M? For??

M? For??
10. Lari Pagi Semangat Pagi


__ADS_3

Seminggu kemudian paska kejadian malam itu, Maira tak lagi memberi tawaran pada Maura untuk bertukar peran. Di pagi ini, cuaca terlihat mendung. Namun, Maura masih sibuk dalam memilih topi yang akan dikenakannya. Rencananya,pada hari ini, ia ingin mengantar sang Ayah untuk periksa kesehatan di Klinik dekat rumah mereka. Mereka sengaja tidak menaiki kendaraan yang mereka miliki,justru berjalan kaki jauh lebih sehat menurut mereka. Apalagi suasana pagi, membuat mereka semakin semangat untuk berlari. Anggap saja lari marathon dengan titik finish di Klinik.


"Ayo, ra!" Teriak ayah dari lantai bawah. Maura pun langsung bergegas menuruni anak tangga dan menemui ayahnya yang sudah siap sedari tadi.


"Maira gak ikut? Kalian jarang loh keluar rumah bareng." Ujar ayah sembari mengikat tali sepatunya yang tiba-tiba lepas.


"Emmm.. Maira lagi tidur,yah." Ujarnya berbohong. Padahal, Maira sedang menonton anime dikamarnya.


Ayah hanya meng-iya-kan. Dan langsung berlari kecil menuju Klinik. Maura pun langsung mengikuti langkah sang Ayah.


Setelah satu kilometer mereka berlari, mereka pun istirahat sejenak dibawah pohon besar tepi jalan. Saat ini keduanya sedang meminum sebotol air yang sedari tadi digenggam sembari berlari. Ups! Seperti biasa tentunya,sebelum itu, Maura tidak langsung meminum air dibotolnya. Justru ia meminta bantuan terlebih dulu pada sang ayah, supaya mau membukakan tutup botolnya tersebut.


"Lanjut lagi,yuk,yah! Seratus meter lagi nyampe, nih." Tutur Maura dan bangkit dari duduknya.


"Tarik tangan ayah dulu, dong! Ayah gak bisa bangun lagi,nih." Canda sang Ayah dan menjulurkan salah satu tangannya ke arah putrinya. Maura pun menarik tangan ayahnya dan kembali berlari melanjutkan perjalanan.


Baru beberapa langkah mereka berlari dari tempat peristirahatan, Maura bertemu dengan Chiko bersama ayahnya yang merupakan dosen dikampusnya.


"Ohayou gozaimasu, sensei!"(Selamat pagi,dosen!) Sapa Maura dan menghentikan langkahnya. Begitupun sang Ayah yang langsung memeluk dosen Maura yang ternyata merupakan sahabat semasa SMAnya.


"Akhirnya kita ketemu juga,sob!" Ucap Dosen Maura pada ayahnya. "Maura anak kamu?" Lanjutnya dan melihat kearah Maura.


"Iya,Maura anak saya. Sebenarnya dia punya.."


"Eh! Ayah.. mending kita lanjut larinya aja gimana? Soalnya kalau sudah setengah delapan, klinik biasanya sudah penuh, yah!" Potong Maura. Ia masih belum siap jika Chiko tahu ia memiliki saudari kembar, begitupun dengan Maira yang masih tidak mengizinkannya untuk memberitahu orang lain.


"Wah! Ternyata kalian juga mau ke klinik. Kalau begitu, kita kesana sama-sama saja. Kebetulan saya juga mau kesana untuk ngecek tekanan darah." Usul si Dosen. Mereka pun akhirnya pergi ke klinik bersama.


Selama perjalanan,Maura dan Chiko sangat asik mengobrol hingga membuat lari mereka melambat. Sedangkan, kedua orang tua mereka sudah terlihat jauh didepan. "Oh,iya.. rumah kak Chiko dimana, ya?" Tanya Maura.

__ADS_1


"Mau ngapel,ya?" Tanyanya jahil.


"Dih! Sembarangan! Aku tuh mau balikin flashdisk sama buku punya sensei. Udah lama buku itu aku pinjam. Kalau flashdisk,aku gak pinjam, kemarin tertinggal dimeja. Jadi, kubawa pulang." Ujar Maura sedikit kehabisan nafas. Tentu saja, berlari sambil bicara tentu kurang baik. Oleh karena itu, ia pun memperlambat langkahnya dengan berjalan santai, begitu pun Chiko.


Tanpa terasa, kedua ayah mereka telah sampai terlebih dahulu diklinik,melihat jalanan sudah tak ada lagi dua orang yang sedang berlari didepan mereka. "Tuh kan! Gara-gara kak Chiko, kita jadi ketinggalan." Gerutu Maura dan berlari meninggalkan Chiko.


"Loh?kok saya? Dasar cewek gak pernah salah!" Soraknya dan ikut berlari mengejar Maura.


Maura kini telah berhasil sampai diklinik dan disusul Chiko beberapa detik kemudian. Ia kini duduk disebuah kursi tunggu dengan nafas masih tak beraturan. Ia merasa sangat haus,namun sang ayah dan temannya itu sudah masuk kedalam. Maura tidak ingin masuk menyusul demi meminta dibukakan tutup botolnya. Tak ada orang lain lagi disini,karena waktu masih menunjukkan pukul 07.20 WIB dan belum ada satupun pasien yang datang kecuali ayah Maura dan juga ayah Chiko.


Hanya ada Chiko diruangan tunggu ini,ia ingin meminta bantuan,tapi merasa gengsi dengan senior di kampusnya itu. Merasa selalu diperhatikan oleh Maura,Chiko pun datang menghampirinya dan men gambil botol tersebut dari tangan Maura, lalu membukakan tutup botol tersebut.


"Nih!" Chiko mengembalikan botol tersebut pada Maura dan duduk diseberangnya.


"Makasih,kak." Ucap Maura dan tertawa kecil memamerkan gigi depannya.


Suasana hening antara keduanya. Setelah kurang lebih sepuluh menit,ayah mereka pun keluar dari sebuah ruangan dan menuju ke anak mereka masing-masing.


"Ayah tadi diceramahin sama si dokter. Ayah justru gak boleh mengonsumsi gula terlalu banyak. Padahal nih ya.. Kalau bikin teh, ayah suka yang manis. Camilan ayah juga selalu manis. Hmm.." Keluhnya.


Maura hanya terdiam dan mengambil seplastik obat yang dipegang ayahnya. "Mulai hari ini,Maura bakal jadi dokter ayah dirumah. Titik!" Tegas Maura.


"Hmmm.. Yaudah,deh!" Ucap ayah Maura dan mengusap lembut kepala anaknya tersebut.


Mereka berempat pun akhirnya kembali pulang bersama dengan berjalan kaki. Rumah mereka tidak benar-benar searah. Namun,dipertigaan sebelum rumah Maura,disebelah kanan merupakan sebuah jalan menuju rumah Chiko. Sedangkan,rumah Maura lurus-lurus saja dari klinik tersebut.


"Sensei!" Panggil Maura saat sang Dosen sudah berjalan lebih jauh dari hadapannya.


"Panggil 'Om' saja jika bukan dikampus!" Ujarnya sembari menengok ke arah Maura dan menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Emm... Om,Maura mau kasih tau kalau buku sama flashdisk masih ada di Maura. Flashdisk yang habis kita pakai dikelas kemarin, tertinggal dimeja om. Jadi,Maura bawa pulang saja daripada hilang." Kata Maura.


"Ternyata flashdisk itu ada di kamu? Om kira sudah hilang,padahal banyak file-file penting di flashdisk itu,termasuk nilai kalian." Ucapnya lega.


"Kalau begitu, nanti malam saya dan Maura akan kembalikan kerumah kamu. Sekaligus kita silaturahmi, kan?" Usul ayah Maura.


"Silahkan.. Pintu rumah kami selalu terbuka lebar untuk kalian." Ucap si dosen.


Setelah lama berbincang,ke empatnya kini dipisahkan dengan sebuah pertigaan jalan. Setelah Chiko dan ayahnya sudah berlari jauh, ayah Maura mulai terlihat lelah,dan pandangannya kini menuju ke sebuah mobil truk yang ada dibelakangnya. Ntah apa yang ada di fikiran ayahnya itu, tiba-tiba saja ia menghentikan truk tersebut dan berbincang seperti memohon tumpangan pada sang sopir.


Setelah si sopir tersebut mengangguk,ayahnya pun kembali menemui Maura. "Yok kita naik truk itu!" Ajak ayahnya bersemangat.


"What? Are you sure?" Tanyanya kaget. Tentu saja, bak dari truk tersebut terlihat kotor dan seperti bekas mengangkut singkong yang baru saja dipanen.


Ayahnya hanya mengangguk senyum dan menarik tangan putrinya agar segera masuk ke dalam bak truk yang sudah kosong itu.


Selama perjalanan,Maura hanya diam dan terlihat cemberut. Ini pertama kali bagi Maura menaiki sebuah truk karena tak ada tumpangan lain menuju kerumahnya. Toh, sedari tadi ayahnya terlihat sehat-sehat saja. Namun,setelah terpisah kembali dengan sahabatnya tersebut, ayahnya justru tidak kembali bersemangat.


"Jadi bener apa kata orang,kalau sahabat yang baik adalah penyemangat hidup yang baik." Gumam Maura dan mulai tersenyum ke arah sang ayah.


**Visual:


Maira**



Maura


__ADS_1


Ayah Maira dan Maura



__ADS_2