
Siang ini, Maira mencoba untuk memasak menu makan siang sederhana yang bersumber dari Google. Maklum saja, selama ini ia hanya menguasai resep membuat mie instant dan telur dadar saja. Hal ini pun ia lakukan karena keisengan belaka.
Maira berencana untuk memasak sayur sop, sambal terasi, dan tempe goreng. Ia tahu jika tempe bukanlah level bagi dirinya. Namun, mau bagaimana lagi? Semua ia lakukan demi kesehatan dirinya. Ia pun harus belajar untuk menyukai sayur, dan berusaha untuk tidak memakan makanan cepat saji ataupun yang berdampak buruk pada kesehatan.
Minuman bersoda yang dibelinya sebulan yang lalu pun masih tersimpan rapih di dalam lemari pendingin. Tak ada seorang pun yang berani menyentuh minuman tersebut. Di setiap makanan atau minuman yang ia beli, sesudahnya selalu diberi label dengan namanya, dan tertulis berbagai ancaman bagi siapa saja yang meminumnya ataupun memakannya.
"Masih banyak, nih. Sayang banget kalau gak ada yang minum. Hmmm.. minum setengah botol mungkin boleh, ya?" Maira membuka tutup botol minuman tersebut dan menuangkannya kedalam gelas kosong.
"Maira?"
"Ayah? Ayah mau minum?" Ucap Maira berbasa-basi saat sang ayah berada di dapur untuk mengambil segelas air.
Maira pun segera menyembunyikan botol tersebut dibelakang tubuhnya.
"Air galon habis, kenapa belum telefon tukang galon?" Tanya ayah sembari mengangkat galon kosong tersebut.
"Mana Maira tau, yah. Selama sebulan yang nempatin rumah ini kan si Maura, kak Nida, sama Alan." Jelas Maira dan diam-diam meletakkan botol soda tersebut dibawah meja makan.
"Itu air apa?" Sang ayah mengangkat gelas yang berisi minuman bersoda rasa lemon itu dan mencoba mencicipinya.
"Minuman itu Maira beli sebulan lalu." Jawab Maira pelan disaat sang ayah sudah meneguk dan meminumnya.
Walau sudah mengetahui, sang ayah tetap melanjutkan minumnya karena masih merasa kehausan. "Kalau yang minum ayah, gak papa. Kalau kamu jangan!"
"Ih kok gituuuuu?" Rengek Maira memanyunkan bibirnya cemberut.
"Maura dah tau rahasia ini?" Tanya ayah dan duduk dikursi meja makan.
Maira diam sesaat dan melanjutkan untuk memotong wortel yang akan disayurnya itu. "Belum."
__ADS_1
"Mau sampai kapan kamu menutupi rahasia sebesar ini, nak?"
"Sampai di waktu yang tepat, Maira akan jelasin semuanya." Maira masih sibuk mengiris wortelnya sembari memikirkan sesuatu. "Yah, cara ngiris wortel untuk sayur sop gimana, ya? Bundar-bundar tipis atau panjang-panjang kayak dibakwan?"
"Untuk sop, ya? Emmm.." Ayahnya pun ikut berfikir sembari menepuk-nepuk pelan meja makan dengan tangan kanannya. "Panjang-panjang kali, ya? Ayah gak pernah merhatiin."
"Loh? Gak tau Maira mah.. Kan Maira gak pernah makan sayur." Ia menghentikan aktivitasnya sejenak sembari ikut berfikir dan menirukan gaya sang ayah.
"Coba kamu searching!" Usul sang Ayah.
"Ya kali, yah. Masa teknik motong wortel doang pake searching segala." Maira memutar bola matanya malas. "Udah deh panjang-panjang aja ikut ayah." Lanjutnya dan kembali memotong wortel tersebut.
"Tumben banget kamu yang masak. Maura kemana? Mogok masak gara-gara nasi goreng tadi pagi?" Tanya ayah terkekeh.
"Hahaha.. Enggak kok. Lagi pengen belajar masak aja." Jawab Maira dan mulai mengiris kubis.
"Ooh.. ya sudah. Ayah mau ke rumah om Gara dulu, mau mancing ikan bentar aja. Kalo dah jam makan siang, nanti ayah pulang." Ucap Ayah dan beranjak dari tempat duduknya menuju keluar.
Setelah beberapa menit, akhirnya masakan tersebut pun telah matang. Setelah usai memasak dan menghidangkan makanan diatas piring dan mangkuk, ia segera mencuci berbagai alat makan yang kotor setelah digunakannya untuk memasak.
"Ternyata begini keseharian Maura. Capek juga ternyata walau cuma masak sama cuci piring." Maira menghela nafasnya pelan.
"DORRRRR!!" Kejut seseorang dari belakang dan membuat Maira memecahkan salah satu piring dari genggamannya.
"Mauraaaaa!!" Maira langsung mencengkram lengan Maura. Tangannya masih dilumuri busa sabun pencuci piring dan membuat Maura menjerit geli.
"Lepasin, ih!!" Teriak Maura mencoba memberontak.
Maira pun melepaskan cengkraman itu dan langsung mencuci tangannya. Ia terduduk seketika di sebuah kursi makan yang dekat dengan tempatnya mencuci piring. Jantungnya yang mulai sembuh dan berdetak normal, kini seketika kencang atas kejutan dari Maura. Ia berusaha untuk tidak memegang dada kirinya, takut jika Maura curiga terhadapnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Mai? Kok keliatan syok gitu? Hahaha.." Maura tertawa jahat karena berhasil menjahili kembarannya.
"Udah berapa kali gue bilang ke loe? Jangan suka ngagetin gue, ra!" Ucap Maira dan berusaha menarik nafas.
"Abisnya kamu tuh lucu kalau lagi kaget, kayak orang punya penyakit jantung!" Ucap Maura dan membuat Maira menoleh kearahnya. "Kenapa? Kamu penyakitan emangnya?" Lanjutnya yang tak mengetahui apa-apa tentang saudarinya itu.
"Enak aja! Gue nih sehat, ya!!" Maira berbohong dan berjongkok mengambil pecahan piring tersebut.
Maura menepis halus tangan Maira. "Aku aja yang bersihin, Mai!"
"Oke.. gue mau lanjut cuci piring." Maira segera melanjutkan pekerjaan sebelumnya.
"Mai, sampai kapan kita bohongin semua orang?" Ucap Maura mengawali topik pembicaraan yang selama ini dipendamnya sendiri.
"Maksudnya?" Maira mengelap tangannya setelah usai mencuci piring-piring tersebut.
"Revan dan geng motor kamu dah tau segalanya tentang identitas kita." Maura pun bangkit dan membuang pecahan tersebut ke sebuah kotak sampah yang berada disebelah kompor.
"Kok bisa?"
"Vera, sahabat kamu itu penghianat. Dia yang udah bocorin semua rahasia kita. Dan sekarang, Vera dan mantan kamu itu dah resmi pacaran." Jelas Maura menghadap ke arah Maira yang terlihat panik.
"Vera? Gak mungkin, ra. Itu pasti bukan Vera." Sangkalnya.
"Dia bener-bener Vera, Mai!"
"Halu, ah! Mending sekarang kamu telefon oom galon, deh. Air galon dah abis tuh!" Ucap Maira dan pergi menuju kamarnya.
"Aku gak halu, Mai!" Maura berusaha meyakinkan.
__ADS_1
"Bodok, ah! Gak percaya! Gue Mau rebahan!"