Lukisan Semesta Amerta

Lukisan Semesta Amerta
10. Gak Usah Geer!


__ADS_3

Setelah menemani atasnya, Zahra langsung pulang.


Saat masuk ke dalam rumah, pertama kali yang ia cari adalah Ibunya.


Zahra meletakkan jualan "Ibu?" panggilnya sambil mencari-cari ke segala penjuru arah.


"IBU!" Zahra langsung berlari ke arah Rita, ia langsung membuang pisau yang siap menyakiti tangan Ibunya, untung saja ia segera datang, kalau tidak......


Bisa gawat.


"Ibu apa-apaan? Jangan kaya gini Bu, Zahra mohon." Zahra menatap Rita memohon, ia memegangi kedua tangan ibunya.


Rita menghempaskan tangan Zahra, ia membelai pipi Zahra, kemudian menjambak rambut Zahra ke belakang. "Hai anak haram?!" Rita tertawa seram.


Zahra meringis kesakitan, ia berusaha mencoba melepaskan jambakan Ibunya. "Bu, sa-sakit." lirihnya, ia memejamkan matanya saat Rita menjambaknya lebih kencang.


Rita tersenyum devil, ia menatap Zahra tajam. "Mau mati bersamaku?" tanyanya, lalu kembali tertawa.


"Bu i-ini u-udah ma-malem. Be-besok la-lagi aja yah, ma-main mati-matiannya." ucapnya takut.


Rita menghempaskan Zahra, lalu tersenyum. "Besok?"


Zahra memegangi kepalanya, lalu mengangguk. "Iyah besok. Ini udah malem, kita tidur dulu." ajaknya.


Rita bangun dari jongkoknya, lalu ia tertawa sambil mengacak-acak rambutnya. "Yey besok. Besok saya akan bunuh kamu! hahahaha."


Zahra bangun, lalu ia menuntut ibunya menuju kamar. "Iyah besok, nanti mainnya di lanjutin lagi."


...---o0o---...


Seperti biasa, Zahra bangun pagi. Ia langsung menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Ibunya.


Sarapan pagi ini cukup sederhana, hanya dengan nasi goreng dan di tambah telur saja. Itu membuat Zahra bersyukur karena pagi ini ia masih bisa makan.


Setelah semuanya selesai, barulah ia menghampiri Ibunya yang sedang nyanyi-nyanyi tidak jelas sambil menyisir boneka barbienya.


Zahra tersenyum lebar, perlahan ia mendekat. "Bu, ayo kita sarapan." ajaknya sambil tersenyum.


Rita menatap Zahra horor. "Gak mau!" ketusnya, lalu kembali menyisirkan boneka barbie tersebut.

__ADS_1


Zahra jongkok di  hadapan Rita, ia ikut mengelus-elus boneka barbie ibunya. "Bonekanya cantik, sama kaya yang punya." lalu mencolek ujung hidung Ibunya.


Rita tersenyum kecil, ia menatap Zahra, lalu kembali menyisir bonekanya, setelah itu memeluk boneka tersebut.


Melihat Ibunya seperti itu, Zahra hanya bisa tersenyum. Di dalam hatinya ia menangis. Jika boleh jujur ia sedih sekali melihat Ibunya seperti itu, harusnya dirinya saja yang sakit, jangan ibunya.


Rencana Allah begitu tidak terduga, dibalik kesedihan pasti ada kesenangan. Zahra berharap suatu saat nanti ia merasakan hal itu, merasakan seperti orang-orang yang mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Ia hanya tinggal menunggu waktu saja, menunggu suatu saat nanti itu akan terjadi pada dirinya.


"Ayo kita sarapan, nanti keburu dingin makannya." ajak Zahra halus.


Rita tidak peduli, bahkan ia terus berbicara dengan bonekanya.


Zahra menghela napas sabar, ia bangkit dari jongkoknya, setelah itu pergi menuju dapur.


Setelah beberapa menit Zahra membawa satu porsi nasi goreng serta satu gelas air minum, lalu ia duduk di samping Ibunya dan meletakkan minumannya di meja.


"Ayo Bu buka mulutnya, aaaaa pesawat terbang ngeong-ngeong, aaaaaa." Zahra tersenyum sambil melayangkan sendok yang sudah berisi nasi goreng tersebut.


Rita bertepuk tangan sanang, lalu tertawa melihat sendok itu melayang-layang seperti pesawat terbang. Semakin lama sendok itu semakin dekat ke arahnya, lalu dengan cepat Rita membuka mulutnya lebar-lebar.


"Yeyyyy!" Zahra ikut tertawa saat Ibunya mau membuka mulut dan ia langsung menyuapi ibunya.


Rita mengunyah dengan semangat. "Aaaaaa." pintanya lagi sambil membuka mulutnya kembali.


Rita terus tertawa, ia senang sekali dan bahkan ia sampai melupakan boneka barbienya.


...---o0o---...


"RISOL, RISOL!" hari ini Zahra berjualan di taman, karena ini hari minggu, kuliah pun ikut libur.


"RISOLNYA DAN MASIH BANYAK ANEKA RAGAM LAINNYA." Zahra berteriak, hari ini ia senang sekali, karena risol buatannya banyak yang suka dan banyak yang beli dan ini tinggal sedikit lagi akan habis.


"Ehhh jualan Zahra!" Zahra melotot terkejut, ia berusaha merebut jualannya dari tangan seseorang yang mengambil darinya.


Orang itu membuka topinya, membiarkan rambutnya tertiup oleh angin. "Biar gue bantu." ucapnya datar.


"Leo?" Zahra menatap Leo tidak percaya, ia tidak menyangka dengan kehadirannya.


Leo menaikan sebelah alisnya. "Kenapa?" tanyanya tanpa ekspresi.

__ADS_1


Zahra menggeleng cepat. "Nggak kenapa-kenapa. Sini biar Zahra aja." sambil berusaha mengambil alih jualannya.


Leo sedikit menjauh, ia menatap Zahra. "Lo teriak, gue bawa!" setelah itu langsung jalan duluan.


Zahra menghembuskan napasnya kasar, dan tidak lama ia tersenyum tipis, ternyata Leo mau membantu dirinya, dengan semangat empat lima ia langsung menyusul.


Mereka berjalan beriringan, rasanya Zahra ingin terbang. Karena jarang sekali Leo seperti itu, mungkin ia kejedot jadi baik seperti itu. Zahra berharap Leo akan selalu seperti itu kepadanya.


"Teriak bukan ngeliatin gue!" ucapnya tanpa menatap Zahra.


Zahra menyengir lebar, rupanya ia ketahuan. Lalu ia kembali berteriak.


"RISOL, RISOL!"  Zahra berhenti, ia tersenyum pada pasangan suami istri yang sedang duduk di kursi, "Risolnya Pak, Bu?" ucapnya ramah.


Sepasang suami istri itu menetap mereka, mereka tersenyum saat Zahra tersenyum kearah mereka.


"Berapaan?" tanya ibu itu sambil melihat kearah jualannya.


"Cuma sepuluh ribu sebungkusnya Bu." jawabnya. Lalu menarik lengan Leo pelan agar lebih dekat, setelah itu mengambil alih dagangannya.


Sepasang suami-istri itu memilih-milih, lalu mengangguk. "Beli dua bungkus yah." ucap ibu itu.


Zahra tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, lalu membungkus yang mereka inginkan. "Ini bu." sambil memberikan pada ibu tersebut.


Ibu itu menerimanya. "Ini uangnya." sambil menyerahkan uang dua puluh ribu kepadanya.


Zahra menerimanya. "Terima kasih Bu, Pak." sambil tersenyum ramah, setelah itu kembali melanjutkan berjualan.


Dari tadi Leo hanya memperhatikan saja, sebenarnya ia pegel yang dari tadi jalan terus.


"Duduk dulu." ucapnya pada Leo, ia tahu jika Leo capek.


Mereka duduk di kursi panjang. Leo menyenderkan punggungnya pada kursi, lalu melihat Zahra yang sedang menghitung uang.


Zahra tersenyum senang, setelah apa yang ia hitung tadi, akhirnya mendapatkan hasil yang menguntungkan. "Alhamdulillah. Makasih Leo kamu udah mau bantu Zahra." ucapnya senang sambil menatap Leo.


Leo hanya diam, ia terus menatap Zahra, membuat Zahra jadi salah tingkah dibuatnya.


"Kenapa? Ko ngeliatin Zahra kaya gitu?" tanyanya, lalu memegangi wajahnya, takut-takut ada sesuatu yang aneh.

__ADS_1


Leo tersadar, lalu dengan cepat ia langsung membuang muka, kemudian kembali memasang wajah coolnya. "Gak usah geer!" ketusnya, sehingga membuat Zahra mengecrutkan bibirnya.


Mereka saling diam, sebenarnya Zahra bingung harus memulai percakapan dengan Leo seperti apa, karena ia yakin Leo gak bakal mau ngobrol dengannya, ditambah lagi sikap Leo yang dingin padanya. Lebih baik ia diam saja.


__ADS_2