M? For??

M? For??
13. Senja Dan Kopi


__ADS_3

Hari ini merupakan tanggal merah. Tanggal dan hari kebebasan bagi siapa saja. Bersenang-senang tentu menjadi tujuan utama liburan. Tapi sayang, Maura justru di sibukkan dengan beragam pekerjaan dalam mengurus rumah.


Karena hari ini Maira masih menjadi dirinya, ia pun meminta Maira supaya berbelanja kebutuhan makanan di Super Market.


"Apa?! Kan gue gak tau masalah sembako, sayur, bumbu-bumbu dan bla-bla-bla... Loe aja deh yang kesana, tapi langsung pulang!" Ketusnya.


Maira memang seperti itu. Dia pemalas, egois, dan selalu mengandalkan orang lain disetiap masalahnya, serta tidak ingin di susahkan oleh siapapun.


Akhirnya, Maura pun mengalah dan menuruti permintaan saudarinya itu.


Maura mengenakan kaos putih berlengan pendek dengan rok merah selutut. Yang jelas, tampilannya kini seperti anak SD yang memakai seragam sekolah. Tapi,vatasan yang ia kenakan merupakan kaos, bukan kemeja. Tak lupa, topi berwarna merah tetap di kenakannya sebagai outfits favoritenya.


Setibanya di Super Market,hal pertama yang ia beli adalah sayur-sayura n segar sekaligus buah anggur yang sangat di sukainya maupun Maira. Saat Maura hendak mengambil sebuah mentimun,seseorang pun berniat sama dengannya,hingga membuat tangan mereka saling bersentuhan.


"Alea?" Sapa Maura dan tersenyum. Akan tetapi, Alea tidak membalas senyuman itu. Ia masih sedikit kecewa atas perlakuan Maira yang di kiranya adalah Maura perihal kejadian kemarin. "Alea kamu kenapa? Kak Maura ada salah,ya?"


Alea masih sibuk memilih mentimun yang bagus dan mengabaikan pertanyaan Maura yang berdiri tepat di sebelahnya.


"Alea?" Maura memegang bahu Alea dan membuatnya supaya mau menjawab pertanyaannya itu.


"Kenapa kemarin kak Maura langsung pergi gitu aja setelah mobil kakak terisi bensin? Bahkan kak Maura gak ngucapin apa gitu ke Alea. Kak Maura justru langsung pergi dan ninggalin Alea sendiri di jalanan itu." Ketusnya dan berjalan menuju kasir setelah mendapatkan berbagai jenis sayuran yang dibutuhkannya itu.


Maura terdiam sebentar. Ia berfikir,tentu saja itu pasti perbuatan dari Maira. Manusia yang tidak tahu apa arti dari kata 'Maaf' maupun 'Terima kasih'. Lagi-lagi ia harus berbohong dan meminta maaf atas kelakuannya saudarinya itu. Alea pun akhirnya memaafkannya setelah di bujuk akan dibelikan sebuah ice cream gratis.


Ketika keduanya selesai melakukan pembayaran dan sudah berada di tempat parkir, Maura baru teringat jika dirinya belum membeli daging untuk Maira. Saudarinya itu sangat merepotkan dirinya, Maira sangat tidak suka sayur,dan jika yang tersedia di meja makan hanyalah sayur mayur, Maira justru lebih memilih untuk tidak makan dari pada harus menikmati sayur yang dianggapnya seperti sebuah rumput.


"Duh! Punya saudara kok karnivora gini,sih!" Gumam Maura yang membuka tutup plastik belanjaannya itu dan secara tak sengaja terdengar oleh Alea yang berdiri di sampingnya.


"Karnivora?? Saudara kak Maura seekor hewan?" Tanya Alea bingung.


"Eh..eeee.. bukan.. Maksudnya buaya piaraan kakak belum dikasih makan. Gitu.. hehe.." Ucap Maura yang membuat Alea semakin curiga.


"Kak Maura pelihara buaya?"


"Alea!" Teriak Chiko dari kejauhan dan berlari membawa sekantung plastik menuju ke arah mereka.

__ADS_1


"Kamu disini juga,ra?" Tanya Chiko yang masih terengah-engah.


"Enggak. Maura ada di salon lagi potong rambut." Jawab Maura malas.


"Bisa ngelawak juga ya,kamu?" Ucap Chiko terkekeh.


Ini merupakan pengalaman pertama Chiko berbelanja, Alea dan Chiko sengaja membagi tugas belanja supaya cepat selesai dan segera kembali ke rumah. Alea bertugas membeli sayur dan telur, sedangkan Chiko membeli daging dan beberapa minuman soda.


"Kak Chiko beli daging berapa kilo? Kebanyakkan deh ini kayaknya." Kata Alea sembari mengecek belanjaan Chiko.


"7 kilo,dek. Untuk persediaan satu minggu. Satu hari,satu kilo gram daging." Ucap Chiko santai.


Daging yang di beli oleh Chiko merupakan daging sapi, yang tentunya sangat mahal dan harganya hampir mencapai Rp.1000.000 saja. Alea pun memarahi kakaknya itu.


"Siapa yang akan memakan daging sebanyak ini? Kalau dihabiskan dalam waktu seminggu, satu keluarga bakal kena kolestrol,kak!"


"Kolestrol? Gak akan,Al! Hahaha.." Bantah Chiko dan tertawa.


"Kalau gitu, aku beli dagingnya 2 kg aja gimana?" Tanya Maura,lagipun ia membutuhkan daging untuk makanan saudarinya itu yang sudah seperti karnivora.


Setelah menaruh belanjaan masing-masing ke dalam bagasi mobil, mereka bertiga pun berjalan membeli 3 buah ice cream yang terletak tepat didepan Super Market. Mereka sengaja membeli di sana, karena ice cream yang dibuat tanpa bahan pengawet dan terasa segar ditenggorokan. Apalagi di saat cuaca siang yang panas seperti ini. Karena ice cream telah habis, mereka pun kembali ke mobil dan hendak kembali kerumah.


"Nanti sore, kamu ada acara?" Bisik Chiko supaya tak terdengar adiknya.


"Free."


"Kalau gitu, kita ketemuan di Cafe Ruddolf. Gimana?" Ajaknya.


"Hmm..oke!"


***


Di penghujung hari,sang surya pun turun perlahan di ikuti sinar jingganya. Langit yang nampak mendung pun menyatu padu dengan sangat indah. Maura mencuri kesempatan yang bagus ini untuk mengambil gambar dan sesekali berfoto selfie dengan background sunset. Belum puas berfoto, tiba-tiba sesorang berdiri di sampingnya dan ikut berpose dengan Maura.


"Nyebelin banget sih, kak!" Ketus Maura dan hendak menghapus foto tersebut.

__ADS_1


"Jangan di hapus, ra!" Chiko mengambil handphone tersebut dari Maura.


"Kenapa?"


"Suatu saat kamu pasti rindu sama saya. Karena saya satu-satunya sahabat laki-laki kamu. Hehehe..." Kekeh Chiko dan masih menggenggam handphone milik Maura.


"Yeeee!! Siapa juga yang bakal rindu sama kak Chiko? Najong!!" Kesal Maira dan berusaha merebut handphone tersebut dari Chiko. Namun tangannya terbentur tembok yang berada disebelah sahabat laki-lakinya itu.


"Aduh!" Lirih Maura.


"Hahaha.. Seperti itulah,tembok kalau dipukul kita yang sakit, sama kay ak rindu kalau dilawan kita yang sesak." Ucap Chiko yang masih menertawai Maura yang sedang kesakitan itu.


"Lagian siapa yang mau mukul tembok? Jelas-jelas gak sengaja,kok!"


Maura mendengus kesal dan duduk di sebuah kursi yang menghadap ke arah matahari terbenam. Cafe ini berada di rooftop, sedangkan lantai bawahnya merupakan tempat bermain anak-anak. Chiko sengaja memilih Cafe tersebut,karena itu merupakan milik ayahnya dan ia dapat melakukan apapun yang di sukainya.


Chiko masih meminum kopi sembari berdiri melihat indahnya senja, melihat tingkah seniornya itu, Maura pun menegurnya supaya tidak berdiri ketika sedang minum.


"Hmmm.. Iya bu guru." Ledek Chiko dan membuat Maira geram sehingga menjambak rambut Chiko yang terlihat panjang dan berdiri lemas.


"Sakit,ra!" Teriak Chiko sembari mengusap rambutnya yang hampir tercabut oleh Maura.


Maura pun kembali duduk ketempatnya,ia merasakan sesuatu, telah terjadi sesuatu dalam dirinya. Tapi apa? Ada rasa getaran disetiap Maura berada di didekat Chiko. Maura tak bisa menebak getaran apa itu. Yang jelas,tatapan matanya, senyumannya, dan candaannya menenangkan hati Maura yang saat ini sedang kacau.


"Kak, aku pulang duluan, ya?" Ucap Maura setelah meneguk kopinya cepat hingga habis walau terasa masih sedikit panas. Ia pun mengambil tas selempangnya di atas meja tersebut dan berdiri hendak melangkahkan kakinya keluar dari tempat ini.


Chiko pun meletakkan cangkir kopi yang sedari tadi dipegangnya dan menaruhnya di atas meja.


"Saya tidak suka kopi itu dingin dengan tergesa-gesa seperti senja yang terburu-buru menuju petang."


"Maksudnya?" Tanya Maura yang belum mencerna perkataan Chiko barusan.


"Seperti yang kamu lakukan barusan." Celetuk Chiko. "Hmm.. Ya sudah.. Lagi pula sebentar lagi malam, gak baik bagi seorang wanita pulang larut malam.


Maura hanya mengangguk. Tapi,ia sendiri pun tak tahu apa maksud anggukannya itu. Ia langsung pergi meninggalkan Chiko dan kembali menuju rumahnya.

__ADS_1


Hari ini sungguh aneh baginya. Berbagai perkataan Chiko pun sulit untuk di cernannya. Lebih baik, ia melupakannya saja.


__ADS_2