
Malam ini, Maura dan Maira sengaja keluar bersama. Namun, tidak secara terang-terangan seperti saudara kembar lainnya. Maira sengaja memakai masker dan kacamata hitam, sedangkan Maura berpenampilan biasa tanpa sebuah penyamaran.
Saat ini keduanya tengah asik berbelanja di sebuah Mall. Maira hampir memborong seluruh pakaian yang dijual disana, dan Maura justru sibuk memilih novel romantis yang akan dibelinya. Maira mencoba pakaian satu persatu, sedangkan Maura sibuk membaca sinopsis novel satu persatu. Mereka senang berlama-lama berbelanja di Mall. Pada dasarnya, wanita manapun pasti sangat hobby dalam berbelanja.
Maira mengambil kesempatan ini untuk mencuci mata. Banyak pria-pria tampan berkeliaran di Mall membeli jam tangan, sepatu, perlengkapan olahraga, dan lainnya.
Seorang pria berkacamata menarik perhatian Maira untuk menghampirinya. Pria tersebut terlihat sedang milah-memilih barbel yang akan dibelinya. Ia mencoba mengangkat barbel kecil itu satu persatu di masing-masing tangannya.
"Hallo sayang!" Maira memeluk sosok itu dari belakang.
Pria tersebut pun melepas pelukan itu dan memutar tubuhnya kebelakang untuk melihat wajah seorang gadis yang memeluknya. "Maaf, mba siapa, ya?"
Maira pun menurunkan masker dan melepas kacamatanya. " Baaaaaa!"
"Eh... kamu." Chiko meletakkan barbel-barbel yang sempat diambilnya ke tempat semula.
"Ih! Cuek banget, sih. Aku tuh kangen sama kak Chiko!" Maira kembali memeluk Chiko dari belakang dan membuat pria itu risih. Maura yang selama ini dikenalnya tidak pernah bersikap seperti ini. Tentu saja, itu bukanlah Maura, melainkan kembarannya. Chiko merasa malu karena Maira masih sempat mengajaknya bermesraan di tempat umum seperti ini. Banyak pengunjung lain yang menengok ke arah mereka berdua tiap kali melewatinya.
"Lepas, ra! Kamu gak malu diliatin banyak orang?" Kesalnya dan kembali melepas pelukan itu.
Maira pun menghentakkan salah satu kakinya kuat sembari mendengus kesal. "Kenapa harus malu? Kita ini kan pacaran."
"Ya tapi gak sopan, dong. Ini kan tempat umum, kalau ada anak kecil yang liat gimana?"
Maira pun terdiam dan pergi meninggalkan Chiko menuju tempat semulanya tadi.
Chiko menatap gadis itu dari belakang dengan tatapan bingung. Ada apa dengan kekasihnya itu? Sikapnya yang tak biasa justru membuat risih diri seorang Chiko. Ia pun kembali mengambil barbel hitam seberat 4 KG tersebut dan hendak menuju kasir.
__ADS_1
BUUUKKKK!!
"Sorry gak sengaja!" Seorang gadis dengan topi putih yang menjadi ciri khasnya itu menabrak Chiko tanpa sengaja. Karena tabrakan itu, buku-buku yang dibawanya pun terjatuh kelantai. Merasa tak enak hati, Chiko membantu gadis tersebut mengambil buku-bukunya.
"Gak usah-gak usah! Biar aku aja!" Gadis tersebut ikut berjongkok mengambil belasan novel yang akan dibelinya.
"Gak apa-apa, biar saya aja!" Chiko tetap kekeh membantu gadis yang belum sempat dilihatnya itu. Setelah usai, keduanya pun kembali berdiri dan mulai menatap wajah yang berada didepannya masing-masing.
"Kak Chiko? Duh, maaf ya kak! Aku bener-bener gak sengaja." Ucap gadis tersebut yang merupakan Maura. "Ternyata kak Chiko disini. Alea mana? Biasanya ikut?" Lanjutnya dan membuat Chiko heran.
Maura yang ia temui sebelumnya memakai masker, kacamata hitam, dan mengenakan kemeja merah dan jeans selutut. Dan Maura yang satu ini, mengenakan gamis berwarna merah muda dengan selendang putih yang di sangkutkan dikedua bahunya.
"Kak Chiko kenapa ngeliatin aku kayak gitu?"
"Kamu kenapa cepet banget ganti bajunya?" Tanya Chiko bingung.
"Hah? Baju apa kak?" Maura gugup.
Tentu saja, yang dilihat sebelumnya adalah Maira. Sedangkan yang di lihatnya saat ini adalah Maura, kembaran dari Maira.
Maura pun langsung pergi tanpa meninggalkan sepatah kata apapun terhadap Chiko. Ia segera menuju kasir untuk segera melakukan pembayaran.
Setelah kegiatannya telah usai, Maura segera pergi menuju mobilnya yang terparkir di sebelah Mall. Sudah terdapat Maira disana yang sedang melihat pakaian-pakaian yang baru saja dibelinya.
Maura masuk kedalam mobil dan lalu duduk dibelakang Maira yang akan menyetir. "Gawat, Mai!"
"Gawat kenapa?" Tanya Maira santai sembari memasukkan kembali pakaian baru yang dikeluarkannya dari paper bag.
__ADS_1
"Tentang kak Chiko!" Seru Maura.
Maira mulai menghidupkan mesin mobil dan melajukan kendaraan tersebut. "Kenapa? Loe tadi ketemu dia?"
"Iya, Mai!"
"What?! Gue juga tadi ketemu sama dia. Kak Chiko bilang apa?" Tanya Maira yang mulai nampak serius membahas persoalan tersebut.
"Dia curiga sama kita berdua. Ini semua gara-gara kamu buka penyamaran, Mai." Ucap Maura.
"Loh kok salah gue?"
"Seandainya loe gak buka masker itu, pasti kak Chiko gak bakal curiga."
Maira kini mendengus kesal dan melajukan dengan kencang kendaraanya tersebut. "Loe juga salah, ra! Loe pasti kegatelan buat ngampirin kak Chiko. Iya, kan?" Tuduh Maira.
"Astaghfirullah.. Aku gak sekeji itu, Mai! Aku sadar diri kok kalau kak Chiko itu pacar kamu. Dia yang nembak kamu disaat kita lagi tukar peran."
"Gak usah sok suci!" Bentak Maira dan tetap fokus menyetir.
"Terserah kamu, Mai. Semoga dengan kejadian ini kak Chiko minta putus!" Ucap Maura kesal. Ia sangat mencintai Chiko, tapi saudarinya tersebut lebih mencintai Chiko dibandingkan dirinya. Maura juga tidak tahu, cinta Chiko itu untuk Maira ataukah untuk Maura.
Sepanjang perjalanan kerumah, suasana di mobil itu hening. Tak ada lagi yang mengawali percakapan untuk memecah kesunyian. Tak lama setelah itu, Maira yang sedari tadi bungkam mulai membuka suara.
"Besok, gue bakal balik jadi diri loe. Titik!"
"Hah?" Maura bingung atas sikap saudarinya itu.
__ADS_1
"Loe gak usah egois! Dulu loe janji bakal ngasih waktu gue seminggu buat jadi diri loe. Sedangkan, saat gue jadi loe dalam beberapa hari, gue pergi keluar negeri selama sebulan. Sekarang gue minta balik peran itu!" Ucap Maira dan mengerem mobilnya yang kini sudah berada di teras rumahnya.
"Terserahhh!" Maura tak tau lagi bagaimana cara menghadapi sikap saudarinya yang selalu berubah. Ia pun mengambil barang belanjaannya dan mempercepat langkah menuju kedalam kamar untuk merenungkan nasibnya setelah ini.