
Setelah kurang lebih lima menit, Chiko pun kembali dan membelikan air mineral untuk Maura yang masih terlihat mual. Ini adalah pengalaman pertamanya menaiki wahana roller coaster. Ia tidak tahu mengapa dirinya harus ikut menaiki wahana tersebut,padahal menyaksikannya saja sudah membuatnya gemetar.
"Minum dulu,ra!" Ucap Chiko dingin ketika menyerahkan sebotol air mineral pada Maura.
Maura tidak langsung mengambilnya,ia justru menatap mata Chiko beberapa saat sebelum mulai mengambil minuman tersebut. "Thanks, kak!"
Ia kini terlihat kesulitan dalam membuka tutup botol. Yups! Membuka tutup botol ialah kelemahan yang memalukan bagi seorang Maura Senjani. Namun, seorang Maura tidak pernah menyerah. Ia masih berusaha membuka tutup botol tersebut sampai berhasil. Melihat Maura yang kesulitan membuka tutup botol, membuat Chiko menjadi geram dan mengambil paksa botol tersebut dari genggaman Maura. Ia pun segera membuka tutup botol tersebut dengan mudahnya dan memberikannya kembali pada Maura.
"Makasih,kak." Ucap Maura tertunduk malu. Ia pun segera meneguk air mineral tersebut dan kembali menutupnya.
"Kamu mau saya antar pulang?" Tawar Chiko.
"Gak perlu,kak. Gak enak soalnya kalau sampe ayah lihat aku punya teman cowok." Kata Maura. "Ups! Saya maksudnya." Lanjutnya dan menepuk mulut dengan tangan kanannya.
"Gapapa. Santai aja, ra! Boleh aja kok kalau pake aku kamu-an,yang penting kamu nyaman. Hihiw!" Ucap Chiko dan tertawa jahil.
"Apaan sih,kak!" Maura membuang nafas kasar dan segera berdiri dari duduknya.
"Ya gapapa,ra!"
__ADS_1
"Hmm.. Yaudahlah.. kalau gitu aku pulang duluan ya, kak?" Pamit Maura yang masih memegang botol tersebut.
"Hati-hati, ra!" Jawab Chiko dan melambaikan salah satu tangannya pada Maura. Maura hanya tersenyum dan berjalan menuju kearah mobil yang dibawanya tadi.
***
"Alhamdulillah.. kenyang juga akhirnya nih perut." Ucap Maira dan mengusap-usap perutnya seperti ibu hamil dan di akhiri dengan suara sendawa yang terdengar sangat besar, hingga membuat pengunjung di Cafe ini melihat kearahnya dengan tatapan tak mengenakan.
"Loe Maura bukan,sih?" Tanya Rexa dengan nada curiga,namun tidak serius.
"Iyalah!" Jawab Maira singkat dan mulai mengambil tusuk gigi untuk mencongkel sesuatu yang terasa menyelip dirongga-rongga kecil giginya.
"Kenapa? 'Kan yang sendawa gue. Ya.. Kalo pas mereka pada liat ke arah sini, itu tandanya kaget denger suara sendawa gue yang merdu aduhai. Hahaha.." Ucap Maira tanpa rasa malu.
Setelah tak lagi nafsu makan,mereka pun menyelesaikan pembayaran. Namun, Maira justru baru teringat bahwa dirinya lupa membawa sebuah dompet. Malu untuk meminjam pada teman-teman Maura, ia pun berusaha kabur dengan alasan izin ke toilet karena merasa sakit perut.
Maira pun akhirnya berhasil kabur dari Cafe tersebut dan segera kembali menuju rumah dengan moge miliknya.
Sesampainya dirumah, Maira langsung disambut kemarahan Maura karena telah kembali merebut posisinya itu. Maura baru saja mengetahui lewat akun instagram Rexa yang memajang foto kebersamaan mereka di story instagramnya. Namun saat Maura berteriak kesal, Maira justru menutup mulut Maura rapat-rapat dan menyumpalnya dengan lembaran tisu yang ada dimeja tamu.
__ADS_1
"Jangan marah-marah disini dong,ra! Kalau ayah denger gimana?" Gerutu Maira dan mengambil kembali tisu yang menyumpal mulut kembarannya itu.
Merasa amarahnya berkobar dan sulit untuk dipadamkan, Maura pun langsung menarik tangan Maira dan membawanya ke rooftop.
"Sorry,ra! Gue pengen jadi diri,loe! Gue pengen punya temen-temen yang asik dan kocak kalau diajak ngobrol. Sahabat loe juga beda jauh sama sahabat geng motor gue. Makanya gue betah sama mereka. Ya..walaupun mereka tadi sempet marahin gue,sih." Tutur Maira dengan nada sedikit naik.
"Tapi gak kayak gitu juga dong,Mai!" Maura mendorong saudarinya hingga hampir terjatuh. Ia tidak pernah semarah ini pada Maira. Namun,tingkah saudarinya itu sudah melebihi batas dari kesabarannya selama ini.
"Loe berani dorong gue?!" Maira tidak tinggal diam dan justru mendorong Maura hingga benar-benar terjatuh. Maura diam sebentar sebelum memulai untuk menjambak rambut saudarinya itu.
"Sakit! Lepasin!" Teriak Maira dan ikut menjambak rambut maura. Maura tidak terlalu menarik kuat rambut Maira,justru Maira menarik rambut Maura kuat hingga tercabut dari akarnya dan membuat saudarinya itu pitak sedikit disebelah kanan. Tidak terlalu terlihat,namun rasanya sangat sakit dan terasa perih.
Maura tak lagi membalas dan justru duduk menangis mengusap rambutnya yang telah tercabut oleh Maira. Maira pun tak menyangka bahwa akan terjadi hal seperti ini.
"Maaf, ra!" Sesalnya dan duduk sejajar dengan Maura.
Maura tak lagi berkutik dan masih saja menangis tak henti-henti. Maira sudah berkali-kali meminta maaf, namun Maura tidak juga meresponnya dan hanya menangis. Kesal karena sikap Maura yang seperti itu, Maira pun pergi sebentar dan kembali membawa sebuah gunting. Maura tidak memerhatikan apa yang dilakukan oleh Maira dan masih terlihat bersedih. Maira pun langsung memotong sebelah kanan rambutnya supaya terlihat sama seperti Maura. Ia pun melemparkan potongan rambut tersebut kearah Maura yang masih menangis.
"Sekarang kita impas!" Seru Maira dan meninggalkan saudarinya seorang diri.
__ADS_1