
"Gio!" teriak Riska dan Abel bersamaan saat melihat Gio yang tidak jauh dari penglihatan mereka, dan Gio yang menyadari hal itu, ia langsung menghindari menjauh.
"Lo apaan sih ikut-ikutan!" Riska menatap Abel kesal.
"Apaan sih orang gue gak ikutin lo juga!" ucap Abel tak mau kalah.
Riska memutar bola mata malas, ia menatap Abel sambil mendengus kesal.
"Orang gue yang duluan juga!" kesalnya.
"Orang gue juga!" kesalnya juga tak mau kalah.
Caca memutar bola mata malas, kedua sahabatnya ini selalu saja memperebutkan yang tidak jelas, membuat Caca menutup kedua telinganya pusing.
"Lo pada ngapain sih jadi rebutan gitu, hah?!" Caca menatap mereka berdua kesal, lalu melipatkan kedua tangannya di dada.
"Kaya gak ada cowok lain aja!" gumamnya. Tapi, masih bisa di dengar oleh mereka.
"Gue maunya dia!" ucap mereka kompak sambil menatap Caca, lalu mereka berdua menatap satu sama lain.
"Yaela cowok masih banyak kali, bukan si Gio doang!" ucap Caca.
Jelas Riska dan Abel menatap Caca kesal.
"Udahlah ngalah aja, saran gue mending diantara kalian harus ada yang ngalah, biar kelar tuh semua!" lanjutannya lagi.
"Gak bisa!" jawab mereka kompak lagi, membuat Caca mengacuhkan bahunya, lalu pergi dari hadapan mereka dan setelah itu diikuti oleh Riska dan Abel.
...---oOo---...
"Ra." panggil Ririn.
Zahra yang dari tadi membaca, ia menoleh ke samping kirinya. "Ada apa Rin?" lalu kembali membaca buku.
"Lo masih marah yah sama gue?" tanyanya pelan.
Zahra menghela napas kasar, lalu meletakkan bukunya, setelah itu menghadap ke arah Ririn. "Zahra gak marah. Soal kemaren lupain aja."
Ririn mengangkat sudut bibirnya, ia tersenyum lebar, lalu langsung memeluk Zahra. "Gue kira lo marah Ra." lalu melepaskan pelukannya.
"Ngapain Zahra marah? Katanya marahan itu gak baik, apalagi sama sahabat sendiri." ucapnya, membuat Ririn kembali tersenyum senang.
"Pokoknya lo sahabat terbaik gue, Ra!"
"Ehh Ra, liat tuh." bisik Ririn sambil melihat kearah pintu kelas.
Zahra mengikuti arah pandang Ririn, ia tersenyum tipis saat melihat Caca dan Leo yang sedang bermesra-mesraan.
"Gila tuh orang. Gak ngotak apa ada pacarnya di sini!" Ririn melihat mereka marah, lalu berdiri dari duduknya, membuat Zahra ikutan berdiri.
__ADS_1
"Bener-bener keterlaluan tuh si cendol, cari gara-gara mulu!" ucapnya kesal sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Ehh mau ngapain?" tanya Zahra sambil memegangi tangan Ririn saat hendak menghampiri mereka.
Ririn menghela napas kasar, ia menatap Zahra. "Ra, gue gak terima lo digituin sama tuh si cendol, harusnya tuh si cendol tau diri."
"Udahlah Rin gak usah, lagian buat apa?" ucapnya sambil mendudukkan Ririn kembali.
"Buat apa?! Ra lo dimana sih rasa marah lo sama si Caca itu, perasaan lo iklas amat digituin!" kesalnya.
"Ririn dengerin Zahra." ucapnya, membuat Ririn langsung menatap Zahra serius.
"Semuanya gak harus dilakuin dengan amarah, apalagi dendam, itu gak baik." lalu beralih melihat mereka yang sedang bercanda ria.
"Zahra yakin Leo pasti berubah." lanjutnya lagi sambil tersenyum.
Ririn memutar bola mata malas, lalu menyenderkan punggungnya di kursi. "Terserahlah."
"Pagi anak-anak!" ucap pak Dino selaku dosen.
Pak Dino melihat Caca dan Leo yang masih bercanda ria, mereka masih belum menyadari kehadiran dosen itu.
"Ekhem!" dehemnya. Namun, mereka sama sekali belum menyadari.
Seisi kelas ikut memperhatikan mereka, ada sebagian mereka tertawa kecil dan ada juga sebagian mereka merasa was-was, karena pak Dino melihat mereka berdua dengan wajah yang menahan amarah.
"EKHEM!" dehemnya keras, membuat mereka berdua langsung tersadar.
"Kenapa gak kasih tau gue!" bisiknya pelan.
Riska dan Abel yang dari tadi tertawa kecil, langsung menutup mulutnya. Mereka menatap Caca takut. "Hehehe maaf Ca, kita lupa." lalu menyengir lebar.
Caca menghela napas kasar, lalu ia beralih menatap Leo.
"Leo gimana ini, aku malu." bisiknya.
Leo hanya memasang wajah datarnya, bahkan ia sama sekali tidak merasa malu, sekalipun ketahun oleh dosen.
Lagian ia tidak berbuat macam-macam, buat apa malu?
"Leo sana balik ke kelas kamu." perintah pak Dino.
Leo menatap dosen itu datar, ia memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya. "Saya mau dikelas ini pak." ucapnya, membuat seisi kelas terkejut.
Pak Dino menatap Leo. "Jangan ngaco kamu, sana balik ke kelas kamu dan kamu Caca cepat duduk di kursi kamu!" ucapnya, lalu dengan segera Caca duduk di kursinya.
"Gak pak! Saya mau di sini, lagian saya sama kelas ini satu prodi, ya cuma beda kelas doang." ucapnya santai.
Pak Dino menghela napas kasar. "Duduk." perintahnya.
__ADS_1
Lalu dengan gaya coolnya Leo duduk di kursi dekat Gio dan itu bersebelahan dengan Zahra.
Zahra melirik ke samping, ia tidak menyangka Leo akan pindah kelas.
"Lo ngapain pindah?" bisik Gio.
Leo mengacuhkan bahunya, lalu menatap Gio datar. "Masalah? Lagian sama aja."
Gio mendengus kesal, lalu ia berbalik badan. "Mi." panggilnya pelan.
Fahmi langsung menatap Gio, ia memainkan satu alisnya. "Apaan?"
"Gak jadi deh." ucapnya, lalu langsung kembali ke posisi semula.
Fahmi mendengus kesal. "Dasar kaya cewek lo, pake gak jadi segala!" ucapnya kesal, lalu kembali fokus ke mata kuliah hari ini.
...---oOo---...
"Akhirnya istirahat juga." ucap Ririn sambil merentangkan kedua tangannya.
Zahra tersenyum, ia geleng-geleng kepala melihat kelakuan Ririn. "Kaya gak pernah istirahat aja Rin." lalu tertawa pelan.
Sontak Ririn langsung menatap Zahra. "Lo bayangin tadi Ra, pak killer itu nerangin kaya lagi ceramah tau gak."
Zahra hanya tersenyum, lalu ia kembali memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
"Ra, lo ko gak jualan?" tanya Ririn.
Zahra berhenti sejenak, ia menatap ririn. "Nggak Rin. Zahra lagi ngumpulin modal lagi." lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.
Ririn menatap Zahra kasian, lalu mengambil sesuatu di saku bajunya. "Nih Ra, buat modal lo." sambil memberikan uang lima lembar berwarna merah.
"Gak usah Rin, urusan itu biar Zahra yang cari sendiri." tolaknya secara halus.
"Gue iklas mau bantu lo Ra, masa gue sebagai sahabat gak bantu lo, lagain biar lo cepat juga jualannya." sambil kembali menyodorkan uangnya.
Zahra menggeleng. "Gak usah Rin, mending Ririn tabung aja uangnya." tolaknya lagi, membuat Ririn menghela napas kasar.
"Gue iklas, Ra." ucapnya lagi.
"Iyah Zahra tau Ririn iklas mau bantu Zahra. Tapi Rin, Zahra gak mau ngerepotin Ririn terus-terusan."
"Gue sama sekali gak merasa direpotin Ra, ini gue iklas." lagi dan lagi Ririn memberikan uangnya.
Zahra tersenyum, lalu menggeleng pelan. "Lebih baik Ririn simpen uangnya, Zahra masih bisa ko cari uangnya sendiri."
"Udah yuk kita ke kantin." ajaknya, lalu langsung menarik Ririn pelan menuju kantin.
Sandari tadi Leo mendengarkan obrolan mereka, ternyata sesusah itu Zahra mencari uang dan kenapa lagi Zahra menolak pemberian Ririn?
__ADS_1
Leo menghela napas kasar, lalu langsung keluar dari kelas menuju kantin. Ia tidak mau ambil pusing permasalahan Zahra barusan, biarkan saja, lagian sudah besar.