
Malam ini, Maura dan sang Ayah telah sampai di depan rumah Chiko dan keluarganya. Mereka pun segera turun dari mobil menuju ke pintu utama rumah mereka. Maura nampak sangat anggun malam ini, walau hanya menggunakan dress putih selutut dan mengenakan jaket levis berwarna army. Dan ayahnya mengenakan kemeja bergaris favoritenya dan celana polos hitam yang berpadu dengan warna kemejanya itu.
"Assalamu'alaikum.." salam mereka dan mengetuk pintu yang berada di hadapannya.
"Wa'alaikumsallam.. Silahkan masuk!" Sahut seorang wanita yang berusia lebih muda dari Maura ketika membukakan pintu. "Kalian tamu ayah saya,kan?" Tanyanya tanpa melihat Maura yang sibuk membaca pesan Line dari saudarinya.
Maura dan sang ayah pun memasuki ruangan tersebut. Akan tetapi, Maura masih saja sibuk dengan gawainya itu, hingga memasuki rumah tersebut pun tanpa melihat jalan lagi. Setelah di tegur oleh sang ayah, Maura pun segera mematikan gawainya tersebut dan duduk di kursi tamu setelah dipersilahkan untuk duduk.
Maura merasa tidak asing dengan wajah wanita tersebut, begitupun sebaliknya. Yang masih sama berfikir siapakah wanita yang ada dihadapannya masing-masing.
"Kak Maura?"
"Alea?"
Tebak mereka bersamaan dan kemudian tertawa karena tidak sadar bahwa di antara mereka sudah saling kenal.
"Pantes aja.. Kayaknya kakak pernah kesini, deh. Ternyata memang pernah,tapi sampai gerbang aja. Hehehe.." Kekehnya.
Tak lama kemudian,ayah Alea dan Chiko yang bernama Gara itu pun datang bersama anak laki-lakinya. Mereka mengajak Maura dan ayahnya untuk makan malam bersama. Awalnya mereka menolak,karena tidak ingin merepotkan. Akan tetapi,mereka tetap memaksa keduanya supaya mau ikut makan malam bersama.
__ADS_1
"Ya sudah,om. Kalau om memaksa,kami mau kok di ajak makan malem. Lagian,dari siang Maura lupa kalau belum makan. Hehe.." Timpal Maura dan membuat ayahnya terheran.
Mereka pun menuju ke ruang makan dan mulai menikmati hidangan yang telah sediakan. Meja makan ini cukup besar,dan dapat menampung sekitar 10 orang. Namun jumlah mereka hanya berlima,sehingga meja makan ini masih terlihat luas.
Saat ini Maura duduk disebelah Alea yang berada tepat dihadapan Chiko. Sedangkan, kedua ayah mereka duduk bersebelahan di sebelah kiri Chiko. Maura tak mengerti lagi,sedekat apa persahabatan kedua ayah mereka itu. Bahkan, mereka seperti lupa bahwa masing-masing sudah memiliki anak-anak yang cukup dewasa. Tapi, tingkah mereka saat bertemu seperti remaja SMA saja.
"Duh maaf.. kalian bertiga jadi dikacangin sama saya." Ucap Gara dan menengok ke arah Maura, Alea, dan juga Chiko yang terlihat mengantuk mendengar celotehan dari mereka. "Oh iya Maura, terimakasih ya karena waktu itu kamu sudah selamatkan Alea dari kepungan geng motor." Lanjutnya dan tersenyum ke arah Maura.
"Iya,om. Sama-sama. Jadi itu alasan saya terlambat ke kampus,om. Hmmm..." Maura berdehem dan kemudian menyanggah kepalanya dengan tangan supaya tidak terlihat mengantuk.
"Maafkan,om,ya!"
"Hehe.. Om jangan minta maaf. Dosen 'kan gak pernah salah." Ceplos Maura. Ia sudah lama ingin meluapkan amarahnya pada Gara,yang terus menerus memberi tugas tanpa henti. Dan kini Maura bisa bernafas lega setelah meluapkan rasa kesalnya dengan sebuah sindiran halus.
Pukul 20.30 WIB,ayah mereka masih saja asyik berbincang. Sedangkan Maura, Alea, dan Chiko sudah seperti penonton bayaran yang harus menyimak kisah-kisah mereka yang terdengar membosankan. Alea pun akhirnya mengajak Maura ke kolam ikan yang berada disamping halaman depan rumahnya sembari berbincang, sedangkan Chiko kembali ke kemar untuk mengerjakan tugas-tugas dari kampus yang sudah menumpuk.
"Jadi,ayah kamu suka pelihara ikan-ikan hias,ya?" Tanya Maura sembari ikut memberi makan ikan-ikan tersebut.
"Suka banget,kak. Malah.. tadi ayah berencana buat pergi mancing di empang kompleks sebelah sama ayahnya kakak." Jelas Alea.
__ADS_1
Maura menghentikan sejenak aktifitasnya itu dan menepukkan tangannya kebawah supaya butiran bubuk yang menempel di telapak tangannya segera jatuh. "Ternyata... mereka adalah sahabat sejati."
"Kak Maura punya sahabat sejati?" Tanya Alea dan menengok ke arah Maura.
"Sahabat? Emm.. gak ada. Setiap beberapa tahun,sahabat kakak gak selalu netap. Waktu TK sahabat kakak si A sama B. Eh.. pas SD,sahabat kakak C,D,sama E. Waktu SMA juga sahabat kakak si F sama G. Dan sekarang saat kuliah,sahabat kakak ada si H,I,J sama K. Hmm.." Tutur Maura dan terlihat murung.
"Kenapa,kak? Mereka gak setia?"
"Bukan karena gak setia. Tapi,sekolah kakak yang selalu berbeda kota disetiap jenjangnya. Jadi, sahabat kakak gak ada yang netap." Ucap Maura sembari memasukan telapak tangan kedalam saku jaketnya.
"Kalau kak Chiko itu sahabat atau pacar kak Maura?" Tanya Alea polos dan membuat Maura tersedak dengan liurnya sendiri.
"Kak Maura gak papa?" Tanya Alea khawatir dan menepuk pundak Maura pelan.
"Gak papa. Kak Maura cuma sahabatnya kak Chiko aja kok, gak lebih. Persahabat ini juga baru dimulai beberapa hari yang lalu. Hehe.." jawab Maura dan melihat kebelakang yang merasa ada orang ketiga di antara dirinya dan juga Alea. "Chiko?"
Entah sejak kapan Chiko berdiri dibelakang mereka dan mendengar pembicaraan keduanya. Yang jelas, Maura merasakan jantungnya berdegup dengan kencang. Ia pun segera mengalihkan matanya dan kembali fokus melihat ikan-ikan hias yang berada tepat dihadapannya itu.
"Ayah kamu nyariin tuh,ra. Katanya mau pulang." Ucap Chiko dingin dan membuat Maura semakin kaku berada di dekatnya.
__ADS_1
"Oh..iya. Makasih kak dah ngasih tau. Yaudah..aku pamit ya lea,Chiko."
"Iya.. Hati-hati,kak!" Sahut Alea dan memberikan kecupan kiss bye ke arah Maura yang sudah berjalan cukup jauh untuk menemui ayahnya.