M? For??

M? For??
17. Serba Dadakan


__ADS_3

Dini hari, Maira mulai merasakan sakit kembali di dada kirinya. Ia baru tersadar jika obatnya telah habis sejak kemarin sore. Namun, ia lupa untuk memberi tahu sang ayah. Ia pun berusaha mengambil segelas air yang berada di meja sebelah ranjangnya. Karena jarak yang agak jauh, ia pun tak sengaja menjatuhkan gelas tersebut hingga pecah.


Mendengar pecahan itu, sang ayah yang bersebrangan kamar dengannya pun langsung terbangun dan menemui Maira yang jatuh dari ranjang tak sadarkan diri. Ia segera mengangkat putrinya dan membawanya ke rumah sakit dengan mobil pribadi miliknya.


Sesampainya di rumah sakit,Maira langsung diberi pertolongan oleh para tenaga medis. Penyakit tersebut telah di deritanya cukup lama. Namun, ia sengaja menyembunyikan penyakitnya itu kepada teman-temannya dan orang lain, bahkan Maura sekalipun tidak mengetahui penyakitnya. Maira sudah sepakat dengan sang ayah jika Maura tidak boleh mengetahui penyakitnya itu. Sudah lama ia dan sang ayah mencari pendonor jantung, namun tak ada satu pun relawan yang bersedia. Jika pun ada, jantungnya tidak cocok dengan Maira.


Puluhan alat pendukung kehidupan terpasang di sekujur tubuh Maira. Sang ayah pun tak kuasa menahan tangis melihat putrinya menderita dan berada di ambang kematian. Sejak pemeriksaan pertamanya dulu,dokter telah memvonis jika umur Maira tidak akan lama lagi. Dan itulah yang membuatnya memutuskan supaya seolah-oalah dirinya tak memiliki saudari kembar. Supaya kelak jika dirinya telah tiada, orang-orang yang Maira sayangi tidak merasakan kehilangan dirinya. Ia berharap, mereka akan menganggap Maura sebagai dirinya sendiri.


Sang Ayah kini terduduk lemas di bangku koridor rumah sakit sembari memerhatikan jam tangannya. Dua jam sudah ia menunggu,tapi kabar tentang putrinya masih belum ia ketahui.


Beberapa menit kemudian, dokter pun keluar dari ruangan UGD,tempat Maira di rawat.


"Bagaimana keadaan anak saya, dok?" Tanya sang ayah khawatir setelah berjalan mendekat ke arah dokter.


"Saya sudah sering kali memberitahu bapak untuk segera mencarikan pendonor untuk putri bapak. Supaya kami bisa segera melakukan transplantasi jantung pada Maira." Jelas dokter.


"Saya sudah berusaha, tetapi setiap ada pendonor yang bersedia, jantungnya selalu tidak cocok dengan anak saya, dok."


"Kalau begitu, anak bapak pasti tidak akan bisa tertolong pak. Penyakitnya sudah parah dan rumah sakit di luar negerilah yang mampu merawat dengan baik putri bapak. Karena, alat-alat di rumah sakit ini sangat terbatas, pak." Ucap sang Dokter dan semakin membuat kekhawatiran. "Kalau begitu, saya tinggal dulu ya,pak? Masih ada pasien lain diruangan sana." Pamitnya sebelum pergi menuju kamar pasien lainnya.


***


"🎶Bangun tidur ku terus mandi, tidak lupa menggosok gigi, habis mandi ku tolong ayah, membersihkan tempat tidurku.🎶" Maura bernyanyi setelah keluar dari kamar mandinya. Ia kini segera berganti pakaian dan menuju ruang tengah sembari mengelap rambutnya yang basah itu dengan handuk kecil di kedua tangannya.


"Kok sepi? Pada kemana,nih?" Maura berjalan menuju kamar Maira yang pintu kamarnya sudah terbuka lebar. Kamarnya sepi,terlihat masih berantakan, dan terdapat pecahan gelas di bawah ranjangnya.

__ADS_1


Maura merasa bingung dengan keadaan tersebut. Ia pun berjalan menuju kamar sang ayah yang berada di depan kamar Maira.


Kosong. Tak ada ayahnya di ruangan itu. Kemana mereka semua?


Maura pun segera mengambil gawainya yang berada di kamarnya dan berusaha mencari tahu dimana keberadaan keduanya. Sebuah pesan dari sang ayah sekitar dua jam yang lalu, muncul di layar gawainya.


 


**Ayah**


 


Ayah dan Maira sengaja berangkat keluar negeri pagi ini. Karena sejak kemarin sore, ia terus mengajak dan membujuk ayah untuk liburan. Maaf jika ayah baru memberitahu. Jaga diri baik-baik dirumah! Nanti jam 8 pagi, sepupumu datang untuk menemani kamu selama di rumah tanpa ayah.


"Kenapa mendadak? Ini gak adil!" Maura kini membanting gawainya di atas kasur. Ia merasa iri karena dirinya sama sekali tidak pernah di ajak pergi keluar negeri. Sedangkan Maira, sudah dua kali pergi bersama sang ayah.


"Assalamualaikum!"


Terdengar suara pintu diketuk. Maura segera beranjak dari duduknya dan berlari ke ruang tamu untuk membukakan pintu.


"Waalaikumsallam. Kak Nida? Alan? Ayo masuk!"


Nida dan Alan merupakan sepasang kakak beradik yang merupakan salah satu sepupunya. Ibu mereka merupakan adik dari almarhum ibunda dari Maira dan juga Maura. Mereka jarang sekali berkunjung kerumahnya setelah kedua orang tua mereka meninggal karena kecelakaan pesawat setahun yang lalu.


"Kenapa baru main kesini? Padahal aku dah lama kangen sama kalian berdua." Ucap Maura tersenyum.

__ADS_1


"Kami disuruh ayah kamu,ra. Katanya, kamu sendirian di rumah. Makanya kakak sama Alan main kesini. Rencananya sih minep juga. Kami dah bawa tas soalnya. Hehe.." Ucap Nida yang duduk di sebelah Alan.


Usia Nida saat ini menginjak 20 tahun, sedangkan usia Alan ialah 19 tahun sama seperti Maira dan juga Maura saat ini.


"Kalian mau minum apa?" Tanya Maura berbasa-basi.


"Gak usah repot-repot! Nanti kami ambil sendiri. Kayak gak kenal aja kamu,ra!" Alan segera membawa tasnya dan berjalan menuju kamar tamu. Sejak kecil, mereka berdua sering menginap di rumah Maura, sehingga keduanya tak lagi canggung untuk memasuki dan menjelajahi rumah Maura.


Nida dan Maura sekamar. Setelah usai meletakkan tasnya yang berisi pakaian dan lain-lain, Nida pun mengajak Maura untuk membuat sarapan. Nida sudah menganggap Maura seperti adiknya sendiri. Dan menganggap rumah Maura seperti rumahnya juga.


Keduanya kini terlihat sedang mengiris bawang dan juga cabai yang akan mereka tumis sebagai bumbu dari tumis bayam kesukaan mereka. Setelah selesai, Maura segera mencuci tangannya dan menggoreng ikan yang sudah di bumbuinya itu sejak kemarin sore.


"Kenapa kak Nida gak nelfon Maura dulu sebelum kesini? Kan kak Nida gak perlu bantuin aku masak lagi. Emangnya kak Nida gak kerja?" Tanya Maura sembari membalik ikan yang mulai nampak matang sebagian.


"Dadakan,ra. Kak Nida justru gak nyangka bakal main kesini. Kalau masalah kerja, kak Nida kan jualan online. Jadi, santuy aja." Jelas Nida.


Makanan pun telah siap. Mereka segera menghidangkannya di atas meja makan. Alan sudah menunggu sedari tadi dengan duduk di kursi ruang makan sembari memainkan game onlinenya itu.


Baru saja makanan di letakkan di atas meja dan terlihat masih panas, Alan langsung mempause gamenya dan mengambil piring dan sendok untuk sarapan terlebih dahulu meninggalkan Nida dan Maura yang sedang sibuk mencuci piring kotor.


"Alan! Jangan di habiskan! Kami berdua belum sarapan sama sekali!" Teriak Maura yang merasa was-was.


"Loh? Ini buat kita bertiga?" Tanya Alan sedikit meninggikan suaranya supaya Maura mendengarnya.


"Ya iyalah, Alan!" Jawab Maura yang masih sibuk mencuci wajan kotor.

__ADS_1


"Telat! Dah abis,ra. Tinggal nasi sama kecap aja,tuh!" Balas Alan setelah usai makan dan meminum segelas air yang sudah ia siapkan sebelum sarapan di sediakan..


"Hah?"


__ADS_2