
"Maura!!" Teriak Maira ketika melihat saudarinya itu baru saja pulang.
Maura terlihat sedang menutup pintu ruang tamu dan menguncinya,"Apa?"
"Kan tadi gue dah bilang, ke Super Market terus balik lagi ke rumah. Gak usah kelayapan!" Ocehnya dan berjalan mengikuti Maura yang hendak menuju ke dapur.
"Lah? Emang." Jawab Maura santai.
"Tapi kenapa jam setengah enam sore loe baru balik?"
Maura mengambil sebuah gelas dari rak piring, lalu berjalan menuju dispenser yang terletak di sebelah pintu dapur. "Aku pergi ke Super Marker jam tujuh pagi,terus pulang jam sebelas siang. Karena ada janji sama kak Chiko, jam setengah lima aku pergi lagi ke Cafe. Bentar,kan?"
Maira terlihat sangat kesal atas sikap saudarinya itu. Ia pun langsung pergi menuju kamar dan meninggalkan Maura sendiri di dapur.
***
Pagi yang cerah, Maira Ashara kini bergaya layaknya Maura Senjani. Ia tak lagi mengenakan pakaian tomboynya, justru mengenakan pakaian asli milik saudarinya yang ia ambil langsung dari lemari. Namun tetap saja, walaupun ia mengenakan pakaian Maura, namun tingkahnya dan cara berjalannya masih seperti dirinya. Maira merasa sulit untuk berjalan dengan gaya anggun, justru ia lebih menyukai dengan gaya berjalan dengan langkahan kaki melebar dan terlihat seperti sedikit mengkangkang.
Maira kini menunggu jam masuk kuliah yang masih 15 menit lagi dan menunggu di sebuah bangku taman depan perpustakaan sembari membaca sebuah novel romansa milik Maura. Ia sengaja berangkat lebih pagi saat saudarinya masih tertidur, supaya saudarinya itu tak memberikan berbagai ocehan-ocehan terhadapnya.
"Kamu Maura, kan?" Tanya seorang pria gemuk berkacamata.
"Iya. Ada apa?" Maira berdiri.
"Ini ada surat dari seseorang." Pria gemuk itu pun memberikan sebuah amplop berwarna jingga dengan desain biji kopi. Setelah memberikan surat tersebut pada Maira,pria gemuk itu pun pergi.
Karena merasa penasaran,Maira pun akhirnya membuka surat tersebut dan membacanya dalam hati setelah duduk kembali ke tempat semulanya tadi.
For : M
By : C
Hei! Saya tau kamu pasti bingung setelah mendapat surat ini. Dan saya tahu kamu pasti sedang membacanya dalam hati dan duduk di kursi. Hahaha.. Tentu saja,karena saya memerhatikanmu sedari tadi. Pukul 14.00 WIB,temui saya di Cafe biasa. Cafe yang membuat kita saling di pertemukan,di bawah hujan yang deras,dan tempat kita mulai melihat pelangi di tempat yang sama dan dengan arah yang sama.
"Ini kayaknya untuk Maura,deh. Apa jangan-jangan ini surat dari Kak Chiko,ya? Karena cuma dia, cowok yang deket banget sama Maura...Kak Chiko suka sama Maura? Wah! Ini gak bisa dibiarin!!" Gumam Maira kesal dan tanpa sadar meremas surat tersebut dan membuangnya di sembarang tempat.
Naya yang melihat kejadian tersebut dari jauh, segera lari dan mengambil kertas tersebut dan hendak membuangnya ke tempat sampah. Namun, ia penasaran, kira-kira apa isi dari kertas ini? Saking penasarannya, ia pun membuka dan membaca surat tersebut sembari mencernanya perkalimat.
__ADS_1
"M for Maura,C for?"
Naya membaca kembali surat tersebut dan membacanya berulang-ulang untuk mencari tahu siapakah seseorang berinisial C itu. Akhirnya, ia pun menyimpan surat dengan amplop berwarna jingga tersebut dan memasukkannya ke dalam tas kecil miliknya.
***
Pukul 14.00 WIB setelah jam kuliah telah usai, Maira pun segera menelfon Maura untuk mencari tahu Cafe apa yang di bicarakan Chiko dalam surat itu.
📞"Halo,ra?"
📞"Iya.. Kenapa,Mai?"
📞"Loe sama Kak Chiko pertama kali ke Cafe mana?"
📞"Buat apa,Mai? Itu bukan urusan kamu!"
📞"Maura! Gue ini lagi jadi loe. Semua yang berkaitan sama loe,gue wajib tau!
📞"Bright Cafe. Kenap.."
Tuuut..tuut..tuuut..
"Buat gue? Maksudnya...buat aku?" Tanya Maira gugup. Si badut Tinky Winky tersebut hanya mengangguk dan berjalan masuk ke dalam Cafe.
Maira pun membuka amplop berwarna jingga tersebut dengan desain yang sama seperti sebelumnya. Ia masih berdiri di depan pintu Cafe dan mulai membuka surat itu.
For : M
By : C
Seorang badut dengan kostum Dipsy akan datang menemuimu dan membawa sebuah penutup mata. Pakai saja penutup mata tersebut dan jangan memberontak!
Setelah selesai membaca surat ketiga yang di dapatinya, seseorang dengan kostum Dipsy berjalan ke arahnya dan memberikan sebuah kain penutup mata berwarna hitam. Maira pun segera memakai penutup mata itu dan berjalan sembari memegang tangan badut tersebut.
Langkahnya terhenti di sebuah tempat, suasananya hening, terasa angin berhembus semilir, tak seperti di tempat sebelumnya. Padahal sedari tadi ia berjalan masuk ke arah Cafe, bukan keluar Cafe.
Penutup matanya pun dibuka oleh si badut Dipsy. Maira kini di minta untuk duduk di sebuah kursi yang berhadapan dengan meja makan. Ia baru menyadari jika dirinya berada di sebuah kolam renang. Sepertinya, ia berada tepat di teras belakang Cafe. Kolam renang ini sangat indah, dinding-dinding pembatasnya di hiasi oleh warna warni seperti pelangi.
__ADS_1
Lagi dan lagi, seorang badut dengan kostum Laa-laa berjalan menuju ke arahnya dari balik pohon. Ia juga membawa sebuah surat seperti teman-teman lainnya. Maira pun kembali membuka surat tersebut dan menyimpannya surat sebelumnya ke dalam tas.
For : M
By : C
Bagaimana? Apa sudah lelah dengan membaca semua surat-surat ini?
Seseorang dengan berkostum Po akan datang kepadamu membawa sebuah papan tulis berukuran mini dan membawa sebuah spidol. Tebak dan tulis,siapakah sebenarnya saya!
Badut yang di bicarakannya di sebuah surat pun datang dan membawa barang tersebut dan memberikannya pada Maira. Ia tidak lagi berfikir panjang, tentu saja seseorang di balik semua ini adalah Chiko. Ia pun segera menulis nama tersebut dan memberikannya kembali pada badut Po.
Beberapa saat kemudian,semua badut-badut teletubbies yang di jumpainya berbaris di sebuah jembatan kecil yang berada di tengah kolam tersebut dan terlihat masing-masing membawa selembaran karton berwarna warni. Formasi barisan mereka salah menurut Maira,seharusnya Tinky winky,Dipsy,Laa-laa,dan kemudian Po. Namun formasi mereka justru terbalik, Po, Laa-laa, Dipsy dan terakhir adalah tinky winky.
Maira pun berdiri dan berjalan menuju jembatan dimana terdapat empat badut teletubbies disana. "Hei! Bukan seperti itu cara berbaris layaknya teletubbies, tapi.."
DUARRRR!!
Sebuah kembang api berhasil di luncurkan ke atas langit,ia merasa sangat terkejut dengan suara itu. Ketika ia kembali melihat kumpulan telettubies yang salah formasi,ke empatnya sudah membuka sebuah karton yang masing-masing berisikan satu huruf dan sebuah simbol yaitu 'I ♡ U M'
"I love you, Maura!" Sorak seseorang di belakangnya. Maira pun langsung berbalik arah dan berlari menuju Chiko yang berdiri memegang puluhan tangkai bunga mawar dalam satu buket.
"I love you too, kak" jawab Maira dan mengambil bunga tersebut lalu mencium mawar itu yang berbau harum dan menenangkan.
"Ini,kak Chiko semua yang buat?" Kagum Maira.
"Hmm.." Chiko hanya mengangguk dan tersenyum. Ia kini merangkul Maira dan membawanya ke sebuah meja makan tadi. Tiba-tiba,makanan sudah di siapkan. Padahal sebelum kembang api di luncurkan, meja tersebut masih nampak kosong dan tak ada satu pun barang ataupun makanan disana.
Maira sangat senang atas kejutan yang di buat oleh Chiko. Namun, seketika senyumnya yang mengembang kini mulai memudar. Ia sadar jika Chiko menyatakan perasaannya untuk Maura, bukan dirinya. Ia belum bisa jujur bahwa dirinya bukan Maura, melainkan Maira. Air matanya pun seketika terjatuh dan membasahi pipinya itu.
"Loh, kamu kenapa nangis?" Tanya Chiko bingung.
"Gak apa-apa,kak. Ini tangisan bahagia.." Ucap Maira berbohong. Ia merasa iri pada Maura, karena telah di cintai oleh pria sebaik dan seromantis Chiko. Sedangkan mantan pacarnya dulu, masih bersikap kekanakkan dan memiliki ego yang besar. Hal itulah yang membuat Maira memutuskan hubungan lamanya tersebut.
"Hari ini,kita resmi pacaran,ya!" Ucap Chiko dan menggenggam tangan Maira dan tersenyum. Maira hanya membalas anggukan dan tersenyum ke arah Chiko.
"Kenapa teletubbies tadi kebalik?" Tanya Maira polos dan masih penasaran.
__ADS_1
"Supaya susunan warna mereka mirip pelangi. Dan kalau amplop jingga tadi, anggap aja itu warna langit senja. Dan kalau ada desain kopi di pinggirnya, anggap aja itu minuman favorite kita. Gimana? Terhura gak?" Kekeh Chiko.
"Kebalik! Terharu, kak. Hmmm.."