M? For??

M? For??
09. Rahasia Yang Belum Terungkap


__ADS_3

Maura masih merasa kesal dan marah atas perlakuan saudarinya itu. Ia juga merasa bersalah karena tidak membicarakan masalah ini terlebih dahulu dengan kepala dingin. Mau bagaimana lagi? Maira sangat sulit untuk diperintah maupun dinasehati.


Saat ini Maura sedang memotong seikat kangkung di dapur untuk persiapan makan malam nanti. Ia sengaja memasak sayuran untuk memberi pelajaran pada Maira. Sejak kecil, Maira sangat tidak suka makan sayur dan lebih suka mengkonsumsi daging,telur,dan lainnya terkecuali sayur.


Di rasa kangkung yang dipotongnya sudah cukup banyak, ia pun berdalih untuk mengiris bawang dan cabai. Menu untuk makan malam hari ini adalah tumis kangkung kesukaan sang Ayah dan juga Maura. Sedangkan untuk Maira,hanya diberi ikan goreng yang dimasak pagi tadi yang sudah di hangatkan kembali.


Makan malam telah siap dan tertata rapih dimeja. Maura pun langsung memanggil ayahnya dan saudarinya untuk makan malam bersama. Baru saja datang dan belum sempat untuk duduk, Maira sudah menjerit seperti melihat kecoa tersaji diatas piringnya.


"Ieww!! Ini bukannya ikan goreng yang di masak tadi pagi,ya?!"


"Iya. Tapi dah di anget,kok. Gak akan keracunan juga kalau kamu makan." Ucap Maura santai dan menyiapkan piring untuk sang Ayah.


"Sudah malam masih bertengkar saja anak gadis ayah ini." Ucap ayah saat memasuki ruang makan.


Mereka berdua hanya terdiam dan langsung duduk menikmati hidangan.


"Kamu cuma masak sayur kangkung aja,nak?" Tanya ayah pada Maura saat sudah mengambil nasi dan sayur ke atas piringnya.


"Belum sempet belanja. Dikulkas cuma ada sayur kangkung sama ayam. Tapi ayamnya buat sarapan besok,yah. Kita makan seadanya dulu gapapa 'kan,yah?" Jelas Maura dan menguncir rambutnya supaya tidak menghalangi makannya.

__ADS_1


"Gapapa. Eh! Itu rambut kamu kenapa pitak gitu?" Tanya Ayah mereka dan sedikit terkekeh.


Maura dan Maira hanya mendengus nafasnya gusar dan mereka berdua saling menatap tajam.


"Loh? Kamu juga,Mai?" Tanya Ayah mereka yang semakin bingung. "Coba cerita sama ayah! Apa yang terjadi dengan kalian?" Tanyanya lagi.


"Yah..." Ucap Maura dan menggenggam salah satu tangan sang Ayah yg diletakkan diatas meja, tepat disampingnya. "Bukannya ayah yang ngajarin kita kalau makan gak boleh banyak bicara?"


Maira pun ikut menggenggam tangan sang Ayah dan mengatakan hal yang sama seperti Maura, namun nadanya sedikit datar dan membuat sang Ayah semakin curiga dengan ke dua putrinya.


***


"Gimana? Ayah udah curiga sama kita. Semua ini gara-gara loe!" Ucap Maira dan meremas lengan saudarinya itu.


Maura langsung menghempas tangan Maira dan segera duduk dikursi taman yang berada disebelahnya. "Kamu bilang ini salahku? Semua ini gak akan terjadi kalau kamu gak pernah paksa aku buat tukeran posisi terus. Selamanya.. Maira adalah Maira dan Maura adalah Maura. Aku adalah aku dan kamu adalah kamu. Stop! Mulai detik ini,aku gak mau terus menerus bertukar peran!" Ujar Maura kesal.


"Loe gak pernah ngertiin perasaan gue! Gue tuh iri sama loe, ra! Kehidupan loe lebih layak dari gue! Sedangkan gue? Dikeluarkan dari sekolah sebelum ujian dimulai, selalu kena marah sama ayah, temen loe lebih banyak dari pada temen gue, loe lebih sering di sanjung daripada gue, loe lebih pinter dari gue, loe jago masak dibandingkan gue, loe lebih ber.."


"Cukup!" Potong Maura dan menutup telinganya rapat-rapat. "Ini semua kesalahan kamu, Mai! Kenapa kamu bersikap seperti ini setelah bunda meninggal? Dulu kita fine-fine aja, kan?? Tapi, setelah kita pindah rumah paska kebakaran itu, kamu justru gak mau punya saudara kembar dan justru menganggapku udah gak ada di dunia ini. Kenapa? Apa salahku, Mai? Dimana letak kesalahanku?" Tangis Maura pecah dan segera bangkit dari duduknya dan berjalan membelakangi Maira.

__ADS_1


"Hidup loe jauh lebih bahagia daripada gue,ra." Ucap Maira dan ikut berdiri membelakangi saudarinya itu. "Pasca kebakaran itu,gue..gue.." Ucapnya seketika terbata-bata.


"Kenapa,Mai?" Tanya Maura dan membalikan tubuhnya dan berjalan ke arah Maira.


"Percuma, ra. Loe gak bakal bisa ngertiin gue." Lirihnya dan langsung pergi meninggalkan Maura yang masih terlihat kebingungan atas apa maksud perkataanya yang sengaja dipotong.


Maura kembali duduk disebuah bangku taman dan mengacak-acak rambutnya gusar. Ia masih memikirkan ucapan Maira yang sungguh menghantui pikirannya. Tak berapa lama kemudian,sang Ayah datang dan duduk disebelah Maura.


"Kamu kenapa,nak?" Tanyanya dan mengusap air mata Maura yang masih menetes.


"Lagi ada masalah aja sama Maira,yah. Maura gak tau lagi,kenapa sikap Maira aneh banget. Bahkan untuk mencari tahu masalahnya pun sulit. Berkali-kali Maura coba tanya ke Maira,dia gak pernah sekalipun mau jawab pertanyaan Maura,yah." Jelasnya.


"Ada masalah apa sebenarnya diantara kalian?" Tanya ayahnya dengan nada merendah supaya Maura tidak sungkan membagi masalahnya itu. Namun,Maura belum siap untuk memberi tahu. Ia tidak mau Maira kembali marah padanya.


"Udah malem, yah. Maura ke kamar,ya?" Ucap Maira dan memeluk ayahnya sekejap.


"Hmmm.." Ayahnya hanya berdehem. Pertanyaannya tidak kembali dijawab dan membuatnya semakin penasaran.


Maura kini membanting tubuhnya diatas kasur dan mengambil sebuah guling untuk menyanggah kepalanya. Ia tidak tahu sampai kapan rahasia ini akan disimpan dan sampai kapan mereka harus membohongi lebih banyak orang lagi.

__ADS_1


__ADS_2