
Sore ini, Maura dan Chiko telah berencana untuk bertemu di sebuah Bright Cafe, untuk membahas permasalahan mereka. Maura sempat terlupa akan janjinya itu yang akan datang pukul empat sore. Sekarang, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore hari. Pikiran Maura sungguh sangat kacau, ia takut jika keterlambatannya membuat Chiko kecewa dan semakin marah.
Di pertengahan jalan, kumpulan geng motor yang merupakan teman-teman Maira, mengepung mobil Maura dari segala arah dan mengitarinya. Maura tak ingin berurusan dengan mereka, Ia pun memutuskan untuk tidak turun dari mobil dan justru terus menerus membunyikan klakson mobilnya untuk membubarkan kawanan geng motor tersebut.
Seorang pria berpostur tinggi dan mengenakan kacamata hitam datang menghampiri Maura dan mengetuk kaca mobilnya. Maura pun segera membuka kaca mobil tersebut dan menatap Revan, mantan pacar Maira yang fotonya sempat diunggah di laman instagramnya.
"Ngapain kamu?" Tanya Maura ketus.
"Emm.. Touring yuk!" Ajak Revan menaikkan kedua alisnya dan tersenyum miring.
"Maaf! Aku gak punya waktu buat berurusan sama cowok kayak kamu!" Jawab Maura dan hendak menutup kembali kaca mobilnya. Namun Revan menahannya dan mengancam Maura.
"Hahaha.. Gue tau loe itu bukan Maira, tapi Maura." Ucap Revan dan mundur selangkah dari mobil Maura.
Mendengar pernyataan tersebut, Maura pun keluar dari mobilnya dan menatap bingung ke arah Revan. "Maksud kamu?"
Revan berjalan mundur beberapa langkah dan berhenti disebelah teman wanitanya. "Vera sayang, coba loe jelasin!" Ucap Revan dan menyanggahkan tangan kanannya di pundak Vera, yang merupakan teman semasa kanak-kanaknya dulu sekaligus sahabat Maira.
"Gue dah cerita semuanya ke Revan, kalau kalian sebenarnya kembar. Gue tau kalau Maira nganggap gue sahabat terbaiknya, tapi semenjak dia keluar dari geng motor ini, gue dah mutusin persahabatan antara kami berdua. Sorry!" Tutur Vera sembari memasukkan kedua telapak tangannya kedalam kantung bawah jaketnya.
"Penghianat!" Gumam Maura.
"Apa? Loe bilang gue penghianat? Loe gak sadar diri? Loe ngaku-ngaku jadi Maira padahal sebenarnya loe itu Maura! Loe udah bohongin semua orang!" Bentak Vera dan membuat Maura terisak. "Termasuk Chiko, sepupu gue!" Lanjutnya.
Maura terkejut mendengar kalimat terakhir yang keluar dari bibir Vera. Dunia terasa begitu sempit. Ia tak menyangka jika Vera merupakan sepupu dari Chiko.
"Mau berapa orang lagi yang mau loe bohongin? Mau berapa hati lagi yang mau loe patahin, ra! Loe masih belum puas?" Lanjut Vera yang amarahnya masih membara. "Loe jangan mau di babuin sama kembaran loe itu!"
"Iya.. aku salah. Aku minta maaf sama kakian." Ucap Maura terisak.
"Udahlah, Ver! Gak ada gunanya kamu marah-marah. Dah gak peduli juga gue sama si Maira itu. Nyatanya, sekarang loe dah jadi pacar gue. Dan Maira cuman mantan yang bagi gue seperti sampah. Cih!" Revan membuang liurnya setelah menyebut nama Maira.
Maura hanya menangis mendengar hinaan untuk saudari kembarnya itu. Sahabat-sahabat yang selama ini Maira anggap baik, ternyata buruk dibelakangnya. Ia ingin menceritakan kejadian ini langsung saat Maira kembali pulang. Akan tetapi, dua hari yang lalu sang ayah sempat mengabarkan bahwa mereka akan pulang seminggu lagi.
Maura kini masuk kembali kedalam mobilnya dan melajukannya kembali ke sebuah Bright Cafe. Sudah satu setengah jam ia telat, ia berharap Chiko masih berada di sana dan setia menunggu kedatangannya.
Beberapa menit kemudian, Maura tiba di sebuah Bright Cafe dan segera menghapus air mata yang sudah membasahi pipinya itu. Nampak seorang pria berkacamata sedang terlihat menunggu seseorang di pintu Cafe dan memerhatikan pengunjung satu persatu yang akan masuk.
__ADS_1
Maura pun segera mempercepat langkahnya menemui pria tersebut.
"Aduh!!" High heelsnya patah seketika dan membuatnya terjatuh.
"Maura!" Teriak Chiko dan berlari menuju ke arah Maura yang berusaha untuk berdiri.
Chiko seketika datang dan mengulurkan salah satu tangannya untuk membantu Maura berdiri.
Maura pun membalas uluran itu dan segera berdiri dari duduknya. "Makasih, kak."
Chiko menuntun Maura ke sebuah kursi panjang yang berada dekat daerah kejadian. "Kamu gak apa-apa, kan?" Tanya Chiko khawatir dan ikut duduk disebelah Maura.
Maura hanya mengangguk dan seketika air matanya jatuh. Ia masih teringat dengan perkataan Vera yang masih membayang mengitari pikirannya. Ia sadar, bahwa semua ini tidak hanya Maira yang salah, namun ia juga ikut terlibat dalam sandiwara ini walau hanya menjadi korban ke egoisan Maira.
"Kenapa nangis? Ada yang terkilir?" Tanya Chiko cemas.
Maura hanya menggeleng lemas dan mengusap cepat air matanya itu. "Maaf kak, kalau aku dah ngecewain kak Chiko." Ucap Maura yang berniat ingin berusaha jujur atas sikapnya selama ini.
"Iya gapapa, kok. Aku juga tadi telat, ban mobilku pecah di pertengahan jalan." Chiko mengambil high heels yang dipegang disalah satu tangan Maura.
"Bukan masalah itu..." Maura menggelengkan kepalanya cepat dan menggenggam kedua tangan Chiko erat. "Tapi, masalah..."
"Hmmm.. Gimana ini?" Gelisah Maura dan mengacak-acak rambutnya.
Beberapa saat kemudian, Chiko pun datang membawa sebuah kotak berwarna jingga dan memberikannya pada Maura.
"Apa ini, kak?"
"Buka aja!" Jawab Chiko dingin.
Maura pun segera membuka kotak tersebut dan melihat isinya yang berupa sebuah sneakers putih yang sudah lama di inginkannya itu.
"Makasih ya, kak!" Ucap Maura senang dan segera mengenakan sneakers tersebut. "Kakak tau dari mana kalau aku dah lama banget ngincer sepatu ini?" Lanjutnya.
"Kamu sendiri yang bilang." Jawab Chiko bingung.
"Hah? Kapan?" Maura yang merasa tak mengatakan hal itu pun seketika sadar, ada Maira dibalik semua ini.
__ADS_1
"Kamu gak inget waktu hari kedua kita pacaran? Kamu sempat minta sepatu itu waktu kita lagi diperjalanan ke taman.
Maira. Tentu saja dia yang merupakan dalang dibalik semua ini. Tapi, sepengetahuan Maura, Maira sangat tidak menyukai sneakers, ia lebih suka mengenakan sepatu model pria. Maira juga tidak menyukai warna putih, yang menurutnya akan cepat kotor bila terkena debu ataupun lainnya.
"Oh..eee.. Iya aku baru inget. Hehe.." Ucap Maura berbohong.
"Kamu kelihatan lebih cantik pakai sepatu ini." Gombal Chiko.
"Bisa aja nih kak Chiko!" Maura terkekeh.
"Bikin aku jadi tambah suka. Hehehe.."
Maura tersadar seketika. Pria yang sebelumnya dicintainya itu sempat memiliki sikap yang dingin kepada semua orang. Kini pria tersebut terlihat seperti lebih terbuka terhadapnya. Ditambah lagi dengan ungkapan 'aku kamu' yang diucapkan oleh Chiko dan membuat Maura terheran.
Ia teringat kembali akan niat awalnya yang akan mengatakan kebenaran tentang dirinya dan juga Maira selama ini. Ia pun mengumpulkan kekuatan hatinya supaya dapat menerima kenyataan yang akan datang padanya.
"Kak.. Aku mau jujur sama kak Chiko, kalau sebenarnya.."
"Dah jam enam kurang sepuluh nih, ra. Balik yuk, takut kemaleman!" Potongnya lagi sembari memerhatikan jam tangannya. Chiko langsung menarik tangan Maura dan menggiringnya menuju mobil sembari menjinjing high heels Maura yang patah.
"Oke.. Hari ini kita gak jadi ngopi bareng dan mungkin lain kali. Nih, ambil!" Chiko memberikan high heels tersebut pada Maura.
"Maaf kak, untuk kejadian tadi pagi di kampus sebenarnya..."
"Dia bukan pacar kamu, tapi memang sepupu kamu." Potongnya lagi melanjutkan ucapan Maura.
"Tau darimana?"
"Tadi waktu pulang sekolah, sempat papasan sama Alan dan dia dah jelasin semuanya." Ucap Chiko. "Ya udah, kalau gitu aku ke mobil juga, ya? Takutnya Alea sama Ayah nungguin dirumah." Lanjutnya.
"Oke, kak. Hati-hati!"
Revan
Vera
__ADS_1