
Pagi ini, Maura mendapat kabar jika Maira dan Ayah akan pulang. Ia pun bersiap-siap untuk menjemput keduanya ke sebuah Bandara yang berjarak 13 KM dari rumahnya. Pesawat akan melandas sekitar satu jam lagi. Namun, Maura sudah memanaskan mobilnya dan segera berangkat menuju sebuah Bandara.
Di sepanjang perjalanan, Maura memutar sebuah lagu-lagu yang di populerkan oleh ColdPlay yang merupakan band yang sudah lama di idolakannya itu.
We see people come
See people go
This particular timing is extra special
I know you might be gone
And the world may not know
Still I see you celestial
Like a lion you ran
Goddess he wrote
Like an eagle you circle
And perfect of all
So how come things move on
How come cars don't slow
When it feels like the end of the world
When I should but I can't let you go
But when I'm cold, cold
When I'm cold, cold
There's a light that you give me
__ADS_1
When I'm in shadows
It's a feeling within me, everglow
(Everglow,Coldplay)
Setelah tiga puluh menit menikmati musik di sepanjang perjalanan, Maura pun tiba disebuah Bandara dan menunggu kedatangan mereka di sebuah area terminal kedatangan internasional.
Seorang wanita berambut pendek yang merupakan salah satu sahabatnya itu datang menghampirinya.
"Naya? Kamu disini juga?" Tanya Maura.
"Iya, bokap gue kan pilot di bandara ini. Gue kesini cuma nganterin dompetnya yang ketinggalan aja. Loe ngapain, ra?"
"Nunggu ayah." jawab Maura. "Emmm...Nay, aku mau nunggu ayah disana. Aku duluan, ya? Lagian kamu juga pasti mau langsung pulang, kan? Bye-bye!!" Maura pun berlari kecil meninggalkan Naya disana. Ia sengaja menjauh, supaya jika Maira dan sang ayah telah sampai, Naya tidak langsung melihat Maira.
Beberapa menit kemudian, yang ditunggu-tunggu pun telah datang dan sampai tepat waktu dengan selamat. Maura langsung berlari menemui mereka berdua dan meminta oleh-oleh atas liburan keduanya,namun sebenarnya mereka pergi ke Rumah Sakit untuk pengobatan Maira.
"Maaf, nak! Ayah lupa beli oleh-oleh. Hanya beberapa snack yang ayah beli untuk diperjalanan." Ucap sang Ayah yang berdiri disebelah Maira.
Saat ini, Maira terlihat pucat dan berubah diam.
"Kamu kenapa, Mai? Kok pucet? Pasti mabok di pesawat,nih! Hahaha.." Ejek Maura dan merangkul Maira menuju tempat memarkirkan mobilnya, sang ayah pun mengikuti mereka berdua dari belakang.
Tanpa di sadari, Naya yang belum kembali kerumahnya pun melihat jika Maura memiliki kembaran. Untuk mengumpulkan bukti, Naya pun segera memfoto keduanya yang sedang saling rangkul. Setelah puas mengambil gambar, Naya pun kembali pulang.
"Yang nyetir biar Maura aja, ya? Ayah duduk dibelakang sama Maira." Maura pun menghidupkan mesin mobilnya setelah semua orang masuk kedalam.
"Iya, nak!" Jawab ayah.
Sesampainya dirumah..
"Kalian pasti laper, kan? Aku dah masakin nasi goreng spesial untuk kita bertiga." Ucap Maura dan segera berjalan menuju dapur untuk menyiapkan alat makan.
Sang Ayah dan juga Maira menuju kamar masing-masing untuk membawa masuk koper pakaian mereka. Maira dikejutkan dengan penampilan kamarnya yang sudah berubah. Kamar yang sebelumnya terlihat berantakan dan gelap karena jendela tak pernah dibuka, kini terlihat bersih, rapih, terang, dan nyaman untuk ditinggali. Tentu saja pasti Maura yang melakukan semua ini.
Setelah merapihkan pakaian mereka kedalam lemari, keduanya berjalan menuju ruang makan untuk sarapan bersama.
__ADS_1
"Allo, Mai! Khusus buat kamu, aku buatin nasi goreng spesial pakai sosis sapi kesukaan kamu." Maura langsung menghidangkan makanan tersebut pada Maira.
"Maaf, ra! Gue gak makan daging-dagingan lagi atau semacamnya." Maira mulai membuka mulut setelah lama bungkam.
"Kenapa? Dah puas ya makan diluar negeri?" Maura masih tetap mengambilkan makanan tersebut dan mengabaikan ucapan Maira.
"Terlalu banyak makan daging olahan, gak baik untuk kesehatan. Termasuk sosis itu, daging olahan seperti itu biasanya mengandung lemak jenuh yang tinggi." Jelas Ayah.
Maura hanya mengangguk mengiyakan. Ia sedikit kecewa karena masakan yang di buatnya dengan rasa cinta itu ditolak oleh keduanya.
"Kalau dikit, gak masalah kan, yah?" Tanya Maira supaya saudarinya tidak lagi bersedih. "Ayah sama loe aja ya yang sarapan. Gue masih mual abis dari pesawat tadi." Maira meninggalkan meja makan dengan mencari alasan lain supaya tidak dicurigai. Penderita penyakit jantung sepertinya, tidak disarankan untuk mengonsumsi makanan cepat saji, daging olahan, minuman bersoda, dan lain sebagainya. Padahal, saat ini Maira sedang lapar karena sebelumnya ia belum sempat sarapan saat hendak kembali ke negaranya.
Maira berdiri di balik jendela kamarnya menunggu seorang pedagang bubur yang selalu lewat di depan rumahnya setiap pagi. Ia pun memutuskan untuk menunggu di teras bawah sembari berolahraga sedikit.
Maira mulai merenggangkan sendi-sendinya yang terasa sedikit kaku karena terlalu lama berbaring di ranjang rumah sakit selama hampir sebulan. Beberapa menit kemudian, tukang bubur yang ditunggunya pun lewat tepat di depan rumahnya.
"Mang!" Maira menghampiri si tukang bubur untuk membeli makanan yang dijualnya. "Seporsi, mang!" Maira sengaja makan diluar gerbang dan duduk dikursi tumpuk yang biasa dibawa oleh pedagang keliling.
Ia memakan lahap bubur tersebut yang memang terkenal enak di wilayahnya. "Resepnya apasih, mang? Kok bisa seenak ini?"
"Resepnya teh rahasia atuh.. Mamang teh gak nyangka pisan kalau bubur buatan mamang terkenal enak." Ucap si penjual bubur tersebut sembari merapihkan kembali wadah bumbu yang dikeluarkannya.
"Mantul atuh, mang! Mamang teh hebat pisan." Ucap Maira mengikuti gaya bicara si tukang bubur sembari terkekeh.
"Nih, mang! Berapa harganya?" Maira meletakkan mangkuk makannya ke gerobak dan mengambil sejumlah uang yang ada di saku celananya.
"Kayak biasa.. Lima ribu saja, biar murah yang penting kenyang atuh."
Maira pun memberikan uang sejumlah lima puluh ribu rupiah yang terdapat di saku celananya, "Nih, mang!"
"Gak ada uang kecil nya? Kamu teh pelanggan pertama mamang, gak ada susuk atuh ini mah."
"Ambil aja, mang! Buat tambahan modal nikah mamang. Maira kasian liat mamang dah berumur, tapi belum juga punya istri. Hahaha.." Candanya dan berjalan masuk kedalam gerbang.
"Makasih, Mai! Semoga rezekinya lancar, diberi kesehatan, cepet dapet jodoh yang sama kayak mamang. Hehehe.." Si mamang pun menyium selembar uang lima puluh ribu tersebut dan memasukannya kedalam laci gerobaknya.
"Sama-sama, mang! Aamiin.. Doa yang terakhir, gak Maira Aminin cup!" Maira tertawa sembari menutup gerbang rumahnya dan kembali masuk.
__ADS_1