas pesan itu.
^^^Tapi ini udah malem Leo, nanti aja yah besok lagi aja^^^
Cepetan!
Gue gak mau tau, jam sepuluh lo harus udah ada di tempat, gue gak mau tau!
Atau lo bakal tau akibatnya apa....
"Ya Allah gimana ini, Zahra takut." ucapnya begitu panik.
Zahra begitu takut, ia bingung harus ke sana atau tidak?
Lalu Zahra menghela napas kasar, kemudian ia mengambil kunci motornya, setelah itu ia memutuskan untuk datang ke gedung itu.
Selama di perjalanan Zahra begitu memikirkan bagaimana nanti di sana, ia takut sekali dengan tempat itu, apalagi di sananya ada Leo.
Didalam hati Zahra tersebut berdoa meminta perlindungan sampai di depan gedung itu pun ia terus berdoa.
Zahra turun dari motornya, lalu membuka helmnya. Zahra melihat gedung itu takut, pasalnya gedung itu sudah tua dan sudah tidak terpakai lagi. Ia menelan ludahnya pun susah, sangking takutnya.
Kedua kaki dan tangannya sudah bergemetaran, lalu Zahra menyimpan helmnya ke motor. Kemudian dengan pelan masuk ke dalam gedung itu.
Di dalam sana tidak terlalu gelap, karena ada sedikit cahaya bantuan dari bulan dan lampu yang terkena. Perlahan-lahan ia menaiki tangga sampai ke atas gedung tinggi itu, Zahra dapat melihat Leo yang membelakangi dirinya sambil berdiri.
Dengan perasaan takut ia kembali berjalan menghampiri Leo, jujur pirasatnya bergitu buruk, melihat punggungnya saja Zahra bisa menebak, pasti Leo sedang ada sesuatu.
Leo berbalik badan, ia tersenyum miring. "Akhirnya datang juga."
Leo tersenyum devil, perlahan mendekati Zahra, membuat Zahra jadi was-was, lalu perlahan ia mundur, melihat hal itu membuat Leo semakin senang.
ig : ine_fn8
__ADS_1