M? For??

M? For??
23. Sebuah Masalalu


__ADS_3

Pagi ini, Maira dan Maura di sibukkan mengurus perlengkapan sang ayah yang hendak pergi keluar kota untuk mengikuti seminar selama tujuh hari. Maira sibuk memilihkan pakaian sang ayah, peralatan mandi sang ayah, dan sebagainya. Sedangkan Maura, sibuk memasak di dapur untuk bekal ayahnya. Ia juga sengaja membuat camilan kacang bawang kesukaan sang ayah, supaya saat malam tiba, kacang tersebut dapat menemani kerja lemburnya.


"Gimana, ra? Makanan dah siap? Mau gue masukin ke koper,nih.." Ucap Maira yang masih melipat kemeja sang ayah.


"Udaaaahhh." Jawab Maura dan memberikan bekal tersebut pada Maira untuk dimasukkan kedalam koper. "Buru-buru amat, Mai. Bukannya ayah berangkat masih tiga jam lagi?"


"Iya tah?" Maira menutup koper tersebut dan mengangkatnya ke atas kasur.


"Eh? Ayah kemana, ya?" Tanya Maura sembari berjalan keluar kamar ayahnya dan disusul Maira yang berjalan di belakang.


Mereka pun menuruni anak tangga untuk menuju ruang tamu dan ruangan lainnya. Keduanya kini berpencar, Maira kembali mencari di lantai atas dan Maura tetap di lantai bawah.


Kini Maira menjumpai ayahnya yang sedang duduk di kursi balkon sembari mengusap dada kirinya. Maira dan sang ayah sama-sama memiliki penyakit jantung turunan dari orang tua masing-masing. Penyakit sang ayah terakhir kambuh saat Maira dikeluarkan dari SMAnya dahulu. Dan kini mulai kambuh kembali setelah beberapa bulan terlewati.


"Ayah masih tetap nekat untuk seminar di luar kota?" Tanya Maira khawatir sembari memberikan obat dan segelas air pada sang ayah.


Ayahnya pun mengambil obat tersebut dan mulai meminumnya. "Iya.. Jika ayah tidak datang, perusahaan akan mengalami kerugian besar. Perusahaan ayah bangkrut, nak. Jika ayah tidak mengikuti seminar sekaligus mempromosikan tentang produk mie instant kita, terpaksa ayah akan menjual rumah ini untuk hutang-hutang perusahaan dan menggaji karyawan disana." Ucap sang ayah yang kemudian terdengar oleh Maura.


"Perusahaan ayah bangkrut?" Tanya Maura memastikan dan berjalan mendekati sang ayah.


Ayahnya hanya mengangguk. Maura tidak mendengar tentang kambuhnya penyakit jantung ayahnya itu. Ia hanya mendengar tentang kerugian di perusahaan ayahnya.


"Kalau gitu, di seminar kali ini, ayah harus datang dan buktikan pada mereka kalau produk mie instant kita itu terjamin sehat, yah. Apa lagi, mie instant itu terbuat dari campuran wortel dan kentang. Dah dijamin, pasti banyak perusahaan lain yang mau bekerja sama." Maura meyakinkan.

__ADS_1


Maira pun berniat memberi tahu penyakit sang Ayah. "Tapi, ra.. saat ini ayah lagi...."


"Iya, nak. Makasih dukungannya." Potong sang ayah dan mengusap lembut kepala Maura.


Dua jam kemudian, sekretaris pribadi ayahnya pun datang menjemput dan membawa pergi sang ayah dari mereka berdua.


"Hati-hati, yah!" Ucap Maira dan Maura ketika menyalimi ayahnya.


"Ayah pamit, nak. Assalamualaikum.."


"Wa'alaikumsallam. Bye, ayah!!" Ucap keduanya sembari melambaikan tangan.


Mereka pun kembali masuk ke dalam rumah dan melakukan aktivitas seperti biasanya. Maura kembali mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel, dan sebagainya. Sedangkan Maira terlihat menyibukkan diri di kamarnya untuk membaca sebuah novel.


"Mauraaaa!!" Teriak Maira dari dalam kamarnya dan membuat Maura menghentikan aktivitasnya mengelap jendela. Maura pun berjalan menuju sumber suara menuruti panggilan saudarinya.


"Lampu kamar gue mati. Tolong benerin, ya!" Ucap Maira seraya menutup bukunya itu.


"Ih mager, ah!" Tolak Maura.


"Maura.. loe itu adek gue. Jadi, loe harus nurut dong!" Maira tersenyum sinis sembari berkacak pinggang.


Maura pun pergi untuk mencari sebuah tangga yang biasanya terletak di gudang lantai bawah. Niatnya untuk segera mengambil tangga tersebut terhenti saat melihat sebuah kotak berbentuk peti besar dengan ukiran bunga di sekeliling penutupnya.

__ADS_1


"Apa ini?" Tanyanya pada diri sendiri.


Maura membuka kotak tersebut dan terlihat beberapa barang milik ibundanya masih terselamatkan saat kebakaran beberapa tahun yang lalu. Tangannya kini tertuju ke sebuah gaun pernikahan milik sang ibu yang masih bagus tanpa terbakar. Kini, matanya terfokus kesebuah album foto yang sampulnya mulai nampak usang.


"Maura! Ngambil tangga doang lama banget sih, loe!!" Teriak Maira dari kamarnya.


Maura segera mengambil album foto tersebut dan mengambil tangga untuk memperbaiki lampu kamar Maira. Maura meletakkan album foto tersebut di kamarnya sebelum pergi menuju kamar saudarinya.


"Lama banget, sih!" Kesal Maira saat Maura membawa masuk tangga kedalam kamar.


Maura mulai membuka tangga lipat tersebut dan mulai mengganti lampu kamar Maira dengan yang baru. Setelah selesai, Maura kembali membawa tangga tersebut keluar tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Maira.


Maura menutup pintu kamarnya rapat-rapat dan duduk di tepi kasur untuk melihat album tua tersebut. Di lembar pertama, tertera angka 1993 di pojok kanan bawah foto tersebut. Terdapat dua orang pria yang sedang berdiri dan seorang wanita berambut ikal setengah berdiri di antara kedua pria tersebut.


"Pria yang disamping kiri ini, ayah. Kalau yang di bawah pasti bunda. Kalau yang disebelah ayah? Siapa, ya? Kayaknya orang ini gak asing, deh." Maura mulai mengingat-ingat sosok pria tersebut. "Senpai Gara!" Tebaknya dan mulai memerhatikan kembali foto tersebut.


Maura mulai membuka lembar selanjutnya. Terdapat Gara dan sang bunda disebuah taman hiburan tanpa ayah. Terlihat angka 1998 dipojok kiri bawah foto tersebut. "Apa ini? Kenapa hanya mereka berdua? Mana ayah?" Gumamnya dan lanjut membuka lembaran berikutnya lagi.


"Lagi-lagi, ada senpai Gara sama bunda. Terus bayi ini siapa?" Maura menunjuk bayi yang ada di rangkulan sang bunda.


"Apa maksud semua ini?" Tanya Maura pada dirinya sendiri dan kembali fokus membuka lembar selanjutnya.


Lembar selanjutnya kini, terdapat foto sang bunda, ayahnya, dan dua bayi kembar yang masing-masing di gendong oleh kedua orang tuanya. Dan terdapat angka 2000 di pojok kanan bawah foto tersebut. Dan tentu saja bayi tersebut adalah dirinya dan juga Maira. Lalu, bayi siapa yang berada dipangkuan sang bunda di lembar sebelumnya?

__ADS_1


__ADS_2