
Setelah genap 20 hari mereka di Rumah sakit, akhirnya Maira pun sudah di perbolehkan pulang. Terlihat wajah ceria dari ke empatnya, Maira, Maura, Nida, dan juga Alan. Maura yang sibuk mengemaskan barang-barang milik Maura menghentikan aktifitasnya seketika. Ia bingung, akan pulang kemana mereka hari ini?
Rumah yang disinggahinya pun telah disita oleh pihak Bank, namun barang-barang miliknya dan juga Maira masih berada di rumah Chiko saat kejadian itu. Jika menginap di rumah kedua sepupunya itu, Maura takut semakin merepotkan keduanya.
"Kamu kenapa, ra? Kok bengong gitu?" Tanya Nida disela lamunan Maura.
"Bingung, setelah ini kami mau pulang kemana kami gak tau." Lirihnya dan mulai menutup resleting tas Maira.
"Minep dirumahku aja, ra." Pinta Nida.
Maura menggeleng. "Gak ah. Maura takut ngerepotin."
"Kata siapa? Kalian gak ngerepotin, kok. Minep dirumah kami aja ya, ra?" Ajaknya lagi.
Maura pun mengangguk senyum dan mulai berdiri dari duduknya menuju pintu keluar Rumah Sakit. Alan dan Maira sudah berada didalam mobil yang dibawa oleh Alan.
Seluruh biaya rumah sakit Maira telah ditanggung oleh seseorang yang dirahasiakan namanya dari pihak rumah sakit. Bahkan pendonor Maira pun dirahasiakan juga. Siapapun pendonornya, Maura mengucapkan banyak-banyak terimakasih karena telah menyelamatkan nyawa saudarinya itu.
Maura dan Nida segera masuk kedalam mobil.
"Alan, nanti kita mampir kerumah kak Chiko dulu, ya? Aku mau ambil koperku sama koper Maira disana." Pinta Maura yang duduk di belakang Alan.
"Oke."
Mobil tersebut pun mulai di lajukan secara perlahan menikmati suasana luar setelah hampir sebulan ikut mendekam di Rumah Sakit bersama Maira.
"Kak Chiko kenapa gak ke rumah sakit buat jenguk lagi, ya?" Tanya Maira bingung.
Maura hanya diam tak menjawab.
Setelah hampir setengah jam perjalanan, ke empatnya kini telah tiba didepan gerbang rumah Chiko. Rumah itu nampak sepi dan seperti tak berpenghuni. Maura dan Maira segera keluar dari mobil untuk mengecek keadaan rumah tersebut.
"Cari siapa?" Tanya seorang lelaki berparuh baya yang kebetulan melewati rumah tersebut dan menghampiri mereka berdua.
"Cari Chiko dan keluarganya, pak. Bapak tahu mereka sekarang dimana?" Tanya Maura.
"Kalau pak Gara, seminggu yang lalu nyerahin diri kekantor polisi. Kalau nak Chiko dan Alea, bapak gatau mereka dimana. Cuman itu aja yang bapak tahu." Ujarnya. "Kalian ini siapa?"
"Aku Maura dan yang sebelah saya ini Maira. Saya adiknya dan dia kakaknya. Kami lahir beda 7 menit. Bapak siapa?"
"Panggil aja saya pak Romli, dulu saya tukang bersih-bersih kebun, kolam ikan, sama kolam renang di rumah ini. Oiya.. Kamu Maura yang pernah menaruh koper dirumah itu kan?" Tanya Romli.
"Iya, pak. Benar." Jawab Maura yakin.
"Kalau begitu, ikut saya masuk gang sebelah rumah ini. Disana ada rumah saya, pak Gara sempat menitipkan koper itu sama saya." Ajak Romli dan mulai berjalan memasuki Gang disusul Maira dan Maura yang berjalan dibelakangnya.
Sesampainya dirumah Romli, Maura dan Maira mendapatkan barang-barangnya yang masih utuh kembali. Maura tak masalah jika barang-barang lainnya hilang, asalkan album keluarga tetap ada ditangannya.
Setelah usai mengambil barang mereka kembali dan mengucapkan terimakasih pada Romli, Maura dan Maira segera kembali kemobil yang sudah ditunggu lama oleh Nida dan Alan.
Di mobil tersebut, Maira mulai curiga atas kepergian keluarga Gara dari rumah. Mengapa mereka memutuskan untuk pindah rumah secara mendadak?
"Ra, loe pasti tau kenapa om Gara di penjara." Tuduh Maira seketika.
"Iya, aku tau." Jawab Maura dengan wajah datar.
Ciiiit...
Mobil dihentikan secara mendadak.
__ADS_1
"Om Gara yang membakar rumah kita waktu itu." Jawab Maura.
"Om Gara?" Teriak ketiganya terkejut.
"Om Gara itu siapa?" Tanya Alan yang belum mengenal ayah dari Chiko.
"Kirain tau." Maura memutar bola matanya malas. "Dia ayahnya Chiko sekaligus mantan suami pertama bunda kami."
"Hah?!"
Maura mulai menceritakan apa yang telah terjadi dan masalalu antara bundanya, ayahnya, dan juga Gara beberapa tahun yang lalu. Ia menjelaskan dengan nada rendah supaya tak terjadi sesuatu lagi pada Maira, walau saudarinya kini sudah sembuh total.
"Ternyata orang dibalik kebakaran itu om Gara?!"
Maira masih kecewa tak menyangka bahwa sosok dibalik kebakaran yang pernah ia lihat bayangannya waktu itu ternyata adalah Gara. "Alan, sekarang kita ke kantor polisi, ya?"
"Oke, Mai." Jawab Alan mantap dan mulai melajukan kembalinya mobilnya.
Sesampainya di kantor polisi, ke empatnya mendapat kabar jika Gara telah dipindahkan ke Rumah Tahanan yang berada di luar kota. Rutan tersebut dekat dengan rumah Alan dan juga Nida. Rumah mereka berada di perbatasan kota. Dan tentu saja, untuk menuju Rutan yang dimaksud, membutuhkan waktu singkat untuk menuju kesana.
Mereka berempat memutuskan untuk beristirahat sejenak di rumah Nida dan Alan. Sesampainya disana, Maura dan Maira segera menuju kamar baru mereka. Keduanya sibuk memasukkan beberapa pakaian mereka kedalam almari kaca yang telah tersedia dikamar tersebut.
"Kamu istirahat duluan ya, Mai. Aku mau masak menu makan siang." Kata Maura sembari menutup pintu kamar dari luar.
"Iya." Sahut Maira dari dalam dan mulai merebahkan tubuhnya.
Maura dan Nida mulai menyiapkan makan siang hari ini walau hanya dengan menu seadanya di kulkas. Mereka memasak telur kecap, genjer tumis, dan tempe goreng. Setelah makanan telah siap, Nida mulai memanggil Alan yang sibuk bermain game online, sedangkan Maura mulai membangunkan Maira yang sedang tidur dikamar.
Kini ke empatnya sudah berkumpul di meja makan untuk memulai menyantap makan siang. Tak seperti yang lainnya, Maira justru hanya mengambil telur kecap dan tempe goreng saja. Lagi-lagi, ia masih tidak suka menyantap sayuran.
"Eh, Manusia karnivora! Di makan tuh genjer tumisnya!" Ledek Maura.
"Ih jorok banget, sih!" Nida menarik telinga sang adik yang tepat duduk disebelah kanannya. Sedangkan Maira dan Maura hanya tertawa melihat tingkah mereka.
Maira pun akhirnya mulai memberanikan diri menyantap sayur tersebut. Walau hanya sedikit, namun tak apa. Asalkan dirinya mau belajar untuk mengkonsumsi sayur-sayuran.
Satelah usai makan siang, satu jam kemudian mereka segera menuju Rumah Tahanan. Sesampainya disana, Rexa, Via, dan Naya sudah berada disana mengunjungi seorang mantan dosen yang pernah mengajar di kampus mereka. Begitupun dengan Alea yang terlihat sedang menangisi papahnya itu.
Rexa, Via, Alea, dan Gara yang belum mengetahui jika Maira dan Maura kembar pun terkejut atas kedatangan mereka berdua di Rumah Tahanan.
"Maura?" Sapa Gara.
Karena tidak boleh terlalu ramai yang mengunjungi Rutan, Rexa, Via, Naya, dan lainnya pun menunggu diluar. Hanya Maura dan Maira beserta Gara yang ada di ruangan tersebut bersama seorang penjaga Rutan yang berdiri dibelakang mereka.
"Kalian kembar?" Tanya Gara.
Keduanya mengangguk dan duduk disebuah kursi yang menghadap Gara. "Aku Maura dan dia Maira."
"Maafkan segala kesalahan om selama ini, Ra, Mai. Om khilaf." Ucap Gara dan menangis menyesal.
"Sulit untuk memaafkan kesalahan om. Karena perbuatan om, bunda kami meninggal dunia diperistiwa kebakaran itu." Isak Maira.
"Maafkan om, nak! Om sangat menyesal atas kejadian itu." Sesal Gara.
"Kalau Maura, udah maafin om. Om Gara juga pasti gak sengaja mencelakai bunda." Ucap Maura dengan berat hati.
Mendengar ucapan dari saudarinya itu, Maira menatap tajam kearah Maura yang duduk tepat disebelahnya.
"Maafin aja, Mai. Dengan tidak memaafkan om Gara, apa mungkin bunda akan kembali?" Kata Maura. "Lebih baik memaafkan seseorang daripada kita menaruh dendam."
__ADS_1
Maira menghembuskan nafasnya pelan. "Oke. Maira juga maafin om Gara."
"Makasih ya, nak!"
Seorang penjaga datang ke arah Mereka dan mengatakan jika waktu berkunjung telah habis. Maira dan Maura pun segera keluar dari Rutan tersebut menuju pintu gerbang yang masih terdapat sahabat mereka disana.
"Eh, kalian kembar?" Tanya Rexa to the point.
"Iya. Aku Maura dan dia Maira. Maaf kalau selama ini kami merahasiakannya dari kalian semua." Maura menyatukan kedua telapak tangannya pada mereka.
"Enggak, ini semua bukan salah Maura. Tapi, ini salah gue. Gue yang ngelarang dia buat ngasih tau ke kalian semua kalau kami ini kembar." Maira menurunkan tangan Maura. "Gue minta maaf ya sama kalian."
"Oke. Kita maafin. Sebenarnya kami kecewa, tapi.. emmm..gimana kalau Maira ikut gabung ke persahabatan kita ini?" Ucap Naya mewakili yang lainnya dan memeluk keduanya, diikuti oleh sahabat-sahabatnya yang lain.
"Makasih ya, teman-teman!"
Alan, Nida, dan Alea hanya menyaksikan kemesraan dari kumpulan sahabat itu.
"Boleh ikutan peluk gak?" Tanya Alan pada rombongan sahabat itu.
Mereka pun mulai melepaskan pelukan. "Dih, najong!" Ucap Via.
Alea yang sedari tadi bungkam, kini berjalan menuju Maira dan Maura untuk memberikan sebuah surat dari kakaknya.
"Dari kak Chiko?" Tanya Maura. Alea hanya mengangguk. Maura dan Maira mulai membuka dan membaca surat itu dengan seksama.
*For : M
By : C
Hai, Maura dan Maira! Maaf jika saat kalian membaca surat ini, aku sudah tidak disana lagi. Dulu, aku kira salah satu dari kalian adalah cinta pertamaku. Hahaha.. Nyatanya aku salah. Justru kalian adalah adikku sendiri.
Maaf, jika selama ini aku punya salah sama kalian. Dan aku mohon, maafkan juga papahku yang sudah cemburu buta dengan kisah cinta orang tua kalian, sehingga dengan tega, papah membakar rumah kalian untuk mencelakai ayah kalian. Namun, bunda kalian sekaligus mamahku yang menjadi korban dalam tragedi itu.
Terimakasih, jika kalian sudah memaafkan papahku. Dan, Hai Maira! Bagaimana dengan jantung barumu? Apa kau suka? Itu adalah pemberian dariku yang semoga sangat berharga dan bermanfaat untukmu. Maaf, jika aku pamit tanpa memberi tahu pada kalian berdua. Aku tidak ingin menambah beban hidup kalian lagi dengan terus menangis atas kehilanganku.
Dan teruntuk Maura, maaf jika aku tidak bisa memberikan hadiah terakhir dalam hidupku. Namun, aku hanya bisa memberikanmu Maira dalam wujud baru. Aku harap, Maira yang baru ini tidak selalu menuntutmu seperti sebelumnya. Sekarang kalian sama dan tak ada lagi perbedaan diantara kalian.
Maura, Maira, bersamalah selamanya! Maaf jika aku harus pergi meninggalkan, dan jangan merasa kesepian jika aku tidak lagi bersama kalian. Karena, bagaimana pun juga, sampai kapan pun jantungku akan selalu berdetak di tubuh Maira. Dan selalu hadir diantara kalian*..
Maura menutup surat itu dengan mata berkaca-kaca. Begitupun Maira yang nyaris tak percaya jika Chiko yang telah mendonorkan jantung untuknya. Tubuh Maira lemas seketika dan hampir terjatuh ke tanah. Namun, Alea dan Maura yang berdiri disebelahnya langsung menangkapnya supaya tak jatuh.
"Kak Chiko yang ternyata udah donorin jantung buat kamu, Mai." Ucap Maura sembari memeluk Maira.
"Sewaktu kak Maura lari dari rumah kami, kak Chiko dan papah sempat mengejar kakak. Dan sayang sekali, waktu itu kak Chiko lupa memakai helmnya. Dan mobil truk yang datang berlawanan arah dengan kak Chiko tanpa sengaja menabraknya. Kak Chiko sempat dibawa ke Rumah sakit, dan kondisinya sudah tidak mungkin bisa tertolong lagi. Dua jam kemudian, kak Chiko pun pergi meninggalkan kami selama-lamanya. Dan dia sempat menulis surat itu disaat kondisinya yang masih terbaring lemah." Isak Alea
Maura, Maira, Alan, Nida, dan para sahabat yang lain pun ikut menangis atas apa yang baru saja diceritakan Alea. Maura dan Maira masih tak menyangka jika Chiko akan pergi dengan secepat itu.
"Al, kami boleh ke makam kak Chiko?" Tanya Maura.
"Boleh. Makam kak Chiko gak jauh dari Rutan ini kok." Jawab Alea dan mulai menunjukkan jalan pada mereka dengan ikut menaiki mobil Alan.
Sesampainya disana, mereka pun mulai mendoakan Chiko agar tenang dan bahagia di alam sana. Maira sungguh berterimakasih atas kehidupan baru yang telah diberikan oleh Chiko padanya. Begitupun dengan Maura, yang telah menghadirkan kembali seorang saudari yang selamanya akan tetap bersama dengan dirinya.
Maira mengusap pusara makam Chiko sembari tersenyum haru.
"Terimakasih, kak Chiko. Berkat kakak, kini aku bisa hidup normal. Aku berjanji akan merubah diriku menjadi yang lebih baik lagi, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua ini. Terimakasih, kak. Kini, aku percaya. Bahwa keajaiban itu memanglah ada, dan kak Chiko serta Tuhanlah yang memberikan keajaiban itu." Batin Maira.
TAMAT
__ADS_1