M? For??

M? For??
25. Jantung Untuk Maira


__ADS_3

Sore hari...


Setelah proses pemakaman usai dan jenazah sudah dikuburkan, Maura justru baru datang setelah mengurus biaya rumah sakit saudarinya. Maira di kabarkan masih mengalami masa kritis dan belum dapat dijenguk.


Melihat sebuah papan nama bertuliskan 'Adi Sandewo bin Suryo' membuat Maura semakin terisak. Ia bahkan tidak sempat mengurus jenazah sang ayah. Menghampiri makamnya pun terlambat disaat para peziarah mulai berhamburan keluar dari pemakaman.


Saat ini, hanya Sobri yang masih menemani Maura menangis di pusaka sang ayah. "Sudah, nak! Lebih baik kamu doakan ayahmu disana. Jangan menangis,, nanti ayahmu sedih." Ucap Sobri mengelus kepala Maura.


Maura yang masih sesenggukan, kini mulai mengirim doa untuk sang ayah supaya diberi tempat terbaik di sisiNya. Ia masih tak menyangka atas peristiwa tersebut, semua terasa seperti mimpi. Mimpi yang teramat buruk.


Tak lama kemudian Gara, Chiko, dan Alea datang ke pemakaman. Begitu pun dengan ketiga sahabat di kampusnya yang turut hadir menemani Maura yang tengah berduka.


"Kamu yang sabar ya, ra. Gue tau ini pasti sulit banget. Apalagi sekarang lo dah jadi yatim piatu, ra. Gue harap lo bisa menghadapi semua ini." Ucap Via memeluk Maura dari samping.


Maura menatap semua orang yang datang sembari tersenyum. Walau ia tidak kesepian, namun tanpa hadirnya orang tua, terjadi kehampaan dalam hidupnya.


Naya yang telah mengetahui Maura memiliki saudari kembar, matanya justru menyapu sekeliling pemakaman mencari salah satu dari kembaran sahabatnya itu. Ia yakin, seorang anak pasti akan datang ke pemakaman orang tua untuk melihat jasadnya yang terakhir.


"Lo nyariin apa sih, Nay?" Tegur Rexa yang melihat Naya berlaku aneh.


"Nyari setaannnn!" Jawabnya asal sembari memelototi Rexa yang masih menatapnya penuh curiga.


Setelah usai mengirim doa, Sobri pun mengajak Maura untuk segera kembali pulang ke rumah untuk mengurus masalah lainnya.


"Enggak pak Sobri, Maura masih mau disini nemenin ayah." Maura masih memeluk gundukan yang sudah bertabur bunga yang kini merupakan tempat tinggal sang ayah.


"Maura.. Sebaiknya kamu pulang, nak. Sebentar lagi malam dan akan turun hujan." Ajak Gara yang duduk berjongkok didepan Maura.


"Iya, ra. Lebih baik sekarang kamu pulang." Chiko menanggapi.

__ADS_1


Maura mulai melepaskan pelukan itu, dan menatap sendu Sobri yang ada dibelakangnya. "Pak.. Tolong bawa Maura ke Rumah Sakit."


***


Maura terlihat duduk menyendiri dikursi koridor rumah sakit. Sobri telah pulang setelah mengantarnya kesana. Tatapannya kini nampak kosong terfokus kesebuah pamflet tentang larangan merokok.


Tujuh jam kemudian, Maura mendapat kabar jika Maira telah siuman dan telah dipindah kamar. Kaki jenjangnya kini melangkah menyusuri setiap ruangan yang ia lewati. Kamar melati no. 13,Maura mulai menghentikan langkahnya dan membuka pintu kamar tersebut.


Jam menunjukkan pukul 01:00 WIB. Maira masih terbaring lemah seraya memanggil nama sang ayah berulang kali. Maura mulai melangkah masuk dan menutup pintu kamar tersebut dan berjalan mendekat ke ranjang Maira yang terdapat kursi di sebelahnya.


Maura menatap haru atas keadaan yang menimpa Maura. Ia belum sempat menemui sang dokter karena tempatnya menunggu Maira berjauhan dari kamarnya. Pemindahan kamar pun, sang perawatlah yang berhasil menemui dirinya yang tertidur di kursi koridor rumah sakit.


Ckleeek..


Pintu terbuka. Seorang dokter dan perawat wanita pun datang untuk mengecek keadaan Maira saat ini.


"Gimana, dok? Kembaran saya sakit apa?"


Maura dibuat terkejut atas penjelasan itu. Bertahun-tahun sudah keduanya menyembunyikan rahasia sebesar ini dari dirinya. "Dokter, saya bersedia mendonorkan jantung saya asalkan kembaran saya bisa selamat. Saya mohon dokter!" Maura menyatukan kedua telapak tangannya memohon pada sang dokter.


"Tidak bisa. Anda masih hidup dan mendonorkan jantung ketubuh orang lain selama pemiliknya masih hidup, itu haram dan illegal. Jadi, anda harus mencari orang yang sudah meninggal dan memiliki jantung yang masih segar. Itu pun atas izin dari pemilik tubuh sebelumnya." Tuturnya lagi.


"Begitu, ya, dok?" Maura mengangguk dan menghapus air matanya yang mulai turun.


***


Pagi harinya, Maura duduk melamun di kursi taman memikirkan hal yang akan terjadi pada saudarinya jika belum menemukan pendonor.


Maura kini berdiri dari duduknya dan hendak kembali menuju kamar Maira. Namun, seseorang menahan tangannya dari belakang.

__ADS_1


"Tunggu!"


Maura membalikkan tubuhnya menghadap sosok itu. "Kak Chiko? Kak Chiko ngapain disini?"


"Mau nemenin kamu." Jawab Chiko singkat.


"Kak Chiko tau dari mana kalau aku disini?" Tanya Maura lagi.


"Kemarin dipemakaman aku gak sengaja dengar kamu ngomong masalah rumah sakit sama pak Sobri. Karena penasaran, akhirnya aku kesini." Jelas Chiko sembari menggaruk lengannya yang seperti tergigit nyamuk. "Memangnya, siapa yang sakit?"


Maura mulai mengajak Chiko duduk di bangku taman sebelah mereka. Maura berniat menjelaskan dari awal hal yang belum sempat diceritakannya kemarin pada Chiko.


"Kak, gimana pendapat kakak kalau misalnya kita saudara. Kak Chiko jadi kakakku dan aku jadi adiknya kakak?" Tanya Maura gugup.


"Maksud kamu?" Chiko menaikkan alis matanya bingung. "Emm.. Kalau benar iya kamu adik dari kakak, kak Chiko akan tetap sayang sama kamu. Tapi, sebagai adik. Kenapa, ra? Pertanyaannya gak bermutu, nih."


"Foto perempuan yang duduk di sebelah ayahku itu sebenarnya bunda aku, kak. Foto dimana mereka masing-masing menggendong bayi kembar. Perempuan itu almarhumah bunda aku." Isak Maura di kalimat terakhir.


"Hah? Kamu yakin??" Tanya Chiko tak percaya.


Maura hanya mengangguk sembari menunjukkan sebuah foto kecil yang ada di dalam dompetnya itu. Foto tersebut merupakan foto pernikahan kedua orang tua mereka sekitar 20 tahun yang lalu. Chiko mengambil foto tersebut dan matanya terfokus pada seorang wanita yang merupakan ibunya tersebut.


Chiko, seorang pria yang tak kenal menangis kini air mata muncul di pelupuk matanya dan mulai membasahi kacamatanya itu.


"Jadi selama ini kita satu ibu namun beda ayah?" Tanya Chiko masih tak percaya. Ia kini melepas kacamatanya yang mulai buram. Ia memeluk Maura dengan erat, begitupun dengannya yang merasakan kehangatan dalam pelukan seorang kakak yang menyayangi adiknya.


Pagi itu sungguh menyedihkan dan juga membahagiakan bagi diri Maura. Di lain sisi, ia belum dapat menemukan pendonor yang cocok. Disisi lain, setelah bertahun-tahun berpisah, kini Maura telah mengetahui jika Chiko merupakan saudara sekaligus kakak dari satu rahim yang sama.


"Siapa bayi kembar itu?" Tanya Chiko dan melepaskan pelukan tersebut.

__ADS_1


"Itu..."


__ADS_2